
Hai kakak-kakak reader, bantu like..like and like ya. Biar author semangat untuk menghalu 🤩🤩
Happy reading 📖
*****
Selesai Abelia bercerita bahwa dia meninggalkan bangku kuliah, dia menanyakan tentang kuliah Andy.
"Abang mu tidak bisa mengelola kebun bunganya ?" tanya Andy, karena Andy tahu bahwa Abelia punya seorang abang.
"Waktu ayah dan bunda meninggal, kuliah abang Jo sudah memasuki tingkat akhir. Sayang jika kuliah bang Jo putus ditengah jalan, jalan satu-satunya Abel yang mengalah." ujar Abelia.
"Jangan sedih Abelia, kesuksesan bukan hanya dilihat dari pendidikan. Tapi dari seseorang meniti karier masa depannya, lihatlah....! sekarang kamu sukses menjalankan kebun bunga peninggalan orang tua mu, itu suatu kesuksesan yang membanggakan." ucap Andy menyemangati Abelia.
"Hebat sekarang, sudah bisa memberikan semangat. Dulu kamu cupu..!" ledek Abelia kepada Andy, dan membuat Andy tertawa geli sembari mengaruk-garuk rambutnya. Terlihat dia malu mengingat bagaimana dirinya dahulu yang terlihat pendiam.
"Bagaimana dengan diri mu, pasti sudah mendapatkan gelar kan ?" tanya Abelia.
"Sebentar lagi, aku sempat cuti. Kalau tidak tahun ini aku sudah bisa selesai, sekarang bantu-bantu bapak ngurus bengkel dulu jika libur begini ." kata Andy.
"Bengkel kan sesuai dengan pendidikan mu, bantu-bantu dibengkel seperti magang. Sebelum benar-benar terjun ke masyarakat ." karena setahu Abelia dulu Andy mau kuliah jurusan teknik mesin.
"Bengkel bapak cuma kecil, paling-paling memperbaiki kerusakan yang kecil-kecil ." kata Andy.
"Kamu perbesar ." kata Abelia.
"Ada rencana mau dikembangkan, selain bengkel mau buka jual mobil juga sih ." cerita Andy.
"Keren Andy, patut kau pertimbangkan. Selama ini kalau orang mau beli mobil, terpaksa pergi ke kota besar." Abelia menyemangati Andy mengenai rencana nya.
"Aduh..! asik cerita, sampai lupa waktu. Abel balik dulu ya, ada kerjaan dikebun. Maklum petani ." ujar Abelia dan bangkit dari duduknya.
"Abel, bisa minta nomor handphone ?" Andy menyodorkan handphone nya, agar Abelia mau memasukkan nomor handphonenya.
Abelia mengambil handphone Andy, dan kemudian menuliskan nomor handphonenya.
"Nih.." Abelia menyerahkan handphone Andy kepada pemiliknya.
"Thanks ya, nanti kita kumpul dengan Rozi dan Mai ya." kata Andy dan memasukkan handphonenya ke saku bajunya.
"Ok, berapa lama kau tinggal dirumah nenek mu?" tanya Abelia.
__ADS_1
"Dua hari, Abel. Jangan formal kali ah ngomong dengan gue, seperti biasa saja saat kita SMA. Pakai aku dan kamu, sepertinya kita baru kenal saja. Ok.." Andy merasa Abel terlalu formal bicara dengan dirinya.
"Sorry, gue belum terbiasa lagi bicara dengan elu. Sudah lama kita tidak bertemu, beda dengan Rozi dan Mai ." ujar Abelia.
"Elu naik apa Abel ?" Andy sudah mengganti menyebut Abelia.
"Tuh..! kendaraan butut gue, yang akan membawa gue kemana pun mau pergi." Abelia mengerucutkan bibirnya kearah sepeda yang terpakir.
"Sehat naik sepeda Abelia, lihat saja sekarang. Di jalanan kita sering berpapasan dengan orang-orang yang menggowes sepedanya sampai ke pedesaan." tutur Andy.
"Iya, tadi saja ada segerombolan pengunjung yang datang dengan naik sepedanya kesini ." kata Abelia, sembari membuka kunci sepedanya.
"Gue lihat tadi, tidak ada tempat penyewaan sepeda disini. Mungkin ada pengunjung yang ingin naik sepeda mengelilingi danau ini ." ujar Andy.
"Andy, otak bisnis elu jalan ya. Kenapa tidak kuliah bisnis saja elu ." ujar Abelia sembari menepuk-nepuk pundak Andy.
"Kalau hanya berpikir ide ini, tidak perlu sekolah bisnis Abel." ucap Andy.
"Elu naik apa Andy ?" tanya Abelia.
"Nunggu angkot, tadi kesini bareng kakek gue. Tapi ntah kemana nih kakek gue, mungkin dia lupa tadi kesini dengan cucunya." ujar Andy, dan matanya jelalatan untuk mencari keberadaan kakeknya.
"Sini gue bonceng, naik sepeda butut ini." ujar Abelia sembari menepuk-nepuk sadel sepedanya.
"Ayo naik." ujar Andy.
"Awas jangan elu jatuhkan gue nyium aspal ya, gue nggak mau nanti wajah gue baret-baret ." Abelia duduk diboncengan sepedanya, dan kemudian Andy mulai menggowes sepedanya.
"Nyantai Abelia, kalau hanya ngowes sepeda ini, Gue pakar nya ." ujar Andy, dan mengayuh sepeda Abelia yang dibawanya dengan pelan.
Dalam perjalanan, mereka asik berbincang. Dan sesekali tertawa, karena membicarakan hal-hal yang lucu saat mereka masih dibangku sekolah.
"Bunga...!" terdengar suara memanggil Abelia, dan Abelia melihat orang yang memanggilnya.
"Ya tan..." Abelia menyuruh Andy menghentikan Kayuhan sepedanya.
"Dia manggil Abel dengan Bunga ?" Andy heran, saat orang tersebut memanggil Abelia bunga. Dan Abelia merespon sapaan orang yang memanggilnya.
"Apa tante ?" tanya Abelia kepada orang yang memanggilnya.
"Besok pagi, tinggalkan tante bunga Lily putih dan kuning ya. Masing-masing 50 kuntum, jangan lupa ya Abel ." kata tante Sari yang berbicara dengan Abelia.
__ADS_1
"Ok tante, kenapa mesan banyak tante. Apa ada acara ?" tanya Abelia.
"Besok tante mau pergi ke kota, anak kakak tante mau nikah. Kalau beli di sana tidak fresh lagi, sudah pada layu ." kata tante Sari.
"Besok pagi Abel siapkan tan, yang segar-segar. Bunganya Abel yang antar kesini, apa tante ambil ke pasar ?" tanya Abelia.
"Tante ambil sendiri saja." kata Tante Sari.
"Ok tante, Abel pergi dulu ya ." pamit Abelia, dan naik ke boncengan sepeda kembali.
"Abel, siapa tuh. Pacar ya ?" goda tante Sari penasaran, karena tidak biasanya Abelia dibonceng sepeda oleh seorang laki-laki. Biasanya hanya Jonathan atau Rozi yang selalu bersamanya.
"Hih..tante, ini teman Abelia satu sekolah dahulu. Tadi ketemu di danau." ujar Abelia dengan malu-malu, dan wajahnya bersemu merah.
"Pacar juga nggak pa-pa Abel, kamu sudah gede. Lagi tu cowok ganteng Abel, cocok dengan Abel ." goda tante sari lagi.
"Dah tan, Abel balik dulu. Ayo Andy." Abelia menepuk pundak Andy untuk melanjutkan jalan sepedanya kembali.
Andy yang mendengar perkataan orang tersebut, tersenyum dalam hati. Dia mengharapkan ucapan orang tersebut menjadi kenyataan, karena sejak masih dibangku sekolah. Sebenarnya sudah ada rasa suka di hati Andy, tapi dia takut mengutarakan nya. Karena masih sekolah, sekarang Andy bertekad untuk memiliki hati gadis yang di boncengnya tersebut.
"Abel, kenapa orang tadi memanggil bunga. Dan lu nyahut, apa nama mu sebenarnya bunga ?" tanya andy heran.
"Orang sini, sering lupa dengan namaku yang asli. Mereka sering manggil dengan bunga, karena gue jual bunga ." cerita Abelia.
"Oh..begitu, kalau gue tinggal disini. Mungkin gue di panggil dengan nama bengkel ." ucapan Andy membuat mereka tertawa, sehingga tak terasa. Sepeda yang membawa mereka tiba didepan rumah Abelia.
"Dah Andy, ini rumah gue ." Abelia menepuk pundaknya Andy agar menghentikan sepeda nya didepan rumahnya.
"Ini rumah elu Abel, di ujung jalan ini rumah kakek gue ." ujar Andy.
"Kek Bagus, kakek elu ?" tanya Abelia.
"Iya, dulu kakek Tentara. Setelah pensiun pindah kesini, disini kata kakek hidupnya nyaman dan udara nya sejuk ." cerita Andy.
"Besok sore kita ketemuan ya ?" kata Andy sembari menyerahkan sepedanya kembali kepada Abelia.
"Ok, biar gue bilang pada Rozi dan Mai." kata Abelia.
**Bersambung
Maafkan author ya kakak-kakak reader, jika banyak typo dan penulisan kata yang salah dan tidak nyambung.
__ADS_1
Tap...tap...like...like...ya trims**.