Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 32 Arwah pengendus


__ADS_3

Cinta juga bisa dibuktikan dengan perbuatan, tapi perkataan juga dibutuhkan.


Hari ini, Abelia hanya berguling-guling di ranjangnya. Karena keletihan yang dialaminya dari malam hingga pagi, kerja rodi yang dilakukan Damar membuat Abelia sulit untuk bergerak leluasa.


"Ah..bosen di ranjang terus, itu laki kenapa stamina nya tidak kendor ya. Apa perlu dikasih makan obat tidur, ah.. tobat ngerjainnya. Bisa-bisa gue yang kena batunya." ingat Abelia dengan leging Mai yang di pinjamnya dan di gunting Damar.


"Terpaksa ganti leging Mai, ah....! rugi gue.." Abelia berbicara sendiri diranjang, sedangkan Damar sudah sejak tadi berada di kantor nya yang lokasinya berdekatan dengan Pabrik dan rumahnya ini.


Abelia bangkit dari ranjangnya, dan sedikit mengeryit. Karena tidak nyaman di area sensitifnya.


Dengan perlahan Abelia berjalan, Abelia mengambil tas yang berada diatas nakas dan mengeluarkan isinya.


"Hancur begini, tidak bisa dipakai lagi.." Abelia mengangkat leging sobek tepat didepan matanya.


"Rugi...rugi, untung Mai. Leging usang diganti dengan yang baru.." gerutu Abelia.


"Terpaksa belikan Mai leging baru, gue sudah tercemar. Ah murahan sekali sih gue, kenapa tidak bisa menahan diri. Hanya gue yang mencintainya Sedangkan dia hanya menganggap gue sebagai pengganti." saat berkata, tak terasa air mata Abelia sudah mengalir. Saat mengingat bahwa dia hanya sebagai pengganti pengantin Damar yang kabur.


"Apakah bisa dia mencintai ku, kalau kekasihnya dulu sangat sempurna.."


"Apalagi perkawinan ini, perkawinan dadakan. Biasanya kalau pengantin yang saling cinta, saat ini pasti pergi honeymoon. Sedangkan gue hanya berkurung dikamar ini.."


"Nikmati saja sekarang Abelia, mungkin sebulan atau dua bulan kedepan. Kekasihnya akan kembali , dan terima saja jika dia lebih memilih kekasihnya yang dulu yang dicintainya, daripada dirimu. Karena pastinya yang pertama pasti lebih berkesan dan sulit untuk dilupakan.." Abelia berbicara untuk menyemati dirinya sendiri, akan kemungkinan yang akan dihadapinya kedepannya.


Abelia seharian hanya meratapi nasibnya yang belum jelas menurut pemikiran, apakah pernikahannya berakhir bahagia atau sebaliknya.


***


Pagi keesokan harinya, perasaan perih dan nyeri saat berjalan sudah berkurang. Karena tadi malam Damar memberikan dia istirahat total tanpa melakukan pekerjaan yang menyenangkan menurut Damar, mereka hanya tidur saja. Tanpa disertai dengan tidur plus-plus.


"Kak, nanti Abel mau kekebun ya. Sudah dua hari Abel tidak melihat bunga-bunga ?" setelah dua hari berkurung di kamar, hari ini Abel ingin melihat kebun bunganya. Walaupun ada abangnya yang mengurusi, tetapi Abelia sangat ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri. Karena dia sangat menikmati berdiri diantara rimbunan bunga-bunganya, dan mencium aroma bunga membuat nya menjadi relax.


"Boleh, tapi nanti jam makan siang tolong antar kan makan siang kakak kekantor ya. Itu tugas Abel setiap jam makan siang.." kata Damar.


"Kenapa kak Damar tidak pulang saja seperti biasa sih..!"


"Kakak tidak ada waktu untuk pulang, sekarang lagi sibuk mau launching produk baru ."


"Jarak kantor dan rumah begitu dekat kak, tinggal loncat saja bisa sampai dirumah."


"Kakak bukan kangguru, loncat-loncat. Nanti makanannya kakak tunggu, kakak tidak akan makan jika makanan tidak datang.." selesai berkata, Damar beranjak keluar menuju kantornya. Damar hanya berjalan kaki menuju kantornya, karena letaknya tidak begitu jauh dari rumah yang sekarang didiaminya.


"Bodo kalau tidak mau makan, yang rugi diri sendiri.." omel Abelia.


"Untung hanya suruh nganterin makanan, bagaimana jika dia mau gue juga yang masak. Bisa gawat dunia masak-memasak." ujar Abelia sembari ngekeh, sebenarnya Abelia sebenarnya bisa memasak. Tapi memasak yang tidak membutuhkan rempah-rempah, kalau yang mengandung rempah-rempah. Abelia selalu merasa gagal.


Abelia beranjak ke dapur untuk mencari Bu Patmi, dan dilihatnya Bu Patmi sedang menggomelin Susi yang tidak becus dalam bekerja.


"Kamu ini bekerja bagaimana? lakukan begini saja tidak becus, Kau sebenarnya ingin bekerja atau hanya mau ngegodain laki-laki?" semprot Bu Patmi kepada keponakan nya tersebut.


"Nyambi bi, mana tahu dari menggoda dapat suami tajir.." kata Susi tanpa perduli, jika bibinya akan marah.


Pletak...


Sapu yang lagi dipegang bibinya sudah mendarat di bokong Susi, bibinya geram mendengar jawaban Susi.


"Bi, kenapa bokong Susi dipukul. Nanti tidak menarik lagi nih..!" Susi mengelus-elus bokong yang habis dipukul oleh bibinya.


Abelia kaget dan cukup terkejut melihat kekerasan yang dilakukan Bu Patmi kepada keponakannya tersebut.


"Bu Patmi..!" teriakan Abelia membuat Bu Patmi dan Susi melihat keberadaan Abelia di pintu dapur.


"Maaf Neng telah melihat saya memukul keponakan saya ini, saya geram dan kecewa Neng. Dia tidak pernah mau bertobat, mbak saya sudah tidak sanggup mengurusnya. Makanya dia dikirim kesini, disini juga dia akan membuat ulah lagi. Mau dikirim kemana lagi dia..?" ucap bu Patmi, dengan perasaan kecewa melihat keponakannya.


"Bu Patmi harus sabar ya ." kata Abelia.


"Kamu itu Susi, harus tiru Neng Abel. Dia bekerja dengan jual bunga, tidak seperti kamu yang menghayal dapat suami tajir terus dan bisanya hanya menggoda laki-laki.." ucapan dikeluarkan Bu Patmi dengan ketus kepada Susi, tetapi Susi menghadapi nya dengan santai saja. Sepertinya ucapan Bu Patmi tidak masuk kedalam otaknya.


"Heh.. jengkel aku lihat kamu Susi..! ada apa Neng ke dapur?" tanya Bu Patmi kepada Abelia, untuk melupakan kejengkelannya kepada Susi.


"Oh..hampir lupa Abel, nanti tolong masukkan nasi ke rantang ya Bu. Kak Damar minta diantarkan makan siangnya."


"Iya Neng.."


Kemudian Abelia pergi keluar rumahnya, dan mengambil sepeda kesayangannya menuju ke rumahnya Mai. Abelia membawa paper bag berisi leging Mai yang sudah tidak berbentuk.


Abelia mengayuh sepedanya menuju toko sembako Mai, karena dia tahu pagi begini Mai sekarang sedang sibuk di toko nya.


Tiba di toko Mai, Abelia menghentikan sepedanya dan mengambil paper bag yang diletakkan nya di keranjang sepedanya.


"Tumben elu datang pagi-pagi ke sini Abel, biasanya elu bercengkrama dulu dengan bungs-bungs kesayangan elu ?" tanya Mai.


"Nih gue mau balikin leging, gue tidak membutuhkannya lagi." Abelia meletakkan paper bag yang dibawanya keatas meja didepan Mai berada.

__ADS_1


"Elu gila ya Neng, bisa-bisa elu bilang kak Damar punya kelainan seksual. Kemarin gue dan Rozi ketemu kak Damar, gue khawatir tu kak Damar jatuh cinta dengan Rozi. Apalagi Rozi, walaupun dia lambai. Tapi dia tak berminat dengan pria."


"Elu tanya kak Damar ?"


"Jelaslah gue tanya, dari pada otak gue kena kanker mikirin apa yang elu ceritakan. Dan ternyata elu membohongi gue ."


"Elu nanya malam pertama terus, sedangkan gue masih tersegel"


"Dan sekarang bagaimana, apa masih tersegel..?" mata Mai membulat menunggu jawaban keluar dari mulut Abelia.


"Hih..elu mau tahu saja, gue balik dulu. Anak-anak gue sudah menunggu belaian tangan gue. Kalau elu mau tahu tentang malam pertama gue, lihat saja leging elu tu.." kemudian Abelia dengan setengah berlari meninggalkan Mai yang ingin membuka paper bag yang ditinggalkan Abelia di mejanya.


"Abelia...!" teriak Mai dengan suara yang nyaring, kalau ada lomba teriak. Kemungkinan besar Mai akan memenangkan perlombaan.


Sedangkan yang membuat Mai berteriak sudah kabur menyelamatkan dirinya.


"Dasar lu..! Abelia, kau merusakkan leging gue..!" geram Mai melihat legingnya terkoyang sehingga tidak bisa dipakai lagi.


"Siapa yang mengoyakkan sampai begini, apa kak Damar. Wow.. sungguh ganas kak Damar ..!?"


"Elu harus ganti Abel, perginya ini leging bagus. Kenapa pulangnya ini leging tak berbentuk, itu anak main kabur saja. Dasar tidak bertanggung jawab.." Mai terus ngedumel melihat legingnya yang terbentuk lagi.


"Awas lu, kalau tidak ganti yang baru. Akan gue datangi laki elu.."


"Percuma gue ngomel tujuh hari tujuh malam, tu bocah sudah kabur.."


****


"Bang Jo, Abel adek abang yang cantik pulang ni..!" teriaknya, begitu tiba didepan rumahnya.


Tetapi tidak ada sahutan dari dalam rumahnya, Abelia mengintip dari jendela dan kondisi dalam rumahnya dalam keadaan sepi.


"Nggak bisa masuk lagi, kenapa lupa bawa kunci tadi.." Abelia menuju belakang rumahnya, dimana kebun bunganya berada.


"Mang, bang Jo kemana ?"


"Itu Neng, tadi nganterin bunga ke kota. Sudah sejak pagi tadi perginya, tadi nganter bunga kepasar. Baru kemudian nganterin bunga kekota.."


"Bagaimana Mang nggak kebolerkan, saya tidak disini turut membantu ?"


"Tidak Neng, masih bisa ditangani. Tapi lebih bagus kalau ada dua mobil Neng.." kata Mang Sukri.


"Rencana juga mau beli satu lagi mang, nanti biar dihitung dulu. Moga bisa nambah satu mobil lagi."


"Amin, moga bisa nambah satu mobil.." ucap Mang Sukri.


"Iya Neng, hati-hati."


Abelia mengayuh sepedanya untuk kembali kerumahnya, untuk mengantar makan siang Damar.


"Gara-gara mau nganterin makan siang kak Damar terpaksa balik cepat, padahal masih kangen dengan bunga-bunga."


Setiba dirumahnya, Abelia bergegas ke dapur. Dan dilihatnya Bu Patmi masih berkutat dengan masakannya.


"Ibu masak sendiri, kemana Susi ?" tanya Abelia, karena tidak melihat keberadaannya.


"Ibu suruh kepasar Neng, dirumah juga tidak bisa membantu. Makin mangkel ibu melihatnya." kata Bu Patmi.


"Biar Abel bantu Bu ."


"Tidak usah Neng, sudah selesai. Tinggal nunggu Mateng ikan asam padehnya saja." tolak Bu Patmi, saat Abelia menawarkan dirinya untuk turut membantu.


"Kalau begitu Abel keatas dulu ya Bu, mau mandi dulu. Tadi baru dari kebun bunga."


"Iya Neng, lima menit lagi. Semua masakan sudah ditempati ke rantang.


****


Abelia membawa kotak makan siang untuk Damar, karena belum pernah ke kantor Damar. Abelia bertanya ke pengawai, karena para pengawai sudah mengetahui bahwa Abelia istri dari Damar. Dia tidak dipersulit untuk menemuinya.


"Hih..kak Damar punya sekretaris juga, sekretaris sangat cantik dan seksi lagi.."


"Masuk saja Bu ." ucap sekretaris kepada Abelia.


"Mbak, jangan panggil ibu. Sepertinya saya sudah tua sekali dipanggil dengan sebutan ibu.." protes Abelia, saat sekretaris Damar memanggilnya dengan panggilan ibu.


"Tapi ibu adalah istri dari boss saya ."


"Pokoknya tidak mau dipanggil ibu, bagaimana jika panggil Abel saja ya.." ucap Abel dengan muka memelas.


"Oke...oke..Abel, tapi jika Pak Damar tidak suka saya panggil ibu saja ya.." ucap Cintia, sekretaris Damar.


"Ok, boleh masuk?"

__ADS_1


"Masuk saja, tadi pak Damar perintahkan, jika istri nya datang disuruh masuk langsung."


"Ada tamu ya?"


" Iya, calon model iklan."


"Nggak pa-pa masuk saja, nanti mereka lagi bicarakan bisnis." ragu Abelia untuk masuk.


"Ayo masuk saja."


Cintia menarik tangan Abelia, dan mengetuk pintu dan sebelum ada sahutan dari dalam Cintia sudah membuka pintu ruangan kantor Damar.


"Pak, ibu sudah datang."


"Suruh masuk saja.."


"Ayo." ujar Cintia.


"Ibu..ibu..Abel.." protes Abelia saat Cintia menyebut dirinya ibu.


"He..he.. sorry.."


"Sini.." Damar menyuruh Abelia untuk duduk disisinya, sedangkan dihadapannya. Duduk seorang gadis dan seorang pria.


"Mungkin ini model yang dikatakan Cintia tadi, hemh lumayan cantik ." dalam benaknya Abelia.


"Pak Damar sudah menikah?" tanya Lisa, model yang akan dikontrak oleh perusahaan Damar.


"Iya, ini istri saya Abelia ." Damar mengenalkan Abelia.


"Sudah punya baby pak ?"


"Belum, lagi usaha.." jawab Damar.


"Baru digol kan kemaren, masa langsung hamil ." dalam pikirannya Abelia.


"Syuting iklannya nanti dilakukan dikebun bunga istri saya saja." kata Damar.


"Letaknya dimana pak ?" tanya lelaki yang duduk didekat model tersebut.


"Disekitar sini.?"


"Boleh kan sayang, jika kakak nanti mau syuting di sana ?"


"Silahkan saja kak."


"Begini ya pak, produk ini pangsa pasarnya mendunia. Bagaimana jika lokasi syuting iklannya ditempat yang benar-benar bagus." ucap Lisa, yang secara tidak langsung telah mengatakan bahwa kebun bunga Abelia tidak layak sebagai tempat syuting.


"Bagaimana kalau anda pergi lihat dulu, jangan langsung menilai jika belum melihat lokasi ." ucap Damar dengan suara yang Datar.


"Sudahlah kak, jika dia ingin tepat yang bagus. Abel tidak marah kok."


"Disini kebun bunga Lily yang luas, hanya tempat kamu Abel. Dimana lagi mau dicari."


"Begini saja pak, biar kita lihat dulu." ucap manager model tersebut, dia menyadari bahwa modelnya sudah salah kata sehingga raut wajah Damar terlihat keras.


"Ok, saya akan suruh seseorang mengantar kalian meninjau lokasi."


"Abel ikut kak ?"


"Tidak usah, Abel temani kakak makan saja." kata Damar.


"Biar Abel hubungi Mang Sukri ." Abel pergi menjauh, dan berbicara dengan mang Sukri. Setelah selesai berbicara baru Abelia sadari bahwa kedua orang tersebut telah tidak ada diruangan Damar.


"Kemana mereka ?"


"Sudah dikembalikan kedalam botol." jawab Damar.


"Emang mereka jin." Abel ingin duduk, tetapi Damar menarik dirinya. Sehingga Abelia duduk dipangkuan Damar.


"Hih..kak Damar, Abel mau membuka kotak makannya. Apa kak Damar tidak lapar..?"


"Lapar, lapar sekali. Kakak lapar harum tubuh ini.." Damar mengendus-endus di sekujur badan Abelia, membuat Abelia menggeliat kegelian.


"Datang lagi arwah pengendus memasuki tubuh kak Damar ini.." ujar Abelia masih terus menggeliat.


"Tanggung jawab, si junior sudah bangun ini." ujar Damar, dan Abelia juga merasakan ada benda keras yang menyodok bokongnya.


"Ulah arwah pengendus ini." kata Abelia.


"Iya, arwah pengendus haus akan belaian dan rasa bibirnya ini.." Damar mengecup bibir Abelia dengan sangat lama.


"Cukup kak, Abel tidak bisa napas.." ucap Abelia dengan megap-megap.

__ADS_1


"Sorry, kakak langsung on fire jika lihat bibir mungil ini." ucap Damar sembari membelai bibir Abelia.


Bersambung


__ADS_2