Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 33 Butuh kata


__ADS_3

Apakah rasa cinta yang diberikan laki-laki melalui perbuatan belum cukup bagi seorang wanita, sehingga setiap wanita harus mendengarnya melalui mulut seorang pria?


Tak terasa pernikahan Abelia dan Damar sudah memasuki dua Minggu, Abelia masih setengah hati menjalankan fungsinya sebagai seorang istri. Sedangkan Damar terus berusaha untuk meraih hati Abelia untuk terbuka kembali, walaupun Abelia selalu memenuhi kewajibannya melayani Damar dua K. Yaitu kegiatan di kamar dan kasur, yang selalu dilakukan Damar. Walaupun pertamanya Abelia selalu menolak tetapi selalu Abelia menjadi pihak yang kalah, karena rasa cinta Abelia masih begitu besar terhadap Damar.


"Apakah aku begitu murahan, sehingga selalu luluh ketika kak Damar sudah melakukan belaian tangannya ini?" Abelia terbangun dari tidurnya, ketika merasakan ada tangan besar tepat berada diatas gundungkan yang berada didadanya.


Abelia melepaskan pelukan tangan Damar, dan meringsut sedikit dan memiringkan tubuhnya agar dia dapat melihat wajah Damar yang tertidur pulas setelah berhasil melepaskan dahaganya terhadap aroma tubuh Abelia dan sentuhan tangan Abelia.


"Hemhm..kak Damar begitu ganteng dan gagah, membuat diri ini tidak bisa move on.." ucap Abelia seraya memainkan jemarinya digaris dagu Damar yang kokoh.


Melihat Damar terganggu sedikit dengan keberadaan jemarinya, Abelia menariknya dan pura-pura tidur.


Damar yang tersadar Abelia tidak berada didalam dekapannya, menoleh kesamping dan ditariknya kembali Abelia untuk masuk kedalam dekapannya.


"I love wife.." ucap Damar dalam benaknya, dan mendaratkan kecupan ringan dikening Abelia dan selanjutnya memejamkan matanya untuk tidur kembali.


"Ah... untung tidak ketahuan ." Abelia membuka sedikit matanya untuk melihat, apakah Damar sudah kembali tidur.


Tak lama kemudian, Abelia juga tertidur kembali mengikuti sang suami yang sudah berada dalam dunia mimpi.


***


Ritual rutin setiap pagi selama dua Minggu pernikahan mereka, Abelia selalu menyiapkan baju kerja Damar. Yaitu berupa kemeja, dan kadang-kadang Damar juga memakai t shirt. Jika Damar ingin meninjau kelapangan.


"Kenapa makannya sedikit, apa Abel sakit." Damar melekatkan tangannya ke dahi Abelia dan Damar tidak merasakan suhu tubuh Abelia yang tinggi.


"Nggak lapar.." Jawab Abelia.


"Makan ini.." Damar mengambil telur setengah mateng yang berada di piringnya, dan memberikan nya kepada Abelia untuk dimakannya.


"Ah...kak nggak mau..!" Abelia menutupi mulutnya dengan tangannya.


"Buka mulut.." Damar menarik tangan Abelia yang berada di mulutnya, dan menyodorkan sendok yang berisi telur setengah mateng.


"Buka mulutnya Abel." perintah Damar.


"Nggak mau, bau amis." ucap Abelia dan mulutnya mengatup dengan ketat.


"Ok jika tidak mau, tidak boleh keluar rumah hari dan seterusnya.." ancaman diberikan Damar kepada Abelia.


"Hih..kak Damar, bisanya ngancem saja.."


"Makan, biar sehat. Dan cepat hamil." ujar Damar.


"Huh...hamil...hamil, emang enak hamil.." ujar Abelia dengan jengkel, dan membuka mulutnya sedikit untuk menerima telur setengah mateng tersebut untuk masuk kedalam mulutnya.


"Hih...." meringis Abelia menerima telur setengah mateng tersebut, ingin rasanya Abelia memuntahkan telur tersebut. Tetapi ancaman Damar membuat dia menelan tanpa merasakan aroma telur setengah mateng.


Abelia mengambil susu coklat minumannya setiap pagi, dan langsung meneguknya. Sehingga telur dan susu coklatnya masuk kedalam lambungnya secara bersamaan. Jika mau mungkin susu coklat juga menolak berkabung dengan telur setengah mateng tersebut secara bersamaan masuk dan menghuni lambung Abelia.


"Enak kan ?" Damar mengelus rambut Abelia dengan penuh kasih sayang, dan kemudian mendekatkan bibirnya dan memberikan kecupan di pucuk kepalanya.


"Nggak enak..!" seru Abelia .


"Setiap pagi nanti makan telur setengah mateng, jika tidak mau. Ancaman tadi masih berlaku.." Damar tahu, bahwa Abelia tidak suka yang namanya telur. Ingat dia dahulu Jonathan selalu ngerjain Abelia dengan memberikan telur dibalik burger yang diberikan nya kepada Abelia.


"Kak Damar, bisanya ngancem aja ." ucap Abelia dan matanya mendelik menatap Damar.


"Jangan begitu matanya, kakak tidak takut. Malah kakak jadi malas ke kantor, ingin di ranjang saja seharian. Melakukan yang tadi malam.." ucapan Damar membuat Abelia menormalkan kembali tatapannya.


"Dipelototi makin nafsu laki gue ini, bukan makin keder, mungkin perlu di rukiyah ini orang ya.." dalam benaknya Abelia, dan kemudian mendorong nasi gorengnya.


"Kenapa tidak dihabiskan?"


" Nasi gorengnya tidak mau bergabung dengan telur tadi, salah kak Damar. Kenapa memaksakan Abel makan telur bau itu.." ucap Abelia dengan menampilkan bibir yang manyun nya.


"Sudah pintar ngeles ya.." tersenyum Damar mendengar perkataan Abelia.


"Iyalah..masa mau bodo terus, kak hari ini jadi syuting iklannya ?"


"Jadi, nanti kakak akan kesana. Bawa saja makan siang kesana ya." kata Damar sembari berdiri, untuk berangkat ke kantor.


"Iya." Abelia mengambil tangan Damar dan menciumnya, tradisi yang baru seminggu dilakukannya. Setelah dia mengingat waktu Ayah nya pergi kemana saja, hal ini selalu dilakukan Bunda nya.


Damar memberikan ciuman dipucuk kepala Abelia dan kemudian mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang, tanpa disadari oleh mereka ada sepasang mata yang mengamati perbuatan mereka.


pletak..


"Aduh..bibi, kenapa suka sekali mukul bokong Susi. Awas nanti kalau masakan Susi tidak enak ya.."


"Apa hubungannya bokong dengan memasak, apa kau memasak pakai bokong ?" bi Patmi heran dengan kelakuan keponakan ini semakin kesini.


"Susi bilang juga, bibi tidak ngerti. Ada apa bibi kesini?"

__ADS_1


"Bibi kerja, lah kamu ini. Ngapain ngintip disini, seperti tidak ada kerjaan saja. kamu ini makan gaji buta saja..?" omel bibinya lagi.


"Lihat pasangan romantis bi, mana tahu nanti Susi dapat suami tajir."


"Ngayal jangan ketinggian, jatuh nanti sakit. Mungkin sampai gila kamu Susi, dah sana tolong ke pasar. Belikan barang yang dicatatan ini.." bi Patmi menyerahkan selembar catatan dan uang merah dua lembar.


"Banyak benar belanjaannya bi.." ujar Susi, begitu melihat catatan belanja yang harus dibelinya.


"Segitu dibilang banyak, dasar pemalas. Mau ditambahin lagi belanjaannya.." ancam bi Patmi.


"Engak... engak bi.." dengan cepat Susi ngajir dari hadapan bibinya, mendengar ancaman bibinya yang akan menambah belanjaannya.


"Dasar bibi.." ujar Susi dengan bergerutu.


***


"He gues.. kangen ni, sudah lama tidak ngumpul begini.." ujar Abelia, begitu tiba di warung nya Rozi. Dan di sana sudah ada Mai juga.


"Kami sih sering ketemu, elu yang tidak bisa ketemu." kata Rozi.


"Laki gue minta ditemani di ranjang terus.." ujar Abelia tanpa malu-malu.


"Hih mulut emak ini..!" seru Rozi dan tangannya ingin meremas bibirnya Abelia.


"Dulu sok nolak elu, sekarang makin mepet tubuh badan. Tidak bisa lekang.." ledek Mai.


"Bagaimana lagi, sudah takdir jadi bini pengganti nya.." kata Abelia.


"Elu sabar ya Abel, nanti pasti kak Damar akan jatuh cinta dengan dirimu. Tunggu saja waktunya pasti akan tiba." ujar Mai dan mengelus sahabatnya tersebut.


"Gue tidak nyakin itu akan datang.." kata Abelia.


"Gila kak Damar, jika tidak bisa jatuh cinta dengan dirimu Abel. Elu itu cantik, walaupun tidak setinggi-tinggi model. Tapi elu itu punya daya tarik tersendiri.." ucap Rozi.


"Terimakasih ya friends, kalian sahabat sejatiku. Kok gue rindu Andy ya, apa kabar dia. Sejak balik dari sini, kok hilang kontak..?" kata Abelia.


"Bener..! anak itu, tiba-tiba muncul. Dah gitu hilang lagi.." kata Rozi.


"Mungkin sibuk kuliah dan bisnisnya.." kata Mai.


"Mungkin, dia pernah berkata ingin mengembangkan bengkel bokap nya." kata Abelia.


"Gues, gue nggak bisa lama nih. Biasa..mau nganterin makan siang laki gue." ujar Abel.


"Cie...cie.. yang punya laki, jaga tu laki. Awas sekarang banyak pelakor..!" teriak Mai.


"Abel..! elu punya hutang dengan gue, ganti tu leging gue yang hancur dan tidak bisa dipakai lagi.." tiba-tiba Mai ingat dengan legingnya yang dipinjam Abelia.


"He..he.. sorry, ntar gue ganti yang mulus tanpa sobekan.." ujar Abelia.


Abelia kembali mengayuh sepedanya, alat transportasi yang selalu digunakannya dan sangat disukainya. Dan alat transportasi yang bisa digunakannya sejak kecil yaitu sepedanya sebagai alat transportasi ramah lingkungan dan menyehatkan badan.


***


Abelia sampai dikebun bunganya, dan syuting sedang berlangsung.


"Mang belum selesai juga ya ?" tanya Abelia, kepada Mang Sukri.


"Belum Neng, tu modelnya banyak ngambeknya.." kata Mang Sukri.


Abelia melihat Abangnya Jonathan ikut mengawasi syuting tersebut, dan duduk berdekatan dengan Damar.


"Nggak kesitu Neng..?"


"Nggak ah Mang, Abel lihat dari sini saja.." Abelia duduk disamping Mang Sukri duduk.


Saat syuting rehat, Abelia melihat Lisa model wanita selalu mencari perhatian dengan abangnya dan Damar. Sehingga Abelia menjadi sebel melihatnya.


"Hih tu model, dekati dua laki tu terus. Jangan sampai bang Jo kembali membawa pengantin orang lari lagi, tidak lucu kan. Gue harus menikah lagi sebagai pengganti.." dalam benaknya Abelia.


"Mang, Abel masuk dulu ya. Bilang nanti pada kak Damar ya." pesan Abel kepada Mang Sukri.


"Iya Neng.."


"Untung apa lihat syuting, mending ngadem dikamar.." beberapa hari Abelia suka sekali tidur, bawaannya males selalu.


Dilokasi syuting, Lisa selalu berusaha menarik perhatian Damar dan Jonathan. Tetapi kedua laki-laki tersebut menghadapinya dengan sewajarnya.


"Mas Jo, boleh kan saya memanggil dengan Mas Jo saja ?" tanya Lisa kepada Jonathan.


"Boleh, saya masih muda. kalau dipanggil bapak kesannya saya sudah terlalu tua.." kata Jonathan.


"Apa benar, istri Mas Damar adalah adek mas Jo..?" tanya Lisa kepada Jonathan, saat Damar meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Iya, mereka baru menikah. Masih pengantin baru.." kata Jonathan.


"Apa mereka saling cinta ?" selidik Lisa.


"Jelaslah, tidak mungkin mereka menikah jika tidak saling cinta. Lihat saja tuh Damar pasti tahu tadi bahwa istrinya sudah datang, langsung menemui istrinya didalam rumah.." kata Jonathan yang merasa heran pada Lisa yang ingin tahu tentang rumah tangga Damar dan Abelia.


"Ada apa Lisa ingin tahu tentang Damar ?" tanya Jonathan dan matanya penuh selidik menatap Lisa.


"Tidak ada apa-apa mas Jo, kepo aja. Mas Damar masih muda dan sudah menikah, begitu muda.." kata Lisa.


"Damar sudah 26 tahun, sudah pantes menikah. Saya saja yang telat, belum dapet jodoh.." ujar Jonathan sembari tertawa kecil.


"Istrinya umur berapa ?"


"Abel, baru 20 tahun.." kata Jonathan.


"Lisa, apa kamu suka dengan Damar..?" to the point Jonathan, membuat wajah Lisa berubah dan suaranya gugup menjawab pertanyaan Jonathan.


"Tidaklah mas, masa....masa saya mau menganggu rumah tangga orang.." gugup Lisa dalam berkata.


"Saya harap itu tidak akan terjadi, kamu cantik dan cukup menarik. Masih banyak laki-laki lajang diluar sana yang menunggu cinta mu.." kata Jonathan.


"Sial ni orang, mungkin cenayang. Tebakannya bener.." umpatan dalam benaknya Lisa.


***


Saat berbincang dengan Jonathan, Damar sudah melihat Abelia datang. Dan mengharapkan Abelia menghampirinya, tetapi Damar kecewa karena Abelia malah masuk kedalam rumahnya.


Damar mencari keberadaan Abelia didalam rumah, tetapi tidak ada. Kemudian Damar melihat pintu kamar Abelia terbuka sedikit dan melihat orang yang dicarinya sedang tidur meringkuk di pembaringan.


Damar membuka pintu dan kemudian masuk kedalam, dan tidak lupa mengunci pintu kamarnya.


"Ternyata tidur pulas disini, kenapa suka tidur sekarang ini. Apa ingin menjadi seperti babi kecil yang gendut ." kata Damar sembari memberikan kecupan disudut bibirnya Abelia.


Abelia menggeliat dan sedikit terganggu, tapi Abelia tetap meneruskan tidurnya.


Damar ikut merebahkan tubuhnya disisi Abelia, sehingga mereka tidur saling berhadapan.


"Kakak sangat mencintai mu Abelia, tetaplah disisi kakak ya sayang.." ucapan sakral selalu diucapkan Damar disaat Abelia sedang tidur.


"Bibir ini, yang suka manyun membuat kakak menyukainya sejak dulu.." sekali lagi Damar mengecup sudut bibirnya Abelia tetapi kecupan singkat tidak membuat Abelia terbangun juga.


Setelah puas memandangi wajah Abelia, Damar ikut memejamkan matanya dan mulai masuk kedalam mimpi. Seperti yang dilakukan Abelia sejak tadi.


Hampir satu jam mereka tertidur, dan saat merasakan perutnya minta diisi. Abelia terbangun dan terkejut melihat Damar tidur dihadapannya.


"kapan kak Damar masuk, kenapa gue tidak tahu.?"


"Sudah jam berapa ini." Abelia melihat jam yang berada diatas nakas.


"Pantes perut demo, sudah jam satu. Pasti kak Damar belum makan.." ucap Abelia.


"Kak bangun..!" Abel menggoyangkan lengannya Damar.


"Hemhm.."


"Bangun sudah jam satu, perut Abel lapar.." kata Abelia dan terus menggoyang-goyang lengan Damar.


"Kakak juga lapar, tapi bukan laper nasi.." ucap Damar yang mulai kumat usilannya untuk menggoda Abelia.


"Laper yang lain ? Apa tuh..?"


"Laper lni.." Damar menarik tengkuk Abelia dan langsung ******* bibir merah muda Abelia.


Abelia berusaha mendorong bibirnya Damar yang menguasai bibirnya, tetapi tidak berhasil. Malah Damar semakin semangat.


Abelia mengigit bibirnya Damar, sehingga tautan bibir dua insan beda jenis itu saling menjauh.


"Kenapa bibir kakak digigit, seperti doggy saja ?" Damar memegang bibirnya yang digigit Abelia.


'Kakak itu ya, main nyosor saja. Kan tadi Abel bilang Abel itu laper mau makan..!" seru Abelia dengan jengkel.


"Kakak juga laper, tapi laper yang kita baru lakukan.." ujar Damar dan terlihat smirk disudut bibirnya.


"Lakukan sendiri dengan guling ini.." Abelia melemparkan guling kearah Damar, dan kemudian merangkak turun dari ranjang.


"Ayolah sayang, kakak akan main cepat..!" teriak Damar, tetapi Abelia tidak menghiraukannya.


"Cepat.. cepat, cepat kak Damar dua jam.." gerutunya, sembari membuka tudung saji dan menata makanan yang tadi dibawanya.


"Kenapa ngomel sendiri dek?" tanya Jo yang baru keluar dari kamarnya, dan dalam keadaan rambut yang basah baru selesai mandi.


"Tadi ada kucing garong.." ucap Abel asal.

__ADS_1


"He...he.. kucing garong nyasar ya Dek..?" Jonathan tahu pasti Abelia jengkel dengan Damar.


...Bersambung...


__ADS_2