
Hai kakak-kakak, bantu like ya biar author receh semangat untuk menulis.
***
Abelia berat untuk mengungkapkan apa yang diinginkan Damar agar abangnya Jonathan tidak mendekam di penjara.
"Adek, apa yang diinginkan Damar. Tolong Beritahu kan kepada abang." kata Jonathan.
"Dia ingin agar Abel yang menggantikan calon istrinya yang abang lari kan..!" seru Abelia, dan kemudian terdengar suara tangisan dari mulut Abelia.
"Apa..! dia mengatakan itu Dek, tenang Dek. Abang tidak akan membiarkan dia mengancam kita." ujar Jonathan.
"Bang, kembalikan saja gadis itu bang." Abelia memohon, agar Jonathan mengembalikan Melly kepada Damar.
"Tenang Dek, dia tidak akan bisa menyakiti adek. Tapi Dek bagaimana perasaan Adek, atas keinginan Damar untuk menikahi adek ?" tanya Jonathan.
"Jelas Abel nolak bang, Abel bukan pengganti..!" seru Abelia dengan marah.
"Tapi Dek, ini satu kesempatan juga. Adek sudah lama suka dengan Damar, ini dia sendiri yang ingin Adek menikah dengannya. Dulu dia telah menolak ."
"Abel tidak mau bang, Abelia masih ingat perkataan nya dahulu. Dia menyukai orang yang pintar, sedangkan Abel. Kuliah saja putus ditengah jalan ." kata Abelia sembari terisak mengingat perkataan Damar dahulu.
"Dek, waktu itu adek masih remaja baru mau 15 tahun." kata Jonathan.
"Kalau dia menolak Abel, bilang saja langsung. Bahwa Abel masih kecil belum dewasa gitu, dia menolak karena dia punya pacar calon Dokter dan cantik dan pintar. Kenapa tidak itu saja yang di nikahinya..!"
"Pacarnya itu sudah menikah Dek." ucap Jonathan.
"Cari yang lain, dia tidak akan sulit untuk mencari calon pengganti.."
"Dek, tolong pertimbangkan lagi usul Damar. Tapi jika adek tidak mau, ya tidak apa-apa. Abang rela masuk penjara, lagi pula mungkin abang dipenjara hanya 2 tahun. Tidak apa-apa, anggap saja seperti abang tinggal di pesantren. Sebulan sekali adek datang mengunjungi abang, dengan membawa makanan kesukaan abang. Dan adek harus hati-hati dirumahnya, karena tidak ada yang bersama adek dirumah lagi.." ucap Jonathan dengan suara yang lirih dan terlihat putus asa.
"Abang..." Abelia terlihat goyah begitu mendengar suara Jonathan yang sedih dan sedikit parau.
"Sudah ya Dek, Abang akan pergi menyerahkan diri ke polisi. bye...bye.." ucap Jonathan dengan tiba-tiba.
"Bang...abang..." Abelia kaget mendengar Jonathan ingin menyerahkan dirinya.
"Apa Dek..?" terdengar sahutan dari seberang telepon.
__ADS_1
"Jangan serahkan diri dulu bang, Abel akan berpikir dulu.." ujar Abel, dia goyah begitu Jonathan ingin menyerahkan dirinya ke polisi.
"Tapi Dek, abang tidak ingin lihat adek terpaksa begitu." ucap Jonathan kembali.
"Abel akan berpikir, dan ingat abang harus hati-hati. Jangan keluar dulu, orang itu pasti mengerahkan anak buah nya untuk mencari Abang.." kata Abelia.
"Baik Dek, adek juga harus hati-hati ya. Kalau sudah aman abang akan pulang." ucap Jonathan sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.
Setelah percakapannya dengan abangnya berakhir, Abelia berjalan mondar-mandir untuk mencari solusi apa yang harus dilakukan nya agar dirinya terhindar dari nikah paksa dan abangnya terhindar dari jeruji besi.
"Gue harus melakukan sesuatu, tapi apa ya. Apa gue bilang saja gue sudah punya pacar, dan gue sudah bertunangan. Tapi siapa yang harus gue ajak bersandiwara, Andy sudah tidak ada disini. Apa gue harus telepon Andy dan minta tolong sebagai pacar pura-pura.." Abelia memijat keningnya yang terasa pusing tiba-tiba.
"Hiaa.....!!" Abelia teriak dengan keras sembari menarik rambutnya dengan kasar, sehingga terlihat rambutnya rontok akibat tarikan yang dilakukan jemarinya.
"Pusing.....pusing..! kenapa orang itu harus kembali kesini, buat hidup gue jadi runyam begini..!"
Abelia mengambil topi dan memakaikan kekepalanya, dan kemudian dia keluar dari rumahnya menuju kerumah Rozi.
****
Ditempat yang berbeda tetapi di waktu yang sama, dua orang pemuda sedang asik bermain catur.
"Hanya kamu Sony, yang tahu perihal ini semua. Jika ini sampai bocor, kamu yang akan kuliti dan daging mu akan aku berikan ke kolam buaya.." ancaman dikeluarkan Jonathan untuk memberikan peringatan kepada Sony sahabatnya.
"Kapan kamu rencana pulang ?" tanya Sony.
"Tunggu sebentar lagi, sebentar lagi Abel pasti menurut. Aku tahu sifat Abel, dia pasti tidak ingin lihat abang nya di penjara." kata Jonathan.
"Berhenti ah, Bosen main ini terus.." ujar Jonathan dan beranjak dari teras dan berjalan menuju pasir putih yang terbentang luas didepan nya.
"Kamu tidak bekerja Sony ?" tanya Jonathan, karena sejak dia berada di villa. Sony selalu berada di villa.
"Tempat kerja ku di sini Jo, kau lihat rumah dibelakang villa it. Di situlah aku terus berada ." kata Sony .
"Tempat apa itu..?" tanya Jonathan dan melihat kearah belakang villa.
"Di situlah aku mencari formula parfum baru, untuk menambah pundi-pundi harta calon adik ipar mu ." kata Sony.
"Ah.. adik ipar apaan, Abel saja belum tertahlukkan. Lagian si Damar sok-sok an nolak dulu saat Abel nembak dia, kalau saat itu dia nerima dan menunggu Abel saat dewasa tidak mungkin drama ini terjadi.." kata Jonathan.
__ADS_1
"Penyesalan datang terlambat bro, cewek tak setia seperti Rianty dulu yang di cintai nya. Dan dia menolak Abel.." kata Sony.
"Kemana tu orang, tumben belum datang juga. Mungkin datang nanti uring-uringan dia..?" ujar Jonathan.
"Apa nenek nya sudah datang..?" tanya Sony kepada Jonathan.
"Mana ku tahu, aku berkurung disini terus. Sudah seperti anak perawan tidak boleh kemana-mana. Lagi pula jika aku keluar rumah tidak mungkin berbahaya, adek ku tidak mungkin bermain sampai kesini ." kata Jonathan.
"Mungkin dia mantau adek mu." ngekeh Sony membayangkan Damar bucin akut kepada adek Jo yang dulu pernah dikecewakan nya.
"Sudah bucin akut dia.." ledek Sony lagi.
"Apa bucin..?" tanya Jonathan, dan melihat Sony yang ikut duduk dipasir disampingnya.
"Makanya melek tu mata, jangan bunga saja yang dilihat." ujar Sony dengan mengejek Jonathan.
"Istilah anak sekarang, mana ku tahu ."
"Bucin itu budak cinta, aku juga tahu dari adik ku yang masih remaja ." ucap Sony.
"Budak cinta, ada-ada saja. Ku kira sejenis mecin.." Jonathan menjadi tertawa mendengar istilah bucin.
"kreatif sekali anak-anak sekarang.." kata Jonathan.
"Kamu anak jaman dahulu, kita masih muda bro. Masih 25 akhir kita, belum tua.."
"Iya...iya kita muda, sudah puas..!" ujar Jonathan kepada Sony yang tidak ingin dianggap tua.
Kedua pemuda itu akhirnya diam membisu, pandangan mata mereka jauh melihat lautan lepas.
****
"Abel kita mau kemana ?" tanya Rozi yang mengikuti Abel yang berjalan cepat didepannya.
"Kita mau ke dukun ..!" seru Abelia singkat.
"Apa...!?" kaget Rozi.
Bersambung...
__ADS_1
Bantu like..like ya kakak reader, trims.