Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 37 Rahasia


__ADS_3

Jumpa lagi dengan cerita halu dari author ya.


***


Abelia tertidur dengan pulasnya, setelah makan obat yang diberikan oleh Dokter. Sesekali Jonathan mengintip dari balik pintu, dia takut Abelia melakukan tindakan yang membahayakan baby dalam perutnya. Karena Jonathan tahu, bahwa Abelia itu orang yang tidak bisa diam. Dan saat tidur juga Abelia tidak bisa tenang.


Jonathan duduk diruang keluarga dan menatap foto sepasang suami istri yang tergantung di depan tepat dia duduk.


"Ayah, bunda. Adek sebentar lagi akan menjadi ibu, Sebentar lagi keluarga kita akan tambah satu lagi anggota. Tolong jaga adek, biar bisa menjaga calon cucu Ayah dan bunda ya ." Jonathan berbicara sambil menatap gambar orang yang dirindukannya.


Suara mobil berhenti dan terlihat Damar keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa, dan setengah berlari membuka pagar rumah.


Jonathan membuka pintu rumahnya, dan melihat Damar yang ngos-ngosan.


"Kenapa bro, seperti di kejar setan saja ?" tanya Jonathan.


"Mana Abel ? kenapa dibawa pulang, kenapa tidak dibawa kerumah sakit di kota.." ucap Damar dengan cepat tanpa jeda.


"Wow... tenang, atur napas dulu. Tuh dikamar sedang tidur.." tanpa menunggu Jonathan selesai berbicara, Damar langsung menuju kamar Abelia. Dengan pelan Damar membuka pintu kamarnya dan melihat Abelia sedang tidur dengan memeluk guling.


Damar duduk disisi pembaringan, dan memperhatikan sekujur tubuh Abelia. Untuk mencari dimana luka seperti yang dikatakan Jonathan tadi.


"Mana ?" Damar bertanya kepada Jonathan dengan suara pelan.


"Apa ?" Jonathan tidak mengerti yang ditanyakan Damar.


"Luka Abelia..?" kata Damar.


"Tunggu dia bangun."


"Apa maksudmu?" Damar Mendekati Jonathan.


"Biar dia yang mengatakan sendiri." kata Jonathan dan mengedikkan bahunya dan beranjak meninggalkan kamar Adeknya.


"Urusan suami istri, sungguh merepotkan ." guman Jonathan saat keluar dari dalam kamar adeknya.


Damar kembali duduk disisi Abelia, tangan Damar mengelus pipi Abelia.


"Mana yang sakit, maafkan kakak ya. Tidak menjaga Abel dengan baik." ucap Damar, matanya menelisik badan Abelia untuk mencari bagian mana yang sakit.


Kemudian Damar membuka kemejanya dan masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci mukanya dan tangannya.


Damar ikut merebahkan dirinya disisi Abelia.


"Sudah kakak bilang, jangan naik sepeda lagi. Kenapa Abel keras kepala ." ucap Damar pelan, dan tangannya merengkuh Abelia untuk masuk kedalam pelukannya sedangkan Abelia masih didalam dunia mimpinya. Dia tak mendengar apa yang diucapkan Damar disisinya.


"Dasar anak nakal." usapan dilakukan Damar di lengan Abelia, sehingga Abelia semakin merasa nyaman dalam pelukan suaminya.


Abelia terbangun dari tidurnya, dan melihat tangan kekar memeluknya.


"Kak Damar.." tangan Abelia menusuk-nusuk pipi Damar dengan isengnya, entah apa yang mengerakkan dirinya. Sehingga begitu melihat Damar, timbul niat Abel untuk menganggu Damar yang sedang tidur.


"Hi..hi.." Abelia tertawa ngekeh, melihat Damar merasa terganggu akibat perbuatan tangannya.


Begitu mendengar suara tawa, Damar membuka matanya. Dan melihat wajah Abelia yang tertawa memandangi nya.


"Hemhm...nakal ya." Damar menarik hidung Abelia yang kecil.


"Kak Damar lepasin, Abel nggak bisa napas.." ucap Abel, agar Damar melepaskan tarikan kehidungnya.

__ADS_1


"Mana yang sakit, kata Jonathan ada yang luka ?"


"Tidak ada yang luka, dua hari lagi kita harus cek up ke Dokter." kata Abelia.


"Betul tidak ada yang luka ?" Damar tidak nyakin dengan perkataan Abelia.


"Bener, cuma Abel diharuskan bed rest."


"Untuk apa bed rest, jika tidak ada yang luka."


"Kaki Abel sakit kak, makanya disuruh bed rest." Abelia masih menyembunyikan kehamilannya dari Damar, dia ingin agar Damar mendengar soal kehamilannya dari Dokter Vita.


"Ayo kita pulang ." Damar bangkit dari ranjang dan mengambil bajunya dan mengenakannya kembali.


Abelia dengan pelan turun dari ranjang.


"Untung tidak sakit lagi ." Abelia beranjak menuju kamar mandinya, untuk melihat apakah masih ada plek di celananya.


"Alhamdulillah, pleknya tidak ada lagi ." Abel melihat celananya tidak ada noda darah lagi,


Abel keluar dari kamar mandi dan keluar dari kamarnya, dan dilihatnya Damar sedang berbincang-bincang dengan abangnya di meja makan.


"Makan dulu baru pulang." kata Jonathan.


"Tidak lapar kak." Abel menolak disuruh makan oleh Abangnya.


"Abel..!" peringatan diberikan abangnya melalui tatapan matanya.


"Abel, makan.." ucap Damar juga, agar Abelia mau makan.


"Iya...iya.. menyebalkan.." gerutu Abelia.


"Pakai sayur ya, biar sehat." Damar mengambil sayur bening dan ikan goreng.


"Jangan banyak-banyak kak, perut Abel masih full." kata Abel.


"Makan yang banyak Dek, biar.." Jonathan menghentikan kalimatnya, karena mendapatkan peringatan dari mata Abelia.


"Biar apa, kalau ngomong jangan sepotong-sepotong.." kata Damar.


"Biar gendut.." ucap Jonathan dengan tertawa.


"Huh.." bibirnya Abel ngerucut menatap abangnya.


"Makan sayur tidak buat gendut." kata Damar.


"Ayo habiskan Dek, enak ini masakan abang." kata Jonathan, yang semenjak kepergian kedua orangtuanya. Dia selalu memasak dirumah, jika dia tidak keluar.


"Ya.." sesuap demi sesuap, Abel menyendok kan nasi dan sayur kedalam mulutnya.


Jika dia menghentikan suapannya, dua laki-laki yang berada didekatnya langsung beraksi.


"Sepertinya bayi saja gue ini, makan juga di awasi.." batin Abelia meronta, mendapatkan pengawasan dari Damar dan Jonathan.


Damar dengan lahap memakan sayur bening, sehingga Jonathan yang memperhatikan Damar memakan sayuran tersebut menjadi heran.


"Dam, tumben suka bayam. Bukannya kamu anti bayam ?" tanya Jonathan.


"Oh... ternyata enak bayam ." ujar Damar.

__ADS_1


"Sepertinya kalian tertukar, Abel yang suka bayam. Lihat tuh bayam dipiring Abel masih utuh.." ujar Jonathan dengan menunjuk piring Abel yang masih ada bayam, tidak tersentuh yang punya piring.


"Enek lihatnya, mau muntah." kata Abel.


"Apa ada efek dari jatuh tadi?" tanya Damar dengan khawatir.


"Tidak ada, tadi sudah di periksa oleh dokter." kata Jonathan.


"Besok kita periksa dirumah sakit di kota." kata Damar.


"Abel tidak apa-apa kak, cuma bosan saja lihat sayuran ."


"Betul tidak ada yang sakit kan, jangan ada yang disembunyikan ya. Betulkan Jo, tidak ada yang kau sembunyikan dariku juga ?" tanya Damar kepada Jonathan.


"No Bro.." Jonathan menggelengkan kepalanya.


***


Dua hari Abelia bed rest dirumah saja, ingin rasanya dia keluar. Tapi Abel takut ada apa-apa dengan kandungannya.


Mengenai kehamilannya, Abelia masih menyimpan rapat-rapat. Hanya dia dan Jonathan yang baru mengetahui kabar kehamilannya tersebut.


Pagi ini, Abelia berencana meriksa keadaan tubuhnya lagi.


"Kak, Abel mau ke puskesmas. Hari ini sudah janji dengan Dokter, apa kak Damar bisa menemani ?" tanya Abelia.


"Bisa, kakak ingin tahu apa ada yang cedera akibat jatuh dari sepeda." kata Damar.


"Jam berapa ?"


"Jam 11 an saja kak, biar tidak terlalu ramai." kata Abel.


"Kita ke praktek Dokter saja, tidak berdesak-desakan…" kata Damar.


"Ini juga tidak berdesak-desakan kak ."


"Nanti jika kakak nggak sreg dengan Dokternya, kita pergi ke praktek Dokter di kota." ujar Damar.


"Iya.." jawab singkat Abelia.


Damar memberikan ciuman dipucuk kepala Abel, sebelum berangkat kekantor.


"Nanti kakak balik, habiskan itu sarapan ." tunjuk Damar ke piring Abel yang Masih tersisa banyak nasi gorengnya.


"Ya."


Sepeninggal Damar, dengan cepat Abelia meninggalkan meja makan menuju kamarnya.


Abelia setengah berlari menuju kamar mandi, dan memuntahkan semua apa yang di makannya tadi.


"Ah lega.." ujarnya.


"Baby tidak suka telur rebus juga kan, tuh papa baby jahat. Maksa terus." ujarnya, sudah dua hari. Setelah Damar pergi kekantor, Abelia selalu memuntahkan isi perutnya.


"Aduh lemas.." selesai memuntahkan isi perutnya, Abelia merasakan lemas. Kemudian memaringkan tubuhnya diranjang.


"Tidur dulu, masih jam 8 ." Abel kembali tidur, kegiatan setiap pagi setelah Damar berangkat kekantor.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2