Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 34 Patah hati


__ADS_3

Terimakasih ya sudah mengelike cerita


Cerita hanya hasil imajinasi penulis.


***


"Siapa yang masak ini Dek ?" tanya Jonathan, begitu melihat makanan yang tertata di atas meja.


"Yang pasti bukan Abel.."


"Kalau itu abang tahu.."


"Bu Patmi, yang bekerja dirumah kak Damar."


"Bagaimana Dek, betah kan tinggal disana ?" tanya Jonathan.


"Tidak betah juga harus dibetahin, salah bang Jo. Kenapa harus dilarikan bakal istri orang, sekarang bukan nikah juga. Kalau tidak mau menikahi gadis itu, kenapa larikan anak orang bang...!?"


"Itu semua sudah berlalu Dek, jangan diingat lagi ya. Damar baik kan kepada adek ?" tanya Jonathan kepada Abelia.


"Baik.."


"Abang senang, tandanya keputusan abang tidak merugikan adek abang.." Jonathan keceplosan bicara, dan membuat Abelia heran dan bertanya kepada Abangnya.


"Keputusan apa bang ?" mata Abelia menatap wajah Abangnya, tetapi Jonathan pura-pura melihat kesamping. Sehingga Abelia tidak melihat raut wajah Jonathan yang gugup, seperti wajah orang tertangkap basah melakukan kesalahan.


"Itu... keputusan abang mengambil alih mengurus kebun bunga kita.." elak Jonathan.


"Itu sudah tugas abang sebagai anak lekaki.." kata Abelia.


"Cerita apa?" Damar keluar dari kamar dan sedikit mendengar perbincangan Abelia dan Jonathan.


"Biasa, obrolan abang dan adek." kata Abelia.


Damar menarik kursi dan duduk disisi Abelia, dan Abelia mengambilkan nasi untuk Damar dan abangnya Jonathan.


Dalam diam, mereka menikmati makanan yang tersedia diatas meja makan. Sesekali Jonathan melihat Abelia makan dengan lahapnya.


"Tumben Dek, makan nambah. Biasanya paling sulit makan ." kata Jonathan.


"Laper bang ."


"Baguslah Jo, nanti Abel kurus. Dikira orang aku suami tidak bertanggung jawab, tidak memberikan makanan yang enak kepada istriku.." kata Damar.


"Kak Damar suka lihat Abel gendut ya.." Abel mencebikkan bibirnya.


"Iya, lebih enak dipeluk." ujar Damar dan mengelus pipi Abelia.


"Woow.. cukup, ada yang jomblo ini. Jangan terlalu diobral kemesraan kalian didepan mata ku, jiwa jomblo ku meronta-ronta ." kata Jonathan.


"Nikah sana..!" seru Damar.


"Nikah.. nikah.." Jonathan bangkit dan membawa piring kotornya kebelakang, dan mencucinya sendiri. Sudah kebiasaan Jo dan Abelia untuk mencuci piring makan nya sendiri-sendiri.


"Kak, Abel balik rumah ya. Tapi ini mau kepasar dulu." kata Abelia kepada Damar.


"Sama saja kita balik, syuting sebentar lagi selesai. Untuk apa ke pasar siang begini ?"


"Abel mau Nemani Mai kak, untuk membeli legingnya yang kakak cabik-cabik ." gerutu Abelia, mengingat harus menganti leging Mai dengan yang baru.


"Siapa suruh mau mengelak, kalau sudah terdesak. Segala cara kakak lakukan.." Damar memeluk Abelia dari belakang dan mencium tengkuk Abelia, sehingga Abelia yang sedang duduk merasa kegelian.


"Wow..ngamar sana, jangan bermesraan didepan mata ku yang masih suci ini..!" seru Jonathan yang keluar dari dapur.


"Sok suci, mata mu itu sudah menjadi mesum akut..." ledek Damar.


"Kenapa tidak ada kemarahan dan kecanggungan diantara mereka, padahal pacar nya sudah dilarikan bang Jo ." heran Abelia melihat interaksi antara Damar dan Jonathan, tidak ada kebencian dan kemarahan yang terlihat dalam diri Damar.


"Apakah laki-laki begitu, cepat sekali melupakan permasalahan diantara mereka..?" dalam benaknya Abelia, yang terus bermunculan pertanyaan yang tidak mungkin ditanyakannya saat ini.


"Abel pergi dulu ya." ujar Abelia.


"Tidak bersama Damar Dek ?"


"Abel mau nemani Mai ke pasar kak ."


"Naik apa, jangan bonceng tiga lagi ya..!" kata Jonathan, yang telah mendengar dari mulut Damar. Bahwa Abelia sering bonceng tiga dengan kedua temannya.


"Nggak, Abel naik sepeda."


"Dam, kenapa tidak kau suruh supir nganterin Abel kemana-kemana. Mobil kau banyak begitu.." Jonathan menatap Damar.


"Tanya tu sama adekmu sendiri, jangan kira aku tidak perduli.." kata Damar.


"Lebih enak naik sepeda, lebih sehat ." ucap Abelia dan berlalu dari hadapan kedua pria yang ada dalam kehidupannya sekarang.


Sepeninggal Abelia, Jonathan mendekati Damar.


"Bagaimana, apa dia sudah bisa menerima pernikahan ini ?"


"Dia masih sering mengungkit-ungkit masalah kita." kata Jonathan.


"Moga perbuatan kita ini tidak diketahui olehnya, jika dia mengetahuinya aku rasa dia akan marah besar. Apa lagi dia itu sangat keras kepala." kata Jonathan.


"Kau yang mengusulkan ide ini ya, kalau aku ingin nya mendekati dirinya secara normal." kata Damar.


"Mendekati apa ?" tanya Abelia, yang tadi sudah pergi. Tiba-tiba muncul kembali.


"Hei Dek, kenapa balik. Tidak jadi pergi !?" cukup kaget Damar dan Jonathan mendengar suara Abelia.


"Tas Abel ketinggalan." Abel mengambil tasnya yang berada didalam kamarnya.


"Kak Damar ingin mendekati siapa, apa kak Damar ingin mendekati gadis lain untuk di nikahi lagi ?" tanya Abelia, dan matanya menatap Damar dengan tatapan yang menusuk.


"Abel, satu gini saja tidak habis. Untuk apa nambah lagi.." goda Damar sembari menangkup wajah Abelia.


"Awas ya, jika macam-macam. Ceraikan Abel..!" kemudian Abelia berlalu dari hadapan Damar.


"Untung..!" seru Jonathan dan mengelus-elus dadanya.


"Jangan bahas ini lagi, ingat itu..!" ujar Damar, dan menarik napas lega.


"Bagaimana jika Abel ingin minta cerai, apa kau akan mengabulkan nya jika kita ketahuan ?" tanya Jonathan.


"Gila kau, sampai kapan pun aku tidak akan berpisah dengannya..!" kata Damar dengan tegas.

__ADS_1


"Semoga kau bisa mencairkan hatinya kembali.."


***


Dalam perjalanan menuju kerumahnya Mai, Abelia terus memikirkan perkataan yang didengarnya tadi.


"Sepertinya ada yang mereka sembunyikan, tapi apa ?" Abelia terus berpikir apa yang didengarnya tadi.


"Abel..!" terdengar suara Mai dibelakangnya, Abelia menghentikan sepedanya. Dan menoleh kebelakangnya.


"Dari mana elu, gue baru mau kerumah ?"


"Tadi ke toko dulu, biasa.Emak gue lagi manja-manja dengan suaminya, tidak bisa ditinggal sebentar. Terpaksa gue berkorban lagi jaga toko, moga tu calon adek gue laki-laki. Biar gue bisa nyantai.." ucap Mai asal.


"Suaminya, Ayah elu kan."


"Adek mu besar, elu sudah nikah.." ledek Abelia.


"Jangan-jangan adek elu dan anak elu ntar seumuran.." Abel tertawa ngekeh membayangkannya.


"Ledek terus, anak elu dengan adek gue yang seumuran. Abel, elu gendutan sekarang. Dikasih makan apa sama kak Damar ?"


"Dikasih makan batu ..!" jawab Abel ketus.


"Hih...mulut Neng, ketus sekali. Jangan-jangan elu hamil !?" ujar Mai, setelah memperhatikan tubuh Abelia dengan seksama.


Abelia tertegun mendengar perkataan Mai, dan matanya memandang perutnya.


"Apa iya.." gumamnya.


"Sepertinya tidak, beberapa hari ini gue dikasih makan kak Damar telur setengah mateng. Mungkin karena itu.." tutur Abelia.


"Hih..elu tidak suka telur kan ?"


"Pemaksaan, kalau tidak makan tu telur. Gue tidak boleh keluar rumah, bisa gila gue berkurung dirumah terus ."


"Jadi nggak Kita kepasar, gantiin leging elu?"


"Nggak usah, gue ikhlas."


"Tumben elu baik."


"Dari dulu gue baik Neng, eh kita ketempat Rozi saja. Tadi Rozi bilang Andy lagi ada di warungnya."


"Nongol tu orang, ayo kita kesana ."


"Elu bisa ikut, nanti suami elu kecarian ?"


"Tenang, laki gue lagi sibuk ngurus syuting iklannya." kata Abelia, dan memutar arah sepedanya. Dan menaikinya menuju kerumahnya Rozi, dan diikuti Mai dengan sepedanya.


"Kebun elu jadi tempat syuting ya, modelnya cantik ?"


"Lumayan, tapi cantikan gue.." ucap Abelia.


"Muji diri sendiri Neng."


Akhirnya mereka sampai di warung Rozi dan mereka melihat Rozi dan Andy sedang berbincang-bincang.


"Kemana aja lu Andy ?" tanya Abelia dan duduk di kursi didepan Andy.


"Sibuk Abel, merintis usaha baru ." kata Andy.


"Nah hijau tu mata, lihat orang tajir.." sindir Rozi.


"Sirik elu.." balas Mai.


"Amin, untuk menghidupi istri satu sudah bisa.." jawab Andy, dan sekilas dia melirik Abelia. Tapi Abelia tidak menyadari lirikannya, hanya Mai yang mengetahui nya.


"Aduh.. sepertinya Andy naksir Abel nih, bakalan ada yang patah hati.." dalam benaknya Mai.


"Handphone elu juga tidak bisa dihubungi ." kata Abelia.


"Handphone gue hilang."


"Pantesan pesan gue tidak dibaca." kata Rozi.


"Usaha bengkel, jadi elu perbesar ?" tanya Abelia.


"Iya, sekarang ini. Akan gue buka disini, ada tanah disebelah rumah kakek gue dan akan gue manfaatkan ." kata Andy.


"Jadinya elu akan tinggal disini ?" tanya Rozi.


"Untuk sekarang tidak, karena masih pembangunan. Nanti kalau sudah buka, mungkin bisa tinggal disini. Atau cari orang yang terpercaya untuk mengawasinya ." kata Andy.


"Asik..! kita bisa bersama lagi seperti jaman sekolah.." ucap Rozi kesenangan.


"Bagaimana jika hari ini kita ke kota, gue traktir kalian makan ." kata Andy.


"Ok..makan apa saja ya, jangan dibatasi harganya ya ." kata Mai.


"Beres, terserah kalian." jawab Andy.


"Abel, elu bagaimana ?" tanya Mai.


"Bagaimana jika gue ketemu bang Jonathan untuk minta izin ." kata Andy.


"Nggak perlu minta izin kepada bang Jo sekarang Abel jika ingin pergi ." kata Rozi.


"Kenapa, apa sekarang bang Jonathan sudah tidak mengawasi dirimu lagi Abel ?" tanya Andy.


"Bukan tanggung jawab bang Jo lagi, sekarang Abel sudah menjadi tanggung jawab lakinya." kata Rozi.


Mendengar perkataan Rozi, terlihat perubahan dari raut wajah Andy.


"Maksudnya ..?"


"Lah elu ketinggalan berita ni, Abel tu sudah jadi istri orang. Sudah mau sebulan dia nikah.." kata Rozi lagi.


"Abel, elu sudah nikah ?" terlihat kekecewaan dalam nada suara Andy.


"Iya, maaf gue tidak mengundang elu. Lu sih pakai. ngilang tanpa kabar ." kata Abelia.


"Terakhir kita ketemu, elu tidak punya pacar ?"


"Panjang ceritanya, penuh lika-liku ." kata Mai.

__ADS_1


"Apa elu dijodohin ?"


"Iya.." Abelia menganggukkan kepalanya.


"Kenapa terima Abel, jika kau tidak mencintainya. Sedangkan diluar sana mungkin ada pria yang sedang menunggu dirimu ..!" kata Andy.


"Mungkin sudah jodoh ." jawab Abelia.


"Ah sudahlah, gue tidak mau membahasnya. Sekarang gue sudah menjadi seorang istri ." ucap Abelia dan beranjak dari duduknya.


"Mau kemana Abel ?" tanya Rozi.


"Baliklah, sekarang gue tidak sebebas dahulu lagi. Kaki dan badan ini sudah tidak bisa pergi tanpa izin, nanti gue minta izin dulu ya. Kalau izin turun gue ikut, kalau izin tidak turun ya bye...bye saja.." tutur Abelia.


"Bye balik dulu." Abel melambaikan tangannya.


Andy hanya dapat memandang punggung Abelia yang makin menjauh dari pandangan matanya.


"Andy, elu suka Abel ya ?" tanya Mai.


"kelihatan ya ?" tanya Andy.


"Elu suka Abel ?" tanya Rozi.


"Hanya gue yang ngeliat, tapi Abel tidak ." kata Mai.


"Gue juga tidak." kata Rozi.


"Apa gunanya suka, jika sudah terlambat." ujar Andy pelan.


"Gue harap rasa suka elu, jangan dimunculkan kembali. Jangan sampai Abelia ada masalah dengan suaminya." ujar Mai.


"Siapa suaminya, orang sini ?"


" Itu yang punya pabrik cosmetics satu-satunya yang ada disini ." kata Rozi.


"Oh.. orang kaya, wajarlah Abel mau menerima perjodohan ini ." kata Andy dengan sinis.


"Jaga bicaramu Andy, lu kira Abel cewek seperti apa. Sepertinya elu sudah salah menilai diri Abel.." ucap Mai dengan keras, dia marah karena Andy mencap Abelia sebagai cewek matre.


"Kalau elu tidak tahu ceritanya, jangan nilai Abelia sebagai cewek matre." ujar Rozi juga.


"Apa ada yang terjadi ?" tanya Andy.


"Itu privasi Abel, biar dia yang menceritakannya. Jika dia ingin ." kata Mai.


"Gue balik dulu ya." ucap Mai, dia tidak bersemangat lagi untuk ngobrol dengan Andy. Setelah mendengarkan perkataan Andy tadi.


"Gue balik juga Zi." kata Andy, dia tahu bahwa Mai dan Rozi marah kepadanya.


"Ok."


***


Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, baru kali ini Damar pulang malam sejak mereka menikah.


'Kemana kak Damar, tadi katanya pulang cepat ?"


Abel melihat ponselnya, dan tidak ada pemberitahuan yang masuk.


"nggak ngirim pesan, coba gue yang pulang lama. Pasti sudah ngomel tujuh hari tujuh malam." ngedumel Abelia.


"Tahu gini tadi, ikut mereka makan-makan lebih asik. Dari pada sendiri disini." Abel tidak mengetahui bahwa teman-temannya batal ditraktir Andy.


cklek..


Pintu kamar terbuka, dan muncul wajah Damar yang letih.


"kenapa lama kak ?"


"Tadi syuting terus dilakukan sampai selesai." Damar menghempaskan tubuhnya disofa disamping Abelia.


Cup..


Damar mengecup pipi Abelia tiba-tiba.


"Kakak..! mandi sana jorok, main cium saja.." Abelia mendorong tubuh Damar.


"Mandiin kakak." Damar meletakkan kepalanya di pundak Abelia.


"Hih..kolokan, sudah tua minta dimandiin. Malu dengan umur."


"Ayo kita mandi bareng." bujuk Damar, dan Damar melekatkan bibirnya ditengkuk Abel.


"Abel sudah mandi, sana mandi kak. Biar Abel siapkan makan kak Damar dulu."


"Kakak sudah makan tadi dengan Jonathan, karena ini hari terakhir. Maka tadi mentraktir semua yang sudah capek ngurus syuting."


"Jadi tidak mau mandi bareng ?" ucap Damar lagi, dengan menunjukkan wajah memelas.


"No..!" Abel menarik Damar dan mendorongnya untuk masuk kedalam kamar mandi.


"Tunggu kakak, jangan tidur dulu ya.." ucap Damar dan mengedip-ngedipkan matanya.


"Arwah mesumnya muncul, kalau begini terus. Bener-bener bisa hamil gue nanti.." gerutu Abelia.


"Tidur aja ah.." Abelia berlari naik keranjang dan menarik selimut untuk menutupi badannya sampai ke lehernya, dan Abelia memejamkan matanya untuk berpura-pura tidur.


"Moga kak Damar tidak tahu gue pura-pura tidur." guman Abelia.


Begitu mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Abelia memejamkan matanya untuk berpura-pura tidur.


Damar naik keatas tempat tidur dan melihat Abelia memejamkan matanya.


"Abel, kakak tahu bahwa Abel pura-pura tidur ." Damar menarik badan Abel untuk menghadap kearahnya.


Damar mendekatkan bibirnya, dan ******* bibir Abelia. Tetapi Abelia tetap mempertahankan pura-pura tidurnya.


Bibir Damar bermain diatas, sedangkan tangannya bermain di dua gundukan Abelia yang menantang untuk didaki.


"Kak Damar..!" matanya terbuka, setelah dia tak tahan lagi dengan belaian tangannya Damar di area sensitifnya.


"Hemhm... bangun juga kan.." senyum Damar melihat Abel membuka matanya, dan napasnya megap akibat ciumannya tadi tanpa jeda.


Asik nulis, sampai lebih 2000 kata 🤪🤪.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2