
**Hai kakak-kakak, bagi like.. like ya. Biar semangat ngehalu nih.
Cerita recehan hanya hasil imajinasi, jadi jika ada yang tidak suka jangan bully author ya.😛**
****
Tawa canda memenuhi meja yang mereka tempati, sesekali ada wajah yang melihat kearah mereka. Karena tertawaan mereka sering hilang kendali, apa lagi saat Rozi menceritakan hasil keisengan nya saat masih dibangku SMA. Membuat mereka tidak bisa menahan tertawaan mereka masing-masing.
"He..guys, sepertinya suara kita seperti menganggu pengunjung yang lain. Kita pindah pangkalan yok ." kata Abelia setelah dari tadi merasa selalu ada pengunjung cafe yang memperhatikan mereka.
"Kita tidak berisik, kenapa mereka merasa terganggu ." ujar Mai.
"Suara elu Zi, pelan kan dikit." ujar Andy.
"Suara gue sudah begini dari sang pencipta, pada saat nongol. Suara tangisan gue sudah begini, tidak bisa diperkecil lagi...!" ujar Rozi dengan suara yang keras.
"Ih..suara disuruh pelan, malah ngegas ni anak ." kata Abel, karena suara Rozi yang disengajakannya.
"Waktu hamil, emak elu ngidam toak kali ya ." ejek Mai.
"Kalau elu, emak elu ngidam buntut ayam. Karena mulut elu nggak bisa diam, kembang-kempis mirip buntut ayam mau ngeluarin kotoran ." balas Rozi, sehingga saling balas terjadi antara Mai dan Rozi. Andy dan Abelia hanya menjadi pengamat.
"Nah mulai dua curut ini ribut, seperti ngerebutin lahan ." kata Abel.
"Apa mereka setiap ketemu, selalu begini ?" tanya Andy kepada Abelia.
Abelia menjawab pertanyaan Andy, hanya dengan mengedikkan bahunya.
Abelia bangkit dan meninggalkan Rozi dan Mai yang masih berdebat, langkah Abelia di ikuti oleh Andy.
Melihat Abel dan Andy keluar, Mai dan Rozi berhenti berdebat yang tidak jelas.
"He.. kenapa kami ditinggalkan..!" panggil Mai dan bangkit dari duduknya mengikuti Abelia dan Andy yang sudah berada diluar Cafe.
"He tunggu gue..!" Rozi berlari kecil mengikuti ketiga temannya.
"Mau kemana sih, buru-buru. Makanan gue belum habis tadi." Rozi membawa roti yang dimakannya tadi dengan tisu.
"Nggak lihat tu, pengunjung cafe menatap kita. Karena kalian ribut terus, sehingga mereka merasa kita sangat berisik." kata Abelia.
" Kita bayar juga, suka-suka mulut kita. Kenapa mereka harus repot ." ujar Rozi, dan mulutnya terus mengunyah roti yang dipegangnya.
"Terus kita mau kemana?" tanya Mai.
"Ke warung gue, ogah..! entar mak gue ikut nimbrung." kata Rozi.
"Kerumah gue aja mau, kita buat rujak ?" kata Abelia.
"Hih ada abang Jo, nanti ngomel tu cowok ganteng ." kata Rozi.
"Abang Jo pergi, bebas kita hari ini." kata Abelia.
"Asik..! ayo kita berpesta hari ini ." kata Mai dengan bersemangat.
__ADS_1
"Kita beli, bahan buat rujak dulu." kata Mai.
"Ayo kita ke pasar." ujar Abelia.
Mereka berjalan kepasar, yang tidak begitu jauh dari tempat mereka berada.
Mereka berjalan sambil bercerita dan tertawa dengan gembira, sehingga mereka tidak menyadari ada orang yang berada dalam mobil yang sedari tadi mengamati mereka berempat.
"Sudah lengkap ini, ayo kita pulang."
****
Hari sudah larut malam, ketiga temannya sudah meninggalkan rumah Abelia sejak sore. Dan sekarang tinggal Abelia sendiri dirumah nya.
Abelia tidak dapat memejamkan matanya, dia masih menunggu kepulangan abangnya.
"Kemana nih bang Jo, belum pulang juga. Sudah jam 11 malam gini, nggak kasihan ada adeknya dirumah sendirian ." ngedumel Abelia, dan tangannya mengutak-atik handphone untuk menghubungi handphone abangnya. Tetapi handphone abangnya tidak dapat dihubungi.
"Hih abang ini, kalau sudah bersama teman-temannya. Lupa ada adeknya menunggu dirumah ." Abelia melemparkan handphone ke sebelahnya.
Kemudian Abelia mengambil handphonenya kembali dan mencoba menghubungi handphone abangnya, tetapi seperti tadi handphone abangnya tetap tidak dapat di dihubungi. Atau operator mengatakan diluar jangkauan.
"Hih, suka-suka abang lah. Sekarang Abang Mau pulang tidak terserah...!" Abelia menggerutu, karena tidak bisa menghubungi abangnya kembali.
"Pasti abang Jo dengan orang nggak penting itu, selama dia berada disini. Bang Jo makin sering keluyuran, tidak ingat waktu ." Abelia berbicara sendiri sembari berbaring.
Kecapekan menunggu kepulangan abangnya, akhirnya Abelia tertidur dengan sendirinya.
****
"Apa Abang Jo sudah balik ?" Abelia bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar dan dilihatnya pintu kamar abangnya tertutup rapat, menandakan yang punya kamar sudah berada didalamnya.
"Syukurlah Abang sudah pulang." Abelia kembali masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan kemudian melakukan rutinitas seperti biasa.
setelah selesai mandi, Abelia hanya menyeduh teh dan makan roti. Sebagai sarapan paginya.
"Selesai, perut kenyang bekerja lancar. Semangat.." ujar Abelia dengan bersemangat.
pintu kamar abangnya terbuka, dan muncul seraut wajah yang masih dalam keadaan setengah sadar.
"Adek, kenapa pagi-pagi sudah ribut sih. Abang baru tidur jam 3 ." ujar Jo dan membuka kulkas dan mengambil botol air mineral dan meneguknya hampir habis.
"Yang nyuruh abang tidur jam 3 siapa, tahu nggak. Abel itu nunggu Abang pulang, ditelpon tidak diangkat." gerutu Abelia.
"Maaf Dek, abang ada urusan. Sedangkan handphone Abang lowbat." kata Jonathan.
"Abang itu harus ingat, Abel hanya punya abang. Abel tidak sanggup jika abang kenapa-kenapa."
"Maaf ya, Dek nanti abang mau pergi lagi. Selama dua hari, adek tidak apa-apa sendirian di rumah. Atau adek minta ditemani Mai saja, tapi jangan Rozi ." kata Jonathan.
"Abang mau kemana sih, jangan melakukan yang melanggar hukum ya.. ?"
" Abang ada urusan, tenang. Ini tidak berbahaya ." kata Jonathan untuk menenangkan Abelia yang merasa khawatir.
__ADS_1
"Adek berani tinggal sendirian, ajak teman adek yang wanita jika tidak berani tinggal sendiri."
"Abel berani tinggal sendirian, lagi pula kita sudah kenal dengan tetangga sudah sejak lama ." ujar Abelia.
"Kapan abang pergi ?"
"Nanti pulang dari pasar, biar hari ini abang yang ngantar bunganya ke pasar. Adek jangan naik sepeda ya, udaranya dingin. Habis hujan tadi malam ." kata Jonathan.
"Ya bang, hari ini sepertinya Abel juga males naik sepeda. Badan Abel sakit semua ." ujar Abelia sembari melakukan perenggangan terhadap otot-ototnya yang terasa kaku.
"Kenapa ? apa adek sakit ." terlihat kecemasan diwajah Jonathan, dan dia memegang bahu Abelia untuk melihat secara jelas keadaan Abelia.
"Tidak ada yang sakit bang, cuma tadi malam Abelia ketiduran sambil telungkup." kata Abelia.
"Adek ini, kalau sudah tidur tidak bergerak sih." Jonathan mengusap-usap rambut adeknya dengan penuh kasih sayang.
"Ayo kita kembali ke rutinitas setiap hari ." kata Jonathan.
"Abang mandi dulu, bau nih. Nanti bunga-bunga kita layu cium bau Abang ." ucap Abelia sembari mendorong abang nya untuk masuk kedalam kamar.
"Abel tunggu dikebun ya bang ."
"Ya." sahut Jonathan dari dalam kamarnya.
*****
Sudah dua hari Jonathan pergi, dan Mai dan Rozi yang menemani Abelia dirumahnya.
"Abel, abang Jo kemana sih. Jangan-jangan dia punya pacar diluar pulau ?" tanya Mai.
"Iya Abel, mungkin bang Jo. sudah punya istri tanpa sepengetahuan elu ." kata Rozi.
"Hih kalian ini, jangan su'udzon ya dengan bang Jo. Bang Jo ada bisnis dengan temannya." kata Abelia, untuk menenangkan dirinya sendiri. Sebenarnya ada terbersit rasa khawatir dengan keberadaan abangnya. Satu hari ini Abelia tidak berhasil menghubungi handphone Jonathan, tapi dia tidak menampilkan rasa khawatir nya didepan kedua temannya.
"Abel, ulang tahun lu dua Minggu lagi. Mau di rayakan gede-gedean ?" tanya Mai.
"Ya Abel, rayakan ulang tahun lu gede-gedean. Kalau bisa pakai acara ngundang artis dangdut ." ucap Rozi.
"Emang gue anak orang gedongan, gue cuma tukang bunga ." kata Abelia.
"elu boss Neng, kebun bunga elu berhektar-hektar gitu." ujar Rozi.
"Amin, moga apa yang elu ucapkan menjadi kenyataan. Kebun bunga gue akan bertambah."
Derrttt.... derrt... suara handphone Abelia.
Abelia mengambil handphonenya dan melihat pesan masuk dari Jonathan.
Jo : Dek, abang belum bisa balik. Jika ada yang cari abang, Adek bilang saja tidak tahu. Dan adek jangan keluar rumah jika sendirian ya.
**Bersambung
Maaf jika ada typo dan penulisan ✍️ yang tidak dipahami**.
__ADS_1