
Agar pasangan kita tahu betapa kita mencintai dirinya, perlu diungkapkan dengan kata-kata.
****
Tangan Damar mengelus perut Abelia, dan sesekali bibirnya mendarat disana.
"Awas..! Abel mau kembali ke tenda, Abelia masih marah pada kak Damar dan bang Jo. Teganya kakak dan bang Jo, menipu Abel..!" seru Abelia, matanya menatap Damar dengan tatapan yang kecewa.
"Maaf, hal itu kakak dan Jonathan lakukan. Karena Abel sangat membenci diri kakak, ya kan..?" tanya Damar.
"Jelaslah, siapa tidak benci. Baru pertama nyatakan suka langsung ditolak.." ucap Abel, dan bibirnya monyong. Membuat Damar dengan gemas mencium bibirnya.
"Jangan cium-cium.." ujar Abel dengan jutek, dan jemarinya menutupi bibirnya.
"Jangan tolak ciuman kakak, rugi Lo.. banyak yang naksir dengan bibir ini.." Damar mengusap bibirnya.
"Hih. sebel.." Abel memukuli dada Damar dengan gemasnya.
"Aduh sakit...!" seru Damar dengan melepaskan Kungkungannya terhadap Abel, Damar terlentang dan memegang dadanya. Dan terlihat wajahnya meringis menahan sakit.
"Kak Damar..!?" Abel kaget melihat Damar memegang dadanya.
"Kakak kenapa..?" Abel duduk di pembaringan di sisi Damar, terlihat wajahnya yang khawatir.
"Sakit.." ucap Damar dengan menunjuk kearah dadanya.
"Kakak..! kita ke Dokter ya..!" seru Abel panik.
"Tidak usah sayang, istirahat saja pasti sembuh.." ucap Damar dengan mata yang terpejam.
"Tidak..! kita harus ke dokter, bagaimana jika kakak kena serangan jantung nanti. Abel dan baby tinggal sendiri nanti kak Damar..!" mata Abel sudah merembes dengan butiran air mata yang membasahi pipinya.
Damar tidak menyahut, mata Damar masih terpejam. Membuat Abel tambah khawatir.
"Kak...kak...!" Abel menggoyang- goyangkan badan Damar, tapi Damar tidak merespon. Matanya masih terpejam, membuat Abelia makin bertambah khawatir.
"Kak Damar, jangan tinggalin Abel..hoa.a..a..😭😥!" Abel menangis sedih, sedangkan Damar membuka matanya sedikit untuk melihat ekspresi Abelia saat menangis.
"Maaf sayang, kakak lakuin ini. Karena Abel ngambek terus.." dalam benaknya Damar.
"Kak Damar...!" tangis Abel tersedu-sedu, karena dia mengira Damar pingsan.
"Kak Damar, jangan tinggalkan Abel. Abel nggak mau jadi janda, nanti anak Abel sama siapa manggil papa. Mungkin Rozi mau jadi papanya, tapi nanti anak kita jadi melambai dan lemah seperti Rozi. Apa kakak mau anak kita seperti itu, kalau dia laki-laki. Mungkin Andy mau ya, jadi papa anak Abel ini..?" Abel menghentikan tangisnya, begitu mengucapkan nama Andy.
Damar membuka matanya dan bangkit untuk duduk didepan Abel, membuat Abelia kaget dan langsung memeluk Damar dengan gembira.
"Kakak tidak jadi meninggal kan..!" seru Abel.
__ADS_1
"Siapa Andy..?" tanya Damar dengan datar.
"Andy..?" ucap Abel.
"Ya.. Andy..?"
" Oh...itu teman sekolah Abel dulu, sempat mau Abel jadikan pacar. Tapi tidak jadi, karena keburu nikah dengan kakak sih.." ucap Abel dan mengusap sisa-sisa air matanya.
"Kenapa tadi mau jadikan dia pengganti kakak, sebagai papa baby kita..?" tanya Damar.
"Kok kak Damar tahu, kak Damar tadi pingsan. Jangan-jangan kak Damar..?" Abel menghentikan ucapannya dan menelisik wajah Damar
"Jawab pertanyaan kakak, jangan mengalihkan pembicaraan..?"
"Kak Damar, pura-pura kena serangan jantung ya..!? tanya Abelia .
"Nggak, tadi kakak benar-benar sakit di dada. Karena istri kak Damar ngambeknya lama sekali.."
"Bener kan, kak Damar membohongi Abel..?" Abel memukuli lengan Damar dan mendaratkan cubitan beruntun di lengan dan perut Damar.
"Aduh sayang..! sakit, kalau begini kakak benar-benar kena serangan jantung.." Damar berusaha mengelak dari cubitan dan Pukulan Abelia.
"Biarin..! biar Abel cari suami baru untuk anak Abel, yang beneran mencintai diri Abel ." ucap Abel dan menghentikan kegiatan nya mencubit dan memukuli Damar, Abel membalikkan pandangan matanya dari melihat Damar.
"Sayang, lihat kakak..!" Damar menangkup wajah Abelia untuk menatap wajahnya.
"Please.. sayang.." bisik Damar ditelinga Abel, dan meniup wajah Abel. Sehingga matanya yang terpejam terbuka sedikit.
"Hih.. apa-apaan sih kak Damar, main tiup segala. Emang wajah Abel api ?" ucapnya, karena merasa geli karena hembusan napas Damar di wajahnya.
"Kak Damar mau ngaku, ayo..ada yang mau kakak tunjukan.." Damar beranjak turun dari ranjang dan menarik tangan Abelia untuk mengikuti dirinya.
"Kemana ? Abel ngga mau." Abel menolak untuk ikut dengan Damar.
"Ayo sayang, please..hemh.." mata Damar menatap Abel dengan mesranya, sehingga sekujur tubuh Abelia seakan lemas. Tidak kuat melihat tatapan mata Damar.
"Hih...! mata kak Damar, es saja bisa cair. Apa lagi diri gue, yang benar-benar masih ada cinta ." monolog dalam benaknya Abelia.
Abelia tidak melawan lagi, kemana Damar membawanya. Karena tubuhnya seperti penghianat, yang pasrah kemana Damar membawanya.
Damar membawa Abelia kedalam walk in closet, kemudian Damar memijat tombol yang ada dibalik gantungan baju Damar ditempat yang tersembunyi.
Tiba-tiba tempat tempat baju Damar terbuka.
"Tempat apa ini, kenapa ada ruangan rahasia..?" Abel kaget melihat belakang walk in closet tersebut terbuka dan dibaliknya ada pintu.
"Ini tempat barang-barang berharga.." Damar menuntun Abel untuk masuk kedalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Begitu sampai di dalam betapa terkejutnya Abelia, karena melihat satu dinding tergantung foto dirinya dengan bermacam gaya.
"Ini..!" Abel berjalan mendekati gambar dirinya, dari berbagai macam bingkai dari yang sedang sampai yang besar.
Abel berdiri mematung memandang kearah dinding yang penuh terisi dengan gambar dirinya.
"Kenapa ada disini gambar Abel ini semua, ini semua ada di rumah dalam album..?" tanya Abel pada Damar.
"Ini beda, ini punya kakak.." ucap Damar.
"Apa kak Damar mencuri foto Abel..?"
Damar memeluk Abel dari belakang, dan meletakkan dagunya dipundak Abelia.
"Untuk apa kakak curi, ini koleksi kepunyaan kakak sendiri.." ucap Damar.
"Jangan-jangan bang Jo, yang memberikan kepada kak Damar. Iya kan..?" tanya Abel.
"Hemh.."
"Hia... kenapa gambar Abel baby ada juga, telanjang lagi.." tiba-tiba mata Abelia melihat gambarnya masih baby ada dideretan foto tersebut.
Damar ngekeh, melihat Abelia terkejut. Melihat gambarnya lagi di mandikan bundanya ada juga.
"Lucukan ?" ujar Damar.
"Malu kak, turunkan..!" perintah Abel.
"Untuk apa malu, itunya juga tidak kelihatan. Ditutupi oleh tangan Bunda ." kata Damar.
"Lagi pula, tidak ada yang lihat selain kakak. Kakak juga sudah membelahnya dan mengobrak-abrik.." ucap Damar dengan menampilkan senyum lebar.
"Huh.. omongan mesum..." Abel menepuk tangan Damar yang melingkar di perut buncitnya.
"Omongan kakak benar, kenapa mesum. Ini buktinya, hasil dari belahan kakak, di perut Abel sudah ada bukti nyata.." ucap Damar, dan kemudian mencium pipi Abelia.
"Kakak Damar menguntit Abel ya, gambar ini belum pernah Abel lihat.." Abel menunjuk gambar dirinya sedang naik sepeda untuk berangkat ke sekolah.
"Itu buktinya, kakak benar-benar mencintai istri kak Damar yang suka ngambek ini. Bukan kakak hanya ingin meniduri diri Abel.." ucap Damar.
Abel tersentak mendengar ucapan Damar, yang pernah dikatakannya kepada Rozi dan Mai.
"Kakak benar-benar mencintai Abel, sebelum Abel suka kepada kakak. Cinta kakak kepada istri yang keras kepala ini, sudah bersarang terlebih dahulu. Jangan ragukan cintaku ini sayang.." Damar memutar badan Abel untuk menghadap dirinya, kemudian Damar meraup bibir Abel untuk masuk kedalam bibirnya. Damar berlama-lama dibibir Abel, memainkan lidahnya didalam rongga mulut Abelia.
Setelah Damar merasakan bahwa oksigen yang ada dalam paru-paru mereka sedikit menipis, Damar melerai tautan bibirnya dan menyatukan kening mereka berdua.
"I ❤️ u sayang.." bisik Damar, dengan memandang wajah Abelia lekat-lekat.
__ADS_1
Next