
Cerita hanya hasil rekaan ya friends, Nikmati saja dan konfliknya tidak berat. Sudah beban hidup beban hidup berat, baca cerita juga berat 😜😀.
***
Dua wanita yang beda generasi masih berkutat dengan tisu untuk menghapus air matanya yang terus-menerus mengalir, mungkin sampai habis drama yang dilihat mereka berdua baru air matanya berhenti mengalir.
"Bu Patmi, berapa lama lagi drama ini selesai. Air mata Abel sudah hampir kering ini.." ucap Abelia, dan suaranya sudah terdengar serak akibat menangis.
"Lima belas menit lagi Neng." jawab Bu Patmi.
Sedangkan ada sepasang mata yang melihat kebodohan Abelia dan Bu Patmi, yaitu mata Susi yang sudah mulai bekerja. Setelah kembali dari kampung.
"Dua orang yang aneh, lihat televisi sampai segitu sedihnya.." ucap Susi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hi..hi.. jalan-jalan dulu, selagi bi Patmi sibuk dengan dramanya." dengan cepat Susi berjalan menuju pintu samping untuk keluar dari dalam rumah.
"Ah..bebas, bisa menghirup angin surga diluar." Susi merentangkan tangannya lebar-lebar.
Susi berjalan-jalan di sekitar lokasi pabrik, dia berjalan sembari tersenyum-senyum sendiri. Tiba-tiba senyuman lebarnya menciut, saat dia melihat Damar dan Tony tepat beberapa meter berada didepannya.
"Susi..!" suara keras Damar menegur dirinya.
"Sial..! pak boss kenapa disini ?" dalam benaknya Susi dan badannya gemetar, karena mendapatkan dua pasang mata menatap dirinya dengan tajam.
"Pak Damar, kenapa bapak disini ?" tanya Susi dengan polos atau bengok.
'Sini lokasi saya kerja, kamu kenapa disini. Seperti model saja senyam-senyum nggak jelas..!" bentak Damar, karena Mendengar pertanyaan Susi yang ngawur.
"Aduh Susi..! habislah kau hari ini ." kata Tony sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau tadi pagi sudah ku perintah kan untuk mengawasi istriku, kenapa kau jalan-jalan santai disini dengan tebar pesona begitu ." kata Damar dengan keras.
"Ibu dan bi Patmi sedang nangis berdua, mereka......" belum selesai Susi berkata, Damar sudah berlari meninggalkan Susi dan Tony.
'Apa..!? istriku nangis.." dengan cepat Damar berlari menuju rumahnya.
"Pak..!" panggil Susi, tapi Damar sudah melesat pergi menuju rumahnya.
"Kenapa istri pak Damar menangis ?" tanya Tony kepada Susi.
"Mereka lagi nonton drama Turki di televisi ." jawab Susi dengan entengnya.
"Apa...!" Tony terkejut mendengar penyebab istri boss nya menangis.
"Kenapa tidak kau beritahu penyebab istri boss menangis, lihatlah boss Sangat khawatir itu." kata Tony.
"Saya belum selesai bicara, si boss sudah ngacir saja ." jawab Susi.
"Awas kau Susi, si boss akan ngamuk kepada mu ." kata Tony.
"Salah boss sendiri, saya belum selesai bicara. Boss langsung lari saja ."
"Pak Tony, saya bosan. Ayo traktir Susi ke pasar malam, ada layar tancap ." kata Susi merayu Tony.
__ADS_1
"Kalau mau kau dibenyek-benyek istriku, ayo kita ke pasar malam ." kata Tony.
"Ih..." Susi meninggalkan Tony , sambil ngedumel.
***
Damar berlari dengan cepat menuju rumahnya, para pekerja pabrik yang berpapasan dengan dirinya dan menyapa di abaikan oleh Damar.
Damar masuk kedalam rumah dan ingin berlari menuju lantai atas, di mana kamarnya berada. Mendengar suara orang menangis berasal dari ruangan keluarga, Damar memutar langkahnya menjadi ruang keluarga.
Dilihatnya Abel duduk di sofa sedang menghapus air matanya, dan di kursi sebelahnya Bu Patmi juga seperti Abel.
"Sayank..!" Damar setengah berlari menuju kearah Abel duduk.
"Kak Damar..!" Abel kaget melihat kemunculan Damar tiba-tiba, Abelia mengelap sisa-sisa air mata di pipinya.
"Mana yang sakit sayank, kenapa menangis..?" kedua tangan Damar menangkup pipi Abelia yang basah bekas air matanya.
"Kenapa kakak cepat pulang..?" Abel tidak menjawab pertanyaan Damar, sebaliknya dia bertanya balik kepada Damar.
"Kenapa nangis e..e., mana yang sakit. Ayo kita ke dokter ?" ucap Damar dengan seraut wajah yang panik.
"Sakit ? Abel tidak sakit." ucap Abel dengan bingung dengan perkataan Damar.
"Abel tidak sakit ?" tanya Damar.
"Iya, Abel sehat-sehat saja." jawab Abelia.
"Terus kenapa menangis, sampai merah dan sembab ini mata ?" tanya Damar.
"Bu Patmi kenapa nangis juga ?" tanya Damar.
"Kak Damar cepat pulang karena mengira Abel sakit ?"
"Iya."
"Siapa yang mengatakan kepada kak Damar Abel sakit..?"
"Kakak ketemu Susi, dia lagi jalan-jalan. Dia yang bilang Abel lagi nangis dirumah."
Abel tertawa setelah mendengar perkataan Damar.
"Kenapa tertawa ? apa ada yang lucu ?" tanya Damar heran.
Bu Patmi juga tertawa dalam hatinya, dia hanya menyimpan tawanya di hati. Karena jika dia tertawa seperti Abel, dia takut Damar marah.
"Kami menangis karena nonton drama di televisi kak, bukan karena Abel sakit ." kata Abel.
Damar menarik napasnya, perasaannya lega karena Abel tidak sakit.
"Hanya karena menonton drama kalian bisa menangis ?" Damar menggelengkan kepalanya.
"Ceritanya sangat mengharu biru kak, neneknya sangat jahat kak. Kok Abel seperti Dejavu begitu ya. Sepertinya pernah merasa di aniaya nenek-nenek ." celetuk Abel spontan.
__ADS_1
"Hups...!" Abel menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dan matanya terbelalak menatap Damar.
"Nyindir.." Damar mengusap pucuk kepalanya Abelia.
Sedangkan Bu Patmi sudah mengundurkan diri dari ruang keluarga.
"Nggak.." jawab Abelia.
"Mana Susi, akan kakak hukum dia. Karena telah membuat kakak berlari dari pabrik kesini, apa lagi diwaktu panas begini ." jengkel Damar terhadap Susi.
"Siapa suruh kakak lari, kalau Abel sakit. Pasti sudah telepon kan ." ujar Abelia.
Damar berdiri dan berteriak dengan keras memanggil nama Susi, si biang kerok menurut Damar.
'Susi...!" teriak Damar dengan keras.
'Kak, pelan dikit suaranya.." kata Abel dan menutup kedua telinganya.
"Su.....si...!" ulang Damar lagi.
Dengan terbirit-birit Susi yang mendengar suara Damar lari dari halaman samping langsung masuk, begitu juga Bu Patmi yang berada di dapur juga berlari menuju asal suara Damar.
"Ya pak, ada yang bisa Susi bantu.?" tanya Susi.
"Apa kamu bilang tadi, kamu bilang istri saya nangis ?" tanya Damar.
'Iya pak, emang mereka nangis tadi. Ya kan bi, bibi juga nangis tadi bersama Neng Abel ." kata Susi dan melihat bibinya yang berdiri disisinya.
"Kenapa kamu tidak bilang mereka nangis karena nonton drama di televisi ?" mata Damar melotot menatap Susi.
"Bagaimana saya bisa bilang, ya bapak secepat kilat langsung lari tanpa mendengarkan ucapan saya sampai selesai ."
'Jadi yang salah itu saya disini ?" Damar jengkel dikatakan salah oleh Susi.
"Iyalah pak ." ujar Susi sambil tersenyum.
"Kamu..!" seru Damar.
"Kak Damar, sudah lah. Kak Damar juga sih langsung panikan, makanya dengarkan omong orang sampai selesai." kata Abel.
"Kamu Susi, jangan saya lihat lagi berkeliaran di lokasi pabrik. Apa yang kau lakukan tadi, kamu disini untuk bekerja membantu Bu Patmi. Bukan tebar pesona.." kata Damar, sedangkan Susi hanya diam menunduk dan didalam hatinya penuh dengan umpatan kepada boss nya.
"Maaf Den Damar, ibu akan mengurus Susi.." Bu Patmi mencubit pinggang Susi dengan gemasnya.
"Ayo sini kamu.." Bu Patmi menarik tangan Susi menuju dapur.
"Kak Damar ini, ngamuk saja. Salah sendiri ."
"Abel juga, hanya nonton film. Kenapa harus nangis ?"
"Ceritanya sedih kak, kalau kak Damar lihat pasti akan sedih juga," ucap Abel dengan masih tersisa isakanya tadi.
"Anak papa, baik-baik saja kan. Pasti tadi ikut sedih, mamanya nangis hanya karena nonton drama ." Damar mengusap perut Abelia dan memberikan kecupan.
__ADS_1
Bersambung