Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 38 Kejutan untuk Damar.


__ADS_3

Maaf jika cerita ini tidak mengandung konflik yang sampai menguras emosi, cepek author jika menulis cerita mengandung bawang terus menerus. Apalagi harga bawang naik 😀😜.


***


Abelia sudah standby menunggu kedatangan Damar, dia duduk diteras depan rumahnya. Sesekali pengawai pabrik yang lewat dan mengenal Abelia, selalu menyapa Abelia dan Abelia menjawabnya dengan ramah.


Yang ditunggu akhirnya tiba, Abelia langsung bangkit dari duduknya. Menunggu mobil Damar berhenti didepannya.


Damar menghentikan mobilnya, dan kemudian Abelia masuk dalam.


"Kakak tidak sibuk ?"


"Walaupun sibuk, tapi kalau mengantarkan istri kakak pasti ada waktu.." kata Damar, dan tangan Damar meraih tangan Abelia dan memberikan kecupan.


"kak, fokus nyetirnya."


"Ok nyonya ."


"Kenapa sepi ?" tanya Damar begitu mereka tiba.


"Sudah siang, kalau pagi banyak pasien."


Abelia turun dari mobil, dan di ikuti oleh Damar. Dengan beriringan Abelia dan Damar menuju ruangan Dokter Vita.


"Suster, Dokter Vita masih ada ?" tanya Abel.


"Ada Bu, nama ibu.." tanya suster, dan mencari rekam medis Abel, dan kemudian membawa Abelia dan Damar untuk masuk kedalam ruangan Dokter Vita.


"Dok, pasien terakhir ." ucap suster kepada Dokter Vita.


"Silahkan Bu ." suster mempersilakan Abelia dan Damar untuk duduk.


"Ada keluhan lagi ?" Dokter Vita membaca rekam medis Abelia, dan kemudian memandang kearah Damar.


'Ini suaminya ?"


"Iya Dokter, saya suaminya ."


"Anda sungguh ceroboh, kenapa mengizinkan istri anda yang sedang hamil naik sepeda ." kata Dokter Vita, kepada Damar.


Abel senang melihat Damar kena marah oleh Dokter Vita.


"Hi..hi.. akhirnya, kak Damar dimarahi seperti bang Jo ." batin Abelia gembira melihat raut wajah Damar yang bengong mendapatkan berita kehamilan Abelia, sekaligus mendapatkan omelan Dokter Vita.


"Hamil..!? Damar bengong mendengar perkataan Dokter Vita.


"Ya hamil, anda sebagai suami harus menjadi suami yang perhatian.." lanjut Dokter Vita dengan omelannya.


"Abel ? hamil ..!" Damar seperti tidak percaya dengan dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Kehamilan trimester pertama ini masih rawan, anda sebagai suami harus menjaganya dengan hati-hati. Jangan izinkan istri anda naik sepeda seperti kemarin.."


"Dokter, saya tidak tahu istri saya hamil. Kalau tahu, tidak mungkin saya mengizinkan dia keluar apalagi naik sepeda ." ucap Damar kepada Dokter Vita.


"Seharusnya anda perhatikan, keanehan yang terjadi terhadap istri anda. Seperti mual-mual dan muntah, apa anda tidak melihat itu semua. ?"


"Sepertinya tidak ada keanehan yang terlihat, mual dan muntah tidak ada saya lihat. Malah saya yang mual dan muntah sudah hampir seminggu ini." Damar ingat saat dia dikantor, dia muntah dan mual.


"Kak Damar muntah, kenapa Abel tidak tahu ?" tanya Abel.


"Kakak muntah di kantor, apa mungkin saya yang muntah. Sedangkan yang hamil Abel ?" tanya Damar kepada Dokter.


"Sering kejadian begitu, banyak suami pasien saya yang mengalaminya." kata Dokter Vita.

__ADS_1


"Hahh.. kenapa bisa begitu ?" tanya Damar, dengan heran. Begitu juga dengan Abel, karena baru pertama kali mendengarnya.


"Itu adalah Sindrom Couvade, atau kehamilan simpatik." kata Dokter Vita.


"Apa itu Dok ?" tanya Abelia.


"Apa Sindrom couvade ?" tanya Damar.


"Itu kehamilan simpatik, yang dialami suami. Sang suami ikutan merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami sang istri, seperti mual dan pusing ."


"Seru..!" ujar Abelia senang, karena senang jika Damar ikut merasakan kehamilannya ini.


"Sampai kapan kehamilan simpatik itu Dok, apa sampai melahirkan ?" tanya Abelia.


"Biasanya terjadi pada trimester pertama sampai ketiga.." jawab Dokter Vita.


"Yah nggak seru, seharusnya sampai melahirkan ." ujar Abelia.


"Senang ya lihat kakak mengalami muntah-muntah ." kata Damar.


"Iyalah, kak Damar harus ikut merasakan apa yang Abel alami ." ucap Abel.


"Laki-laki jangan hanya tahu buatnya ." ucap Dokter Vita.


" hih..galak sekali ini Dokter, mungkin pernah dikhianati laki-laki ." dalam benaknya Damar yang jengkel dengan mendengar perkataan Dokter Vita.


Sedangkan Abelia hanya tertawa dalam hati mendengar ucapan Dokter yang terkenal cukup galak di puskesmas.


"Untuk saat ini, kurangi aktivitas yang melelahkan. Apa vitamin yang saya berikan diminum dengan teratur ?"


"Mimun Dok."


"Jadi benar istri saya hamil, hamil anak ?" tanya Damar untuk menyakinkan dirinya lagi.


"Kak Damar..!" Abel memukul lengan Damar.


"Oke begitu saja pertemuan saat ini, vitaminnya teruskan. Banyak konsumsi sayuran dan buah-buahan."


"Kapan lagi cek up Dokter, apa Dokter berada di sini setiap waktu ?' tanya Damar.


"Saya disini seminggu 3 kali pak, tapi praktek saya di kecamatan setiap hari ." Dokter Vita memberikan kartu namanya.


Setelah selesai konsultasi, Damar dan Abelia meninggal puskesmas dengan perasaan gembira. Disini hanya Damar yang larut dalam kegembiraan, sedangkan Abelia hanya biasa saja. Karena dia sudah mengetahui sejak dua hari yang lalu, sedangkan Damar baru saja mengetahui kabar gembira tersebut.


"Tega Abel dan Jonathan menyimpan berita ini dari kakak ." kata Damar, saat didalam mobil sekembalinya dari puskesmas.


"Biar kakak tahu dari Dokter, bagaimana kak di marahin Dokter Vita. Waktu itu bang Jo juga kena marah oleh Dokter Vita ." kata Abelia dengan tertawa, begitu mengingat Jonathan kena omel lebih dahulu dari Damar.


"Ingat, jangan naik sepeda lagi. Abel yang bandel, kakak yang kena marah tidak perhatian dengan istri." kata Damar.


"Setelah kakak antar Abel pulang, Abel istirahat. Kakak mau ke kota sebentar."


"Ketempat mama kak ?"


"Tidak, hanya ke kecamatan sebentar. Nanti kita ketempat mama jika kandungan ini sudah benar-benar kuat ." usapan dilakukan Damar diperut Abel yang masih datar.


"Abel mau pesan apa ?"


"Cemilan saja kak, Abel belum ingin makan apapun juga."


"Nanti jika ingin makan apa, hubungi kakak ya."


"Kak, apa benar kakak mual dan muntah-muntah?"

__ADS_1


"Benar, saat itu pagi-pagi. Begitu sampai kantor."


"Senang ya..?"


"Banget.." jawab Abel.


"Tidak apa-apa jika kakak juga ikut meringankan, yang penting baby ini baik-baik saja didalam sini."


Begitu tiba di rumah, Damar dengan cepat turun dan langsung membuka pintu bagian Abelia dan mengendong Abelia.


"Kak, turunkan ! Abel masih bisa jalan.." ucap Abel, ketika Damar langsung menggendongnya.


"Kata Dokter tadi, Abel jangan terlalu letih. Apa Abel sudah lupa.."


"Jalan kekamar begitu dekat, tidak meletihkan." kata Abel.


Begitu tiba didalam rumah, Bu Patmi sudah menyambut mereka dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan. Melihat Abel berada dalam gendongan Damar.


"Bu Patmi, tolong awasi Abel jika saya tidak ada dirumah. Dia ini sangat nakal ."


"Kenapa Den, apa Neng Abel sakit..?"


"Tidak, kami akan punya baby. Abel sekarang hamil Bu Patmi, dan kandungannya sedikit lemah. Dan tolong makanan Abel kirim kedalam kamar, untuk sementara Abel jangan naik turun tangga dulu ."


"Alhamdulillah Den, selamat ya Neng.." ucap bu Patmi gembira mendengar kabar bahagia dari keluarga majikannya.


"Ingat pesan saya tadi Bu, awasi Abel jika saya tidak ditempat ."


"Kak Damar, turunkan Abel."


"Nanti dikamar baru kakak turunkan ." Damar melanjutkan langkah kakinya, menuju kamarnya.


Sudah Neng, biar digendong Den Damar. Kapan lagi bermanja-manja, jika tidak saat hamil begini ." kata Bu Patmi.


"Digendong bukan bermanja-manja Bu Patmi."


"Berisik.." Damar membawa Abelia kedalam kamar, dan merebahkan diri Abelia di pembaringan.


Damar mengambil bantal untuk diletakkan nya dibawah kepala Abelia biar sedikit tinggi.


"Sudah ya, kakak pergi dulu. Sony sudah menunggu, biar bisa cepat pulang. Berat hati kakak pergi, tapi sudah janji dengan Sony.' tangan Damar mengelus-elus perut Abel.


"Kak, boleh Abel menyuruh Rozi dan Mai datang. Abel bosen tidak ada teman berbincang-bincang ?"


"Boleh, tapi jangan keluar kamar ya. Biar mereka yang kesini."


"Kakak terlalu lebay.." gerutu Abelia.


"Abel, didalam sini ada calon anak kita. Kakak tidak ingin dia kenapa-kenapa, biar orang kakak terlalu overprotektif. Ini semua demi anak dalam kandungan ini ." Damar mendekatkan bibirnya ke perut Abel dan mendaratkan ciuman.


"Baik- baik saja didalam ya delapan bulan lagi kita bertemu."


"Apa dia tahu kak, dia masih seperti kecambah."


"Dia sudah bernyawa disini, dia pasti tahu. Jangan nakal ya ." kemudian Damar beranjak keluar kamar.


"Hati-hati, jangan lirik-lirik cewek lain. Ingat ada calon anak yang menunggu..!" teriak Abel saat Damar masih berada didepan pintu kamarnya.


Damar membalikkan badannya, menampilkan senyum lebar saat mendengar ucapan Abel.


"Iya, kakak akan pakai kacamata kuda biar tidak bisa lihat kiri-kanan. Hanya fokus memandang depan saja ." jawab Damar .


Sepeninggal Damar, Abel mengambil handphonenya dan mengirimkan pesan. kepada kedua sahabatnya, Mai dan Rozi.

__ADS_1



__ADS_2