
Terimakasih kepada reader yang sudah beri like..like.
***
Abelia bersujud dipusara kedua orang tuanya, air matanya bercucuran membasahi kedua pipinya.
"Ayah, bunda. Apa yang harus Abel lakukan, kalau Abel tidak menikah dengan kak Damar. Bang Jo akan berada dalam penjara.." ucap Abelia didepan pusara ayah bundanya.
"Ayah dan bunda mengenal kak Damar kan, betapa bodohnya Abel dahulu. Bunda selalu menertawakan kebodohan Abel, karena menguntit kak Damar selalu. Sekarang Abelia harus menikahinya, pernikahan tanpa cinta. Bukan tanpa cinta, tapi dia yang tidak mencintai Abel. Sedangkan cinta Abel masih ada disini.." Abelia memukul dadanya sembari menangis meluahkan perasaannya didepan pusara kedua orangtuanya.
"Sekarang, cinta itu muncul lagi. Abel takut, pernikahan ini akan Berakhir dengan perpisahan. Apalagi nenek nya sangat membenci Abel, ayah bunda." Abelia terus berbicara didepan makam ayah bundanya.
Setelah puas berkeluh-kesah, di makam kedua orangtuanya. Abelia beranjak bangkit dan berjalan meninggalkan area pemakaman.
Abelia mengambil sepedanya dan mengayuhnya untuk kembali kerumahnya.
"Abel...!" terdengar teriakan nyaring suara cempreng Rozi memanggil dirinya, saat Abelia melintas dari depan warungnya.
Abelia menghentikan Kayuhan sepedanya, dan berhenti didepan Rozi yang berdiri didepan warungnya.
"Dari mana elu sore begini, dari tempat calon suami lu ya..?" tanya Rozi dan tangannya bersedekap didadanya.
"Hih apaan sih elu, nanya seperti gue ada salah saja dengan elu.." ujar Abelia.
"Elu dari mana saja? kenapa elu balik dari kota tidak beri kabar Non."
"Gue sibuk ngurusin kebun, dua hari gue tidak lihat kebun bunga. Dan ini tadi gue baru balik dari makam, gue kangen dengan ayah dan bunda. Dah laporannya, puas..!" ujar Abelia.
"Sorry beib, gue kira elu masih asyik dengan kak Damar. Sehingga melupakan kami.." ucap Rozi
"Asik apanya, gue sakit hati. Gue dibawanya kerumahnya, penghinaan yang gue dapet..!"
"Iyah bener beib, apa yang elu lakukan. Apa elu tidak lawan..?" tanya Rozi.
"Gue lawan sih, tapi dosa kan ngelawan orang tua. Apalagi dia sudah sepuh ." kata Abelia.
"Ha... orang tuanya sudah sepuh ?" tanya Rozi.
"Bukan kedua orangtuanya yang menyebalkan, tapi neneknya. Lu tahu beib sungguh ingin rasanya aku memberikan sambel kemulutnya, jika tidak memikirkan dia orang tua.." kata Abelia yang masih kesal, jika mengingat ucapan nenek Damar.
"Apa yang dikatakan nya sih beib ?"
Abelia menceritakan semua kepada Rozi, mengenai kunjungan Nya kerumah Damar.
"Betul-betul tu nenek-nenek ya, apa dikiranya dia ada keturunan darah biru. Bisa-bisanya menghina orang sesuka hatinya..!" seru Rozi dengan perasaan yang geram.
"Gue saja yang asli punya keturunan darah vampir tidak sombong ." sambung Rozi kembali.
"Elu bukan keturunan darah vampir, tapi keturunan darah kampret..." ledek Abelia.
'Hei beib, bagaimana calon mertua elu. 11 12 dengan neneknya..?"
"Mama dan papanya baik, tidak seperti nenek nya.." tutur Abelia.
"Sudah tidak usah elu pikirkan, kalau kedua orangtuanya baik. Yang penting Damar mau nikah dengan elu, dan elu kan tidak tinggal dengan neneknya. Kita doakan saja semoga neneknya mendapatkan hidayah agar berubah menjadi baik.." kata Rozi.
'Amin, kenapa sekarang omongan elu sudah mirip ustadz Zi. Jangan bilang elu mau jadi penceramah, bisa-bisa yang dengar ceramah elu jadi sesat semua ." kata Abelia dengan ngakak tertawa.
"Ngeledek terus, puas elu ngeledek gue..!" ujar Rozi yang sewot .
"Sorry Zi, hanya berjanda gue. He..he..salah juga, maksud gue hanya bercanda."
"Gue mau balik dulu ." Abelia ingin melanjutkan perjalanannya menuju kerumahnya.
__ADS_1
"Hati-hati Abelia.." ucap Rozi.
"Yoi.."
***
"Hei bro, tumben baru nongol..?" tanya Jonathan kepada Damar yang baru saja datang ke Villa.
"Baru balik dari kota dengan Abel ." ujar Damar sembari mendudukkan bokongnya dikursi seberang Jonathan duduk.
"Belum resmi dengan adekku ya, jangan macam-macam.." ingatkan Jonathan.
"Kau kira aku cowok berengsek, aku masih tahu batasannya." ujar Damar, dan mengambil minuman yang ada didepannya.
"Mana Sony ?" tanya Damar, karena tidak melihat keberadaan tenan satunya itu.
"Biasa di ruang kerjanya, entah buat ramuan apa terus dia. Semoga saja tidak meledak ." Sony sahabat mereka, sangat suka membuat eksperimen. Makanya Damar mengajaknya untuk bergabung dengan perusahaan, bekerja dibagian Laboratorium untuk menghasilkan produk yang baru.
"Dia sangat pintar, tidak mungkin dia meledakkan laboratorium tempat favoritnya." kata Damar.
"Bagaimana pertemuan dengan keluarga kamu, apa adek ku diterima dengan tangan terbuka ?" tanya Jonathan.
"Papa dan mama terima, nenek ku sempat membuat Abelia marah. Gila..! Abel marah ngeri Bro...." ngekeh Damar mengingat Abelia berani melawan neneknya.
Damar menceritakan semua pertemuan pertama Abelia dengan keluarganya, tidak ada yang ditutupi Damar. Dari Abelia marah dengan neneknya sampai Abelia lari meninggalkan rumahnya.
"Damar, kau pikirkan lagi niat dirimu untuk menikah dengan Abelia. Jangan karena nenekmu tidak mengizinkan Abelia nanti tersakiti.." kata Jonathan.
"Sudah cukup dulu aku mengikuti keinginan nenek, untuk dekat dengan cucu sahabatnya. Sekarang aku ingin menentukan keinginan ku sendiri ." kata Damar.
"Lagi pula, hanya nenek yang tidak setuju. Papa dan mama sangat setuju.." sambung Damar lagi.
Tiba-tiba percakapan mereka terhenti, saat Sony datang dengan tergopoh-gopoh keluar dari ruang kerjanya. Dengan masih mengunakan baju kebesarannya, dengan rambut yang awut-awutan.
"Kau membuat parfum bunga Lily, jangan bilang karena kau tahu bahwa adek ku suka bunga Lily ?" Jonathan memandang wajah temannya, dan terlihat seraut wajah gembira.
"Dia sudah tergila-gila dengan adek mu Jo dari dulu, dia tidak mikir Jo dia menyukai gadis remaja. Yang masih bau kencur.." Sony tertawa senang, membicarakan kebodohan Damar dari dulu.
"Jadi.. sudah sejak lama kamu sudah suka dengan Abel, terus kenapa kamu mematahkan hatinya. Lihatlah, sekarang dia sangat membenci dirimu." kata Jonathan.
"Dia..." Sony ingin berbicara tetapi Damar menyuruh Sony untuk berhenti bicara.
"Diam Professor, ku tutup nanti Laboratorium mu itu. Jika kau masih membuka mulut.. !" ancam Damar, karena jengkel ditertawai oleh Sony.
"He..he.. sorry Damar, mulut ku gatel menyimpan kisah cinta mu. Mungkin Jo, kalau tidak memikirkan kediktatoran neneknya dahulu. Mungkin adek mu sudah dibawa lari.." ujar Sony, dia tidak takut dengan ancaman yang diberikan Damar terhadap dirinya.
"Bener ni ya, laboratorium kamu itu akan aku segel." ulang Damar dengan ancamannya.
"Kalau disegel yang rugi kamu juga, aku lagi mengembangkan parfum untuk kekasih kecilmu.." ujar Sony dan menampilkan senyumnya.
"Dasar kutu kumpret..! nggak takut lagi kamu dengan ku ya.." dengan perasaan gemas Damar mempiting kepala Sony diketiaknya.
Jonathan hanya tertawa melihat kelakuan kedua sahabatnya tersebut.
"Ampun Damar, ketek mu bau Damar..!" teriak Sony.
"Rasain..! biar pingsan sekalian.." ujar Damar dan terus mempiting sahabatnya tersebut.
"Jo tolong..!" Sony meminta bantuan kepada Jonathan.
"Ogah..urus sendiri.." Jonathan beranjak meninggalkan Damar dan Sony dengan kelakuan aneh nya.
"Dasar Jonathan..! tidak setia kawan."
__ADS_1
"Dia itu bakal abang ipar, sudah pasti dia akan memihak adek iparnya.." kata Damar.
"Kalian menganiaya aku..!!"
Setelah puas mempiting Sony, Damar melepaskan tangannya dari kepala Sony.
***
Mata Abelia menatap TV yang ada didepannya, tetapi pikirannya tidak berada apa yang dilihatnya.
"Kenapa rindu dengan abang Jo, kenapa bang Jo tidak menelpon lagi. Apa nanti saat pernikahan abang Jo juga tidak akan datang..?" pertanyaan terus berseliweran dibenaknya.
Saat mendengar suara gerbang terbuka, Abelia terlonjak dari duduknya dan berjalan dengan cepat menuju jendela untuk melihat siapa yang datang.
Abelia mengintip sedikit dari gorden jendela dan betapa senangnya dirinya, saat melihat orang yang dirindukannya sudah pulang.
Dengan cepat Abelia membuka pintu dan berlari memeluk orang yang sangat dirindukannya.
"Abang..!" Abelia membuka pintu dan melihat sosok Abangnya, Abelia langsung memeluknya dengan erat sembari menangis.
"Adek.." Jonathan juga memeluk adeknya dengan erat.
"Akhirnya abang pulang.." Abelia melerai pelukannya, dan memandang wajah abangnya dengan teliti. Abelia mencari apakah ada tubuh abangnya yang berbeda.
"Ada apa Dek..?" tanya Jonathan, yang heran melihat cara Abelia menatap sekujur tubuhnya.
"Abang sehat kan, abang tidak kekurangan apapun juga kan ?" tanya Abelia dengan serius, dia takut badan abangnya ada yang sakit. Tetapi takut dia tahu abangnya menutupi nya.
"Abang sehat saja, lihatlah.." Jonathan berputar-putar didepan Abelia menunjukkan bahwa dirinya segar bugar.
Abelia tertawa melihat Abangnya memutar-mutar kan badannya seperti seorang ballerina menari.
"Ayo kita masuk, abang sudah rindu dengan rumah Kita. Kamar abang." kata Jonathan, dan kemudian merangkul adeknya untuk masuk kedalam rumahnya, yang hampir seminggu telah ditinggalkannya.
"Abang, apa tidak apa-apa abang pulang ?" tanya Abelia.
"Tenang, Karena adek mau menikah dengan Damar. Dia tidak melanjutkan lagi masalahnya." kata Jonathan.
"Bagaimana kalau kita kabur saja bang ?" ujar Abelia sambil mengikuti abangnya, yang sedang mengambil minuman dingin.
"Huk..huk.." Jonathan terbatuk, karena saat Abelia mengucapkan ajakan untuk melarikan diri Jonathan sedang minum air dingin didepan kulkas.
"Adek jangan main-main, Damar itu banyak koneksi nya. Mata-matanya dimana-mana, bisa-bisa bukan kakak saja yang masuk kedalam terali besi. Mungkin juga adek bisa terikut masuk.
"Abang sih, kenapa melarikan calon istrinya. Dah gitu sekarang dimana calonnya itu, kenapa abang tidak menikah dengan nya ?"
"Dia masih mau melanjutkan sekolahnya, ketingkat lebih tinggi ." kata Jonathan.
"Dek, terima saja. Mungkin saja Damar jodoh adek ." kata Jonathan, dan kemudian pergi meninggalkan dapur menuju ruang keluarga dan duduk di sana.
Abel duduk disamping abangnya dan menatap abang.
"Abang tinggal dimana selama ini ?"
"Abang tinggal di hotel, tapi pindah- pindah tempat gitulah. Biar Damar tidak bisa mencari-cari abang."
"Tetapi abang gemuk ini, tidak seperti Abel yang turun 4 kg." kata Abel.
"Abang kalau stres suka ngemil dek, makanya gemuk." ujarnya dengan cepat, takut dia Abelia mencurigai sesuatu.
Bersambung..
Bantu like...like.. reader.
__ADS_1