Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 15 Rencana Kabur


__ADS_3

**Selamat datang dikarya qu ya, selamat membaca cerita recehan ini. Maaf jika banyak salah kata, author manusia biasa yang tidak luput dari kesilapan waktu mengetik cerita ini.


Happy reading**.


****


Mai begitu kaget saat tubuh Abelia lunglai dan jatuh kearah dirinya, dengan sigap Mai memegang Abelia.


"Abel...Abel..! aduh jangan pingsan ." Mai menepuk-nepuk pipi Abelia, untuk menyadarkannya dari pingsannya.


Damar yang melihat Abelia pingsan, kemudian mengangkatnya masuk kedalam kamarnya.


"Kak Damar, kenapa membuat Abel pingsan sih..!" ujar Mai yang mengikuti Damar menggendong Abelia.


"Mana kakak yang buat Abel pingsan." Jawab Damar, dan kemudian meletakkan Abelia di ranjang nya.


Kemudian Damar duduk disisi pembaringan ranjang Abelia, dan mengusap-usap pipi mulus Abelia.


"Ucapan kakak tadi itu, yang membuat Abel pingsan." Mai naik ketempat tidur dan mengambil minyak untuk dihirup Abelia, agar Abelia tersadar.


"Jangan sentuh..!" Mai menepiskan tangan Damar yang menyentuh pipi Abelia.


"Dia calon istri ku.." ujar Damar.


"Abelia belum menerimanya..!" ucap Mai ketus .


"Kakak ini, yang salah bang Jo. Kenapa harus Abel yang nanggung akibatnya." ucap Mai.


"Apa sanggup Abel melihat abang nya masuk penjara ?" tanya Damar dan matanya menatap Mai dengan tatapan yang tajam.


"Jangan limpahkan kesalahan bang Jo ke Abelia, apa lagi sampai Abel harus menikah. Apa Abel tidak pingsan mendengar dia harus menikah." kata Mai.


"Apalagi menikahnya dengan orang yang telah menolaknya dulu." sambung Mai, tetapi hanya diutarakannya dalam hati.


Damar berdiri dari duduknya dan beranjak untuk keluar dari kamar Abelia, sampai dipintu keluar. Damar berpesan kepada Mai untuk disampaikan kepada Abelia.


"Sampaikan kepada Abelia saat dia sadar nanti, dua Minggu lagi dia menikah dengan ku. Atau abangnya berakhir di penjara." ucap Damar dan kemudian keluar dari kamar Abelia dan rumah Abelia.


"Abel, sadarlah.." Mai mendekatkan minyak kedepan hidung Abelia, tak lama kemudian mata Abelia mulai terbuka sedikit demi sedikit.


Setelah mata Abelia terbuka sempurna, Abelia bangkit dari baring untuk duduk.


"Ternyata apa yang kudengar tadi hanya mimpi ya ." ujar Abelia, setelah dilihatnya dia berada diatas ranjangnya.


"Elu kira mimpi di siang bolong, itu nyata Non. Dua Minggu lagi elu harus nikah dengan kak Damar, kalau tidak. Bang Jo akan di jebloskan nya ke penjara ." apa yang dikatakan Damar tadi di sampaikan oleh Mai.

__ADS_1


"Apa..! itu nyata, itu tidak mimpi. Tadi kita diruang tamu kan ?" tanya Abel .


"Iya, elu pingsan. Kak Damar ngangkat elu ke dalam kamar."


"Jadinya dia sudah memegang tubuh gue, hiks...hiks... tubuhku sudah ternoda..!" Abelia menangis ketika mengetahui bahwa Damar menggendong dirinya saat dia pingsan tadi.


"Yeah...! Abel, hanya digendong doang. Masa langsung ternoda sih.." celetuk Mai.


"Tubuh ku ini haram untuk dia sentuh..!" meradang Abelia.


"Iya...iya... cepat elu mandi, biar bekas sentuhan kak Damar hilang dibawa air."


Dengan cepat Abelia turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandinya, untuk mandi agar bekas sentuhan Damar hilang dari tubuhnya.


"Yah, ngikut apa yang gue ucapkan.." ujar Mai.


Setelah mandi, hanya mengenakan handuk mandi. Abelia berkata pada Mai.


"Mai, besok gue harus pergi mencari Bang Jo." kata Abelia.


"Kemana elu mau mencarinya, ke Jakarta. Bandung atau ke Papua sekalian, Negara ini luas Non. Sedangkan bang Jo tidak memberitahu dimana dia berada sekarang." kata Mai.


"Gue mau cari ke rumah paman gue dulu, mungkin dia berada disana ."


"Jambi, paman gue kerja disana. Paman gue kerja di perkebunan, jauh dari kota. Mungkin saja Bang Jo sembunyi disana ." terlihat Abelia bersemangat, dia mengharapkan bisa menemukan Jonathan dirumah pamannya.


"Kenapa tidak elu hubungi dulu paman lu, daripada elu langsung kesana." usul Mai.


"Gue tidak punya nomor handphone nya, biasanya bang Jo yang lebih sering berhubungan dengan paman."


"Lah.. alamatnya elu tahu ?" tanya Mai.


"Tidak juga, yang pasti paman gue tinggal di perkebunan ." kata Abelia.


"Non, perkebunan itu banyak. Apa elu mau mencari pamanmu. Dengan cara mendatangi satu persatu perkebunan itu ."


"Itu seperti elu mencari jarum ditumpukkan jerami." lanjut Mai lagi.


"Terus apa yang harus gue lakuin, masa saya harus nikah dengan orang itu.."


"Menikah dengan kak Damar bukan suatu yang buruk, kak Damar ganteng dan dewasa lagi." kata Mai dan terlihat senyuman dibibirnya saat membayangkan sosok Damar.


"Elu saja yang menikah dengannya, untuk menggantikan pengantin nya yang kabur itu ." ujar Abelia dengan perasaan yang kesal.


"Yang membawa kabur bang Jo, kan bukan bokap gue yang bawa kabur calon bini kak Damar." ucap Mai.

__ADS_1


"Kalau bokap gue yang bawa kabur tu perempuan, bisa gue yang senasib dengan elu. Hihh...amit-amit, jangan sampai bokap gue seperti bang Jo. Bisa-bisa gue ada ibu tiri.." ucap Mai.


"Apa yang harus gue lakuin, please... bantuin gue berpikir.." ujar Abelia sembari mondar-mandir didalam kamarnya, dan Mai hanya dapat melihat kecemasan sahabatnya tersebut.


"Gue kabur saja ya, seperti bang Jo ..!" kata Abelia.


"Kalau kabur, apa tidak jadi buronan elu. Wajah elu bisa-bisa muncul di TV, dan poster wajah elu mungkin bertebaran ditempel dipohon-pohon. Dicari karena abang nya telah melarikan calon bini orang." kata Mai.


"Apa mungkin dia mau melakukan itu ?" tanya Abelia.


"Mungkin saja Abel, keluarganya sudah menanggung malu. Karena calon menantu keluarga Samudera dibawa kabur."


"Abang Jo.!!!" teriak Abelia dengan putus asa.


"Apa tidak ada wanita lain, sampai-sampai calon bini orang yang abang bawa lari .!" seru Abelia sembari mengajak-ajak rambutnya.


"Cinta non, sampai melupakan segalanya."


"Ayo kita cari Rozi, mungkin dia ada ide yang brilian." kata Abelia.


"Dia ditanya, pasti dia nyuruh elu terima saja usul kak Damar."


"Ogah..ogah..!"


****


Abelia dan Mai menemui Rozi di warungnya.


Melihat kedatangan Abelia dan Mai, Rozi kaget.


"Abel, kenapa elu keluar. Nanti penjahat menculik elu, untuk memancing bang Jo keluar dari persembunyian nya." ujar Rozi dan langsung menarik Abelia untuk masuk kedalam kamarnya yang berada dibelakang warungnya.


"Tidak ada penjahat, Abel tidak perlu berkurung lagi." kata Mai.


"Sekarang sudah aman, Abel tidak dalam bahaya lagi..?" tanya Rozi.


"Sedikit aman.." jawab Abelia.


Kemudian Abelia menceritakan masalah yang dihadapi abangnya, dan ancaman yang diberikan Damar jika Abelia tidak mau menikah dengan dirinya.


"Hih..Abel, menikah saja. Dia kan cinta-cintaan elu dari kecil, kesempatan bagus tuh Abel. Terima saja beib..!" ujar Rozi dengan bersemangat.


"Betulkan apa yang gue bilang, elu tanya orang ini. Pasti dia nyuruh elu terima." kata Mai.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2