Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 6 Bertemu 2


__ADS_3

Cerita hanya rekaan dan hasil imajinasi.


****


Dalam perjalanan, Damar banyak bercerita dengan Rozi dam Mai . Sedangkan Abelia tetap mengatupkan mulutnya, enggan dia untuk ikut terlibat dalam pembicaraan mereka. Abelia diam dengan pikirannya sendiri yang berseliweran di otaknya, walaupun sesekali Rozi dan Mai mengajaknya untuk berbicara tetapi Abelia enggan untuk mengeluarkan suara emasnya. Sepertinya suara emas Abelia tidak ingin diperdengarkan nya kepada Damar.


"Mimpi apa gue, sampai bertemu dengan orang ini ." monolog dalam benaknya Abelia.


Dalam pikirannya, Abelia mengingat kembali bagaimana Damar menolaknya lima tahun yang lalu. Sehingga peristiwa tersebut membekas dalam pikirannya hingga sampai saat ini.


Flash back


Abelia pulang dari sekolahnya dengan gembira, karena hari ini dia ingin mengutarakan perasaannya kepada Damar.


Saat dia pulang, dia melihat mobil Damar terparkir didepan rumahnya. Damar sangat akrab dengan Jonathan, mereka satu sekolah saat masih SMP dan SMA dulu. Dan walaupun waktu kuliah mereka tidak satu Universitas, karena Damar kuliah diluar.


Begitu mengetahui bahwa Damar pulang liburan kuliah, Abelia sangat senang dan ingin mengutarakan perasaannya. Karena sudah cukup lama dia tidak bertemu dengan Damar.


"Kak Damar..!" begitu dilihatnya Damar duduk di teras rumahnya sendirian.


"Abel, sudah pulang sekolah.." ujar Damar sembari berdiri dan tangannya mengusap-usap rambut Abelia yang panjang tergerai.


"Sudah kak, kenapa kak Damar sendiri. Kak Jo ke mana ?" tanya Abelia.


"Kak Jo ke dalam tadi ." kata Damar dan kembali duduk.


"Kak, Abelia ingin bilang sesuatu." ujar Abelia dengan sedikit gugup.


"Ada Abel ?" Damar menatap wajah Abelia dengan insten.


"Hemmm...gini kak..." Abelia menghentikan perkataannya, dia ragu untuk mengatakannya.


"Apa, katakan saja. Jangan ragu-ragu." ucap Damar menunggu apa yang ingin diutarakan Abelia ke pada dirinya.


Dengan menarik napas dalam-dalam, Abelia mengucapkan apa yang ada dalam benaknya.


"Kak Damar, maukah menjadi pacar Abelia...!? seru Abelia dengan lantang.


Damar untuk sesaat terpaku, begitu mendengar perkataan Abelia. Tetapi kemudian dia tertawa lebar sampai terpingkal-pingkal, Damar tertawa sampai memegang perutnya. Karena merasa lucu mendengar perkataan Abelia.


"Abel...Abel..." ujar Damar sembari mengacak-acak rambut Abel dengan perasaan yang gemas.


"Kenapa kakak tertawa, apa ada yang lucu dengan perkataan Abel..?" tanya Abelia, sambil menatap wajah Damar dengan mata polosnya.

__ADS_1


"Abel, kamu itu baru 14 tahun. Belum saatnya mengenal cinta-cintaan, belajar saja yang benar. Lagi pula kakak sudah punya pacar dan kakak sangat mencintainya, dia seorang calon Dokter dan seorang gadis yang sangat pintar dan sangat cantik." kata Damar dengan gamblang nya, tanpa memikirkan perasaan Abelia yang masih murni dan polos.


Serrr.... perasaan Abelia seperti disiram air dingin, begitu mendengar perkataan Damar. Hatinya tiba-tiba membeku seperti tersiram air es, mata Abelia sudah merah. seakan-akan sesaat lagi akan turun hujan di pelupuk mata polosnya.


"Kak Damar.." lirih suara Abelia, dan kemudian Abelia berlari meninggalkan Damar untuk masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.


"Abel...!" panggil Damar, tetapi Abelia sudah berlari masuk kedalam kamarnya.


"Abel, sudah pulang ?" tanya abang nya, tetapi Abelia terus berlari tanpa menjawab sapaan abangnya.


Sebenarnya Abang nya juga mendengar semua apa yang dikatakan Abelia kepada Damar, tetapi Jonathan pura-pura tidak mengetahuinya. Karena dia takut Abelia merasa malu karena telah ditolak oleh Damar.


Di dalam kamar Abelia menumpahkan semua tangisannya, dan sejak saat itu Abelia selalu berusaha untuk menghindari orang yang bernama Damar Samudra Wijaya.


Jika Damar datang berkunjung menemui abangnya, Abelia selalu menghindari Damar. Walaupun Damar berulang kali ingin bertemu tetapi Abelia selalu sembunyi.


Flash back end.


"He... Abelia lu tidur ya, kenapa tidak terdengar suara indah mu itu, tumben elu diam. Biasanya mulut elu itu tidak bisa menutup ?" perkataan Rozi memutuskan ingatan masa lalu Abelia.


"Apa sih.." jawab Abelia dengan jutek.


"Gue kira elu tidur, suara elu tidak terdengar sih. Lamun kan apa non..?" tanya Rozi kembali.


"Lagi males ngomong, kalian saja yang ngomong juga sudah cukup." jawab Abelia.


"Kalian saja, gue sibuk. Dikebun lagi sibuk pembibitan." Abelia menolak nya.


"Tidak seru kalau elu tidak ikut Abel.." kata Mai.


"Kalian kan makan pakai mulut masing-masing, kalau gue tidak ikut nggak ngaruh kan pada kalian .." kata Abelia.


"Tapi kalau tidak ikut elu, tidak rame say...Kita kan friends sepanjang masa.." kata Rozi.


"Gue sibuk..!" Abelia tetap kekeuh menolak ikut.


Sedangkan Damar hanya diam, dia tahu bahwa Abelia masih marah dengannya sejak lima tahun yang lalu sampai saat ini. Sejak daluhu Abelia selalu menghindarinya.


"Gini saja, bagaimana jika traktirnya kita lakukan malam hari. Jam 7 kan waktu nya istirahat ." ucapan Damar melerai ketiganya untuk berhenti berkata.


"Bener tu kak Damar, jam 7 sudah waktunya kita mengistirahatkan badan dari segala aktivitas yang melelahkan. Dan waktu nya kita bergembira !" ujar Maimunah dengan gembira, karena Damar telah menemukan solusi agar Abelia bisa ikut.


"Nah tu Abelia, kak Damar mau traktir kita malam. Elu tidak ada alasan lagi untuk mengelak, kebun bunga elu kalau malam sudah bobok " kata Rozi.

__ADS_1


"Lihat nanti.." kata Abelia singkat.


Setelah tiba didepan rumah Rozi dan Maimunah, mereka berdua ingin turun dan Abelia juga ingin ikut turun. Tapi dicegah oleh Damar dengan cara mengunci pintu mobilnya.


"Buka..!" seru Abelia.


"Abel.. rumah elu masih jauh, apa elu mau jalan kaki balik. Di antar pakai mobil lebih nyaman.." ucap Mai yang melihat dan mendengar Abelia marah, karena tidak diizinkan untuk turun.


"Gue mau ke rumah elu dulu Mai !" seru Abelia, agar Damar membuka pintunya.


"Sudah malam Abel, nanti Jo khawatir. Lihat kamu malam begini belum pulang." kata Damar, sembari melajukan mobilnya kembali. Setelah Rozi dan Mai keluar.


"Bang Jo tidak dirumah !"


"Jonathan dirumah, tadi kakak rencana mau bertemu tapi batal. Karena kakak ada urusan tiba-tiba.


Abelia tidak menjawab perkataan Damar, dia mengatupkan bibirnya dengan rapat. Dan wajahnya menatap jalanan disampingnya.


"Apa kabar Abel, sudah lima tahun kita tak bertemu ya." ucap Damar.


Dan Abelia tidak menjawab, dia pura-pura tidak mendengar.


"Maaf ya, waktu om dan tante tiada kakak tidak bisa pulang. Waktu itu kakak lagi sibuk penelitian untuk produk baru parfum." lanjut Damar kembali, walaupun Abelia tidak menanggapi nya. Tetapi Damar terus berkata-kata, karena dia tahu bahwa Abelia mendengar semua perkataannya.


"Kakak senang, Abelia sehat. Walaupun om dan tante telah tiada, dan Jonathan telah menjadi abang yang melindungi Abelia." kata Damar.


Sampai tiba didepan rumah Abelia, hanya kebisuan yang dilakukan Abelia. Dia tetap menutup rapat mulutnya, enggan rasanya dia berada satu mobil dengan orang yang telah menolaknya dahulu.


Damar menghentikan mobilnya, tetapi Damar belum membukakan kunci mobilnya. Sehingga Abelia menjadi kesal.


"Buka..!" ujar Abelia saat dia membuka handel pintu mobilnya tetapi masih terkunci, membuat Abelia semakin emosi.


"Kakak masih rindu dengan suara manja Abel dulu.." ujar Damar sembari berusaha memegang tangan Abelia, tetapi Abelia menepisnya.


"Buka, kalau tidak gue akan teriak. Biar orang sekampung keluar, dan melihat kelakuan orang kota yang tidak sopan. Karena telah mengurung gadis di mobilnya." ancam Abelia, membuat Damar membuka kunci mobilnya.


"Ok..oke...Abel sayank.." ucap Damar sembari tertawa mendengar suara Abelia yang cukup panjang keluar dari mulutnya.


Begitu mendengar suara pintu terbuka, Abelia membukanya dan langsung keluar tanpa berkata apapun ke pada Damar.


"Abel, mimpi yang indah.ya.!" seru Damar.


**Bersambung

__ADS_1


Maaf jika ada typo dan kalimat yang rancu ya 🙏.


Bantu like...like ya**


__ADS_2