Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 13 Menghilang 2


__ADS_3

Cerita hanya hasil imajinasi, dan tidak ada hubungannya dengan tempat dan nama seseorang.


Happy reading.


***


Abelia kaget membaca pesan yang diterimanya, air mata Abelia jatuh membasahi pipinya. Membuat kedua temannya kaget melihat Abelia menangis.


"Abel, kenapa ? kenapa elu menangis. Apa ada yang terjadi dengan bang Jo ?" tanya Mai dengan wajah yang khawatir.


"Bang Jo, sepertinya terkena masalah." Abelia menunjukkan pesan yang dikirim Jonathan.


"Tuh kan, gue sudah curiga abang lu pasti menyimpan rahasia. Aduh...! apa yang harus kita lakukan, apa kita laporkan ke Polisi saja Abel..?" terlihat kepanikan di wajah Rozi.


"Tenang dulu, elu Zi jangan buat Abel jadi khawatir. Kita harus berpikir dengan kepala dingin." kata Mai yang berusaha untuk tidak panik pada saat begini, karena kalau dia juga panik maka tidak ada yang bisa berpikir.


"Gimana tidak panik, bagaimana jika bang Jo yang ganteng itu ditangkap penjahat. Dan badannya dipotong-potong kemudian dibuang kedalam kali, apa elu...elu tidak pernah lihat berita di TV..!" cerocos Rozi tanpa jeda, dan Rozi sudah berdiri dan mondar-mandir di hadapan Abelia dan Maimunah.


"Elu ini ya, kebanyakan lihat film pembunuhan. Jadinya pikiran elu ini ngelantur entah sampai mana, positif thinking guys ." ujar Mai sembari mentoyor kening Rozi.


"Sakit Mai, gue berkata bener. Walaupun bukan itu yang kita harapkan terjadi, moga-moga bang Jo tidak mengalami seperti yang ada di berita di TV ." kata Rozi.


Sedangkan Abelia mendengarkan perkataan Rozi semakin menangis dan terlihat wajahnya terlihat panik.


"Abel, jangan dengarkan apa yang dikatakan Rozi. Bang Jo baik-baik saja, sekarang turutin apa yang dipesankan bang Jo. Elu harus waspada, besok pagi elu jangan ke pasar dulu . Biar pekerja elu yang ke pasar." kata Mai.


"Bagaimana, apa kita tidak mencari bang Jo ?" tanya Rozi.


"Kita mau cari kemana, kita tidak bisa laporkan ke polisi. Jika kita laporkan ke Polisi apa yang harus kita katakan ." kata Mai.


Abelia berusaha menghubungi nomor handphone Jonathan, tetapi nomor handphonenya tidak terhubung atau diluar jangkauan.


"Tuh tidak bisa dihubungi, seperti nya bang Jo mematikan handphonenya.." Abelia mengulanginya berkali-kali menghubungi nomor Jonathan, tetapi hanya kekecewaan yang diterima Abelia.


Sampai pukul 3 pagi, Abelia dan kedua temannya tidak dapat memecamkan mata. Pikiran Abelia dan kedua temannya berkecamuk dalam otak mereka masing-masing.


karena kelelahan pikiran dan tubuh, ketiganya tertidur saat pagi menjelang.


Tetapi belum begitu pulas tidur nya, Abelia terbangun. Saat terdengar ada suara yang mengetuk-ngetuk pintu samping rumahnya dengan keras.


"Abel, siapa itu. Jangan-jangan itu penjahat." terlihat panik diwajah Rozi, dengan cepat Rozi mengambil hairdryer untuk alat mempertahankan diri.


Abelia bangkit dari tempat tidur, dan berjalan keluar kamarnya. Diikuti Mai dan Rozi dari belakangnya.

__ADS_1


"Rozi jangan dorong-dorong." ujar Mai kepada Rozi.


"Abel, jangan dibuka dulu. Jangan-jangan mereka penjahat yang ingin menangkap bang Jo." Mai menarik Abelia untuk menghentikan langkahnya.


"Bener Abel, kita intai dulu." kata Rozi.


"Dari mana ngintip nya, tidak ada celah untuk kita mengintip ." kata Abelia, dan matanya melihat sekeliling untuk melihat apa ada tempat yang bisa melihat orang yang mengetuk pintunya.


Setelah melihat tidak ada tempat untuk mengintip, Abelia melanjutkan langkah kakinya kembali. Di ikuti Mai dan Rozi dibelakangnya.


Dengan pelan-pelan, Abelia berjalan menuju pintu samping untuk membukanya.


"Abel, hati -hati." ujar Mai yang mengikuti Abelia dari belakang dan kemudian Rozi dengan membawa hairdryer .


tok...tok...tok..


"Neng... Neng Abel." ucap orang yang mengetuk pintunya sembari memanggil Abelia.


"Mang Sukri....!" Abelia menarik napas dengan lega, ketika mendengar suara orang diluar yang mengetuk pintu rumahnya.


"Kenal Abel?" tanya Mai.


"Lu kenal orang yang diluar ?" tanya Rozi juga.


Ketika pintu terbuka, terlihat wajah Mang Sukri.


"Mang Sukri, ada apa ?"


"Eneng sakit ?" wajah Mang Sukri menatap Abelia dengan insten.


"Tidak Mang." Jawab Abelia.


"Tidak biasanya Neng tidak kekebun bunga, Mang kira eneng sakit."


"Tadi malam lama tidurnya Mang, kelamaan bangun ." kata Abelia.


"Eneng tidak ke pasar ?"


"Mang untuk sementara saya tidak ke pasar, Mang saja yang kepasar. Biar yang dikebun saya yang menghandle semua." kata Abelia.


"Kenapa Neng, apa Neng Abel sakit ?" tanya Mang Sukri khawatir.


"Ya Mang, Abel kena flu ini ." ujarnya, dia tak ingin mengatakan larangan Jonathan agar dirinya tidak keluar rumah. Dia tidak ingin Mang Sukri khawatir dengan keselamatan dirinya.

__ADS_1


"Yang kepasar, Nak Jo ya Neng ?"


"Bang Jo pergi Mang ada kerjaan katanya. Mamang sendiri saja, bisa kan ?"


"Bisa Neng, jadi Neng tinggal bertiga disini ?"


"Nggak usah khawatir Mang, walaupun kami kecil-kecil dan imut begini. Kami hebat lho." ujar Rozi sembari menunjukkan Hairdryer yang dibawanya.


Mang Sukri tertawa melihat gaya Rozi dengan hairdryer ditangannya.


"Ya sudah Neng, istirahat saja biar lekas sembuh. Mamang berangkat dulu, keburu siang. Nanti pelanggan Kita pada beli bunga ketempat lain, dikiranya kita tidak jualan." kata Mang Sukri.


"Ya Mang hati-hati." ucap Abelia.


"Ya Neng." Mang Sukri berlalu dari hadapan Abelia.


"Akhirnya lega, jantung gue sudah mau meledak tadi. Nggak tahunya Mang Suk." ucap Rozi .


"Sukri...Rozi, bukan suk. " kata Mai.


"Ya...ya...Sukri.." Rozi menguap lebar-lebar .


"Tidur lagi beib, gue masih ngantuk. Nanti jam 7 gue balik dulu ya bantuin emak gue buka warung ." ujar Rozi dan merebahkan badannya di sofa yang ada diruang keluarga.


Abelia dan Maimunah juga ikut merebahkan tubuhnya di matras yang ada diruang keluarga, mereka kembali tidur. Karena mata mereka sudah minta untuk dipejamkam kembali.


****


Sampai siang Abelia hanya berada dalam rumah sendiri, sedangkan kedua temannya sudah pulang sejak pagi. Sedangkan Abelia hanya berada dirumahnya, dia menurut perintah abangnya. Abelia juga terus berusaha untuk menghubungi abangnya, tetapi lagi-lagi hanya pesan suara yang menyambutnya.


"Aduh bang, apa yang terjadi dengan abang ."


"Apa tanya pada orang itu ya, tapi nomor telponnya tidak ada. Kalau keluar nanti, ketemu orang yang mencari bang Jo makin runyam ." kata Abelia.


"Hih..! ogah nanya orang itu, dikiranya gue butuh bantuan nya. Walaupun tinggal dia satu-satunya manusia dibumi ini, ogah gue berhubungan dengannya." ngedumel Abelia sendiri.


Ketika ngedumel sendiri, handphonenya berbunyi. Dengan cepat Abelia mengangkatnya setelah melihat nama bang Jo yang tertera menghubungi dirinya.


"Abang..!" teriak Abelia, ketika mendengar suara abangnya.


"Adek, jangan nangis. Abang tidak apa-apa. Adek baik-baik saja dirumah ya. Jangan keluar rumah." ucap Jonathan melalui sambungan telepon.


**Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2