
Bantu like... like ya reader, biar author nya semangat nih✍️🥰.
****
Abelia makin meradang, karena Damar tidak terpengaruh dengan semua yang diucapkannya.
"Rozi, kenapa elu diam saja. Bantu gue, elu itu sohip gue..!" seru Abelia tepat diwajah Rozi, membuat Rozi tersadar dari efek kagetnya.
"Gue harus bantu apa Abel ? gue masih syok dengar perkataan lu..!" kata Rozi dengan wajah yang polos dan bingung.
"Akuin bahwa ini anak elu Zi..!" bisik Abelia sembari menunjuk ke arah perutnya.
"Kapan gue ngehamilin elu Abel, apa gue mimpi ya ?" Rozi menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatel.
"Hih.. dasar Rozi otak dodong, nggak bisa dia ajak main sandiwara. Dasar otak kwalitas rendah, nggak bisa di ajak main drama tiba-tiba.." Abelia ngedumel dibenaknya, melihat otak Rozi yang lambat untuk diajak bekerja sama.
Damar tertawa dalam hati melihat Abelia yang berusaha untuk mengerjai dirinya.
"Dasar Abelia, dikiranya aku percaya dirinya hamil. Apalagi dengan orang jadi-jadian ini.." benaknya Damar, dan senyuman diwajahnya terlihat oleh Abelia, sehingga Abelia jengkel dan makin emosi.
"Kenapa elu senyum-senyum ?" bola mata Abelia melotot menatap Damar.
"Jangan marah-marah, dan satu lagi. Kakak tidak suka dengar kata elu, gue ya. Panggil kakak atau abang ya.." kata Damar.
"Suka-suka gue, ini mulut gue..!" ketus Abelia menjawab perkataan Damar.
"He Rozi, ayo kita pergi. Kita kan tadi mau memeriksakan anak kita ini kan.." Abelia mengelus-elus perut nya, seakan-akan dia benar-benar hamil.
"Abel, kapan kita gituan ya. Apa saat gue tidur di rumah elu kemarin, tapi kenapa elu langsung hamil. Walaupun gue tiap pelajaran biologi sering bolos, tapi gue tahu terjadinya pembuahan tidak secepat itu ?" tanya Rozi dengan wajah yang bingung menunggu klarifikasi Abelia.
"Hih Rozi...!" umpatan-umpatan dibenaknya Abelia melihat keluguan yang ada pada dirinya Rozi.
"Rozi, kamu tidak usah pusing. Anak yang dikandung Abelia sebenarnya anak kakak, tapi karena dia sedang marah. Dan dia tidak mengakui kakak sebagai ayah dari baby yang dikandungnya.
Abelia kaget dan syok mendengar Damar mengakui anak hamil pura-pura nya.
"Yea.. kenapa jadi gini ." benaknya Abelia.
"Abel, kalau elu hamil anak kak Damar kenapa nuduh gue. Elu mau buat emak bunuh gue ya..!" semprot Rozi, dan terlihat wajah Rozi sudah cerah. Karena sudah mengetahui titik terang tentang kehamilan Abelia.
"Bohong Rozi, gue nggak hamil anaknya. Dan gue sebenarnya tidak hamil ." kata Abelia dengan suara yang pelan dan wajahnya menunduk.
__ADS_1
"Gue bingung, elu hamil apa tidak sih..?" tanya Rozi.
"Tidak..!" jawab Abelia.
"Ya !" jawab Damar.
"Tidak.. tidak ..!" seru Abelia.
"Hus...sayang, jangan ngambek lagi. Ayolah kita periksa baby kita ." ujar Damar dan tangannya melingkar di pinggang Abelia, membuat Abelia menggeliat untuk melepaskan pelukan tangan Damar dipinggangnya.
"Lah kenapa makin runyam ini ?" dalam benaknya Abelia.
"Lepas, Abelia tidak jadi hamilnya ." kata Abelia sembari berusaha melepaskan pelukan Damar.
"Tidak sayang..! kamu hamil, cuma kamu tidak mengakui nya karena marah dengan kakak ya kan Abel sayang..?" saat melihat kerlingan mata Damar membuat Abelia makin jengkel.
"Gue mau balik, selesaikan saja urusan kalian berdua. Gue sudah bebas, tadi nyawa gue tinggal 2 % lagi. Gara-gara ucapan elu Abel.." ucap Rozi dan kemudian beranjak meninggalkan Abelia dan Damar.
"Rozi..! tungguin gue, elu tidak setia kawan. Rozi..!!" teriak Abelia untuk menghentikan langkahnya Rozi, tetapi Rozi tetap tidak menghentikan langkahnya. Hanya lambaian tangan yang dilakukan nya.
"Gara-gara...e.. !" Abelia menghentikan kalimatnya yang ingin mengeluarkan makian terhadap Damar, karena dia bukan orang yang suka berkata kasar. Apalagi kepada Damar, orang yang masih bersemayam didalam hatinya.
"Tidak jadi periksa, anaknya sudah hilang.." ujar Abelia dengan ketus.
"Kenapa hilang, padahal kakak sudah senang tadi. Karena orang tua kakak sudah minta penerus dari kakak, Abel tahu kakak ini anak tunggal. Tapi tidak apa-apa setelah menikah kita buat yang banyak.." ujar Damar.
Bola mata Abelia terbelalak mendengar perkataan Damar, Abelia melihat Damar dengan tatapan mata yang tajam dan jutek. Seakan-akan Abelia ingin menelan bulat-bulat orang yang ada didekatnya ini.
"Awas.." tepisan tangan Abelia, membuat pegangan tangan Damar terlepas. Dan saat Abelia ingin pergi, Damar kembali mencekram tangan Abelia. Dan menarik Abelia agar masuk kedalam mobilnya.
"Nggak mau..!" Abelia menolak untuk masuk kedalam mobil Damar.
"Ayo masuk, malu dilihat orang. Lihat, orang-orang pada ngeliat ke arah kita." ujar Damar.
Abelia melihat kesekelilingnya, dan ada beberapa pasang mata yang melihat kearah dirinya dan Damar.
"Bodo, biar saja.." ujar Abelia yang masih berkeras tidak mau mengikuti Damar.
"Ayo Abel, maaf bu. Istri saya ngambek ." ujar Damar kepada seorang ibu-ibu yang melintas dan melihat kearah Abel dan Damar.
"Jangan ngomong ngaco ya, kita tidak menikah dan tidak akan pernah menikah. Cam kan itu !"
__ADS_1
"Ok, kalau begitu. Kakak akan kekantor polisi sekarang, karena orang tua Melly juga akan melaporkan kehilangan anaknya.." Damar melepaskan tangan Abel, dan beranjak meninggalkannya.
"Kak, tunggu.." Abelia meraih lengan Damar untuk menghentikan langkahnya Damar.
"Apa, kakak buru-buru. Tadi kakak sudah janji bertemu dengan orang tua Melly di kantor polisi."
"Apa kita tidak bisa mencari jalan damai saja kak Damar ?" tanya Abelia dengan suara yang pelan, dia merasa letih untuk berdebat dengan Damar terus menerus. Jalan keras dibuat nya, Damar lebih keras menghadapinya.
"Kakak sudah bilang kan, jalan damai cuma dengan jalan Abel menggantikan posisi Melly. Kakak sudah mengeluarkan banyak biaya untuk merancang pernikahan ini."
"Kalau ganti kerugian yang kak Damar mau, Abelia sanggup mengganti kerugian materi yang kak Damar alami." terlihat wajah Abel sedikit gembira, karena dia merasa akan terbebas dari pernikahan yang tidak di inginkan nya.
"Ok kalau Abel mau ganti kerugian akibat pernikahan yang batal.." kata Damar.
"Berapa yang harus Abel bayar ?"
"Tidak banyak, hanya sekitar 3 ." Damar menunjukkan tiga jari nya.
"Kalau hanya tiga juta, besok akan Abel kirim ke rekening kak Damar. Tolong kak Damar beritahu nomor rekening kakak ya biar Abel cepat kirim." terlihat senang terdengar dari ucapan Abelia.
"No...no...bukan 3 juta, tapi 3 miliar..!" ucapan Damar membuat mata Abelia terbelalak.
"3 miliar..!!" ulang Abelia lagi.
"Ya, 3 miliar. Besok kakak mau uang itu masuk ke rekening kakak segera." kata Damar.
"3 miliar, Abel saja belum pernah punya uang sebanyak itu. Melihat nya saja belum pernah. " guman Abelia dan pandangan matanya menatap ujung kakinya.
"Bagaimana, bisa besok kakak dapatkan 3 miliar tersebut..?"
Abelia mengangkat kepalanya, dan memandang Damar yang masih menunggu jawaban dari bibirnya.
"Tidak bisa, Abel tidak punya uang sebanyak itu ." jawab Abelia dengan pasrah.
"Ok, dua Minggu lagi kita menikah."
"Ayo kita pergi ." Damar menarik tangan Abelia, tetapi sekarang Abelia tidak menolak untuk mengikuti Damar untuk naik ke dalam mobilnya. Dia pasrah menerima nasip yang menanti dirinya.
Bersambung.
bantu like ya kakak-kakak reader.
__ADS_1