Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 48 Ungkapan


__ADS_3

Lanjut kembali dengan kisah Abelia dan Damar.


Setelah membawa membawa sate yang dipegang Damar, Abelia kembali masuk kedalam tendanya dengan santai. Sepertinya dia tidak marah kepada Damar dan abangnya.


"Paling gampang meluluhkan kemarahan Abelia melalui makanan, lihat tadi kan.." ngekeh Jonathan melihat adek nya keluar dari tenda dan langsung menghampiri Damar.


"Lihat saja, besok sudah tidak ngambek lagi. Mungkin kesalnya ini bawaan baby.." ucap Jonathan.


"Ah...Abel, satenya dibawa kabur. Yang punya sate di cuekin..." Damar memesan sate untuknya kembali.


"Kita tunggu dia tidur, nanti pindahkan. Abel kalau sudah tidur seperti kebo, sulit untuk dibangunkan ." kata Jonathan.


"Aku balik dulu ya ." kata Sony.


"Kau balik ke villa atau nginap di Mess..?" tanya Damar.


"Nginap di Mess, besok ada kerjaan yang mendesak ." kata Sony, dan kemudian berlalu dari hadapan Damar dan Jonathan.


"Pak boss, apa nanti malam saya harus tidur di tenda. Saya ngeri pak boss, kata orang-orang kalau orang hamil suka ada yang gangguin.." tutur Susi.


"Kau tidur didalam saja, Abel juga akan saya pindahkan ke dalam juga kalau sudah tidur ." kata Damar kepada Susi.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, sudah tidak ada terdengar pergerakan didalam tenda Abelia.


Bu Patmi berjalan mengendap-endap menuju tenda Abelia, Bu Patmi sedikit membuka resleting pintu tenda Abelia dan melihat Abelia sudah dalam keadaan tidur telentang dan Bu Patmi berusaha nya tetapi Abelia tidak tidak menjawab panggilan Bu Patmi. Dengan cepat Bu Patmi memberitahukan kepada Damar apa yang dilihatnya tadi.


"Ayo Susi, kita bilang kepada Den Damar.." ucap Bu Patmi.


"Beneran tidur Bi, nanti pura-pura saja ." kata Susi.


"Bener, napasnya sudah teratur begitu.." kata Bu Patmi.


Begitu melihat Damar dan Jonathan keluar dari dalam rumah, Bu Patmi mendekati nya.


Damar dan Jonathan yang baru keluar dari dalam rumah, didekati Bu Patmi.


"Den, neng Abel sudah tidur. Tadi saya panggil sudah tidak ada respon.." kata Bu Patmi.


"Benar Bu, baru jam segini kenapa sudah tidur ?" tanya Damar, dan berjalan mendekati tenda Abel.

__ADS_1


"Mungkin karena capek dia ngambek." kata Jonathan, mengikuti Damar dari belakangnya.


Dengan pelan-pelan Damar membuka pintu tenda, dan seperti yang disampaikan Bu Patmi. Abel sudah tidur dengan pulasnya dengan telentang dan perut buncitnya sudah kelihatan.


"Tidur tidak ada anggun-anggunnya..." ucap Jonathan dengan setengah berbisik, begitu melihat Abelia tidur dengan kaki satu kemana dan satunya entah kemana.


"Hus.. jangan berisik.." kata Damar yang takut Abelia terbangun mendengar suara Jonathan.


"Maaf lupa.." bisik Jonathan.


Dengan hati-hati Damar mengangkat kepala Abel dan kemudian Damar menghentikan kegiatannya, dia menunggu apakah ada respon dari Abel. Setelah merasa Abel merasa tidak terganggu, Damar mengangkat badan dan kaki Abel untuk masuk kedalam pelukannya.


Kemudian Damar bangkit setengah menunduk untuk keluar dari tenda, dengan penuh kesulitan Damar akhirnya berhasil Mambawa Abelia tanpa terbangun keluar dari tenda.


"Akhirnya, berhasil membawanya keluar. Hih..gemes aku.." ucap Jonathan dan tangannya ingin mencubit pipi Abelia yang terlihat berisi karena efek dari kehamilannya.


"Hus..! jauhkan tangan mu, kau membuatnya terjaga nanti.." ucap Damar dengan mata nyaris mendelik.


"He...he..,aku balik dulu ya, kabarin kalau dia masih ngambek. Dan satu lagi, akui perasaan mu terhadapnya.." kata Jonathan.


"Iya.." Damar mengangkat Abelia untuk memasuki rumah, menuju kedalam kamarnya.


Dengan cepat Bu Patmi membuka pintu kamar Damar, setelah Damar masuk kedalam Bu Patmi menutupnya kembali.


Damar meletakkan Abelia dengan hati-hati kepembaringan.


"Nakal, tapi kamu mengemaskan. Tadi kakak sangat takut Abel marah dengan meninggalkan kakak disini, ternyata Abel tidak meninggalkan kakak. Abel tidak tahu ya, sebenarnya cinta kakak itu lebih dulu dari pada cinta Abel. Tapi kakak memendam nya dalam hati ini, Abel waktu itu masih bau susu.." tertawa Damar begitu mengingat bagaimana dia sudah jatuh hati kepada adek temannya tersebut.


"Masih bau susu, dan ini juga belum tumbuh besar.." ucap Damar dan mengelus dada Abel yang sudah menonjol akibat makin membesarnya kandungannya.


"Maaf, karena kakak dulu menolak dirimu. Bukan karena kakak tidak cinta, tapi kakak belum tahu nasib hidup kakak sendiri. Karena pernikahan kakak nenek yang menentukan, tapi karena ada dukungan mama dan papa. Kakak jadi berani menentukan sikap, kakak sangat mencintai Abel dan anak kita ini.." dengan panjang lebar, Damar mengeluarkan semua perasaan nya.


Damar terus bercerita, bagaimana dia dulu memberikan pesan. Agar Jonathan mengawasi Abelia dan tidak mengizinkan untuk berteman dengan pria, Karena Damar ingin saat Abel umur 20 tahun. Damar akan menikahinya.


"Bagaimana bisa Abel, mengatakan bahwa kakak tidak mencintai Abel. Perlakuan kakak terhadap Abel, apa tidak dapat Abel rasakan betapa cintanya kakak terhadap istri yang menggemaskan ini.."


Damar menundukkan kepalanya, Damar mengecup kening dan bibir Abelia.


"Sweet dream sayang." Damar merebahkan tubuhnya dan membawa Abelia masuk kedalam pelukannya.


Mendapatkan dekapan yang hangat, Abelia mendekatkan tubuhnya lebih mendekat ke badan Damar. Wajahnya dimasukkan kedekat ketiak Damar.

__ADS_1


Sudah selama seminggu ini, Abelia selalu tidur dengan mencium aroma ketiak Damar. Mungkin bawaan baby yang selalu ingin dekat-dekat dengan Damar.


"Sok mau tidur ditenda, ini saja sudah ngelendot bagaikan anak kucing begini.." ucap Damar sembari menatap wajah Abel dengan lekat.


****


Damar terbangun setelah mendengar suara kicauan burung, pagi ini dia berencana tidak berangkat kekantor. Damar ingin menyelesaikan salah paham antara dirinya dan Abel, dia tidak ingin berlarut-larut. Sehingga akan mempengaruhi kandungan Abel.


Ketika merasakan ada gerakan dari tubuh Abel yang ada dalam dekapannya, Damar pura-pura memejamkan matanya. Dia ingin tahu bagaimana reaksi Abelia saat mengetahui bahwa dia sekarang berada didalam kamarnya dan dalam pelukan Damar.


"hemh.. sudah pagi.." Abel mengangkat wajahnya dari dada Damar, dan pandangan matanya melihat dimana dia sekarang berada.


"Kenapa aku berada disini, bukankah semalam aku tidur di tenda. Kenapa sekarang aku tidur disini, apa aku mimpi jalan.." Abel melepaskan dirinya dari dalam pelukan Damar, dan memandang Damar yang pura-pura tidur.


"Kak, kenapa kakak menikahi Abel. Sedangkan kak Damar tidak ada rasa cinta kepada Abel ." ucapnya, dan tangannya ingin mengelus pipi Damar. Tapi diurungkannya.


"Kenapa ditarik lagi tangannya.." Damar membuka matanya dan menarik jemari Abelia yang ingin mengelus pipinya tadi.


"Kakak pura-pura tidur ya.." Abel menarik tangannya dan ingin beranjak dari tempat tidur, tetapi Damar menariknya hingga Abelia kembali berada dalam dekapannya.


" Jangan marah lagi ya ." ucap Damar.


"Lepasin kak, sesak ini. Perut Abel terjepit..!" seru Abel.


Damar melerai pelukannya sedikit, setelah mendengar Abelia mengingatkan tentang perutnya.


"Sorry baby, papa lupa ada baby disini..." Damar meletakkan Abel dan menyibak piyama Abel sehingga terlihat perutnya yang membuncit, dan kemudian Damar mengecup Perut Abel dengan lembut.


"Jangan cium-cium, Abel masih marah. Oh ya Kenapa Abel tidur disini ?"


"Abel semalam minta kakak angkat masuk kedalam ." jawab Damar.


"Mana ada, bohong..!"


"Nggak percaya, tanya Susi itu. Bodyguard Abel itu.." Damar mengungkung Abel dibawah.


"Kak geser dikit.." Abelia mendorong Damar yang berada diatas tubuhnya.


"Kakak tidak akan menyakiti baby kita.." tangan Damar bertumpu pada sikunya, sehingga tubuhnya tidak menekan badan Abel.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2