Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 52 Tamu tak diundang


__ADS_3

Cerita hanya fiktif dan tidak ada hubungannya dengan nama dan tempat. Happy reading ya gues


***


Begitu melihat kedatangan Abel, Damar bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Abelia yang berdiri dibelakang kursi yang didudukinya.


Sedangkan dua pasang Mata memandang Abelia dengan perasaan yang kaget, melihat kondisi Abelia.


"Apakah dia istrinya nek..?" tanya Ningrum .


"Iya.." jawab Nenek.


"Apa..!?" kaget Ningrum.


Nenek meninggalkan Ningrum yang kaget begitu mendengar nenek mengatakan bahwa Abelia istri Damar.


"Damar sudah menikah..?" pertanyaan dalam benaknya Ningrum.


Sedangkan nenek memandang Abelia dengan terkejut.


"Kenapa dengan perutmu..?" tanya nenek dengan menunjuk perut Abelia dengan tongkatnya.


"Pertanyaan apa itu Nek..?" kata Damar.


"Hih nenek, seperti tidak pernah hamil saja. Apa dikiranya aku busuk lapar atau cacingan." batin Abelia.


"Nenek tanya kenapa perutnya membesar, apa dia hamil ?" tanya nenek dengan memandang Abelia dengan teliti.


"Iyalah nek, apa nenek kira istri Damar hamil bohongan.." jawab Damar.


"Mungkin saja itu karena dia gemuk, karena terlalu kamu manja. Kamu kasih makan enak-enak.." kata nenek.


"Beneran ini hamilnya nek, apa nenek meragukan ke jantanan cucu nenek ini..!" ujar Damar jengkel, karena neneknya meragukan kejantanan dirinya.


"Coba aku pegang, mungkin saja balon atau jarik yang kalian tempelkan diperut nya.." ucap nenek, dan nenek berjalan mendekati Abel. Tetapi Abelia melangkah mundur sedikit, dia takut nenek memukul perutnya dengan tongkatnya.


Nenek tahu, Abelia takut dengan dirinya. Saat. Abelia mundur selangkah.


"Aku tidak akan memukulmu, kau kira aku wanita tua gila yang memukul wanita hamil. Dan semoga kau tidak menipuku.." kata nenek Damar.


"Tidak apa-apa sayang.." ujar Damar untuk menenangkan Abel yang takut.


Nenek melanjutkan langkahnya, begitu tiba didepan Abelia. Nenek kemudian mendekatkan tangannya ke perutnya Abelia. Tangannya menyentuh perut Abel, ketika dia merasakan tangannya memegang perut Abelia, terlihat matanya basah. Tetapi tidak ada yang memperhatikan, karena perhatian mereka hanya terfokus pada tangan nenek yang berada diperut Abelia.


"Ternyata dia benar-benar hamil, belum sampai setahun dia sudah menghadirkan cicit untukku. Sepertinya dia orang yang subur, tidak seperti Ningsih yang hanya dapat memberikan aku cucu satu. Itu juga nunggu bertahun-tahun.." dalam batin nenek setelah menarik tangannya dari perut Abelia.


'Bawa istrimu duduk, jangan disuruh berdiri lama-lama.." ucap nenek, tetapi masih ekspresi suara yang datar tidak dapat tertebak apa yang ada dalam pikiran nenek.


Nenek Damar membalikkan badannya, dan mengusap matanya dengan sapu tangan yang selalu berada ditangannya.


Damar membawa Abelia untuk duduk disofa berhadapan dengan nenek dan gadis yang datang bersama dirinya tadi.


"Mas Damar kapan menikah..?" tanya Ningrum, seraya berjalan mendekati Damar dan duduk disamping Damar.

__ADS_1


"Enam bulan yang lalu.." jawab Damar, dan menggeser duduknya sedikit kearah Abelia. Karena dia merasa risih dengan Ningrum yang terlalu merapat dengan dirinya.


"Kenapa mas Damar menikah, tidak memberitahukan Ningrum.." ucap Ningrum.


"Apa perlu aku melaporkan semua apa yang ingin ku lakukan pada dirimu, apa kau orang tua ku..?" tanya Damar.


"Ada hubungan apa kak Damar dengan gadis ini..?" pertanyaan dalam benaknya Abelia.


"Mas, kita kan sudah dijodohkan.." kata Ningrum.


"Ha...ha....!" Damar tertawa geli mendengarkan ucapan Ningrum.


"Kenapa mas tertawa..?" tanya Ningrum.


"Ningrum, sini jangan ganggu mas mu.." ucap Nenek.


"Nenek, kenapa nenek mengizinkan mas Damar menikah.." rengek Ningrum.


"Aku menikah tidak perlu izin siapapun, mama dan papa ku sudah mengizinkan. Sedangkan izin yang lain aku tidak membutuhkan nya. Terus kenapa kau repot mempermasalahkan pernikahan ku.." kata Damar.


"Kita kan sudah dijodohkan mas, apa mas lupa..?"


"Di jodohkan secara sepihak, sedangkan aku saja tidak tahu. kita saja tidak terlalu akrab, sepertinya kita hanya pernah jumpa dua kali. Kenapa kau mau dijodohkan dengan orang yang tidak pernah menganggap dirimu ada..?" Damar berkata sembari menatap wajah hadir yang masih duduk disisinya.


"Ningrum..! sini kau, kenapa kau keras kepala sekarang.." suara nenek keras berkata kepada Ningrum.


Ningrum bangkit dari duduknya, dengan wajah yang masam dia pindah duduknya menjadi duduk disamping nenek Damar.


"Nenek capek, mau istirahat dulu.." nenek bangkit dari duduknya, dan beranjak dari hadapan Damar dan Abelia.


"Ayo Ningrum, kenapa kau masih duduk disitu. Apa kau tidak capek, duduk berjam-jam didalam mobil.." ucap Nenek, untuk menyadarkan Ningrum yang masih duduk dan menatap Abelia dengan penuh kebencian.


Sepeninggal nenek, Abelia menoleh kearah Damar. Tatapan matanya menunggu penjelasan dari mulut Damar mengenai Ningrum.


"Apa sayang..?" tanya Damar yang bingung melihat Abelia yang terus menatapnya.


"Apakah tidak ada yang ingin mas Damar ingin katakan kepada Abel..?" tangan Abelia bersedekap didadanya, dan memanggil Damar dengan Mas Damar.


"He...he... sepertinya suka mendengar Abelia menyebutkan kakak dengan panggilan mas, sangat seksi kedengarannya.." ucap Damar dengan menampilkan senyum lebar di mulutnya.


"Ogahh, Abel nggak mau seperti calon kakak itu ya.." mulut Abel ngerucut.


Damar gemas melihat bibir Abelia dan mengecup bibir Abel dengan cepat.


"Hih kak Damar, main cium saja. Nggak lihat, bagaimana jika dilihat nenek..?" ucap Abel.


"Nenek lagi istirahat, sepertinya nenek senang mendengar dia akan dapat cicit.." kata Damar.


"Apa benar kak, Abel masih takut kak. Abel takut nenek akan menyakiti baby ini.." kata Abelia, dan tangannya berada diperutnya. Untuk melindungi dari tangan jahat yang ingin menganggu babynya.


"Tidak akan ada orang yang akan menyakiti bayi kita, kakak akan melindungi kalian berdua. Oke jangan terlalu cemaskan hal itu, bodyguard Abel hari ini akan kembali.." Damar merengkuh Abelia untuk masuk kedalam pelukannya.


"Siapa..?" tanya Abelia, saat Damar mengatakan bodyguard.

__ADS_1


"Susi..." ujarnya Damar.


"Oh.." Abel tersenyum membayangkan saat dia ngambek dan Susi menjadi bodyguarnya.


Damar memeluk dan memberikan kecupan dikening Abel, tidak mereka sadari ada mata yang memata-matai apa yang mereka lakukan.


****


Nenek Damar merebahkan dirinya di ranjang, terlihat senyuman mengembang dibibirnya.


"Gadis ini sepertinya tidak seperti Ningsih, yang hanya dapat memberikan satu saja keturunan kepada keluarga Samudera. Belum setahun, dia sudah hamil. Aku bisa mendapatkan cicit yang banyak dari Damar, tidak seperti Ningsih. Keluarga nya pengusaha jamu, masa tidak bisa membuat jamu agar putrinya bisa banyak keturunan..." ucap nenek sendirian dalam pembaringan.


"Yuni...Yuni..! mana mereka berdua....?" saat nenek sadar, Ningrum dan Yuni tidak ada didalam kamar bersama dirinya.


Pintu balkon terbuka, dan Yuni datang dengan tergopoh-gopoh.


"Iya Nyonya besar.." jawab Yuni dengan menundukkan kepalanya sedikit.


"Dari mana kau..?" tanya nenek.


"Lihat-lihat luar Nyonya dari balkon." jawab Yuni.


"Pergi ke dapur, bawakan cemilan dan teh hangat.." perintah nenek.


"Iya Nyonya.." ucap Yuni, kemudian ingin keluar dari kamarnya.


"Hei tunggu, kemana Ningrum..?" tanya nenek, karena dia juga tidak melihat Ningrum.


"Saya juga tidak tahu, setelah kita masuk. Dia keluar lagi.." beritahu Yuni.


"Cari dia, jangan dia buat masalah disini. Tugasmu Yuni, mengawasi dirinya. Aku tidak ingin dia menganggu cicitku.." ucap Nenek kepada Yuni.


"Iya nek ." kemudian Yuni beranjak meninggalkan kamar.


"Kemana dia pergi, dia belum pernah kesini. Jika dia hilang, keluarganya akan menyalahkan aku ." ucap nenek.


*****


Yuni berkeliling mencari keberadaan Ningrum, tetapi dia tidak melihat wujud yang dicarinya.


"Kemana dia, ah.. Nyonya besar kenapa dia membawa nona manja itu ." gerutu Yuni sembari mencari Ningrum.


"Yuni, kenapa kau ngomel sendiri..?" tanya Bu Patmi, yang baru saja dari pasar.


"Nyonya besar menyuruh saya mencari Ningrum Bu Patmi.." kata Yuni.


"Tadi saya lihat dia dihalaman samping, sedang bertelepon.." kata Bu Patmi.


"Terimakasih Bu, saya akan mencarinya." Yuni langsung bergegas, menuju tempat yang dikatakan Bu Patmi.


Next


__ADS_1


__ADS_2