Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 28 gosipin cik suami


__ADS_3

Hai jumpa lagi dengan author, tekan like, bintang 5 and coment ya kakak-kakak reader..trims.


Selesai mandi Abelia keluar dari kamar, dan dilihatnya Damar sudah tidak ada di ranjang lagi.


"Cepet dia bangun, gue kira dia malas bangun pagi ." ujar Abel.


Abel kemudian keluar dari kamarnya, dan suasana diluar masih sepi.


Abel celingukan mencari orang untuk menanyakan letak dapurnya, karena saat dulu dia sering kesini. Rumah ini belum begitu besar, sedangkan sekarang rumah makin besar dan banyak pintu yang Abelia tidak ketahui ruangan apa.


Ketika celingukan, Abelia merasa ada benda yang menempel di punggungnya. Dengan cepat Abelia membalikkan badannya, dan betapa kagetnya dia begitu melihat siapa yang berada didepannya. Dan tongkat nenek yang menyentuh punggungnya tadi.


"Nenek...!" seru Abelia kaget dan mundur dua langkah ke belakang.


"Begini kelakuan cucu menantu, bangun tidur sudah siang ." ucap nenek dengan datar.


"ini masih pagi nek, baru jam 6 pagi ." kata Abelia.


"Berani kau menjawab perkataan ku ?" Nenek Damar mengangkat tongkatnya ingin memukul Abelia.


"Ibu..! apa yang ingin ibu lakukan..?" Wijaya memegang tongkat ibunya, yang sudah hampir mengenai kepala Abelia. Sedangkan Abelia sudah melindungi kepalanya dengan tangannya.


"Anak ini sudah berani melawan perkataan ku ." ucap Nenek Damar.


Damar yang baru keluar dari ruang gym, melihat keributan. Dan mendekat dan melihat Abelia berdiri dengan wajah yang pucat.


"Ada apa ?" Damar memeluk Abelia.


"Nenek ingin memukul Abelia, untung papa datang tepat waktu ." kata papa Damar.


"Nenek..! tega nenek ingin memukul Isti Damar..?" ucap Damar pada neneknya, dengan sedikit emosi.


"Dia berani melawan cakapku ." kata neneknya.


"Apa kau melawan cakap nenek ?" tanya Damar kepada Abel yang sedari tadi diam karena masih takut, karena sedari dia kecil dia tidak pernah mengalami kekerasan.


"Abel.." tegur Damar.


"Ya kak ?" ucap Abel pelan.


"Apa Abel melawan nenek ?" tanya papa Damar.


"Tidak pa, Abel hanya bilang baru jam 6 pagi ini. Abel tidak bangun kesiangan.." kata Abelia.


"Ibu, kalimat yang mana Abel melawan perkataan ibu..?"


"Sudah kalian bela saja dia, biar besar kepala dia.." nenek Damar pergi sembari menggerutu.


'Maafkan nenek ya Abel ." kata papa Damar.


"Ya pa.." jawab Abelia.


"Sebentar lagi kami akan kembali, ayo kita sarapan dulu." ucap papanya.


"Damar mandi dulu, Abel duluan saja ." kata Damar.


"Tapi kak.." perasaan takut masih ada didalam dirinya.


"Tidak apa-apa, nenek kalau sudah ngamuk dia tidak akan makan diluar ." kata papa kepada Abelia.


Papa Damar meninggalkan pasangan baru tersebut.


"Tunggu kakak di meja makan, mama juga ada disana. Kakak akan cepat mandi ."


"Tidak, Abel ikut kakak saja. Nanti kita sama-sama ke meja makan ." kata Abelia.


"Baiklah, ternyata istri kakak ini penakut juga.." goda Damar dan tangannya mengelus pipi Abelia.


****


Setelah mengalami drama yang panjang, dengan penolakan nenek untuk ikut pulang. Nenek masih ingin tinggal dengan Damar.


Tapi papa Damar tahu, jika nenek tinggal dirumah Damar. Pasti nenek akan membuat kekacauan dirumah tangga Damar.


Karena itu papa Damar mengancam ibunya, tidak akan memberikan dana kepada keponakan ibunya yang masih sekolah diluar negeri. Dengan berat hati nenek ikut kembali pulang bersama dengan Wijaya.


"Abel, baik-baik dirumah ya. Dan kamu Damar, jaga istri kamu. Jangan ribut kalian, jika yang satu tinggi suara dan yang satunya rendahkan suara ." nasihat mamanya Damar.


'Damar, jika kau sudah bosan dengannya. Tinggalkan saja, jodoh yang nenek carikan masih sendiri.." ucap nenek Damar sebelum masuk ke mobil.


"Nenek..!" seru Damar yang tidak suka mendengarkan perkataan neneknya.


"Sudah, jangan dengarkan. Anggap saja nenek orang tua yang sudah pikun ." bisik mama Damar kepada Abelia.

__ADS_1


"Hati-hati Pak Yusuf, bawa kendaraan nya.." ingatkan Damar kepada sopir pribadi papanya.


"Iya Den.." jawab Pak Yusuf.


Ketika mama ingin naik kedepan, duduk disamping supir. Abelia heran.


"Kak, kenapa mama yang duduk didepan.?" tanya Abelia.


"Nenek tidak ingin duduk dekat mama, mungkin nenek takut turut derajat nya ." kata Damar.


Mobil dengan perlahan-lahan meninggalkan Damar dan Abelia, mobil tersebut dengan makin menjauh dan hilang dari pandangan mereka.


"Kak, Abel mau kekebun dulu ya.." ucap Abel, dan ingin pergi dari hadapan Damar. Tetapi Damar menariknya, sehingga Abelia terbentur ke dada Damar.


'Mau kemana, kita baru semalam menikah. Abel sudah mau pergi hemhm.." Damar memeluk Abelia dengan erat.


"Abel, mau kekebun kak. Semalam Abel tidak kesana, katanya hari ini ada petugas penyuluhan yang akan datang.." ucap Abelia yang gugup, karena Damar memeluk dirinya dengan erat. Sehingga dadanya menyentuh dada Damar.


'Kenapa gugup.." Damar mendekatkan wajahnya kewajah Abelia.


"Nggak gugup, siapa yang gugup.." ucap Abelia, dan jantungnya berdetak tak karuan.


"Aduh..Abel, kenapa sih kau gugup begini. Semalam juga kak Damar sudah memeluk ku." dalam benaknya Abelia.


Tiba-tiba Damar memegang tengkuknya Abelia, dan mendaratkan kecupan dibibir merah mudanya Abel. kecupan Damar cukup dalam dan meminta balasan, tetapi Abelia terus meronta-ronta dan mendorong tubuh Damar yang memeluk dirinya.


Damar melerai kecupannya, dan memandang bibir Abelia yang basah karena Saliva Damar.


"Kak Damar, kenapa kakak mencium Abel. Apa kakak tidak tahu, kita sekarang berada di mana ?" tanya Abelia dan matanya mendelik lebar menatap Damar.


Melihat mata Abelia mendelik, membuat Damar makin gemas dan ingin mengulangi lagi kecupannya tadi.


Damar mendekat kan kembali wajahnya, dan bibirnya siap-siap mendarat dibibir Abelia. Tetapi Abelia dengan cepat mendorong wajah Damar.


"Hih...kak Damar, main nyosor saja. Nggak tahu malu..." bentak Abelia.


"Kakak cium istri sendiri, untuk apa malu. Kakak tidak mencium istri orang.." kata Damar.


"Ini diluar rumah kak, adat ketimuran harus kita pegang kak. Jangan karena kakak pernah tinggal di luar negeri, kakak melupakan adat istiadat kita.." ucap Abelia.


"aduh..! sepertinya istri kakak akan jadi ustazah.." ledek Damar, dan Abelia tetap berada dalam pelukannya.


"Lepaskan kak, lihat banyak pekerja yang melihat kita.." banyak pekerja yang melihat dan tersenyum kearah Damar dan Abelia yang berpelukan di teras rumahnya.


"Biar saja, mungkin mereka maklum. Karena kita baru menikah, masih hot-hot nya. Apalagi tadi malam kakak belum malam pertama, mungkin pagi ini bisa kita...." kedipan diberikan mata Damar kepada Abelia.


"Laki-laki mesum, terima itu..!" seru Abelia yang sudah berlari menuju sepeda kesayangannya, tadi pagi sudah diantarkan Pak Sukri.


"Abel, awas kau ya.." teriak Damar sembari mengelus kakinya yang diinjak Abelia tadi.


"Awas kau Abel, aku akan meraih hatimu kembali.." ucap Damar.


Damar tahu, bahwa Abelia belum bisa menerima dirinya, dan masih kecewa dengan ucapannya dahulu.


"Aku akan menunggu Abel, tidak akan ku lepaskan diri mu lagi.." guman Damar, dan kemudian beranjak menuju kantornya, yang berdekatan dengan lokasi rumahnya.


****


Abelia mengayuh sepedanya dengan gembira, karena berhasil membebaskan diri dari Damar.


"Abel...!" panggil Mai yang baru saja keluar dari rumahnya, dan mendorong sepedanya.


"Kenapa elu sudah keluar rumah, pengantin baru biasanya ngurung diri dikamar.." kata Mai.


"Kalau gue pengantin baru, tapi rasa lama. Tidak perlu berkurung dikamar." jawab Abelia.


"Hemhm.. bagaimana tadi malam, berapa ronde. Dan gaya apa saja yang diajarkan kak Damar pada elu..?" tanya Mai dengan serius.


Pletak.... jemari Abelia mendarat dikening Mai.


" Aduh Abel, kenapa elu melakukan kdrt kepada gue. Seharusnya pada laki elu.." Mai mengelus keningnya yang kena korban jari Abelia.


"Mulut elu mesum akut.."


"Gue cuma nanya Abel, lagian elu tidak capek. Pagi begini sudah nangkring di sepeda, bukan melayani suami." kata Mai.


"Suami sudah gue karungin, sekarang gue bebas.." celetuk Abelia.


"Lah...elu janda nih..!"


"Ih... omongan elu ya, masa baru nikah semalam. Hari ini sudah janda.." gerutu Abelia, dan menuntun sepedanya.


"Elu mau kemana ?" tanya Abelia kepada Mai, yang mengiringi nya dengan menuntun sepedanya juga.

__ADS_1


"Mak gue ngidam bubur kacang hijau, minta dibeliin ." kata Mai.


"Enak tu, ayo gue juga ingin makan bubur kacang hijau."


"Elu hamil juga, cepat juga langsung jadi ?"


"Hih.. mau gue jitak lagi jenong elu itu.." ancam Abelia.


"Jangan marah terus Abel, ntar anak elu galak.."


"Hih.. ini mulut, nanti didengar orang. Dikira orang gue married by accident.." ujar Abelia.


"Sorry Abel, Bagaimana kak Damar. Ganas dikasur..?" ucap Mai dengan berbisik.


"Dia dikasur letoy.. karena sampai hari ini gue masih segel.." ucap Abel sembari tersenyum bahagia.


"What...! bener..?"


"E..e..itu kak Damar nggak bertenaga, padahal gue tadi malam sudah pakai lingerie merah menyala, dan bahannya dari jala ikan.." ucap Abelia dengan wajah yang serius, dan Mai juga mendengarkan dengan serius juga.


"Jala ikan, bau ikan dong lingerie nya ." kata Mai.


"Hih.. bukan dari jalan ikan, tapi tu baju mirip jala. Karena bolong-bolong.." ucap Abelia.


"Kak Damar tidak berminat juga melihat dirimu hampir polos begitu ?" tanya Mai.


"Tidak.." jawab Abelia.


"Jangan-jangan kak Damar gay.." bisik Mai yang takut orang mendengar mereka membicarakan Damar.


"Mungkin juga.." kata Abelia.


"Kapan elu hamil dan punya anak, jika kak Damar tidak berminat dengan wanita. jangan-jangan kak Damar nanti jatuh cinta dengan Rozi.." ucap Mai tiba-tiba.


Abelia hanya tertawa, berhasil membohongi Mai.


"Elu tidak sedih Abel, suami elu punya kelainan..?"


"No..! untuk apa sedih, udah dulu. Gue mau balik dulu, mau lihat anak-anak ku dulu.." ucapnya dan mulai menaiki sepedanya.


"Abel, kata nya mau beli bubur..?"


"Batal, gue buru-buru.." Abelia mengayuh sepedanya.


"Aduh Abelia, kasihan nasib elu. Suami ganteng tapi punya kelainan, hih... ngeri..!" bergidik Mai membanyakkan Damar yang macho mempunyai kelainan.


"Ah hampir lupa beli bubuk kacang hijau, gara-gara memikirkan Abelia.." Mai menaiki sepedanya dan mulai mengayuhnya.


****


Abelia sampai dikebunnya, dan dilihatnya para pekerja sedang membersihkan bunga dari rerumputan yang tumbuh.


"Neng Abel, kenapa sudah kekebun. Tidak pergi seperti pengantin baru yang lain. pergi honeymoon itu lo.." ujar Mang Sukri.


"Mang Sukri tahu honeymoon juga ya. ?" ucap pekerja yang lain meledeknya.


"Tahulah, ya keponakan saya dulu menikah. Minta duit untuk pergi honeymoon katanya.." kata Mang Sukri.


"Keponakan honeymoon, yang keluar duit mamang. Sial bener mamang.." kata Abelia dan meledek mang Sukri juga.


"Yah.. bagaimana lah Neng, ponakan satu-satunya.." jawab mang Sukri.


O..o..o Abelia hanya ber o ria saja.


"Nggak honeymoon neng ?" tanya Mang Sukri lagi.


"Kak Damar sibuk Mang, lagi pula desa kita akan datang penyuluhan dari Dinas pertanian. kita harus ikut biar tahu tentang penyakit-penyakit bunga." kata Abelia.


"Iya neng, besok ya penyuluhan nya..?"


"Iya mang, besok ikut juga ya.." kata Abel.


"Bang Jo kemana ya Mang, rumah sepi ?"


"Baru saja pergi neng, ada pesanan bunga dari Hotel emerald. Mereka minta diantar bunga lily putih dan kuning.." kata Mang Sukri.


"Banyak pesanan kita dalam Minggu ini ya mang."


"Alhamdulillah neng.."


Abelia berkeliling kebun bunganya, untuk melihat bunga-bunganya. Setiap hari Abelia rutin melakukan aktifitas keliling kebun bunganya, untuk melihat apakah ada bunganya yang terserang hama.


**Maaf jika ada typo dan penulisan ✍️ salah ya, author cuma manusia biasa tidak luput dari kesalahan-kesalahan.

__ADS_1


Bantu author dengan cara tekan like, bintang lima dan coment jika ada waktu**.


Bersambung


__ADS_2