
Cinta..! Apakah cinta ?
Apakah ungkapan cinta harus diucapkan oleh mulut, apakah tidak cukup hanya dengan perbuatan terhadap pasangan.
*****
Susi dan Bu Patmi keluar dengan membawa makanan yang diminta Abelia tadi.
"Bu, tidak pedas kan ?" tanya Damar, dia tidak ingin ada apa-apa terhadap baby yang dikandung Abelia.
"Nggak Den.." jawab Bu Patmi.
"Neng ini makanan nya.." kata Susi dengan mengetuk tenda Abelia.
"Abelia membuka tendanya dan mengambil nampan yang dibawakan Bu Patmi.."
"Abel, makan diluar ya.." pujuk Damar, begitu Abel membuka tendanya.
"Jangan dekat-dekat, Abel masih marah ini. Kemarahan Abel masih berada diatas kepala.." ucap Abel, dan bibirnya ngerucut.
"Bibir mu Abel, sayang kamu lagi marah.." dalam benaknya Damar, yang gemas melihat Abelia ngerucutkan bibirnya. Membuat Abel di mata Damar makin menggemaskan.
"Susi, kau bisa meninggalkan depan tenda. Makan dulu, saya kasih kamu istirahat satu jam.." kemudian Abelia menutup tendanya kembali.
"Yahh.. ditutup lagi..." lesu Damar.
"Ayo bro duduk sini.." Sony menepuk kursi disampingnya.
Damar duduk dan menghela nafasnya, dan mengacak-acak rambutnya.
Dua pasang mata dengan setia menunggu, keduanya duduk dan bertopang dagu. Tidak jauh dari tenda yang didirikan pak Umar.
Sedangkan pak Umar sudah sedari tadi mengundurkan dirinya dari hadapan pasangan muda yang sedang bertengkar, no.. bukan bertengkar ya, disini hanya Abelia yang marah sedangkan Damar hanyalah sebagai objek kemarahan Abelia.
Sedangkan Abelia yang berada didalam tenda dengan tiduran, asik memainkan game. Setelah selesai makan nasi gorengnya.
"Huh bosan juga berkurung disini, ngantuk lagi setelah selesai makan. Sepertinya enak tidur ini.." Abelia meletakkan handphonenya dan memejamkan matanya, dan tak lama kemudian Abelia sudah masuk kedalam dunia mimpinya.
Sedangkan diluar tenda, Damar dan Sony masih setia duduk seperti menunggu tukang bakso lewat.
"Dam, lapar nih.." Sony mengusap-usap perutnya.
"Seperti sedang hamil saja kau.." celetuk Damar, melihat Sony mengelus perutnya.
"Cacing perutku sudah minta jatah ini."
"Sabar, nanti cacing mu dikasih makan ."
Tak lama kemudian, Bu Patmi keluar dengan membawa makan siang untuk Damar dan Sony.
"Ini Den makan siangnya.." ucap Bu Patmi, dan dibelakangnya pak Umar membawa meja untuk tempat makanan yang dibawa Bu Patmi.
"Pak Umar, tolong bawakan tenda ya.." kata Damar, kepada pak Umar.
"Tenda seperti neng Abel Den ?" tanya pak Umar.
"Kau mau tidur juga didalam tenda..?" tanya Sony, ketika mendengar Damar minta dibawakan tenda juga.
"Bukan tenda begitu pak, payung tenda.." kata Damar.
"Oh...tenda untuk jualan itu ya Den ?" tanya pak Umar.
__ADS_1
"Iya pak, panas ini.. " kata Damar.
"Apa kita punya..?" tanya pak Umar kepada Damar.
"Ada pak, minta kepada Tony di Pabrik ." kata Damar.
Dengan cepat Pak Umar menuju Pabrik, karena cuaca sudah mulai terik.
"Sudah bisa makan..?" tanya Sony.
"Makan saja yang ada di otakmu ." ngedumel Damar.
"Akhirnya, cacing ku dapat jatah.." ujar Sony, begitu melihat makanan tertata di meja. Dia tidak menanggapi omelan Damar, yang ada dipikirannya sekarang mengisi lambungnya yang bergenderang saling bersahutan.
"Silakan Den.." ucap Bu Patmi setelah meletakkan semua makanan yang dibawanya keatas meja, kemudian meninggalkan Damar dan Sony untuk kembali ke dapur.
Selagi mereka makan, mobil Jonathan memasuki area rumah Damar.
Jonathan menghentikan kendaraannya, dan heran melihat Damar dan Sony berada dihalaman samping ditengah terik panas matahari .
"Apa yang kalian lakukan, panas-panasan duduk disini ?" tanya Jonathan dengan tertawa .
"Kami menjaga ratu yang sedang marah ." kata Damar.
"Oh ya, mana Abel. Dia tidak kabur kan ?" tanya Jonathan, yang mengingat untuk apa dia datang ke rumah Damar.
"Tuh.." tunjuk Damar dengan memonyongkan bibirnya kearah tenda didepan tidak jauh tempat mereka duduk.
"Tenda..!" kaget Jonathan.
"Apa yang dilakukannya..?" tanya Jonathan.
"Adek mu tidur didalamnya.." kata Sony.
"Kenapa dia bisa mengetahui rencana kita itu, orang bodo mana yang sudah mengatakannya..?" mata Jonathan menatap kedua orang yang sedang makan.
"Tuh.. orang bodohnya ." tunjuk Damar kepada Sony.
Damar menceritakan semua kejadian saat dikantor, saat Sony dan dirinya sedang berbicara dan Abel tiba-tiba sudah berada dipintu ruangan kerjanya.
"Kalian berdua...!" kesal Jonathan, kepada Damar dan Sony.
"Mana kami tahu adek mu mau datang kekantor Jo.." Sony membela dirinya.
"Pasti dia akan marah dengan ku juga ." kata Jonathan, dan kesal menatap Damar dan Sony.
"Jo, temui adik mu ." ucap Damar.
Jonathan berjalan menuju tenda Abelia, diikuti oleh Damar. Sedangkan Sony, masih dengan lahapnya makan.
"Kenapa kau berhenti..?" tanya Damar, saat Jonathan berhenti tiba-tiba.
"Kau saja menemui dirinya dahulu.." Jonathan menarik Damar untuk berjalan didepannya.
"Kau dulu.." balik Damar mendorong Jonathan berada didepannya, sedangkan dirinya dibelakang Jonathan.
"No..kau suaminya.." ujar Jonathan.
"Kau abangnya.." balas Damar.
"Kau yang punya ide ini kan..!" seru Jonathan lagi.
__ADS_1
"Ide ku, tapi kalau kau tidak mendukung tidak akan terjadi.." kata Damar.
Dua lelaki dewasa saling dorong mendorong didepan tenda Abelia, mereka berhenti saling dorong saat tiba-tiba tenda Abelia terbuka. Dan muncullah seraut wajah yang jutek memandang dua laki-laki tersebut.
"Adek..!" seru Jonathan.
"Abel..!" seru Damar berbarengan dengan Jonathan.
"Ada apa kalian berdua didepan tenda Abel, mau minta sumbangan..?" tanya Abel dengan berkacak pinggang.
"Sayang ." ucap Damar.
"Adek .." Jonathan berjalan mendekati adeknya yang berdiri seperti ingin menerkam dirinya.
"Jangan sebut kalimat sayang dan adek, itu semua palsu. kalau kalian sayang dengan Abel, tidak mungkin kalian berdua menipu dan membohongi Abel..!" seru Abel yang masih dalam posisi berkacak pinggang.
"Maaf Dek.." ucap Jonathan dan ingin mendekati Abel.
"Stop..! jangan dekati Abel, Susi..!" teriak Abel.
"Susi...!" teriakan yang kedua, baru Susi datang dengan tergopoh-gopoh. Dan mulutnya masih penuh dengan makanan.
"Iya neng Abel.." jawab Susi.
"Buat police line disini.." ucap Abel.
"Police line apa neng..?" tanya Susi bingung.
"Itu tali, supaya mereka berdua tidak bisa melintas.." kata Abel, dan kemudian masuk kembali kedalam tendanya.
"Dek, dengarkan Abang ngomong dulu dek.." ucap Jonathan.
"Abel tidak mau ngomong, Abel mau puasa bicara.."
Mendengar perkataan Abel, Damar dan Jonathan kembali ketempat mereka duduk tadi.
"Kami sibuk bujuk Abel, kau enak-enakkan duduk makan disini .." semprot Damar.
"Apa yang harus kulakukan, dia dengan suami dan abangnya saja tidak mau dengar. Apalagi aku yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.." kata Sony.
Mereka bertiga terpelongong, melihat Susi membawa tali tambang. Dan memasang tali tambang disekitar tenda Abelia.
"Mungkin anakmu nanti mau jadi polisi.." ngekeh Sony melihat, betapa reportnya Susi memasang tali.
"Anak Abel pasti perempuan, karena Abel ngambeknya parah.." kata Jonathan.
"Kenapa kalian bahas anak sih, yang dibahas bagaimana cara melunakkan hati Abel.." kata Damar.
"Hubungi Mai dan Rozi, mungkin mereka bisa melunakkan hatinya ." kata Jonathan.
"Oh iya, kau ada nomor handphone nya ?" tanya Damar.
"Ada." Jonathan menghubungi Rozi dan menceritakan semua.
"Baik bang, kami akan kesana ." ucap Rozi.
"Sudah, sebentar lagi mereka datang."
Bersambung
Apakah kedua sahabatnya, bisa meluluhkan hati Abelia??
__ADS_1
Tunggu episode selanjutnya ✍️🥰