Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 50 Makin cinta


__ADS_3

**Cerita hanya rekaan dari hasil author menghayal🥰.


Happy reading kakak-kakak reader**.


****


Abelia masih terhanyut dengan perbuatan dan perkataan Damar, dia merasa ada kupu-kupu yang terbang mengitari dirinya. Membuat dirinya seakan-akan ingin terbang bersama dengan kupu-kupu tersebut.


"kak Damar tidak membohongi Abel kan ?" tanya Abelia.


"Lihat kakak, apa ada kebohongan dalam mata kakak ini..?" Damar melerai tubuhnya sedikit, dan tangannya mengangkat dagu Abel. Sehingga mereka dapat saling menatap.


"Abel takut, kakak menipu Abel lagi. Seperti cerita bang Jo yang melarikan calon istri kakak.." ucap Abelia.


Tiba-tiba Damar mengangkat Abel dan berjalan menuju sofa.


"Kak Damar..!" seru Abelia.


"Hus..diam.." Damar membawa Abelia untuk duduk di sofa yang ada didalam ruangan tersebut.


Damar duduk, dan Abelia tetap berada dalam pangkuan nya.


"Dengar kan cerita kakak ya.." kata Damar.


"Biar Abel duduk di sofa saja kak Damar ." ucap Abel.


"Sudah, duduk disini saja.." Damar tetap menahan Abelia agar tetap duduk di atas pangkuan.


"Abel lihat gambar-gambar itu semua, pasti Abelia ada yang belum pernah melihatnya kan ?" tanya Damar, dan menunjuk kearah gambar Abelia yang ada dihadapan mereka duduk.


"Iya, dari mana kakak dapatkan itu semua ?" tanya Abelia.


"Jangan marah ya, itu semua dari Jonathan.." kata Damar.


"Kak Damar menyuruh bang Jo untuk mengawasi Abel ?"


"Itu sudah tugas Jonathan menjaga Abel sebagai adeknya, kakak hanya menambah sedikit tugas kepadanya untuk mengirimkan gambar kegiatan Abel kepada kakak ." kata Damar.


Damar menceritakan, sebelum dia berangkat kuliah keluar negeri. Damar meminta agar Damar mengirimkan foto Abel setiap hari. Karena itu Jonathan sering mengambil gambar Abelia secara diam-diam, dan mengirimkannya kepada Damar.


Damar juga menceritakan kenapa dia menolak Abel dahulu, karena Damar merasa bahwa masa depannya tentang pernikahan masih kabur dan belum jelas. Karena neneknya ingin mengatur pernikahannya dengan cucu dari sahabatnya.


"Bagaimana jika nenek masih memaksakan kehendaknya kak, apa kakak akan meninggalkan Abel ?" tanya Abelia.


"Apa nenek tega memisahkan kita berdua, apa lagi ada cicitnya didalam sini.." tangan Damar mengelus perut Abelia.


"Kakak tidak akan meninggalkan Abel dan baby kita ini, kakak sangat mencintai kalian berdua.." ucap Damar, dan kemudian melekatkan bibirnya kebibir Abelia. Sehingga terjadilah permainan lidah yang sangat dahsyat.


Damar melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Abelia, matanya menatap Abelia dengan mesra.


"Tidak akan ada yang memisahkan kita, apa pun yang terjadi nanti. Sayang harus selalu percaya dengan kakak ya, tangan kita ini harus saling bertaut sampai kapanpun. ingat itu sayang.." Damar membelai pipi Abelia dan mendaratkan kecupan di kening Abelia.


****


Ketika hari sudah siang, Damar berangkat kekantor. Karena ada telpon dari Sony, agar dirinya kekantor. Dengan berat hati Damar meninggalkan Abelia, padahal tadi Damar hanya ingin dirumah bersama dengan Abelia saja. Terpaksa dibatalkannya.


"Sudahlah kak pergi saja, mungkin ada masalah yang mendesak di kantor. Dan butuh penanganan kak Damar.." kata Abelia, saat Damar selesai menerima telepon Sony. Dan ngedumel karena disuruh kekantor oleh Sony.

__ADS_1


"Padahal kakak hari ini hanya ingin bermanja-manja dengan istri kakak yang suka ngambek ini, terpaksa dibatalkan. Dasar Sony tidak bisa di andalkan ." kata Damar dengan mengerutu..


"Kita masih punya waktu seumur hidup untuk saling bermanja-manja kak.." kata Abelia.


"Oke.. oke, baby papa pergi kerja dulu ya..mua..ahh,.!" Damar mencium perut Abelia sebelum pergi.


"Jadi Mai dan Rozi datang ?" tanya Damar, saat ingin keluar dari kamarnya.


"Belum tahu kak."


"Kalau mereka datang, jangan pergi kemana-mana ya.." ingatkan Damar.


"Iya kak, tapi kalau jalan-jalan sekitar sini. Boleh kan ?"


"Sekitar sini ya."


"Oke boss.." jawab Abelia.


Damar mengecup kening Abel dan mengacak-acak rambutnya.


"Kakak berangkat ya." kemudian Damar keluar dari kamarnya.


****


Setelah kepergian Damar, tidak lama kemudian kedua temannya Mai dan Rozi.


"Akhirnya bumil, tidak ngambek lagi nih..!" seru Rozi.


"Capek ngambek terus, rugi gue ngambek.." kata Abelia sembari nyengir.


"Elu sih, begitu saja ngambek. Hanya ditipu agar bisa menikah dengan kak Damar, seharusnya elu bangga. Kak Damar melakukan apa saja agar dia dapat memiliki elu Nyah.." kata Mai.


"Sudah..! tidak usah diingat lagi, yang penting sekarang elu happy. Apa kak Damar sudah mengatakan mencintai diri mu Abel..?" tanya Rozi.


"Sudah.." jawab Abelia dengan malu-malu.


"kak Damar juga cerita, kenapa dia menolak gue dulu. Hei guys ternyata kak Damar duluan sudah suka dengan gue, daripada gue ." ucap Abelia dengan gembiranya.


"Senang tu, semalam siapa yang nangis-nangis. Yang bilang kak Damar menikahi diri karena...bla...bla...bla....." ledek Rozi.


"Kalian yang bilang ke kak Damar, apa yang gue ucapin itu kan ..?" mata Abelia meneliti Wajah kedua sahabatnya tersebut.


"Kagak.." jawab Rozi, begitu juga dengan Mai tidak mengakuinya.


"Kalau tidak kalian, siapa lagi? tidak mungkin angin yang mengatakan kepada kak Damar.." kata Abelia.


"He...he.. emang kami.." jawab Rozi.


"Kami hanya menyampaikan keluh kesah dirimu neng, kami sedih lihat dirimu semalam." kata Mai.


"Semalam elu mirip orang stres, udah tidur ditenda.." ledek Rozi.


"Gue kan belum tahu ceritanya.." Abelia mencebikkan bibirnya.


"Sekarang sudah berbunga-bunga hidup elu.." ledek Mai.


"Bukan berbunga-bunga lagi, gue merasa seperti ada bintang berterbangan diatas kepala gue ini.." ucap Abelia dengan gembira.

__ADS_1


"Yang beterbangan bukannya kupu-kupu ?" tanya Mai.


"Kalau aku yang terbang itu bintang," ucap Abelia.


"Hih.. bucin deh elu.." goda Rozi.


"Bucin akut bumil ini sekarang.." ujar Mai meledek Abelia.


Mereka bertiga tertawa dengan gembira, tawa mereka baru berhenti saat Bu Patmi mengantarkan minum dan cemilan kepada Abelia dan kedua temannya.


"Bu Patmi, Susi kemana ?" karena sejak pagi tidak melihat keberadaan dirinya.


"Pagi-pagi sekali tadi neng, Susi pulang kampung. Bapak nya sakit.." kata Bu Patmi.


"Waktu dia pulang dulu, bapaknya belum sembuh..?" tanya Abel.


"Waktu pulang itu, yang sakit ibu nya neng. Sekarang bapaknya yang sakit.." cerita Bu Patmi.


"Oh.. dengan siapa dia pulang Bu ?"


"Sendiri neng, Bu Patmi tinggal dulu ya neng. tadi ibu lagi goreng ikan.." Bu Patmi kembali ke dapur setelah mencium ada bau gosong dari daerah kekuasaannya yaitu dapur.


"Susi masih jadi bodyguard elu ?" tanya Rozi.


"Kak Damar tuh yang menyuruh Susi ikut kemana saja gue pergi, kalau gue ogah. Seperti orang penting saja gue, kemana-mana diikuti penjaga." kata Abelia.


"Elu kan orang terpenting kak Damar, apa lagi tu didalam perut elu ada benihnya.." kata Mai.


"Benih..! emang tanaman.." kata Abel.


"Hei..ngomong-ngomong, kemana kak Damar..?" tanya Rozi.


"Kantor, tadinya dia nggak mau kekantor. Terus bang Sony nyuruh kak Damar kekantor ada kerjaan yang butuh penanganan kak Damar." kata Abel.


"Abel, kak Sony makin ganteng ya. Apalagi dengan kacamatanya itu, u..hu. nggak kuat.." kata Mai dengan menampilkan senyum lebar.


"Jangan bilang, elu naksir bang Sony ?" tanya Rozi.


"Kenapa ? apa ada larangan, bang Sony masih singel kan ?" tanya Mai.


"Singel abadi.." kata Abel.


"Boleh dong, gue Pepet bang Sony ." kata Mai.


"Kejar saja..!" ucap Abel.


"Siap Nyah.."


"Bang Sony sial dapetin elu..!" kata Rozi.


"Sirik elu.." balas Maii.


"Sudah ..! kasihan baby gue dengar kalian ribut.." Abelia melerai keduanya untuk mulai saling sindir.


"Dia dulu sih ." kata Mai.


"Elu " balas Mai.

__ADS_1


"Stop.." Abelia bangkit dari duduknya, meninggalkan keduanya.


Next


__ADS_2