
Bantu like dan tekan 🌟 5 ya kakak reader yang belum tekan 🥰🥰.
****
Usia kehamilan Abelia sudah memasuki usia lima bulan, dan dia tidak mengalami morning sick yang parah. Tetapi di usia kehamilan Lima bulan ini, Abelia selalu mual dan muntah setiap pagi. Apalagi saat Damar tidak ada didekatnya, Abelia selalu mual. Sehingga dia tidak dapat jauh-jauh dari Damar.
Pagi ini pasangan suami istri ini masih berbaring di ranjang, karena Abelia Belum mau melepaskan dirinya dalam pelukan Damar.
"Kak, kenapa sekarang Abel masih ingin muntah ya. Biasanya di awal kehamilan saja ." kata Abel.
"Abel lupa apa kata dokter, ada juga selama kehamilan bisa mual dan muntah.." kata Damar.
"Sungguh kasihan jadi seorang wanita, sudah bawa bola kemana-mana. Muntah dan pusing lagi. Sudah begitu ada juga istri lagi hamil, suami punya teman tapi mesra. Awas kalau kak Damar begitu ya, Abel potong itu kakak biar tidak bisa produksi lagi.." ancam Abelia.
"Kejam sekali istri imut kakak ini, kalau di potong ini kakak. Bakalan mati suri kakak Abel, hidup enggan mati tidak bisa.." ucap Damar, dan tangannya merengkuh badan Abel agar makin melekat kebadannya.
"Makanya jangan genit-genit dengan pekerja wanita di pabrik..." ucap Abelia sambil mengelus dada Damar yang polos, karena kebiasaan Damar yang baru diketahui Abel. Jika tidur hanya mengunakan boxer.
"Mana ada kakak genit." ucap Damar.
"Jangan mancing kakak sayang, apa pertempuran kita tadi malam Belum puas..?" tanya Damar, saat dia merasa sudah ingin terpancing dengan gerakan tangan Abelia didadanya.
"Hemh..." tangan Abelia terus membelai dada dan turun ke perut Damar yang keras.
"Abel..!" suara Damar lirih dan serak, karena menahan diri agar tidak menerkam Abel di pagi ini.
"Apa kak..?" Abel melepaskan pelukan Damar, dan tiba-tiba Abel naik dan duduk diatas perut Damar.
Abel ngangkang diperut Damar dan tangannya bergerak membelai perut Damar dengan lembut.
Ketika Abel ingin memberikan ciuman di dada Damar, tidak bisa dilakukannya. Karena perutnya yang membuncit tidak dapat membuat dirinya membungkuk.
"Abel sayang, jangan siksa kakak.." mata Damar sayu menatap Abelia.
Abel hanya tertawa kecil melihat Damar, dia tahu Damar tidak mungkin menerkam dirinya. Karena tadi malam mereka sudah melakukan olahraga malam, walaupun hanya dua babak. Karena Damar takut akan menganggu kandungan Abel.
Abel memundurkan duduknya, sehingga bokongnya duduk di area sensitif Damar yang sudah mengeras dan ingin terbang keluar dari sarangnya. Merasakan senjata pamungkas Damar sudah siap tempur, Abelia sedikit mengerakkan bokong nya di daerah rawan Damar.
"Abel, jangan nakal. Kakak tidak bisa menahannya sebentar lagi ." ancam Damar.
"Oh ya..! tapi nggak takut.." ujar Abel sambil tertawa lebar, karena telah berhasil mengerjain Damar. Sehingga Damar menjadi on fire, apa lagi melihat Damar bergerak gelisah dibawah Abelia. Membuat Abelia semakin senang menggonyang-goyangkan bokongnya.
"Jangan salahkan kakak ya, jika nanti kakak minta olahraga pagi lagi.." kembali Damar mengeluarkan ancamanya.
Abel tertawa dan bangkit dari atas perut Damar, setelah dia merasa sudah puas menggoda Damar. Dengan tertawa senang Abelia kembali merebahkan badannya disamping Damar yang tergolek lesu.
Setelah merasa tenaganya pulih, Damar memeluk Abelia yang masih tertawa senang.
"Nakal ini, senang ya membuat kakak on fire .." Damar mengungkung Abel dibawah tubuhnya, sedangkan Abelia tertawa senang melihat Damar yang menahan dirinya untuk tidak menerkam dirinya.
"Itu pembalasan Abel, Karena sudah berani menipu dan mempermainkan dirinya Abelia.." ucap Abelia.
"Kakak menipu untuk memiliki gadis keras kepala ini, oh no..! bukan gadis lagi. Tapi wanita dewasa.." kata Damar.
Damar melekat bibirnya kebibir Abelia, pagutan liar mereka mulai. Yang awalnya tenang tetapi lama kelamaan menjadi liar dan saling mengecap.
Tanpa disadari Abelia, baju tidurnya sudah tidak melekat di badannya lagi. Baju itu sudah tidak tahu dimana dilemparkan Damar, kini tubuh mereka sudah polos dan tidak ada selembar kain yang melekat di badan mereka berdua.
__ADS_1
Ketika Damar ingin menyatukan tubuh polosnya dengan Abelia, tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk dari luar. Dan suara Bu Patmi terdengar memanggil dirinya dan Abelia.
Tok...tok....tok..
"Den...Den. Damar, neng Abel..!" suara Bu Patmi dari luar kamar.
"Kak..! Bu Patmi.." Abel mendorong Damar dari atas tubuhnya.
"Biar saja, sudah nanggung ini.." ucap Damar yang ingin memasukkan senjata pamungkasnya kedalam sarang.
Tok...tok..tok..
"Den...Den Damar..!" kembali terdengar suara ketukan dan panggilan dari Bu Patmi.
"Kak, mungkin ada yang penting. Temui dulu Bu Patmi.." kata Abelia, dan mendorong Damar yang masih bertengger diatas tubuhnya, siap-siap ingin bertempur.
"Shit..! ganggu saja, sabar ya Bro. Nanti kita lanjutkan." Damar bangkit dan mengambil bajunya yang ada didekatnya, dan kemudian berjalan menuju pintu kamarnya.
Abel tertawa geli mendengar perkataan Damar kepada senjata pamungkasnya.
"Kak, baju Abel mana ?" tanya Abel, begitu sadar dia masih dalam keadaan polos. Hanya selimut tebal menutupi badannya.
Damar menghentikan langkahnya, dan melihat kearah Abelia yang masih dalam keadaan polos diranjang.
" Tidak usah pakai dulu, nanti kita lanjutkan.." Damar memberikan kerlingan mata nya.
"Hih..mau lanjutin lagi, nggak tahu perut ini sudah kukuruyuk minta jatah."
Damar membuka pintu dan terlihat wajah Bu Patmi.
"Ada apa Bu Patmi.?" tanya Damar.
"Ada apa Bu Patmi, kata kan. Saya sedang sibuk ini." ucap Damar dengan cepat, karena dia ingin melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi.
"Ada..ada... Nyonya besar di bawah Den..." beritahu Bu Patmi.
"Apa..!" kaget Damar mendengar neneknya berada dirumahnya.
"Nenek..?" tanya Damar, untuk menyakinkan dirinya lagi.
"Iya, Nyonya besar. Nenek Den Damar.." jawab Bu Patmi.
"Kenapa nenekk bisa lepas..?" ucap Damar dengan bingung.
"Sudah Bu Patmi tolong urus nenek dulu, saya mandi dulu." ucap Damar yang kemudian menutup pintu kamarnya.
"Kak, apa seperti yang Abel dengar tadi. Nenek datang kesini ?" tanya Abelia, karena tadi dia sedikit mendengar saat Damar berbicara dengan Bu Patmi.
"Iya, kenapa Nenek bisa lepas dari pengawasan mama dan papa..?" Damar mengambil handphonenya, dan menghubungi papanya.
"Kemana sih papa, kenapa telponnya di angkat..?" Damar terus berusaha menghubungi papanya.
"Coba handphone mama kak.." ucap Abelia.
Damar mencoba menghubungi mamanya, dan handphone namanya diangkat.
"Ma, kenapa nenek sampai disini..?" tanya Damar langsung, begitu terdengar suara mamanya.
__ADS_1
"Apa..!" terdengar suara mamanya yang kaget dari seberang telepon, karena mendengar ucapan Damar.
"Mama tidak tahu..?"
"Tidak, karena nenek bilang mau ketempat temannya ." kata Mamanya dari seberang telepon.
"Sama siapa nenek datang..?" tanya mamanya.
"Damar belum tahu ma, Damar belum ketemu.." jawab Damar.
"Biar mama dan papanya nanti menjemput nenek, tapi tidak bisa sekarang. Karena papa tidak bisa meninggalkan pekerjaan.." kata Mama Damar.
"Cepat jemput ma, Damar tidak mau nenek nanti ganggu Abel. Nenek belum tahu kan Abel hamil ?" tanya Damar
"Belum, kamu jaga Abel dan cucu mama ya. Jauhkan Abel dari nenek.." ingatkan mama Damar sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.
"Mama juga tidak tahu nenek kesini ya kak ?" tanya Abel.
"Iya, nenek menipu mama dan papa.."
"Kakak mandi dulu, sayang disini saja. Jangan temui nenek.." Damar masuk kedalam kamar mandi.
***
Selesai mandi Damar bergegas keluar dari dalam kamarnya, dan dia mewanti-wanti agar Abelia tetap didalam kamar dan jangan keluar kamar.
Damar berjalan menuju ruang keluarga, dan dilihatnya Neneknya duduk disana bersama dengan pembantunya Yuni dan seorang gadis muda.
"Nenek.." Damar mendekati neneknya dan mencium tangan Neneknya.
"Kenapa kau lama sekali Damar, kau tidak suka nenek datang ke rumahmu..?"
"Bukan begitu nek, Damar baru bangun tidur. Tadi malam Damar menyelesaikan kerjaan sampai larut malam.." kata Damar.
"Mas Damar.." seorang gadis yang datang bersama dengan nenek, berjalan mendekati Damar dan langsung memeluk dan ingin mengecup pipi Damar tanpa malu-malu.
Damar langsung menghindari nya, sehingga ciuman tersebut tidak terjadi.
"Gila ini cewek.." dalam benaknya Damar.
"Kau lupa dengan Ningrum Damar, anak Tante Sarah.." kata Nenek.
"Maaf, saya tidak mengingatnya.." kata Damar.
"Masa mas Damar lupa dengan Ningrum.." suara Ningrum manja.
"Mana istri mu, jam segini belum bangun juga. Seperti Nona besar saja.." Sindir nenek Damar.
"Halo nek.." terdengar suara Abelia dari belakang Damar.
"Sayang.." Damar bangkit dari duduknya dan menghampiri Abelia.
"Kenapa kesini, kan sudah kakak bilang dalam kamar saja tadi.." kata Damar
"Nggak sopan kak, jika Abel tidak menemui nenek.." ucap Abelia.
Mata nenek melotot kearah Abelia, karena melihat tubuh Abelia yang buncit.
__ADS_1
"Kenapa dengan perutmu...?" tanya nenek kepada Abelia dan mata nenek menatap perut Abelia dengan tatapan mata yang tajam.
Bersambung