
Wijaya dan Ningsih makan dengan lahapnya, merajuknya nyonya besar
tidak mengurangi nafsu makan Wijaya. Karena dia sudah sering menghadapi ulah ibunya, yang seperti anak-anak suka merajuk.
"Mas, bener tidak perlu ibu dibujuk untuk keluar kamar, nanti ibu masuk angin lo mas ." kata Ningsih, yang mengkhawatirkan ibu mertuanya. Yang menolak untuk makan.
"Sudah tidak perlu dikhawatirkan, lihat saja sebentar lagi Yuni pasti keluar menunggu pesanannya datang.
Begitu selesai bicara, Yuni keluar kamar. Dan ingin berjalan menuju kedepan.
"Yuni, ibu bagaimana ?" tanya Ningsih mengenai ibu mertuanya.
Yuni menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap Ningsih dan Wijaya.
"Nyonya besar baik- baik saja bu, ini saya lagi menunggu pesanan Nyonya besar." jawab Yuni.
"Ibu pesan makanan apa ?" tanya Wijaya sambil tersenyum dengan melirik istrinya Ningsih.
"Nyonya ingin makan mie goreng ." kata Yuni.
"Mungkin itu pesanannya sudah datang, saya permisi kedepan dulu Bu..pak." kata Yuni, yang kemudian berlari kecil mengambil pesanan Nyonya besarnya. Karena sedari tadi majikannya sudah tidak sabar.
"Nah lihat, ibu itu kalau ngambek tidak akan merugikan dirinya sendiri ." ujar Wijaya, karena dia sudah hapal kelakuan ibunya selama ini.
"Yuni, kamu sudah makan ?" tanya Ningsih, ketika Yuni kembali dari mengambil pesanan majikannya.
"Nanti saja bu, saya ngurus Nyonya besar dulu ." kata Yuni, dan berjalan menuju menuju kedalam kamar majikannya.
Setibanya didalam kamar majikannya, Yuni melihat majikannya sudah duduk di sofa menunggu kedatangannya. Terlihat dari raut wajahnya yang masam dan mulutnya yang siap mengeluarkan kalimat sumpah serapah.
"Lama sekali, dimana kamu ambil pesanannya. Di Papua ?" ucapan pedas keluar dari dalam mulut majikannya.
"Tadi nunggu kembaliannya Nyah, abang goyam tidak ada uang kecil.." jawab Yuni, dan meletakkan makanan yang dipesan majikannya keatas meja didepan majikannya duduk.
"Apa goyam ?" tanya majikannya sembari membuka bungkusannya, dan menyuapkan mie goreng kedalam mulutnya.
"Yang ngantar makanan ini Nyah.." jawab Yuni.
"Bukannya go***?"
'Kalau itu disebutkan, nanti dikira Yuni sponsor Nyah. kalau Yuni nyebutin merek, harusnya mereka bayar Yuni ." jawab Yuni.
"Pinter kamu sekarang Yuni, tidak sia-sia saya marahin kamu setiap hari ." ujar Nyonya majikannya.
"Heh Nyonya, saya di marahin tiap hari bukannya malah pinter. Tapi makin oneng otak Yuni ." ucapan dalam benaknya Yuni, sembari melihat Nyonya besarnya makan mie goreng dengan lahapnya. Tanpa mengindahkan Yuni yang menelan Saliva nya, karena ngiler melihat mie yang dimakan oleh majikannya.
"Sudah saya kenyang, nih kalau kamu mau.." Nyonya besarnya menyodorkan sisa mie goreng yang dimakannya kepada Yuni, dengan cepat Yuni mengambil dan duduk dilantai untuk menikmati mie goreng yang membuatnya ngiler tadi.
Sudah menjadi tradisi sepertinya, setiap makanan sisa Nyonya besarnya. Yuni selalu yang menghabiskannya. Tetapi Yuni selalu menerima dan tidak merasakan jijik, karena ajaran dari mbok nya tidak boleh membuang makanan sudah meresap didalam pikirannya.
Dia tidak merasakan jijik memakan sisa majikannya, karena diluar masih banyak orang makan yang lebih menjijikkan dari sisa makanan majikannya tersebut.
"Sudah saya mau, jangan bilang kepada dua orang penghianat itu ya. Kalau saya sudah makan, bilang saja saya belum makan apa-apa ." peringatan diberikan Nyonya besarnya kepada Yuni.
"Tapi Nyah, tadi waktu saya ngambil makanan ini. ibu dan bapak sudah melihat saya dan bertanya juga.." ujar Yuni dengan menampilkan wajah lugunya.
"Apa mereka tanya ?"
"Iya Nyah ."
__ADS_1
"Apa kamu jawab ?" selidik Nyonya besarnya.
"Saya bilang mie pesanan Nyonya ." jawab Yuni .
"Dasar pembantu bodo, baru tadi kamu saya puji. Sekarang kamu sudah kembali menjadi bodo !" semprot Nyonya besarnya dengan suara yang keras.
"Loh... makanan ini emang pesanan Nyonya kan ?" tanya Yuni yang tidak merasa salah bicara.
"Emang pesanan saya, tetapi kamu harusnya berbohong saja. Akuin itu pesanan kamu ." ujar Nyonya majikannya dengan keras dan jengkel kepada Yuni sang pembantu setianya.
"Saya dilarang berbohong Nyonya sama emak saya, jika saya berbohong nanti. Saya akan berdosa, saya tidak mau dibakar nanti di apiš„neraka Nyah.." ujar Yuni dengan menampilkan raut wajah serius.
" Sekarang kamu yang akan saya bakar disini, tidak perlu nunggu masuk neraka dulu...!" seru Nyonya besarnya, karena tidak menuruti perintahnya. Tongkat Nyonya besarnya sudah siap-siap ingin melayang ke arah Yuni, tetapi melihat Yuni yang sudah meringkuk seperti anak kucing ketakutan. Nyonya besar nya mengurungkan niatnya.
"Sudah pergi sana, dasar pembantu bodo. Asal ngomong saja . " ngedumel Nyonya besarnya, sambil merebahkan tubuhnya yang renta di pembaringan.
Yuni langsung bangkit dari duduknya dilantai, dia buru-buru untuk keluar dari kamar Nyonya besarnya.
"Uh...selamat, kenapa saya di suruh berbohong. Bohong kan dosa, apa Nyonya tidak takut api neraka ." ucap Yuni dan kemudian masuk kedalam kamarnya, dan melanjutkan memakan mie gorengnya tadi.
"Mie nya enak kok nggak dihabiskan, mubajir.." Yuni melahap sisa mienya yang tinggal sedikit.
****
Abelia baring di ranjang dan membalas chat dengan kedua temannya.
Rozi : "Elu kemana jeng, kenapa rumah elu gelap seperti tidak ada penghuninya.."
Abelia : " kekota, diculik Damar ."
Mai : " What..! berdua saja ?"
Abelia. : "Tidak kami berempat ."
Mai " Dengan siapa saja berempat ?"
Abelia : " Dengan bayangan masing-masing."
Rozi : " Masih bisa melucu elu, tandanya elu happy di culik ."
Abelia : " Gue terima nasip saja, sudah takdir gue. Harus nikah dengannya."
Mai : " Elu tidur bareng kak Damar seranjang ??"
Abelia : " Elu kira gue cewek murahan, mau aja dibawa tidur seranjang. Dia tidur diluar, gue didalam kamarnya."
Rozi " Tidak apa-apa Abelia, kalau hanya seranjang. Tapi tidak nyosor tu batang ."
Mai : " Apa batang ?"
Abelia : " Batang..!!?"
Rozi : "Batang kenikmatan, yang menghasilkan anak ."
Abelia : " Gila lu, sudah gue mau tidur ."
Mai : " Abel, kapan balik ?"
Abelia : " Besok, bye..."
__ADS_1
Rozi : " Bye...
Mai " Bye..
"Kenapa sunyi ya, kemana tuh orang. Apa dia pergi? bodo ah, gue ngantuk. Ah belum kunci pintu, ntar malem dia datang nyergap gue ." Abelia bangkit dari ranjang dan berjalan untuk mengunci pintu kamar.
Sedangkan diluar kamar, Damar masih berkutat membaca berkas-berkas yang dikirimkan oleh Sony tadi melalui email.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Damar masuk kedalam kamarnya. Yang letaknya bersebelahan dengan kamar yang ditempati Abelia, tetapi kamar yang ditempati Damar lebih kecil. Sedangkan kamar yang ditempati Abelia adalah kamar utama.
****
Dalam kendaraan, Hanya kebisuan yang ada. Abelia tidak tahu apa yang ingin ditanyakannya, sedangkan Damar fokus dengan kendaraannya.
"Kenapa diam saja, tidak tanya kita mau kemana ?" Damar memecah keheningan.
"Kita mau kemana ?" tanya Abelia.
"Sebelum kembali, kita ke rumah mama dan papa dulu. Kata papa Nenek sudah datang ."
"Apa..! Abel nggak mau, Abel takut. Bagaimana jika nanti mereka marah kepada Abel, karena bang Jo sudah membuat mereka malu ." ujar Abelia dan terlihat kepanikan diwajahnya.
"Tenang saja, mereka tidak akan marah. Percaya dengan kakak ." kata Damar dan mengambil tangan Abel untuk digenggamnya.
"Kenapa kak Damar tidak mengatakan terlebih dahulu, biar Abel ada persiapan ."
"Emang mau ujian, harus ada persiapan dulu. Seperti masa sekolah saja ."
"Iyalah..! ini ujian untuk menghadapi calon mertua ." celetuk Abelia.
"Yea... sudah mengakui calon mertua.." goda Damar, dan menarik tangan Abelia yang digenggamnya dan mencium tangan Abelia.
"Hih..kak Damar, apa-apaan sih. Fokuslah dengan jalanan saja dan jangan ngebut, Abelia tidak mau mati muda ." sejak orang tuanya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas, Anelka sangat takut dengan mobil yang kencang.
"Kakak juga tidak mau mati dulu, belum merasakan malam pertama dengan Abel ."
"Sudah, ngomongnya makin ngelantur ." Abelia menarik tangan nya dari genggaman tangan Damar dan membalingkan wajahnya untuk melihat pertokoan yang ada disisinya.
"Jangan khawatir, orang tua kakak baik kok. Abel sudah kenal kan ." karena dulu, Abelia hampir tiap hari keluar masuk kedalam rumah orang tua Damar. Tetapi sejak peristiwa penolakan Damar, Abelia seolah-olah Menghilang tidak pernah muncul di rumah orang tua Damar lagi.
"Kan sudah lama tidak ketemu." ucap Abelia.
"Dulu dan sekarang mama dan papa tetap sama ."
"Cuma Nenek, yang..." Damar menghentikan ucapannya.
"Cuma apa kak ?" mata Abelia melihat Damar untuk menunggu perkataan Damar selanjutnya.
"Sedikit galak, tapi jangan khawatir. Nenek hanya merasa masih hidup di jaman dahulu, kalau cari pasangan harus setara ." kata Damar.
"Baguslah, biar nenek kak Damar menolaknya. Dan kita batal menikah ." ujar Abelia dengan perasaan yang senang.
"Walaupun Nenek menolak, pernikahan ini tetap dilanjutkan. Yang menikah kan kakak. Bukan nya Nenek ."
Mendengar perkataan Damar, kesenangan Abelia menurun.
"Hih dasar laki-laki egois..! sudah senang tadi mungkin batal nikah ." dalam benaknya Abelia, mengumpati Damar.
Bersambung...
__ADS_1