
Cerita hanya hasil imajinasi penulis, tidak ada terkait set tempat atau nama seseorang.
******
Nenek dibawa kekantor polisi dengan mengendarai mobil polisi, tidak ada rasa gentar dalam diri nenek saat menaiki mobil polisi. Karena nenek merasa dirinya tidak melakukan kesalahan-kesalahan.
Begitu tiba di kantor polisi nenek dibawa kedalam satu ruangan untuk dimintai keterangannya.
begitu tiba dalam ruangan pemeriksaan, disana sudah ada Ningrum duduk dan kepalanya diperban melilit dikepalainya.
Begitu melihat kedatangan nenek, Ningrum langsung menuding nenek.
"Itu orang yang telah mencelakai kepala saya pak polisi, tangkap dia pak. Penjarakan saja pak.." kata Ningrum, dengan suara yang keras dan bersemangat.
"Tenang saudari Ningrum, kami tidak bisa main tangkap saja. Kami harus melakukan pemeriksaan dan mengumpulkan bukti-bukti.." kata polisi kepada Ningrum.
"Ini buktinya pak, kepala saya bocor. Kening saya cacat karena ada luka bekas jahitan.." kata Ningrum, agar polisi mendengarkan keluhannya.
"Awas kau Ningrum, kau juga akan ku laporkan. Karena telah membuat cucuku celaka." nenek memberikan ancaman kepada Ningrum yang duduk didekat nya.
"Pak polisi saya juga ingin melaporkan orang ini, karena telah menganiaya cucu saya. Sehingga cucu saya sekarang terbaring di puskesmas. Tangannya hampir patah, dan cucu saya itu juga hampir kehilangan bayi yang berada dalam kandungannya." kata nenek dengan bersemangat.
"Tidak benar pak polisi, dia jatuh sendiri.." Ningrum melakukan pembelaan.
Nenek dan Ningrum saling berbalas perkataan, membuat polisi yang menghadapinya menjadi pusing. Karena keduanya tidak bisa dihentikan.
Seorang polisi masuk kedalam ruangan pemeriksaan, dan berbisik kepada polisi yang memeriksa nenek.
"Suruh masuk.."
Polisi tersebut keluar, dan masuk kembali di ikuti oleh Damar, papa dan seorang pengacara Perusahaan.
"Silahkan pak Damar.." polisi mempersilakan rombongan Damar untuk duduk.
"Begini pak, saya ingin melaporkan saudari Ningrum. Karena telah membuat istri saya terpaksa bedrest selama sebulan, karena kandungan dan tangannya cedera akibat dari perbuatan orang ini.." ucap Damar dengan menunjuk kearah Ningrum.
"Tidak benar pak, mereka semua telah berbohong. Mereka tidak suka dengan saya, makanya mereka memfitnah saya.." kata Ningrum.
"Kalian penipu..!" teriak Ningrum, kepada Damar.
"Diam Nona Ningrum, ada saatnya anda melakukan pembelaan. Kalau anda tidak bersalah tidak perlu takut." Polisi memberikan peringatan kepada Ningrum karena melakukan keributan, karena tidak terima dengan perkataan Damar.
"Kami tidak bohong pak polisi, mata saya ini saksinya. Walaupun saya sudah tua tapi mata saya masih awas dan tidak rabun." kata nenek.
"Ini rekaman cctv yang ada di rumah saya pak.." Damar menyerahkan bukti rekaman cctv kepada polisi.
Mendengar perkataan Damar, Ningrum panik. Dia tak mengira bahwa rumah Damar ada cctv-nya.
Polisi memeriksa rekaman cctv tersebut, dan terlihat semua kejadian sebelum dan sesudah kejadian. Dalam cctv terlihat Ningrum yang menjegal kaki Abel, sehingga Abelia terjatuh.
Dan terlihat juga nenek memukul Ningrum Karena Ningrum tidak mengakui telah menjegal kaki Abelia.
"Pak polisi, lukanya juga tidak dalam. Tidak perlu juga di balut seperti baru operasi besar saja.." kata nenek.
Mendengar ucapan nenek, polisi berinisiatif untuk melihat apakah yang dikatakan nenek benar apa tidak. Polisi membuka perban yang melilit kepalanya Ningrum. Dengan pasrah Ningrum membiarkan polisi membuka perban yang melilit kepalanya.
Ketika perban yang melilit dikepalanya terbuka, polisi melihat hanya ada goresan kecil seperti tergores kuku. Yang ada dikeningnya Ningrum.
Polisi yang melihat luka dikening Ningrum menjadi tertawa, begitu juga dengan nenek.
"Betulkan apa yang saya katakan, dia menipu." kata nenek dengan bangga, karena berhasil menbuka kedok Ningrum.
"Hanya luka goresan, kenapa anda membalutnya sepertinya lukanya sangat lebar. Apa anda berusaha mengelabui kami..?" tanya polisi kepada Ningrum.
"Tidak pak, saya takut. Walaupun lukanya kecil bisa terkena kuman." kata Ningrum.
"Tapi tidak sampai membalut segitunya, cukup dengan perban strip saja." kata polisi.
Ningrum hanya menundukkan kepalanya.
"Saya tidak terima pak, saya akan tetap menuntut nenek tua ini.." kata Ningrum.
"Silahkan, hak anda untuk menuntut.." kata polisi.
"Saya juga akan menuntut dia pak, karena telah membahayakan dua nyawa.." kata Damar.
Setelah melakukan perdebatan panjang, nenek diizinkan pulang karena ada jaminan dari keluarga.
Sedangkan Ningrum tidak bisa meninggalkan kantor polisi, karena tidak ada yang mau menjamin dirinya. Sedangkan keluarganya belum ada yang datang.
****
Setelah pihak keluarga Ningrum datang, yaitu papa dan mama tirinya. Ningrum baru bisa menghirup udara bebas.
Atas kesepakatan kedua pihak, dan memandang hubungan pertemanan yang sudah cukup lama antara kedua belah pihak. Maka pihak Damar dan keluarga Ningrum menempuh jalan damai, dengan syarat Ningrum tidak boleh mendekati Abelia dan Damar. Begitu juga sebaliknya.
"Untuk apa Damai, biar saja dia membusuk dalam penjara.." nenek terus ngedumel, begitu mengetahui Damar akan berdamai dengan keluarga Ningrum.
"Ini semua gara-gara ibu, jika ibu tidak membawanya kesini dia tidak akan mencelakai Abel." kata Wijaya.
"Ibu mau kesini, dan hanya dia yang mau mengantarkan ibu kesini.."
"Sudah mas, untuk apa diungkit-ungkit lagi. Abel juga sudah sehat itu.." ucap Ningsih, mama Damar.
"Iya, jangan nyalahin nenek terus. Kita juga salah, karena tidak mengatakan tentang kehamilan Abel.." kata Abelia.
__ADS_1
"Terimakasih cucuku sayang.." nenek menggenggam kedua tangan Abelia.
"Besok kita kembali Bu ." ucap papanya Damar kepada ibunya.
"Tidak, ibu mau disini. Ibu mau menunggu cicitku lahir." kata nenek.
"Masih lama nek, empat bulan lagi.." kata Damar.
'Tidak apa-apa, untuk apa nenek disana. Tidak ada yang bisa nenek lakukan dikota, nenek hanya sendiri disana. Hanya Yuni yang ada disamping nenek.." nenek tetap kekeuh tidak mau Balik bersama papa Damar.
"Sudah pa, biar nenek disini. Bisa jadi teman Abel, jika kak Damar pergi kekantor." Abel menengahi perdebatan papa mertua dan nenek.
Nenek tersenyum lebar mendapatkan dukungan dari Abel, untuk tidak pulang.
"Ibu jangan merepotkan Damar dan Abel disini.." ucap Wijaya Samudra.
"Ibu belum jompo dan pikun.."
****
Usia kehamilan Abelia sudah memasuki sembilan bulan, hari ini Abelia berkumpul dengan Mai dan Rozi setelah hampir sebulan mereka tidak bertemu.
Sedangkan Damar hari berangkat kekota, karena ada urusan kantor.
Mai dengan kesibukannya menjaga adeknya yang baru lahir, sedangkan Rozi sibuk dengan bisnisnya goreng pisang kejunya.
"Abel, kapan sih anak elu keluar..?" tanya Rozi.
"Menurut perkiraan dokter, bulan ini. Mungkin akhir bulan." kata Abelia.
"Abel, perut elu besar sekali. Apa anak elu kembar..?" tanya Mai, karena melihat perut Abelia yang besar sekali.
"Nggak, mungkin karena gue selama hamil suka makan.."
"Cewek apa cowok anak elu..?" tanya Rozi.
"Masih sembunyi dia, malu babynya. Kami beli bajunya netral ." beritahu Abelia.
"Semoga elu melahirkan tidak malam, seperti emak gue. Puskesmas tutup, terpaksa adek gue lahir ke dukun beranak.." kata Mai.
"Masih ada sekarang dukun beranak..?" tanya Abel.
"Ada lah, contohnya adek gue. Panggil bidan, bidan tidak ada ditempat."
"Elu namti ke dukun beranak saja Abel.." ujar Rozi.
"Aduh.." teriak Rozi, ketika dia merasa ada tangan menjewer telingnya.
"Apa kau bilang tadi, kau menyuruh cicitku lahir di dukun beranak. Penerus Wijaya Samudra lahir di dukun beranak..!"
Rozi hanya meringis begitu mengetahui nenek yang menjewer telingnya.
"Nek, itu hanya umpamanya tidak ada dokter dan bidan. Jika Abel lahiran malam, ini kan desa nek. Dokter sering tidak ada ditempat.." kata Abel.
"Iya juga ya, ayo kita kekota. Kamu lahiran disana saja, lahiran disini tidak aman.." ucap nenek tiba-tiba.
"Nek, saat ini kekota tidak aman. Bagaimana jika nanti melahirkan ditengah jalan.." kata Rozi.
"Iya juga ya, ah... kenapa jadi pusing begini. Kenapa tidak waktu nujuh bulanan itu kita ikut Wijaya kekota saja, ini semua gara-gara Damar yang tidak bisa jauh dari istrinya.." ngedumel nenek.
"Nenek tidak usah khawatir, mungkin saja Abel lahiran tidak malam." kata Abelia untuk menenangkan neneknya.
"Aduh...!" tiba-tiba Abelia merasakan perutnya terasa sakit.
"Ada apa..!?" teriak nenek, Mai dan Rozi bersamaan.
"Sakit nek, pinggang Abel nyeri nek. Sepertinya Abel mau kekamar mandi.." Abel bangkit dan beranjak kekamar mandi yang ada didekat ruang keluarga.
"Oh...nenek kira mau melahirkan." kata nenek.
"Tapi hati-hati Abel, emak gue dulu juga begitu. Mau bab kekamar mandi, begitu sampai kamar mandi adek gue mau keluar." cerita Mai.
"Awas Abel, nanti baby mu masuk ke lubang closet." ingatkan Rozi.
"Hih kalian nakutin gue saja.." kata Abelia dari depan pintu kamar mandi.
"Nenek....!" teriak Abelia dari dalam kamar mandi.
"Nah... apa itu..!" nenek, Mai dan Rozi berlari kekamar mandi.
"Elu jangan ikut.." Mai mendorong Rozi.
"Hih..." gerutu Rozi yang berada didepan pintu yang ditutup Mai.
Pintu terbuka, dan terlihat nenek dan Mai mengandeng Abel yang menahan sakit diperut dan pinggulnya.
"Abel akan melahirkan nek.?" tanya Rozi.
"Iya, tolong suruh Bu Patmi menyiapkan mobil." kata nenek.
Secepatnya Rozi berlari kebelakang untuk mencari Bu Patmi.
"Apa Nyonya besar..?"
"Suruh Umar siapkan mobil, antar Abel ke puskesmas."
__ADS_1
"Neng mau melahirkan..?"
"Iya, kamu banyak tanya. Cepat siapkan mobil, jangan nanti cicit saya lahir ditengah jalan."
"Bu Patmi, telepon kak Damar. Suruh dia ke puskesmas." kata Abelia.
"Iya neng."
****
Begitu tiba di puskesmas, Dokter Vita sudah standby diruang bersalin.
"Mana suaminya..?" tanya Dokter Vita.
"Lagi dalam perjalanan Dokter." kata Nenek yang menemani Abelia didalam.
"Tahan ya Bu, masih pembukaan lima.." ucap Dokter.
"Sakit nek.."
"Tahan sebentar lagi ya.." kata nenek dan mengelap keringat dikeningnya Abelia.
"Mana kak Damar nek, kenapa belum sampai juga.." kata Abelia.
Selama setengah jam Abelia menunggu kedatangan Damar, tetapi wujud Damar tidak kelihatan juga.
Tanpa ditemani Damar, Abelia melahirkan putranya ke dunia. Diluar Jonathan yang dihubungi Mai telah tiba.
Nenek keluar dari ruangan bersalin, setelah Abelia melahirkan dengan selamat.
"Akhirnya, cicitku telah lahir.." ucap nenek dengan gembira.
Mendengar kabar yang dibawa nenek, Mereka yang menunggu diluar merasa gembira.
"Apa anaknya nek?" tanya Jonathan.
"Laki-laki.." beritahu nenek.
****
Setelah selesai dibersihkan, Abelia dipindahkan keruangan.
"Dek, tadi Damar menelpon. dia dalam perjalanan balik kesini, Abang menyuruh dirinya untuk santai saja. Karena Adek sudah selamat melahirkan." kata Jonathan, karena dia takut adeknya marah kepada Damar. Karena tidak mendampingi dirinya.
"Iya bang, adek ngga apa-apa. Mungkin baby tidak mau lahirnya ditemani papanya.
"Kapan babynya dibawa kesini, gue ingin lihat.." ucap Mai.
"Iya, kenapa lama sekali.."
Pintu ruangan terbuka, dan seorang perawat mendorong box baby.
"Ini babynya Bu, nanti setengah jam lagi saya jemput ya.." ucap perawat tersebut.
"Enggak elu susuin Abel..?" tanya Mai.
"Tadi sudah, tapi air susu gue nggak keluar.." kata Abelia dengan berbisik kepada Mai, karena ada Jonathan dan Rozi yang sedang menganggu babynya.
"Dek, kenapa mirip Damar ya..?"
"Namanya papa nya bang." Jawab Abel.
Pintu terbuka dan muncul wajah Damar yang acak-acakan.
"Sayang..! Maafkan kakak.." Damar memeluk Abelia dengan erat.
"Tidak apa-apa kak, Abel sehat kok, baby boy kita juga sehat.."
"Baby boy..?"
Nenek mengangkat babynya, dan meletakkannya keatas tempat tidur Abelia.
" Jagoan papa, maafkan papa ya.." Damar mencium kening Abelia dan kemudian kening putranya.
"Ya papa.." Jonathan yang menjawabnya.
Pintu kamar terbuka dengan kemunculan papa dan mama Damar, yang rencananya besok baru datang.
"Sepertinya cucu kita ingin kita menunggui kelahirannya, sehingga kita memajukan kedatangan kita. Tetapi kita tidak bisa tepat waktu." kata papa.
"Damar juga tidak bisa menunggui kelahirannya pa, nenek juga yang benar.." kata Damar.
"Sudah jangan sedih, nanti anak kedua dan seterusnya kalian mendampinginya." kata nenek.
"Nenek..! apa nenek suruh Abel melahirkan setiap tahun..?"
"Tidak, tiga tahun sekali saja.." ngekeh nenek dengan gembiranya.
"Soal nambah anak nanti pikirkan, pikirkan yang sudah ada ini dulu. Siapa namanya ?" tanya Jonathan.
"Adam Abelio Samudera.." beritahu Damar.
"Welcome baby Adam Abelio Samudera.." ucap mereka serentak.
❤️ ❤️Tamat Tamat❤️❤️
__ADS_1
Sekian cerita love the flower girl...
Maaf ceritanya tidak panjang dan konflik yang berlebihan.