
Cerita recehan yang berasal dari hasil author halu setiap menit dan jam, sehingga menghasilkan suatu cerita yang bisa dibaca oleh kakak-kakak reader.
****
Abelia menyantap hidangan yang dipesannya di warung Rozi, Abelia menyantap dengan lahapnya dan tidak memperhatikan sekitarnya. Dia fokus dengan makanan yang berada dihadapan nya.
"Beib...elu sudah berapa lama tidak menemukan makanan, lahap sekali elu makan ?" Rozi heran melihatnya.
"Berisik...! diam sono, kerjakan tugas elu. Jangan ganggu gue, mbahnya cacing dan cicitnya sudah pada demo dilambung dan usus gue. Mereka minta diberikan makanan..." ujar Abelia dan melanjutkan makannya kembali.
"Hih..gue boss disini ya, tu...anak buah gue yang bekerja semua. Gue tinggal perintah saja.."
"Rozi...!" begitu selesai Rozi menyombongkan diri, emak Rozi berteriak dari dapur memanggil dirinya.
"Nah...lho, tu boss sebenarnya sudah manggil. Pergi samperin ntar di pecat elu jadi anak.." ujar Abelia sembari tertawa geli.
"Ya mak ntar, mak ini tidak bisa lihat anaknya seneng sedikit saja. Langsung tu mulut manggil ." ujar Rozi dan melangkah ke dapur, dimana emaknya berada.
"Abel, gue kerumah elu. Nggak tahunya elu nongkrong disini ." ucap Mai dan menarik kursi untuk dia duduki.
"Ngapain elu ke rumah ?"
"Mau ngasih pulut kuning, Bunda masak pulut dan disuruhnya bagi-bagi ketetangga." kata Mai.
"Pulutnya mana ?" tanya Abelia, karena dilihatnya Mai hanya membawa satu rantang saja.
"Di rumah elu lah non, gue kasih ke abang Jo. Hei Abel di rumah elu ada Damar bersama cewek cakep, Mungkin itu calonnya ya. Cakep Abel, pantes dulu elu ditolaknya. Pacarnya cakep mirip model." cerocos Mai tanpa jeda, dia tidak melihat air muka Abel yang sudah berubah.
"Hups...sorry Abel.." tiba-tiba bicara Mai terhenti dan dia tersadar bahwa bicaranya sudah ngelantur.
Abelia melotot melihat wajah Mai, ada perasaan jengkel terlihat dari wajah Abelia. Membuat Mai menampilkan wajah mohon maaf.
"Sorry Abel, mulut gue emang rem nya sudah belong. Makanya tidak bisa di jaga ." ujar Mai sembari mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Elu senang ya, ngeliat gue kesel ?" ujar Abelia sambil melanjutkan makannya.
"Sorry Abelia shakira yang imut, yang gemesin..!" seru Mai, agar Abelia menurunkan marahanya.
"Nggak ngaruh, rayuan elu."
"Tapi kan Abel, itu cewek akrab bener dengan abang Jo. Sepertinya dia teman abang elu." lanjut Mai lagi menceritakan pertemuannya dengan Damar di rumah Abelia.
"Cukup deh..! ceritakan orang itu, mulut elu diciptakan apa hanya untuk menceritakan tentang dia saja." ujar Abelia, dan Abelia menghentikan makannya.
__ADS_1
"Terus gue mau cerita apa, cerita tentang kak Damar yang lagi hot di daerah kita ini. Pulang dari luar negeri, langsung mau nikah saja."
"Sudah kak Damar ganteng, tajir lagi. Walaupun bukan sultan, tapi kekayaan nya bisa menghidupi tujuh turunan." kata Mai.
"Gue juga tajir, walaupun wajah manis gue pas-pas an." ujar Rozi yang ikut nimbrung.
"Lah...elu masih jauh dari tajir, yang elu banggakan warung reot elu ini." ledek Mai.
"Hih...elu ni ya, kalau tidak menghina gue satu hari. Tidak tenang hidup elu ya.!"
"Hih..! jangkrik dan belalang ini ribut terus sih, kalian ini nikah saja berdua." kata Abelia kepada keduanya.
"Hih...amit-amit, jangan sampai gue nikah dengan laki setengah ini ." Mai mengedikkan bahunya.
"Gue juga, amit-amit cabang bayi. Jangan sampai punya istri seperti Maimun, bisa mati berdiri gue " balas Rozi tidak mau kalah.
Abelia bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju sepedanya.
"Hei bebeb.. Abelia, elu mau kemana ?" tanya Rozi, melihat Abelia mulai naik ke sepedanya.
"Abel, ikut..!" panggil Mai.
"Mau cari pacar, bosen gue denger kalian ribut. Lebih bagus cari pacar baru..!" Abelia mulai mengayunkan sepedanya.
"Ogah..! gue mau sendiri.." Abelia meneruskan Kayuhan sepedanya.
"Dah balik sana, ngapain elu di warung reot gue..!" ucap Rozi dengan suara yang jutek .
"Bebeb Rozi, jangan marah. Ntar keriput wajah elu nambah." rayu Mai.
"Mau apa elu kesini?"
"Nah lupa kan, bunda ada buat pulut kuning. Disuruh nya antar ke tetangga." Mai memberikan rantang yang dibawanya.
"Emang kita tetangga ?" ucap Rozi, tetapi hidungnya mengendus isi rantang yang dibawa Mai.
"Sini kembalikan, jika elu tidak menganggap kita bertetangga." Mai ingin kembali mengambil rantang nya, tetapi Rozi menjauhkan dari jangkauan Mai.
"heit.. barang yang sudah diberikan, pantang di minta kembali." Rozi membawa rantang yang berisi pulut kuning ke dapur.
"Nah, gue kembali. Tadi elu minta kembali kan." Rozi mengembalikan rantang Mai, tetapi dalam keadaan ringan. Karena isi nya sudah berpindah.
"Dasar, isinya elu embat. Gue balik dulu." Mai meninggalkan warung Rozi.
__ADS_1
****
Abelia mengayuh sepedanya, dengan santai. Karena di hari Minggu begini banyak wisatawan lokal yang mengunjungi desa mereka. Karena desa tempat tinggal Abelia sudah dijadikan tempat tujuan wisata, banyak wisatawan lokal yang berkunjung hanya untuk berselfie ditanam bunga. Dan ada juga wisatawan yang membeli bunga untuk menghiasi taman dirumah mereka.
Abelia tiba di danau kecil yang ada didesanya, tempat itu sudah dipenuhi oleh pengunjung yang ingin naik kapal yang berbentuk bebek. Untuk mengitari danau tersebut.
Abelia memarkir kan sepedanya ditempat khusus parkir sepeda, tidak lupa Abelia memasang kunci sepedanya.
Abelia berjalan menuju tempat duduk yang ada dipinggir danau, dan Abelia mendudukkan bokongnya.
Matanya melihat jauh ke depan, ntah apa yang ada dalam benaknya. Yang pasti Abelia tidak mengindah keributan suara orang yang tertawa dan bersenda gurau didekat nya.
"Hei..kamu Abelia kan..?" seorang pria yang sebaya dengan dirinya menegur Abelia.
"He..Andy..!" Abelia kaget melihat pemuda yang berada disampingnya dan menyapa dirinya tadi.
"Abel.." orang yang disebut Abelia dengan Andy mendekati Abelia dan mengulurkan tangannya, dan Abelia menyambutnya.
"Sudah lama Kita tidak bertemu, sejak kita lulus SMA ." kata Andy sembari duduk disamping Abelia.
"Kamu tinggal tidak sini kan ?" tanya Abelia.
"Tidak, aku ngunjungi nenek ku disini ." kata Andy.
"Aku lupa Abel, kamu juga tinggal disini ya." kata Andy.
"Kau juga lupa, Rozi dan Maimunah juga tinggal didesa ini."
"Oh..ya, bagaimana kabar mereka ?" tanya Andy.
"Mereka baik."
"Bagaimana dengan kuliah mu Abel, dulu kamu kuliah jurusan pertanian kan ?" tanya Andy, karena mereka dulu test perguruan tinggi sama, tetapi Abelia diterima sedangkan Andy gagal.
"Putus ditengah jalan." ujar Abelia dengan suara yang pelan.
"Kenapa ?" tanya Andy, karena dia tahu bahwa Abelia bukan orang yang tidak mampu.
"Dua tahun yang lalu, bunda dan ayah kecelakaan dan mereka meninggal. Tidak ada yang mengurusi kebun bunga, disinilah Abel sekarang menjadi petani ." ucap Abelia.
**Bersambung
Maaf jika banyak typo dan penulisan ✍️ yang tidak dipahami.
__ADS_1
Dan bantu author dengan like...like..like ya**