
Cerita hanya hasil imajinasi penulis ya reader.
****
Mobil Damar dan mobil Jonathan tiba dalam bersamaan.
"Belum ketemu Abelia nya?" tanya Jonathan setelah dia turun dari mobilnya.
"Belum.." jawab Damar.
"Apa dia kabur, he...he...." ngekeh Jonathan.
"Jangan bercanda..!" seru Damar dengan perasaan yang campur aduk, belum tenamg perasaannya jika belum melihat Abelia dalam keadaan sehat.
"Sorry bro, kita lihat saja. Mungkin istri mu sedang mimpi indah ditempat tidurnya." Jonathan membuka pagar dan kemudian membuka pintu rumahnya, diikuti Damar dari belakangnya dengan langkah lebar.
Dengan langkah tegak Damar berjalan menuju kamar Abel, dan dibukanya pintu kamar Abelia yang tidak terkunci.
Damar menarik napas lega, karena dilihatnya Abelia sedang tidur dengan pulasnya .
"Bagaimana, apa dia ada?" Jonathan masuk kedalam kamar Abelia, dan dilihatnya Abelia sedang dalam posisi tidur.
Jonathan melihat gaya tidur Abelia, yang tidak mencerminkan gaya tidur yang anggun.
"Lihatlah..! begini gaya dia tidur jika sudah lelah." tawa Jonathan, melihat Abelia tidur telungkup, dan satu kakinya mengantung dibibir ranjang dan satu masih berada diatas ranjangnya.
"Tidak ada anggun-anggunnya ." ujar Damar sembari mendekati Abelia sembari tersenyum melihat posisi tidurnya.
"Jangan terkejut Damar, bini mu kalau sudah tidur, seperti pingsan. Selamat membangunkannya ya.." Jonathan keluar dari kamar adeknya.
"Kenapa tidurnya berantakan begini." Damar menaikkan kaki Abel yang berada bawah, tetapi Abel menurunkannya kembali. Karena terus begitu, Damar membiarkan kaki Abel yang mengantung.
"Abel...Abel, bangun. Sudah sore.." ucap Damar dengan menggoyang-goyangkan kaki Abel.
"Abel, ayo bangun." ulang Damar lagi, seperti yang dikatakan Jonathan. Abelia ternyata sulit untuk dibangunkan.
"Abel..." Damar menepuk paha Abelia.
'Hiatt..." tiba-tiba Abelia menggerakkan kakinya kearah belakangnya, sehingga Damar yang tepat didekat kaki Abelia mendapatkan tendangan di bagian organ sensitif. Sehingga Damar berteriak dengan keras, dan Jonathan yang sedang mandi langsung menyambar handuk dan kemudian berlari ke asal suara.
"Ha..aw... Abelia, apa yang kau lakukan !? teriak Damar dan memegang bagian sensitifnya yang kena tendangan.
"Apa sih, nganggu saja.." ucap Abelia dengan membalikkan tubuhnya dari posisi telungkup, dan dirinya masih setengah tidur.
"Ada apa...ada apa..!" Jonathan datang dengan hanya memakai handuk dan badannya masih bersabun.
"Adekmu telah membunuhnya.." tunjuk Damar ke bagian sensitifnya,
"A..a...a..! kenapa kak Damar masuk kedalam kamar ku ?" ucap Abelia panik, begitu tersadar dari efek tidurnya. Matanya melihat Damar berada dalam kamarnya.
"Kenapa Abel bilang, nggak Abel lihat karena perbuatan Abel. Aset kakak ini tidak akan berpungsi sempurna lagi ." ujar Damar.
"Ternyata hanya urusan itu, aku kira masalah besar.." ujar Jonathan.
"Kenapa abang hanya makai handuk ?" tanya Abelia kepada abangnya, yang sedang mandi tadi.
" Abang sedang mandi, dengar teriakannya Damar.." kata Jonathan.
"Kenapa bang Jo mengizinkan dianya masuk? kak Damar tidak boleh ya masuk kekamar anak gadis..!" seru Abelia dan duduk dipinggir ranjang.
"Dek, apa adek amnesia?" ujar Jonathan.
"Apa Abel lupa, Abel itu istri dari Damar Samudra sekarang..!" ucap Damar.
"UPS...!!" Abel kaget dan menutup mulutnya.
"Makanya jangan tidur sore, lupakan. Abang mau lanjut mandinya ." ujar Jonathan, dan beranjak meninggalkan suami istri baru satu hari.
"Kenapa pesan kakak tidak dibaca ?" Damar bersedekap menunggu jawaban Abelia.
"Tadi sibuk dikebun bunga, tidak melihat ponsel.." kata Abelia.
"Ayo kita pulang, kakak mau buat perhitungan dengan Abel. Apa yang Abel katakan pada kedua teman Abel itu ." tatapan Damar tajam menatapnya.
"Huh..dasar Mai, mulut comberan. Meluap juga keluar.." dalam benaknya Abelia.
"Hemhm.. tidak ada." Abel berusaha mengelak.
"Bener tidak ada? jangan bohong Lo, dosa .." Damar mendekatkan wajahnya ke wajah Abelia.
"Bener kak, sumpah. Kalau Abel bohong, kak Damar akan digigit semut ." ujar Abelia.
"Sumpahnya kenapa kakak yang rugi.." ucap Damar.
"He.he..kalau Abel yang digigit kan sakit.."
__ADS_1
"Ayo kita pulang, kakak akan buktikan kepada Abel. Kakak tidak seperti yang dikatakan Abel kepada kedua teman Abel itu." Damar meraih tangan Abel.
'Nggak mau..! Abel masih mau disini ." tolak Abel, saat Damar ingin membawanya pulang.
Damar terus menarik tangan Abel, untuk mengikutinya.
"Ada apa lagi ini ?" Jonathan melihat Damar menarik tangannya Abel, sedangkan Abelia bertahan dengan memegang daun pintu.
"Abel tidak mau ikut balik ." kata Damar.
"Dek, ikut Damar sana. Adek kan sudah menjadi istri Damar sekarang, harus nurut suami ya. ." kata Jonathan, dan berusaha melepaskan pegangan tangannya ke daun pintu.
"Iya.iya, sebentar dulu. Abel mau ngambil barang dulu.." ucap Abel, dan kemudian masuk kedalam kamarnya dan keluar dengan membawa tas dan mulutnya manyun sambil menatap Damar.
"Habislah gue malam ini, tapi jangan senang dulu. otak kecil ku ini punya segudang rencana.." dalam benaknya Abelia.
"Apa itu ?" Damar melihat barang yang dibawa Abelia.
"Alat perang ." jawab santai Abelia.
"Mau perang dengan siapa dek ?" tanya Jonathan.
"Ada deh, ini urusan kaum wanita. Laki-laki tidak boleh tahu."
"Ayo, Jo balik dulu ya." pamit Damar.
"Nurut Dek, jangan nakal. Bulan depan harus ada kabar gembira ya." ujar Jonathan.
Abelia hanya mesem, mendengar perkataan abangnya. Dia tahu apa yang diucapkan abangnya.
"Tenang Jo, bulan depan kau sudah mendapatkan calon keponakan ." sambut Damar dengan ucapan Jonathan.
"Ngarep saja terus, tidak akan terwujud. Otak ku penuh dengan rencana.." benaknya Abelia.
Abel menurut dibawa Damar menuju mobilnya.
"Dek, besok tidak usah kekebun lagi. Abang bisa menghandel semua, lagi pula ada Mang Sukri. Dia juga bisa diandalkan ." kata Jonathan.
"Bosen Abel dirumah bang ."
'Akan banyak kerjaan Abel dirumah, sehingga Abel tidak akan boring."
Mobil Damar melaju dengan pelan, menyusuri jalanan desa yang sudah hampir gelap.
"Untuk apa sih, Abel dijemput. Abel bisa pulang sendiri tadi.."
"Itu kan karena baru bangun tidur ."
"Alasan, lagi pula kenapa bilang ke teman-temannya. Bahwa abang tidak suka perempuan, Rozi sampai takut melihat kakak tadi.."
"Abel cuma ngerjain Mai, dia terus nanya tentang malam pertama. Abel bilang saja kakak Damar tidak minat dengan Abel ." tersenyum Abelia dalam menceritakannya.
"Awas ya, nanti malan Abel harus siap sedia. Tidak ada penolakan.." ancam Damar.
"Tunggu saja, tidak semudah itu kak Damar mendapatkannya. Hati ini masih kecewa ." ujar Abelia dalam benaknya.
"Kenapa diam?" Abel hanya diam memandang Damar, ntah apa yang direncanakannya untuk malam pertama kali ini. Semalam masih dalam keadaan letih Damar membebaskannya.
"Apa yang harus Abel ucapkan, Abel kan cuma pengganti. Karena kesalahan bang Jo, Abel yang harus jadi korbannya.." ucap Abel mengandung kesedihan.
Damar memandang Abel, ingin rasanya dia mengatakan. Bahwa Abel bukan sebagai pengantin pengganti, tapi Damar takut Abel akan murka. Dan menyalahkan dirinya dan Jonathan, karena telah membuat rencana agar Abel mau menikah dengan dirinya.
"Semoga ini semua tidak terbongkar." dalam benaknya Damar.
Begitu tiba depan rumah, Abel dengan cepat meloncat turun. Karena mobil Damar yang cukup tinggi, sedangkan tubuh Abel terbilang cukup imut.
"Huh.. kenapa mobilnya harus setinggi ini sih, merepotkan saja. Tidak tahu istrinya imut begini.." gerutu Abel saat turun dari mobil jep Wrangler Rubicon.
"Besok kakak akan bawa mobil sedan saja, biar Abel tidak sulit nain dan turun. Maaf ya kak Damar lupa bahwa istri Damar ini pendek." ujar Damar sembari ngekeh.
"Hei..Abel bukan pendek, tapi imut .!" seru Abel, dan kemudian berlari menuju dalam rumahnya. Dan bungkusan terus berada dalam pelukannya, seperti nya bungkusan tersebut adalah barang berharga.
Ketika Abel masuk, dilihatnya seorang wanita sedang menyapu dan membersihkan ruangan tamu. Abelia berhenti dan melihat perempuan tersebut tidak cocok sebagai pelayan, karena memakai baju seperti ingin pergi lihat dangdutan.
"Siapa dia, tadi pagi sepertinya tidak ada. Apa dia baru pulang dari liburan, sehingga aku belum mengenalnya." monolog Abelia.
Karena tadi pagi, Mama Ningsih mengenalkan pasangan suami istri Bu Patmi dan suaminya seorang tukang kebun.
Sedangkan yang menjadi objek pandangan Abel, belum menyadari anak orang dibelakangnya. Dia masih asik dengan nyanyian nya.
Melihat Abel yang fokus melihat seseorang, Damar mendekatinya.
'Ada apa ?" tanya Damar.
'Siapa itu kak, apa dia kesasar. Dikiranya ini tempat dangdutan..?" ucap Abelia.
__ADS_1
"Kakak juga belum mengenalnya, mungkin dia pembantu baru ."
"Heehemm..!" Damar mendehem, agar orang tersebut menghentikan aksinya.
Mendengar suara dibelakangnya, wanita tersebut membalikkan badannya, dan dia setengah kaget begitu melihat ada dua pasang mata yang memandangi dirinya.
Abelia tidak dapat menahan tawanya, begitu melihat sosok wanita tersebut mengunakan makeup yang tebal.
'Oh MG, Rozi saja kalah.." gumamnya, dan senyuman kecil terukir dibibir Abelia.
"Siapa kau ?" tanya Damar.
"Saya assisten rumah tangga, membantu bi Patmi. Saya baru hari ini pindah kesini."
"Kamu Susi ?" tebak Damar langsung.
'Wow..kak Damar kenal ya ." ucap Abelia dan matanya masih memandangi Susi.
"Hih.. bapak kok langsung tahu ya, jangan bilang bapak salah satu fans saya.." ucap Susi dengan kepedeannya.
"Siapa lagi, orang bekerja seperti mau ke konser ."
'Ah... bapak..!" ujar Susi sembari ngikik tertawa.
"Besok kalau masih mau bekerja disini, perbaiki cara berpakaian.." ujar Damar datar.
Tanpa menunggu ucapan Susi lagi, Damar langsung mengandeng Abel menuju ke kamarnya.
'Hih.. gantengnya boss, kalau bisa jadi suami Susi kan bagus.." Susi menghayal.
"Hei Susi, kenapa kerjanya masih disini terus. Bibi sudah selesai bagian dapur, kamu masih disini terus.." kata Bi Patmi.
"Bibi, Susi kerja harus pelan-pelan. Nanti kuku Susi rusak.." Susi menunjukkan kuku jemarinya yang berwarna.
"Kamu, mau kerja saja pakai bergaya. Awas kamu buat ulah lagi., nanti dibuang kerja kamu ." kata bi Patmi.
"Bu tadi ada cowok ganteng ." kata Susi.
"Siapa ?"
"Mana Susi tahu, dia naik keatas ."
"Oh itu Den Damar." jawab bi Susi.
"Ganteng bi ."
"Jangan buat ulah lagi Susi, Den Damar sudah ada istri.." kata Bi Patmi.
"Istrinya itu jelek bi, pendek lagi. Kalah jauh dengan body Susi bi.." ucap Susi dengan meliuk-liuk kan tubuhnya seperti ular derik.
Pletak..
Bi Susi memukul keponakannya dengan kemoceng yang dibawanya.
"Bbi, kenapa Susi dipukul ?" meringis Susi karena lumayan keras bi Patmi memukul keponakannya.
"Biar kamu berhenti menghayal terlalu tinggi, ayo kerja lebih cepat." ngedumel bi Patmi.
"Kalau Damar mau dengan Susi, kan tidak apa-apa. Lagi pula istri dua dibolehkan.." ucap Susi dengan suara yang pelan, takut dia menjadi korban kemoceng bi Patmi lagi.
****
Abel masih sibuk dengan handphonenya, belum ada niatnya untuk masuk kedalam mamdi.
"Abel, mandi sana ."
"Kalau Abel tidak mandi tidak apa-apa kan."
"Hih jorok, tadi sudah main kotoran binatang dikebun.."
"Abel sudah mandi tadi."
"Mandi lagi sana, biar kita makan malam.."
"Iya.." dengan ngedumel dalam hati, Abelia masuk kedalam kamar mandi.
Hanya sepuluh menit, Abel melaksanakan ritual mandinya.
"Hemh kan harum, semangat kakak ."
Cup...Damar mendaratkan kecupan sebelum dirinya masuk kedalam kamar mandi.
"Hih..main kecup saja."
"Jangan marah terus.." Damar tertawa melihat Abelia merenggut.
__ADS_1
Bersambung