
Happy reading gues..
Abel menangis dalam pelukan Mai, sedangkan Rozi mengelus pundak sahabatnya tersebut.
"Abel, tidak mungkinlah. Kak Damar menikahi elu hanya untuk menidurin elu saja, kalau tidak ada cinta tidak mungkin dia mau nyemai tu bibit diperut elu. Sampai perut elu sudah buncit begitu.." kata Rozi.
"Laki bisa melakukan itu, walaupun tidak cinta. Kambing saja kalau di lipstik, mungkin dia suka ." kata Abel, dan mengelap air matanya yang masih mengalir.
"Gila elu Abel, masa elu samakan suami elu pengila kelamin. Main nyetrum saja, sampai kambing juga di embat.." ngekeh Mai mendengarkan ucapan Abel.
"Gue tidak ." kata Rozi.
"Elu belum jadi laki, masih setengah laki.." ucap Mai.
"Sial elu Mai..!" balas Rozi.
"Terus elu mau bagaimana sekarang ?" tanya Mai.
"Kalau tidak mikir gue sedang hamil, ingin rasanya kabur dengan baby gue ini. Tapi gue mikir baby gue tidak akan mendapatkan kasih sayang bapaknya." ucap Abelia.
"Abel, jangan elu lakukan ya. Kasihan baby elu. Kalau sempat elu kabur kasihan dia.." ucap Rozi.
"Elu lihat gue, yang tidak punya bapak. Gue bilang kepada kalian bapak gue meninggalkan, tetapi sebenarnya bapak gue kabur dengan perempuan lain. Gue merasa punya bapak sampai umur 4 tahun, dan gue tidak ingat lagi rasa punya bapak itu bagaimana. Sedih Abel, jangan buat anak elu seperti gue nasibnya.." cerita Rozi dan air matanya sudah mengalir dipipinya.
"Maaf Rozi, kami tidak tahu kisahmu begitu menyedihkan.." kata Mai.
"Sorry Zi..." ucap Abelia seraya memeluk sahabatnya tersebut, sehingga mereka bertiga berpelukan.
"Tuh kan, gue jadi mewek. Padahal gue sudah tidak mengingat itu semua lagi, gara-gara elu gue jadi mengingatnya kembali." ucap Rozi.
"Sorry Zi..!" ucap Abelia.
"Gue akan memaafkan elu, jika elu tidak ngambek begini lagi.." kata Rozi.
"Hih... syarat mu berat.." kata Abel.
"Apa beratnya, gue hanya mau elu masuk kerumah dan tidur manis di kasur empuk elu." kata Rozi.
"Ya Abel, masuk sana. Ntar lagi malem, udara dingin nanti elu masuk angin elu. Kasihan baby elu.." pujuk Mai.
"Ya nanti gue pikirin, kalian tidak bisa nemani gue disini ?" tanya Abel dan menatap kedua temannya.
"Gue nggak bisa, ayah gue kekota belanja. Elu kan tahu, emak gue tinggal nunggu hari aja ." kata Mai.
"Elu Zi ?"
"Gue juga tidak bisa Abel, para pekerja rumah makan gue tinggal satu. Yang satu lagi pulang kampung, report emak gue." kata Rozi juga.
"Sorry ya.." ucap Mai dan Rozi barengan.
"Nggak pa-pa ada bodyguard gue tu, standby didepan.." kata Abelia.
"Iya tuh.. seperti anjing penjaga dia didepan..." kata Rozi.
"Kami balik ya Abel, sudah sore nih. Sepeda motornya tidak ada lampunya ." kata Mai.
"Sepeda motor siapa elu larikan..?" tanya Rozi.
__ADS_1
"Punya tetangga.." jawab Mai.
"Bye...bye Abel, jangan ngambek kelamaan ya. Kami besok kesini lagi."
Mai dan Rozi keluar dari dalam tenda Abel.
"Bagaimana..?" tanya Damar, begitu melihat Mai dan Rozi keluar dari dalam tenda Abelia.
"Kami sudah berusaha membujuknya, moga dia luluh.." kata Mai.
"Kak Damar, boleh Rozi bertanya..?" ucap Rozi dengan sedikit ragu-ragu.
"Apa, tanya kan saja ?" ucap Damar.
"Itu kak.." Rozi ragu untuk bertanya.
"Apa sih Rozi, kenapa kau ragu. Apa ini ada hubungannya dengan Abel ?" tanya Jonathan.
"Apa Abel ada cerita sesuatu yang penting..?" tanya Damar dan pandangan matanya menelisik wajah Rozi dan Mai secara bergantian.
"Apa kakak mencintai Abel..?" tanya Rozi cepat.
"Apa !? pertanyaan apa itu..?" ucap Damar, begitu mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Rozi.
"Iya kak, tadi Abel curhat kepada kami. Kakak mau menikahi dirinya hanya untuk menidurin dirinya saja.." ucap Mai dengan pelan, seperti berbisik.
"Gila..!" seru Damar dengan frustasi, dan tangannya memijat-mijat tengkuknya.
"Sabar bro ." kata Sony, yang berdiri dibelakangnya.
"Kenapa dia berkata seperti itu..?" tanya Jonathan, yang juga kaget mendengar ucapan Mai.
"Kak Damar mencintai Abel !? tanya Rozi dengan ekspresi wajah terkejut.
"Serius..! kak Damar cinta Abel..!" tanya Mai.
"Kenapa kalian kaget? apa kalian kira aku menikahi dirinya tanpa cinta..?" tanya Damar balik kepada keduanya.
"Abel yang berpikir begitu kak, itu yang diceritakannya tadi ." kata Rozi.
"Dam, apa kau tidak pernah mengungkapkan bahwa kau mencintainya ?" tanya Jonathan.
"Untuk apa diucapkan, seharusnya dia sudah tahu. Dari tindakan dan perlakuan ku terhadap dirinya. Sudah membuktikan aku mencintainya.." kata Damar.
"Yang dia ingat kau itu pernah menolaknya, hak itu yang terus ada dalam pikirannya." kata Jonathan.
"Katakan, bahwa kau itu mencintainya sejak lama Damar. Mungkin itu akan meluluhkan kemarahannya." sambung Jonathan lagi.
Damar berjalan mondar-mandir, dan tangannya tergepal.
"Abel...Abel, kenapa kau tidak melihat bahwa aku mencintaimu.." ucap Damar.
"Dam, Abel itu tidak pernah pacaran. Bagaimana dia tahu perlakuan mu itu menandakan cinta.." kata Jonathan.
"Bang Jo kami balik dulu ya, sudah hampir malam.." kata Mai.
"Iya, terimakasih ya.." kata Jonathan.
__ADS_1
"Terimakasih untuk apa bang, usaha kami membujuk Abel belum sukses.." kata Rozi.
"Yang pasti kalian sudah berusaha, dan tahu ganjalan didalam hati Abel ." kata Damar.
"Biar Sony ngantarkan kalian.." kata Damar.
"Tidak usah kak, hari masih terang. Lagi pula kami bawa sepeda motor.." tolak Mai dan juga Rozi.
"Besok kami akan datang lagi, moga Abel sudah tidak ngambek lagi.." ucap Mai, dan kemudian beranjak dari hadapan Damar dan Jonathan.
"Damar, ungkapkan perasaan mu. Dan beritahukan kepada Abel, kenapa kau menolak dirinya dahulu.." kata Jonathan.
"Bener Dam.." ujar Sony.
"Oke.." jawab Damar dan menjatuhkan tubuhnya kekursi yang didudukinya tadi.
*****
Lampu dihalaman samping sudah terang menderang, Dan jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Abel hanya keluar kekamar mandi yang sering digunakan pak Umar untuk mandi.
"Wangi apa ini.." tiba-tiba penciuman Abel mencium aroma yang mengunggah seleranya.
Abel mengintip sedikit, dan dilihatnya ada gerobak tukang sate yang sedang mangkal didepan rumah Damar. Dan dilihatnya abangnya Jonathan sedang menikmati sepiring sate, begitu juga dengan Damar dan Sony.
"Sut..sut...." Abel memanggil Susi yang juga sedang menikmati sepiring sate didepan tendanya, begitu juga Bu Patmi dan pak Umar.
"Sial..! Susi, kau penghianat.." ngedumel Abel, karena Susi tidak mendengar panggilannya.
"Awas kau Susi, di beri sate langsung melupakan ku." sambung Abel, begitu melihat betapa nikmatnya Susi memakan satenya.
"Baby ingin sate juga ya, lihat itu papa mu. Dia melupakan kita..." Abel menelan liurnya, melihat Damar menikmati satenya dengan santainya.
Sebenarnya Damar mengetahui bahwa Abel mengintip dari dalam tendanya, tapi dia pura-pura tidak tahu. Dia mengharapkan Abel keluar.
"Dam, sasaran sudah terpancing.." bisik Jonathan, dan melirik kearah tenda Abel.
"Iya, seperti aroma sate membuat dirinya keluar.." Damar tersenyum melihat Abel yang memanggil Susi, tetapi Susi asyik dengan satenya.
Perut Abel berbunyi, menandakan perutnya minta diisi lagi.
"Hah.. perut, elu tidak bisa diajak kerja sama. Besok kita makan sate ya.." ucap Abel, sembari mengelus-elus perutnya.
"Kenapa makin ingin itu sate.." guman Abel.
"Bodo....!" tiba-tiba Abelia membuka tendanya dan berjalan kearah Damar dan kemudian mengambil sate yang dipegangnya dan langsung kembali kedalam tendanya.
"Sayang..! itu punya kakak..!" seru Damar, karena satenya dibawa kabur Abel tanpa ada basa-basi.
Abel tidak menjawab, dan terus kembali kedalam tendanya.
"He..he...!" Jonathan dan Sony tertawa melihat kelakuan Abel.
"Lihat sate ku dibawanya.." ujar Damar.
"Dia hanya perduli dengan sate yang ada ditangan mu, kau dicuekin..." ledek Jonathan.
"Buset kau.." Damar melempar tusuk sate yang dipegangnya.
__ADS_1
Bersambung