Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 26 Menikah


__ADS_3

Bantu like..like ya trims.


Abelia terus menanyakan di mana abangnya tinggal selama diri nya bersembunyi dari kejaran orang-orangnya Damar. Sampai-sampai Jonathan bingung untuk menjawabnya, dia takut salah kata sehingga terbongkar semua perbuatan dirinya dan Damar untuk mengelabui adek nya.


"Adek, cukuplah. Abang tidak mau lagi mengingat masa-masa dimana abang hidup tidak tenang dan dalam ketakutan, saat itu perasaan Abang merasa Damar berada disekitar abang terus. Seakan-akan dia ingin menguliti badan abang ini." kata Jonathan untuk menghentikan pertanyaan Abelia yang bertubi-tubi terhadap dirinya.


"Maaf bang, Abel penasaran saja. Tentang keberadaan abang selama seminggu ini. Abang makan apa, tidur dimana ." kata Abelia sembari memeluk lengan Abangnya, dan menyandarkan kepalanya kesisi pundak Jonathan.


"Ingin rasanya Abel meninggalkan ini semua bang, tapi Abel berpikir. Kalau Abel kabur sudah pasti Abel tidak bisa kembali kesini lagi, sedangkan disini ada kebun bunga peninggalan ayah dan bunda. Dan makam ayah bunda juga berada disini ." kata Abelia dengan perasaan yang sedih.


"Maafkan abang Dek, semua ini kesalahan abang ." ujar Jonathan dan memberikan usapan di lengan adeknya.


"Mungkin ini sudah jalan hidup yang harus Abel jalani, ya...jalani saja dengan sabar dan ikhlas. Apa yang akan ada didepannya, kita hadapi dengan senyuman. Semoga kebahagiaan yang akan Abel terima atau bukan tetap harus dihadapi. Iya kan bang..." ucap Abelia.


"Terimakasih Dek, tak abang sangka adek abang sudah dewasa dan sangat pengertian ." puji Jonathan kepada Abelia.


"Abel tidur dulu bang, besok Abel ingin ke pasar jual bunga. Sudah lama Abel tidak kepasar, rindu rasanya mendengar celotehan orang-orang dipasar." kata Abel.


"Besok abang saja yang mengantarkan, biar Mang Sukri bisa mengurus yang lain ." kata Jonathan..


"Ok bang, Abel mau menyuruh Mang Sukri kekota. Untuk mengambil pupuk bunga , stok disini sudah menipis." kata Abelia.


"Besok kita ke makam ayah bunda ya Dek ." kata Jonathan kepada Abelia.


"Tadi Abel sudah ke makam bang ."


"Dengan siapa ?"


"Sendiri saja, apa yang ditakutkan. Mereka semua yang sudah tidur abadi tidak akan menggangu Abel." kata Abel, karena dia sangat takut sebenarnya dengan area pemakaman.


"Biasanya takut ."


"Sekarang Abel harus jadi orang yang kuat dan pemberani.."


"Baguslah, kan sebentar lagi mau jadi istrinya Damar ." ucap Jonathan dengan tersenyum.


"Dek, bagaimana jika kalau Damar bener-bener cinta dan sayang dengan Adek ?" pertanyaan tiba-tiba yang keluar dari mulut Jonathan, membuat Abelia mematung.


"Hemhm.. sepertinya, hal yang tidak mungkin terjadi." ujar Abelia sembari mengelus-elus dagunya.


"Ah..bosan dengar nama dirinya terus-menerus, Abel mau bobok saja. Good night bang.." ujar Abelia.


"Sweet dream Dek .." balas Jonathan.


***


Pagi hari, Abelia terbangun karena mendengar alarmnya berbunyi. Dengan cepat Abelia berjalan ke kamar mandi. Untuk melakukan ritual mandinya pagi.


Selesai mandi, Abelia keluar dari dalam rumahnya. Dan suasana diluar masih temaram dan berkabut. Karena sang mentari masih asik tidur di peraduan, berbeda dengan Abelia yang sudah bangun dari peraduannya sejak tadi dan siap melakukan aktifitas seperti biasanya.


"Selamat pagi dunia, semangat... semangat..!" teriak Abelia saat diri sudah berada diluar rumahnya, Abelia merentangkan kedua tangannya.


Abelia mengancingkan jaketnya sampai ke lehernya, karena setibanya diluar rumahnya. Udara dingin menusuk tulang langsung menerpa badan mungilnya.


"Ih.. dingin.." terlihat asap keluar dari mulutnya, saat Abelia berbicara.


Abelia terus melangkah ke arah kebun bunganya, karena kalau dia berhenti melangkah. Badannya makin terasa dingin dan dia mengigil, walaupun badannya sudah terbungkus jaket yang cukup tebal.


"Selamat pagi Mang ?" sapa Abelia saat dia tiba ditempat para pekerja sedang menyortir bunga-bunga.


"Pagi Neng ." jawab Mang Sukri.


"Pagi Neng.." sapa pekerja yang berada ditempat situ juga, secara bersamaan.


"Hih.. kompak nih, ucapan selamat paginya. Sudah seperti paduan suara ." kata Abelia sembari tersenyum.


Para pekerja tertawa mendengar gurauan Abelia, Abelia sangat akrab dengan para pekerjanya. Sehingga para pekerja sangat betah Bekerja dikebun bunganya, sejak kebun bunga masih dikelola oleh kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Mang, Abel berangkat dulu ya. Bunga ini nantinya bang Jo yang ngantarkan, nanti Mamang ambil pupuk bunga saja ya ." kata Abelia.


"Oh..Nak Jo sudah balik Neng ?"


"Sudah Mang ." jawab Abelia.


"Ok Abel berangkat dulu, bilang bang Jo. Abel sudah berangkat duluan ya.." ujar Abelia dan mengambil sepedanya.


"Iya Neng, hati-hati ya Neng.." ucap Mang Sukri.


"Iya Mang.." Abelia mulai mengayuh sepedanya.


Sambil bersenandung, Abelia mengayuh sepedanya. Udara dingin tidak mengurangi semangatnya dalam mengayuh sepedanya.


"Selamat pagi bunga, lah yang mau jadi pengantin kenapa masih jual bunga. " ucap orang yang mengenal Abelia.


"He..he..bi Ina selamat pagi ." balas Abelia, sembari tertawa kecil dan tidak membahas pernikahan yang yang diucapkan bi Ina tadi.


Abelia terus mengayuh sepedanya, sehingga dia sampai ke pasar. Tiba dipasar, rekan-rekan seperjuangan Abelia sesama pedagang sudah berada disana.


"Abel, kenapa tidak kepasar dua hari ini ?" tanya Bu Arin.


"Sibuk dirumah bu, ada kerjaan." kata Abelia.


"Bu Arin, seperti tidak tahu saja. Sebentar lagi mau jadi manten Lo.." goda Pak Malik yang tiba-tiba muncul dari belakang Abelia dan Bu Arin.


"Hih Pak Malik, siapa yang mau menikah.." cemberut Abelia.


"Ah Abel, tidak usah main rahasia lagi. Undangan sudah kami terima." kata Pak Kadir yang datang bersama Pak Malik.


"Undangan, Abelia belum ada nyebar undangan ." kata Abelia dengan mata membulat, ketika mendengar perkataan Pak Kadir.


"Pak Damar yang menyebarkan undangan untuk para pedagang ." kata Pak Malik.


"Dasar tuh orang, main nyebar undangan saja. Tapi apa itu undangan atas nama calonnya yang tidak jadi, tapi jika ya. Tidak mungkin orang membicarakan gue.." dalam benaknya Abelia.


"Tapi kami bersyukur, karena Abel menikah dengan Pak Damar. Mereka keluarga yang baik dan tidak sombong, walaupun mereka keluarga yang berada.." kata Pak Malik.


"Bener Pak Malik, modal awal saya untuk membangun kebun saya itu juga atas pinjaman dari Bapak Wijaya. Bapak nya Pak Damar, sampai sekarang belum lunas. Tapi mereka tidak memaksa untuk uangnya kembali dengan cepat.." kata Pak Kadir.


"Banyak masyarakat sini yang sudah mereka bantu.." kata Bu Arin.


"Abel sungguh beruntung ." kata bu Arin, dan menepuk-nepuk pundak Abelia.


Sedangkan Abelia hanya sedikit tersenyum, mendengar pujian yang bertubi-tubi yang diberikan kepada Damar.


"Semoga kamu bahagia ya Abelia.." kata Pak Kadir, yang sudah sangat mengenal Abelia saat dia masih kecil. Karena Abelia kecil sering ikut kepasar ikut dengan kedua orangtuanya.


"Terimakasih Pak, Bu atas dukungannya kepada Abelia." mata Abelia sudah memerah ingin menangis tapi dia berusaha untuk menahan agar air mata nya tidak membasahi pipinya.


"Sudah jangan sedih Abel, kami harapkan Abel masih mau ke pasar berkumpul bersama kami disini ." ucap bu Arin.


"Iya Abel, moga-moga masih diizinkan suami kepasar pagi berjualan ." kata Pak Kadir dan Pak Malik.


"Tapi kalau tidak diizinkan lebih bagus, ngurus suami dan anak saja di rumah. Sungguh pekerjaan yang mulia ." kata bu Arin.


"Sudah.. sudah kita kembali ke lapak masing-masing, lihat tuh mobil bunga Abel sudah datang.." kata Pak Malik, saat melihat mobil pickup yang membawa bunga sudah datang.


"Jonathan yang bawa Abel ?" tanya Bu Arin.


"Iya bu ." jawab Abelia.


****


Hari pernikahan Abelia dengan Damar hanya tinggal menghitung jam saja, pernikahan diadakan di lokasi rumah Damar yang sangat luas.


"Abel, ntar lagi elu sah menjadi istri kak Damar. Apa elu gugup ?" tanya Mai yang mendampingi Abelia saat sedang di makeup.

__ADS_1


"Bukan gugup lagi, sepertinya gue sudah mau pingsan. Nih jantung sudah dug...dug terus sedari tadi.." Abelia memegang dadanya.


"Abel, elu cantik sekali beib..!" teriak Rozi yang baru saja datang.


"Emang gue sudah cantik dari sono nya, elu saja yang tidak tahu." ujar Abelia menyombongkan dirinya.


"Iya kan mbak ..?" tanya Abelia kepada MUA yang sudah sangat dikenal Abelia, karena sering memesan bunga kepada dirinya.


"Iya, mbak sudah kenal Abel dari kecil. Abel tidak perlu dirias menor juga sudah cantik ." kata Marni yang merias Abelia.


"Tuh dengerin .." kata Abelia.


"Iya...iya neng, elu emang sudah cantik sejak dari dalam perut ." kata Rozi.


"Pengantin lelaki belum datang ya Abel, gue cari-cari tadi. Ingin lihat kak Damar ." kata Rozi sembari mengutak-atik peralatan makeup yang berada dihadapannya.


"Mana gue tahu, sejak tadi gue tidak ada keluar.." kata Abelia.


"Jangan-jangan kak Damar kabur..!? ujar Rozi.


"Itu yang gue harapkan.." kata Abelia.


"Tidak mungkin terjadi, dia yang ngebet nikah. Masa sudah hari H kabur.." kata Mai.


****


Akhirnya pernikahan Abelia dan Damar sukses terlaksana, pernikahan dihadiri undangan dengan perasaan yang puas. Pihak Damar menyediakan makanan beraneka ragam, dari makanan lokal dan makanan internasional.


"Capek..?" tanya Damar, saat dilihatnya Abelia memijat paha dan betisnya.


"Iya, Abelia tidak biasa pakai sepatu high heels.." Abelia menunjukkan sepatunya kepada Damar.


"Sudah buka saja, jika tidak nyaman.." kata Damar.


"Abel nyeker gitu.."


"Iya, tidak ada yang lihat. Baju panjang begitu.." kata Damar.


'Hih ogah, kelihatan Abel pendek.." tolak Abelia untuk membuka sepatunya, saat Abelia memakai sepatunya. Dia sebahu Damar. Jika dia membuka sepatunya mungkin dia seketek Damar.


"Yah sudah, sebentar lagi selesai ." kata Damar.


Sedari tadi, ada sepasang mata yang menatap tajam Abelia. Dia masih tidak bisa menerima cucu tersayang nya menikahi gadis yang tidak sederajat dengan keluarga besar Samudera.


"Lihat saja gadis bodo, jangan merasa senang dulu ." kata Nenek Damar yang datang juga menghadiri pernikahan cucunya.


"Kenapa serasa ada menatapku ya..?" dalam benaknya Abelia, mata Abelia mengitari ruangan pesta dan matanya terserobok dengan tatapan tajam mata nenek Damar.


'Oh God, mata nenek Damar seperti ingin memakan diriku ini ." Abelia ngeri melihat tatapan mata nenek Damar.


Abelia menundukkan wajahnya, dia sedikit takut melihatnya.


"Oh God, please help me.." benaknya Abelia.


Akhirnya pesta resepsi berakhir, sekarang Abelia sudah berada dikamar Damar. Dan Damar sedang berada didalam kamar mandi, sedangkan Abelia masih menatap kamar yang akan ditempati nya selama dia menjadi istri dari Damar Samudra.


pintu kamar mandi terbuka, dan keluar Damar hanya mengunakan handuk mandi, Abelia gugup melihat Damar.


"Mandi sana, ada air hangat sudah kakak siapkan.." ujar Damar.


Tanpa menyahut Abelia masuk kedalam kamar mandi, dan tidak lupa membawa baju tidur dan handuknya.


"Seharusnya, gue yang menyiapkan air hangat untuk kak Damar mandi. Sekarang malah gue yang dilayani ." ucap Abelia, dan kemudian membuka baju pengantinnya. Setelah selesai membuka baju, Abelia masuk ke bathtub untuk berendam agar tubuhnya kembali segar.


Bantu tekan like dan bintang 5 ya..trims.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2