Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 44 Masih marah


__ADS_3

Marah tidak boleh berlarut-larut, karena setan akan tertawa gembira. Karena perbuatannya telah berhasil membuat huru-hara😜..


****


Damar datang bersama Bu Patmi dan diikuti dari belakang oleh Sony.


"Sayang..!" seru Damar, dan wajahnya Damar basah karena keringat.


"Jangan sebut-sebut sayang, kita tidak saling kenal..!" seru Abelia dengan juteknya.


"Neng, kok tidak kenal ? itu pak boss neng. Apa neng Abel hilang ingatan, tapi kapan kejedut kepalanya ya ?" tanya Susi yang berdiri didepan Abel dengan posisi melindungi.


"Diam Susi, itu dialog sering ku baca di novel-novel.." bisik Abel kepada Susi, tetapi dapat didengar oleh orang-orang yang berada didekatnya.


Damar dan Sony tersenyum mendengar percakapan keduanya.


"Bro, istrimu cute sekali kalau marah ya..." bisik Sony sambil menyikut lengan Damar.


"Diam, semua ini karena mulut ember mu ." ucap Damar.


"Abel, ayo kita masuk. Jangan disini, ini sudah mulai panas. Nanti pusing kepalanya sayang ." pujuk Damar.


"Susi, apa kau mendengar orang berbicara tadi ?" tanya Abelia, yang pura-pura tidak mendengar perkataan Damar.


"Pak boss yang berbicara neng, apa neng tuli juga. Tadi hilang ingatan, sekarang tuli. Lah neng kenapa beruntun Kemalangannya neng..?" ucap Susi.


"Saya tidak tuli Susi, tapi pendengaran saya terbatas. Dia menyaring yang ingin didengar nya.." balas Abel.


"Neng, selesai sudah tendanya.." beritahu pak Umar.


Mata semua tertuju kearah dua tenda yang sudah berdiri dengan kokoh dihalaman samping rumahnya Damar.


"Pak Umar, siapa yang memerintahkan pasang tenda disini..?" tanya Damar.


"Neng Abel Den.." jawab pak Umar dengan perasaan khawatir takut kena marah Damar.


"Abel sayang, untuk apa tendanya ?"


"Untuk dibakar..!" ketus Abel menjawabnya.


"Loh..kok dibakar neng, kita tidur dimana malam nanti ?" tanya Susi khawatir, membayangkan akan tidur dimalam terbuka.


"Kalau ditemani cowok tampan, mau sih. Walaupun tidak pakai tenda." dalam benaknya Susi.


"Pertanyaan tidak bermutu, tanya tenda untuk apa.." gerutu Abel.


"Bu Patmi, ambilkan kasur dan selimut dan bantal juga. Saya akan tinggal disini.." ucap Abel kepada Bu Patmi, sudut matanya melirik Damar yang berdiri menatap dirinya.


"Neng, dingin neng kalau malam. Nanti neng masuk angin.." tutur Bu Patmi.


"Biarin..!" ujar Abelia.


"Kasihan baby neng, nanti dia kedinginan..." ucap Bu Patmi.


"Baby masih dalam perut Bu, lagian baby lagi kesel dengan papanya.." kata Abel.


"Abel, dengarkan cerita kakak dulu.." ucap Damar dengan suara yang lembut untuk membujuk Abelia kembali agar mengurungkan niatnya untuk tinggal didalam tenda.

__ADS_1


"Cukup berbicara, Abel benci yang namanya Damar, Jonathan dan juga Sony. Dan itu nama kalian kan..!"jari telunjuk Abel terarah kepada Damar dan Sony.


"Yah.. kok Abang kena juga Abel, ini kan kerja suami Abel dan bang Jo Abel ." kata Sony.


"Bang Sony tahu kan mereka merencanakan menjebak Abel ?" semprot Abel.


"Iya sih.." jawab Sony dan menganggukkan kepalanya.


"Itu tandanya, Abang ikut konspirasi bersama dengan dua curut ini.."


"Kok kak Damar curut Abel, jadinya Abel hamil anak curut ?" goda Damar.


"Jangan bergurau..!" seru Abel dengan mendelikkan matanya, tapi bukan membuat Damar takut. Malah membuat Damar gemes melihatnya.


"Untung, kemarahannya hanya kabur sini.." batin Damar, dia takut tadi Abel meninggalkan dirinya.


"Pak Umar, buka tendanya.." perintah Damar kepada pak Umar.


"Tapi Den.." pak Umar melihat kearah Abel.


"Jangan pak Umar, kalau pak Umar buka kembali. Abel akan tidur dilapangan ini, di alam terbuka.." ancam Abel.


Pak Umar bingung, mau ikut perintah siapa. Pak Umar hanya mengaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Karena pusing diantara pasangan suami istri yang sedang bertengkar.


"Buka pak..!" ulang Damar lagi.


"Jangan pak..!" teriak Abel, saking kesalnya dengan Damar. Abelia melemparkan bajunya yang disampirkan nya dibahunya kepada Damar, sehingga baju dan pakaian dalam yang dibawanya menempel dikepala Damar.


"ha....ha....!" Sony tertawa terbahak-bahak, melihat nasib apes yang diderita Damar.


"Kembalikan.." ujar Abel, dan ingin mengambil bajunya.


"Oh tidak..! tadi sudah dilemparkan kepada kakak. Jangan di minta kembali..." Damar memegang baju Abel dan menyembunyikan kebelakang punggungnya.


"Sebel..!" seru Abelia.


"Ini letakkan dimana neng..?" tanya Bu Patmi yang membawa kasur, bantal dan juga selimut.


"Masuk kedalam tenda Bu ." setelah memasukkan kasurnya, Abel masuk kedalam tenda dan duduk didalamnya.


"Saya bagaimana neng Abel ?" tanya Susi.


"Ambil kasur mu sendiri.." ujar Abel, dan merebahkan dirinya dikasurnya dan menutup pintu tendanya.


"Abel sayang, ayo keluar lah. Dengar kan cerita kakak dulu..." kata Damar seraya jongkok didekat pintu tenda.


'Bro, mungkin bini mu ngidam tidur ditenda.." kata Sony.


"Apa ada ngidam aneh begitu..?" tanya Damar.


"Bu Patmi, suruh orang-orang yang berada didepan tenda saya pergi menjauh. Saya nggak mau dengar orang bergosip didepan tenda saya, mau tidur..!" seru Abelia dari dalam tenda.


'Pak boss dan teman pak boss, silahkan menyingkirkan dari depan tenda majikan saya.." ujar Susi dengan berdiri gagah didepan tenda Abel.


"Susi...! jangan ngelunjak kamu ya, yang ngaji kamu itu saya.." ucap Damar dengan melotot kepada Susi.


"Maaf pak boss.." ucap Susi, setelah mendapatkan pelototan dari Damar, dan diingatkan siapa yang mengaji dirinya.

__ADS_1


"Jangan takut Susi, saya juga bisa mengaji kamu.." terdengar suara Abelia dari dalam tenda.


"Sayang cukup ngambeknya ya.." ucap Damar.


"Susi, bilang kepada orang yang bicara itu. Nama ku bukan sayang, nama ku Abelia shakira abelio..!" seru Abel.


"Nggak perlu dibilangin, pak boss sudah denger neng. Ya suara neng Abel kuat begitu ." ucap Susi.


"Damar, sudah kau hubungi Jonathan. Biar dia yang membujuknya, mungkin dengan abangnya dia mau mendengarkan." kata Sony.


"Huh.. kenapa bisa ku lupakan kunyuk itu." Damar menekan nomor Jonathan.


"Halo Jo, kau datang kerumah. Segera..!" ucap Damar begitu sambungan di jawab Jonathan.


"Ada apa ? aku lagi sibuk." jawab Jonathan dari seberang telepon.


"Cepat kau datang, Abel marah. Dia tahu tentang kebohongan kita, tentang kau yang pura-pura melarikan calon istriku ." kata Damar.


"WHAT...!? teriak Jonathan dari sambungan telepon.


"Orang bodo mana yang membocorkannya..?" tanya Jonathan.


"Datang kau kesini segera..!" kemudian Damar menutup sambungan teleponnya.


Damar dan Sony duduk diam, menunggu Abel keluar dari dalam tendanya, sedangkan Susi berdiri tegak didepan tenda Abelia.


"Susi..!" panggil Abelia.


"Ya Neng..?" jawab Susi.


"Saya lapar dan haus, bilang ke Bu Patmi. Tolong masakan nasi goreng super pedas.." perintah Abelia.


"Abel, jangan makan yang pedas ya nanti sakit perut ." ingatkan Damar begitu mendengar Abelia ingin makan nasi goreng super pedas.


"Oh iya hampir lupa, kalau makan nasi goreng pedas. Dan perut ku sakit, pasti nanti dia nolongin aku. Tidak..! aku tidak boleh sakit.." ucap Abelia dengan suara yang pelan.


"Susi, bilang batal yang pedas ya.."


"Baik neng ." dengan cepat Susi pergi ke dapur.


"Abel, kakak masuk ya.."


"Abel nggak mau lihat muka kakak, Abel benci.."


"Ayolah sayang, beri kakak kesempatan untuk menerangkan ini semua. Ini semua tidak seperti yang Abel kira." kata Damar.


Abelia tidak merespon semua perkataan Damar, Abelia bernyanyi-nyanyi di dalam tenda. Agar tidak mendengarkan apa yang dikatakan Damar.


"Damar, biar saja dulu. Biar hatinya tenang, mungkin itu juga bawaan bayi." kata Sony.


"Sampai kapan dia ngambek terus, sudah tiga jam dia didalam tenda." kata Damar.


"Bagus dia berkurung didalam tenda, tandanya dia tidak terlalu marah. Bagaimana jika dia kabur dan tidak ada yang tahu kemana dia pergi, apa tidak makin sulit." kata Sony.


"Betul juga, mungkin nanti dia akan memaafkan kesalahan aku ." kata Damar, dan mendudukkan dirinya di kursi samping Sony.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2