Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 21 Malu-malu


__ADS_3

Bantu like ya kakak reader tersayang, biar author semangat untuk menulis.


***


Abelia berlama-lama memandang lampu-lampu yang berkelap-kelip, sehingga dia tidak sadar ada langkah kaki mendekat tempat dia berdiri. Dan sepasang tangan memeluknya dari belakang.


"Kenapa berdiri disini ?" Damar berdiri dibelakangnya, dan melingkarkan tangannya diperut Abelia. Mendapatkan pelukan tiba-tiba Abelia sangat kaget, dan berusaha untuk melepaskan pelukan Damar.


"Jangan lepaskan, kakak ingin memeluk Abel sebentar. Abel sangat harum, ini pasti harum bunga Lily ." tebak Damar, Damar menghirup wewangian yang ada dirambut Abelia.


"Apa ini shampoo bunga Lily ?" tanya Damar, dan wajahnya masih terbenam dirambut Abelia yang panjang terurai.


"Iya ." jawab Abelia dengan pelan dan gugup, jantung Abelia berdetak sangat kencang. Seakan-akan Abelia berada didalam ruangan yang memutar music sangat keras.


"Gue sudah berusaha melupakan dirinya, dan menata kembali hati dan perasaan ini. Dan dia membuka lagi kenangan dulu ." rintihan dalam benaknya Abelia.


"Kak lepaskan.." ujar Abelia dengan suara yang bergetar.


"Diam, lihat saja pemandangan kota disaat malam begini." Damar mempererat pelukannya, sehingga sulit bagi Abelia untuk lepaskan dirinya.


"Ayo kita makan, kakak sudah pesan makanan tadi.." Damar melepaskan pelukan nya dan menarik Abelia untuk meninggalkan balkon.


"Kak, Abel mau mandi dulu. Tapi Abel tidak ada baju ganti ."


"Ini, kakak sudah suruh orang bawakan tadi ." Damar mengambil paper bag yang ada diatas nakas dan memberikan nya kepada Abelia.


Abelia mengambil paper bag tersebut dan melihat apa yang ada didalam nya.


Abelia mengeluarkan isi paper bag, dan dia kaget ketika melihat pakaian dalam yang berada didalamnya terjatuh kelantai.


"Itu pakaian dalam, moga cocok. Tidak kebesaran.." terlihat senyuman jahil disudut bibir Damar.


Dengan perasaan yang malu dan wajahnya sudah memerah, Abelia menyambar pakaian dalam yang berada dilantai dan berlari masuk kedalam kamar mandi.


"Hih kak Damar, kenapa membelikan pakaian dalam juga.." Abelia melihat pakaian dalam yang dibelikan Damar berwarna peach.


Selesai mandi, Abelia mengganti bajunya dengan yang dibelikan Damar.


"Ini belum dicuci, bagaimana bisa kupakai ." saat ingin memakainya, Abelia tersadar bahwa baju itu belum dicuci. Sehingga dia membatalkan niatnya untuk memakainya.


Abelia kembali memakai bajunya yang tadi, dan setelah selesai Abelia keluar dari kamar. Dan dilihatnya Damar duduk didepan TV, dan mengutak-atik handphone yang ada ditangannya.


Kepala Damar terangkat, begitu melihat Abelia keluar dari kamar.


"Kenapa tidak ganti bajunya, apa tidak cocok atau tidak suka ?" tanya Damar, begitu dilihatnya Abelia masih memakai bajunya yang tadi juga.

__ADS_1


"Belum dicuci kak ." kata Abelia dan masih berdiri sangat jauh dari tempat Damar duduk.


"Sini duduk, kakak tidak makan orang." Damar menepuk-nepuk sofa disampingnya.


Dengan ragu-ragu Abelia mendekati Damar, dan kemudian duduk disamping Damar.


"Kenapa gue seperti anak baru gede begini, malu-malu ." dalam benaknya Abelia.


"Baju tadi semuanya sudah dicuci, kakak suruh orang yang membelikannya untuk mencucinya langsung. Baju itu kakak suruh beli saat kita dalam perjalanan kekota, karena kakak tahu bahwa Abel tidak bawa baju ganti kan." kata Damar.


"Bagaimana bawa baju ganti, kesini saja karena paksaan." ngedumel Abelia dalam hatinya.


"Oh, nanti Abel ganti." ujar Abelia, dan matanya melihat ke siaran TV. Sedangkan Damar kembali fokus dengan handphone yang ada digenggaman tangannya.


Dua anak manusia yang berada didalam ruangan tersebut, berada dalam dunianya masing-masing. Damar sibuk dengan handphonenya membahas pekerjaan dengan sahabatnya Sony, sedangkan Abelia memikirkan bagaimana cara untuk menghindari pernikahan yang tidak diinginkannya ini.


"Ayo kita makan." Damar meletakkan handphonenya dan meraih jemari Abelia dan membawanya menuju ruang makan.


***


Sedangkan diwaktu yang sama, dikediaman orang tua Damar. Terjadi perdebatan antara nenek dan papa Damar.


"Kenapa kamu izinkan Damar memilih sendiri calon istrinya ?" tanya Nenek Damar kepada Wijaya Samudra, putranya.


"Bu, Damar sudah dewasa. Kita tidak bisa mengekang kebebasannya dalam memilih pasangan ." kata Wijaya kepada ibunya.


Ningsih hanya menunduk, dia tahu bahwa ibu mertuanya. Dan ucapannya tadi juga ditujukan untuk dirinya.


Pernikahannya dahulu penuh dengan perjuangan, karena dia hanya anak tukang jamu. Sedangkan Wijaya Samudra anak pengusaha dan masih keturunan ningrat.


"Bu, cukuplah membanggakan keturunan siapa, darah biru. Bibit, bebet dan bobot. Apalah itu semua." kata Wijaya kepada ibunya, yang kekeuh mempertahankan tradisi dulu. Cari calon istri harus yang setara dengan keluarganya.


"Kalau dulu saya mengikuti keinginan ibu, mungkin saya sekarang sudah jadi duda.." kata Wijaya, ketika dia mengingat calon istri yang dijodohkan ibunya. Meninggal dalam kecelakaan lalu lintas dalam keadaan mabuk.


Dulu Wijaya Kesuma juga di jodohkan Dengan anak sahabat ibunya, tetapi Wijaya menolak keinginan ibunya. Karena dia sudah menjalin kasih dengan Ningsih sejak Ningsih SMP dan Wijaya SMA.


Jalinan kasih mereka penuh dengan perjuangan dan air mata, saat itu Wijaya meneruskan sekolahnya dikota besar. Sedangkan Ningsih masih dikota kelahiran mereka, Walaupun usia mereka terpaut jauh, 5 tahun. Tetapi sifat dewasa Ningsih membuat Wijaya nyaman bersama dengan Ningsih.


"Ibu tidak akan menghadiri pernikahan Damar, ibu datang kesini hanya ingin mengatakan itu saja. Besok ibu akan kembali ke Solo.." kemudian ibu Wijaya bangkit ingin masuk kedalam kamar.


"Bu makan dulu, nanti ibu sakit ." Ningsih mencegah ibu mertuanya untuk masuk kedalam kamarnya.


"Saya sudah kenyang dengan kelakuan kalian, gara-gara kamu ya. Anak dan cucu saya jadi pembangkang.." ucap ibu Wijaya.


Ningsih kaget menerima kemarahan ibu mertuanya, dia sampai mundur dari dekat ibu mertuanya.

__ADS_1


"Ibu..! kenapa ibu memarahi Ningsih ?" tanya Wijaya dan berjalan mendekati Ningsih yang berdiri terpaku didekat ibu mertuanya. Sedangkan ibu mertuanya menatap Ningsih dengan tatapan mata tajam dan penuh intimidasi, agar menantunya itu takut dengan dirinya.


Wijaya merangkul Ningsih dan menenangkan Ningsih yang ketakutan.


"Sudah sayang.." Wijaya mengusap-usap, pundak Ningsih dengan lembut.


Sejak menikah sampai sekarang, Ningsih selalu takut menghadapi ibu mertuanya. Jika bersama dengan ibu mertuanya dalam satu ruangan, Ningsih selalu diam. Dia takut jika salah bicara.


Berbeda dengan ayah mertuanya, Ningsih bisa berbaur dan berbincang-bincang dengan ayah mertuanya. Tetapi Tuhan sangat sayang dengan ayah mertuanya, sehingga 3 tahun yang lalu. Ayah mertuanya telah berpulang, karena menderita sakit gagal ginjal.


"Dasar perempuan lemah, tidak bisa ngurus satu anak saja !" seru mertuanya dan beranjak meninggalkan anak dan menantu yang tidak disukainya.


Wijaya menarik tangan istrinya untuk masuk kedalam kamarnya, dan membawanya untuk duduk disofa yang ada didalam kamarnya.


"Ningsih, kamu tahu bagaimana ibuku kan. Jangan diambil hati ya." kata Wijaya .


"Ningsih juga ingin dianggap oleh ibu mas, sudah 25 tahun Ningsih masuk kedalam keluarga Wijaya. Ibu tidak pernah mau berbicara dengan Ningsih, apakah sungguh tercela menjadi anak tukang jamu dan miskin mas ." Ningsih berbicara sembari menangis.


"Siapa bilang tercela, mas sungguh beruntung menikah dengan anak tukang jamu. Sampai sekarang mas itu sehat-sehat saja, itu berkat jamu hasil rajikan tangan ini, dan kamu itu sehat terus tidak pernah sakit. Itu semua karena minum jamu hasil buatan anak tukang jamu ini.." terdengar godaan dilakukan Wijaya terhadap istrinya, agar tidak sedih lagi.


"Kamu ini mas, Ningsih serius. Kamu malah melucu.." cemberut Ningsih menghadapi suaminya.


"Mas serius, karena anak tukang jamu ini. Uang mas makin banyak." kata Wijaya lagi.


"Kenapa ?" tanya Ningsih heran.


"Kita tidak pernah sakit, kalau sakit sekarang mahal.."


'Hih..mas ini !" pukulan manja didaratkan Ningsih dilengan Wijaya.


"Mas, apa besok Damar jadi membawa Abelia ?" tanya istrinya.


"Jadi, sekarang mereka menginap di apartemen Damar."


"Sudah lama tidak melihat Abelia mas, dulu dia anak yang imut dan lucu. Ingin ke Desa Mekar sari mas ." kata Ningsih.


'Bulan depan, peluncuran produk baru kita kesana. Mas juga ingin memantau pabrik disana ." kata Wijaya.


"Ayo kita makan, mas Sudah lapar."


"Ajak ibu mas." kata Ningsih.


"Sudah, tidak usah dipusingkan makan ibu. Di kamarnya sudah seperti market,tadi mas lihat. Yuni banyak belanja, sepertinya merajuk ibu sudah direncanakan. Sudah disiapkan makanan dikamar ibu." kata Wijaya dan merangkul istrinya keluar kamar menuju ruang makan.


Bersambung..

__ADS_1


Bantu like..like reader tersayang 🥰


__ADS_2