Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 23 Bertemu


__ADS_3

Hai kakak-kakak reader, jumpa lagi dengan cerita halu. selamat membaca.


***


Kembali keheningan terjadi didalam perjalanan menuju kediaman orang tua Damar, Abelia melihat kearah sisinya sembari berpikir untuk menggagalkan pernikahannya dengan Damar.


"Sepertinya, sudah tidak ada celah untuk menggagalkan pernikahan ini. Walaupun masih ada rasa suka dengan kak Damar, tetapi jika mengingat perkataannya dulu. Sulit untuk menerima ini semua ." dalam benaknya Abelia.


"Kak, kenapa kakak tidak menikah saja dengan pacar kakak yang calon Dokter dan yang pintar kata kakak dahulu ?" Abelia membuka suara, dengan bertanya mengenai pacar Damar dulu yang disebutkan dahulu saat menolak Abelia.


'Hemh.. mungkin kami tidak jodoh, mungkin kita yang berjodoh ." Jawab Damar enteng dan melirik Abelia yang menatapnya sesaat tadi.


"Mungkin saja kita juga tidak berjodoh, bisa saja sebulan atau setahun kita bisa saja berpisah kan. Siapa yang tahu ," kata Abelia.


ciiit......


Damar menghentikan mobilnya secara mendadak, sehingga Abelia kaget. Dan tangannya dengan spontan memegang dadanya yang kaget.


"Kak Damar..!" seru Abelia, dan melihat Damar membuka setbelt. Dan kemudian Damar menarik Abelia dan menangkup kedua pipinya Abelia dengan kedua tangannya, matanya menatap Abelia dengan tatapan mata yang tajam.


"Ingat Abelia, tidak akan ada perceraian didalam pernikahan kita nanti. Cam kan itu baik-baik, pernikahan kita serius. Bukan main-main !" selesai berkata, Damar melepaskan wajah Abelia, dan kembali menjalankan mobilnya kembali. Terlihat wajah Damar mengetat.


Sedangkan Abelia kaget mendengar perkataan Damar yang marah, dia tidak sanggup berkata-kata. Abelia diam memandang kedepan. Dia tidak ingin lagi berkata yang membuat Damar marah, karena nasib abangnya masih berada didalam tangan Damar.


Mobil yang dikendarai Damar, berjalan dengan pelan. Ketika tiba didepan pintu gerbang, pintu gerbang tersebut terbuka. Dan kendaraan Damar masuk dan berhenti tidak jauh dari pintu.


"Ayo turun.." ucap Damar kepada Abelia.


Abelia masih duduk saja dalam mobil, berat rasanya kakinya untuk turun mengikuti Damar.


"Aku gugup, kenapa seperti tidak pernah bertemu orang tua kak Damar saja." monolog Abelia.


Damar melihat Abelia masih berada dalam mobil, berjalan memutar menuju ketempat Abelia.


"Ayo turun ." Damar membuka pintu mobilnya, agar Abelia bisa turun.


"Kak, Abel takut.." ucap Abelia dan jemari tangannya saling melilit, terlihat Abelia sangat gugup untuk berjumpa dengan keluarga Damar.


"Ayo, tidak usah takut. Tidak akan ada yang memakanmu Abel." tangan Damar meraih tangan Abelia yang berkeringat dingin.


"Mama dan papa juga sudah sangat mengenalmu ." sambung Damar.


"Apa kamu mau kakak gendong ?"


"Apa..!" kaget Abelia, mendengar ucapan Damar.


"Kakak akan gendong Abel, jika tidak mau turun.." Damar membuat ancang-ancang untuk menggendong Abelia, tetapi Abelia langsung turun.


"Tidak kak, Abel jalan sendiri saja ." ujar Abelia sembari turun dari mobil Damar.


Damar meraih tangan Abelia, dan menggandengnya masuk kedalam rumahnya.


Abelia jalan seperti menyeret langkah kakinya, dia merasa seperti ada binatang buas yang siap-siap menunggu dan menerkam dirinya didalam sana.


"Damar..!" suara memanggil Damar saat dirinya dan Damar memasuki satu ruangan besar.


"Mama.." Damar melepaskan tautan tangannya di jemari Abelia, dan berjalan mendekati mamanya dan memberikan pelukan hangat.


"Kenapa baru datang sekarang, kenapa tidak tidur disini saja semalam ?" tanya mamanya.


"Banyak sekali pertanyaan mama, mana yang harus dijawab dulu ?" kata Damar.


Sebelum Damar menjawab pertanyaan mamanya, mata mama beralih melihat kearah Abelia yang berdiri agak jauh dari tempat mamanya dan Damar berada.

__ADS_1


"Itu Abel ma ." kata Damar dengan menunjuk kearah Abelia.


"Tidak kamu beritahu, mama juga sudah tahu. Wajahnya mirip dengan Shakira.." ujar mamanya, sembari berjalan mendekati Abelia. Begitu tiba didekat Abelia, tangan mamanya Damar menangkup wajah Abelia dan menatap wajah Abelia dengan insten.


"Kamu sudah besar sayang, maaf sayang, Waktu ayah dan bunda tiada. Tante tidak bisa hadir, karena waktu itu tante dalam kondisi sakit.." Mama Damar mengelus pipi Abelia dan kemudian menarik Abelia kedalam pelukannya.


"Tidak apa-apa, itu sudah berlalu. Sekarang ayah dan bunda sudah senang disana." jawab Abelia, dan terlihat mata Abelia sedikit berair.


"Sudah, sekarang kita usah bersedih lagi. Nanti ayah dan bunda Abelia marah dengan tante, karena telah membuat anak gadisnya bersedih." ucap Mama Damar.


"Ok, sekarang dua wanita tersayang jangan bersedih- sedihan ya ." Damar merangkul kedua nya, sehingga Damar diapit dua wanita yang akan ada di dalam kehidupannya kelak.


"Ayo Abel duduk ." Mama Damar membawa Abelia duduk diruang keluarga.


"Mana papa dan nenek ma ?" tanya Damar, karena tidak melihat keberadaan keduanya.


" Papa lagi membujuk nenek untuk keluar kamar dari semalam ngambek." ucap mamanya.


"Ada apa dengan nenek ?" tanya Damar.


"Biasa nenek mu ." ujar mamanya dan memberikan tanda kepada Damar untuk tidak membahas soal neneknya dihadapan Damar.


Damar mengerti tanda yang diberikan mamanya, dan menghentikan keinginan diri untuk bertanya lebih lanjut.


Terdengar suara langkah kaki dan tongkat membentur lantai, dan terlihat Nenek Damar dan diikuti papa Damar dari sampingnya.


Abelia langsung keringat dingin, begitu melihat nenek tua yang belum pernah ditemuinya.


Damar tahu, bahwa Abelia nervous menghadapi neneknya. Damar meraih tangan Abelia dan menggenggamnya dengan erat, seakan-akan dia ingin menyalurkan energi positif ke Abelia untuk menghadapi neneknya.


Begitu tiba di ruang keluarga, nenek dan papanya menghentikan langkahnya.


"Apa kakimu sakit Damar, sehingga kau tidak bisa berjalan mendekati nenekmu ini ?" tanya neneknya dengan nada suara yang dingin dan datar.


Damar mengambil tangan neneknya, dan menciumnya.


"Ini Abelia nenek, calon Damar.." ucap Damar mengenalkan Abelia kepada neneknya.


Neneknya Damar memicingkan matanya memperhatikan Abelia.


Saat Abelia mengikuti perbuatan Damar dengan memberikan salam dengan mencium tangan neneknya Damar, tetapi nenek Damar membalingkan wajahnya. Kemudian Abelia menyalim papa Damar dan menerima salim Abelia dengan hangat dan berkata.


"Ternyata anak Iskandar Abelio sangat cantik, sehingga membuat anak om tidak bisa pindah ke lain hati ." kata papa Damar, sedangkan Abelia heran dengan perkataan papanya Damar.


"Nggak bisa pindah apaan, dulu saja gue sudah ditolak mentah-mentah.." benak Abelia.


"Ayo.." Damar membawa Abelia untuk kembali ketempat dia duduk tadi, di sofa sebelah mamanya.


Setelah duduk, nenek Damar memandang Abelia dengan tatapan mata yang tajam. Tatapan mata itu berhasil membuat Abelia semakin takut dan semakin nervous.


"Nenek, aku juga tak ingin menikah dengan cucu emas nenek itu. Tapi dia yang memaksa aku Nek..." hanya dalam benaknya, Abelia dapat mengutarakan pendapatnya.


"Jadi gadis itu yang telah membuat kau menjadi pembangkang Damar ." ucap Neneknya dan tongkatnya terangkat menunjuk kearah Abelia.


"Damar bukan mau jadi pembangkang Nenek, tapi Damar punya pendapat dan pilihan sendiri." ucap Damar.


"Kau sama dengan papamu, jadi pembangkang gara-gara wanita." nenek Damar menyindir anak lelakinya.


"Ibu, kenapa ibu mengungkit-ungkit saya lagi. Apakah ibu tidak puas saya sudah memberikan ahli waris kepada ibu ?"


"Ya, ibu tidak puas. Karena kamu hanya memberikan saya satu saja sebagai penerus. Apalagi dia juga mengikuti jejak mu dengan memilih wanita tidak jelas.


"Hei kamu, apa yang sudah kamu berikan kepada cucu saya. Sehingga dia memilih dirimu, kamu itu tidak ada apa-apanya dengan calon yang saya pilihkan..?" tanya nenek Damar dengan suara terdengar arogan.

__ADS_1


Abelia memilit-milit jemari tangannya, mulutnya sudah gatal ingin membantah semua ucap nenek Damar. Tetapi lagi-lagi, bayangan wajah abangnya dari balik terali besi membayanginya.


"Tahan Abelia, pura-pura lemah saja.." dalam benaknya Abelia.


"Nenek, ini semua bukan salah Abelia. Saya yang memilih dirinya untuk menjadi istri Damar.." kata Damar.


"Ya jelas salah elu Damar, gue nggak mau nikah dengan elu. Gara-gara calon istri elu nggak punya pikiran, main kabur saja dengan abang gue ." monolog dalam hati Abelia.


"Kalau kamu yang mau, kalau dia menolak pasti tidak akan terjadi pernikahan.." tuduh neneknya.


"Kamu batalkan saja, nenek tidak suka dengan dirinya. Entah keturunan dari mana dirinya, asal-usul orang tuanya juga tidak jelas.."


Mendengar hinaan yang dikeluarkan dari mulut neneknya Damar terhadap kedua orang tuanya, membuat hati dan perasaan Abelia memanas. Abelia bangkit dari duduknya, dan marah kepada nenek Damar. Dia tidak dapat mengontrol emosinya lagi.


"Cukup nenek..! kalau hanya saya yang nenek hina bisa saya terima, tetapi ini nenek telah menghina kedua orang tua saya yang telah tiada. Apa hak nenek menghina ayah bunda saya..!" teriak Abelia yang berdiri dari duduknya.


"Sayang.." mama Damar kaget melihat Abelia marah dan kata-katanya beremosi.


"Abel, tenang ." ujar Damar dengan menenangkan Abelia yang masih dalam posisi berdiri.


"Ibu, cukup sudah. Biar kan anak-anak dengan pilihannya sendiri, kita hanya memantau dari belakang.." ujar papa Damar, untuk menghentikan omongan pedas ibunya.


"Diam kamu..!" ucap nenek Damar kepada anaknya.


Papa Damar menutup mulutnya, dia malas menghadapi keras kepala ibunya yang terkenal keras sejak dahulu.


"Nenek, ini sudah pilihan Damar. Minggu depan Damar akan menikah ." ujar Damar yang berdiri disisi Abelia.


"Nenek tidak akan menghadiri pernikahan mu..!"


"Terserah nenek, jangan nenek katakan Damar cucu durhaka. Tidak memberitahu kan masalah pernikahan Damar." kata Damar.


"Kau perempuan, jangan merasa senang. Hanya karena telah berhasil menikah dengan cucuku..!"


"Nenek, aku juga tidak mau menikah dengan cucu nenek. Tanya dengan cucu nenek ini, kenapa dia Mau menikah dengan saya..!" setelah berkata, dengan cepat Abelia berlari keluar dari rumah Damar.


"Abel..!" teriak Damar, sembari mengejarnya. tetapi Abelia berlari kencang.


"Abel..!" mama Damar berlari mengejar Abelia dan Damar, tetapi Abelia sudah berlari keluar pagar hanya tinggal Damar.


"Mana Abelia ?" tanya mama Damar.


"Sudah pergi ma."


"Apa lagi yang kamu tunggu, cepat kejar.." perintah mamanya.


"Iya ma, kunci mobil tertinggal didalam.." Damar kembali kedalam dan mengambil kunci mobilnya dan juga tas Abelia yang dilupakan Abelia saat dia berlari tadi.


Saat dilihatnya neneknya masih duduk dengan gaya angkuhnya diruangan tamu, sebelum pergi Damar berkata kepada neneknya.


"Damar kecewa dengan nenek, kalau tahu begini tadi. Damar tidak akan mau membawa Abelia datang kesini ." selesai berkata, Damar meninggalkan neneknya sendiri.


"Damar..!" panggil neneknya, tapi Damar tidak mengindahkan panggilan neneknya.


"Damar, minta kan maaf papa dan mama kepada Abelia ya " kata papanya.


"Iya. Damar pamit ya." Damar mencium tangan mama dan papanya.


"Hati-hati ." kata mamanya, sebelum mobil Damar bergerak meninggalkan rumah orang tuanya.


Bersambung


**Maafkan author jika ada banyak typo bertebaran di cerita ini 🥰

__ADS_1


Bantu author dengan menekan like..like Trims**.


__ADS_2