
Cerita ini hanya hasil imajinasi penulis, tidak ada hubungannya dengan nama atau daerah tertentu.
Happy reading
***
Nenek jongkok untuk menenangkan Abelia yang meringis kesakitan.
"Tolong...tolong..!" teriak nenek dengan sekuat tenaga.
Bu Patmi dan Susi berlari begitu mendengar teriakkan nenek.
"Neng Abel..! apa yang terjadi..?" betapa terkejutnya Bu Patmi melihat Abelia terbaring di tanah dan tangannya memegang sikunya yang berdarah.
"Susi, cari Den Damar..!" perintah Bu Patmi kepada Susi.
Dengan kencang Susi berlari, tanpa mengunakan alas kaki.
"Pak...pak...!" Bu Patmi memanggil pak Umar.
"Ada apa..! apa yang terjadi..?" tanya pak Umar, saat melihat dua orang tergeletak di tanah.
Nenek menceritakan apa yang dilakukan Ningrum pada Abelia.
"Nek, apa Ningrum mati..?" tanya Bu Patmi.
"Tidak, aku mukulnya pelan. Dia pingsan karena tidak tahan lihat darah." beritahu nenek penyebab Ningrum pingsan.
"Ayo angkat Abel kedalam.." perintah nenek kepada Pak Umar.
"Maaf Neng.." dengan hati-hati pak Umar mengangkat Abelia masuk kedalam rumahnya.
"Baringkan saja kamar bawah.." ucap nenek lagi.
Pak Umar mengikuti semua perintah nenek tanpa membantah.
Pak Umar meletakkan Abelia di kasur dengan hati-hati, dibawah tatapan mata nenek dengan tajam.
"Ayo kita urus satu lagi.." nenek keluar diikuti oleh pak Umar.
Sedangkan Bu Patmi, diperintahkan oleh nenek untuk mengurus Abelia. Bu Patmi duduk didekat Abelia dibibir tempat tidur. .
"Neng, apa perutnya sakit..?" tanya Bu Patmi.
"Sedikit Bu, tapi yang lebih sakit tangan Abel ini.." Abelia menunjukkan tangannya.
"Ya... Allah Neng..! bengkak ini..?" teriak Bu Patmi, begitu melihat pergelangan tangannya yang bengkak dan merah gelap.
"Apa tangan Abel patah Bu Patmi..?" tanya Abelia dan masih dengan menahan nyeri dibagian yang bengkak tersebut.
"Apa patah..?" tanya nenek yang baru masuk kembali kedalam kamar, setelah bersama dengan pak Umar mengangkat Ningrum yang masih pingsan.
"Tidak Nyonya besar, mungkin hanya terkilir.." jawab Bu Patmi.
"Awas kau Ningrum, jika cicitku dalam bahaya.." omel nenek lagi.
__ADS_1
"Ningrum bagaimana nek, tadi Abelia lihat dia pingsan..?"
"Dia pingsan hanya karena tidak tahan lihat darah, nenek hanya mukul keningnya dengan pelan. Dianya saja perempuan yang lemah.." kata nenek dengan tidak ada perasaan bersalah karena telah membuat Ningrum pingsan.
"Mana Damar, kenapa lama sekali dia..?" tanya nenek, dengan mondar-mandir sambil melihat kearah pintu.
"Yuni...Yuni..!" nenek berdiri didepan pintu dan memanggil pembantunya.
Yuni berlari dari dalam kamarnya setelah mendengar suara nenek.
"Iya Nyonya besar..?" tanya Yuni.
"Kau pergi kekantor cucuku cari dia..!" kata nenek.
"Dimana kantornya nenek, Yuni tidak tahu.." jawab Yuni.
"Kau itu bodo sekali, kau punya mulut. Kau tanyalah kepada orang-orang, di mana kantor Damar.." omel nenek kepada Yuni.
"Baik Nyonya besar.." Yuni berjalan cepat keluar dari dalam rumah, tetapi belum keluar rumah. Dia melihat mobil Damar sudah berhenti didepan rumah, dan orang yang ditunggu oleh nenek sudah turun dari mobil dan berlari masuk.
"Mana Abel..?" tanya Damar dengan suara keras.
"Itu Den...itu..." jawab Yuni dengan gugup.
"Itu apa..!" ujar Damar dan ingin lari ketingkat atas tempat kamarnya berada.
"Bukan diatas Den, dikamar tamu.." ucap Yuni setelah melihat Damar menuju kearah kamarnya.
"Ah..kau membuang waktuku saja.." kata Damar dan memutar langkahnya menuju kamar tamu didekat kamar neneknya.
"Abel..!" teriakan Damar didepan pintu, membuat orang yang berada didalam kamar menoleh kearah Damar yang berdiri tegak dengan wajah terlihat gusar.
"Kak Damar.." Abelia menangis begitu melihat kedatangan Damar.
Bu Patmi bergeser dari tempatnya duduk, untuk memberikan tempat untuk Damar.
"Apa yang terjadi, kenapa bisa jatuh. Nenek yang melakukannya..?" mata Damar melihat kearah neneknya yang berdiri didepan ranjang.
"Bukan kak..." ucap Abelia, begitu Damar ingin memarahi neneknya. Dan Abelia melihat wajah nenek yang muram dan ada rasa bersalah dalam dirinya.
Karena nenek merasa jika dia tidak datang bersama Ningrum, Abelia tidak akan cedera begini.
Sedangkan nenek hanya berdiri dengan menundukkan kepalanya, seperti anak kecil yang kena marah orangtuanya.
"Kalau bukan nenek siapa yang melakukannya ? Apa perempuan itu.." tidak ada yang menyahut, ketika ingin bertanya kembali. Terdengar suara Sony yang datang bersama dokter.
Susi dan Sony datang membawa Dokter Vita yang masih berada di puskesmas.
"Dokter tolong periksa istriku, dia jatuh tadi." ucap Damar dan bangkit dari duduknya.
"Apalagi yang menimpa Bu Abelia, kenapa suka sekali jatuh. Apakah masih suka naik sepeda..?" tanya dokter Vita.
"Tidak Dok, bukan naik sepeda.." jawab Abelia.
Dokter Vita duduk dimana Damar tadi duduk, dan memerintahkan orang-orang untuk keluar.
__ADS_1
"Suami Bu Abelia, didalam saja.." kata Dokter Vita.
"Apakah ada plek yang keluar ?" tanya Dokter Vita.
"Saya belum lihat dokter, tangan saya sakit.." Abelia menunjukkan tangannya yang bengkak.
"Kenapa bisa bengkak begini..?" begitu melihat pergelangan tangan Abelia yang bengkak dan merah.
Mendengar perkataan Dokter, Damar naik ke sisi ranjang dan melihat tangan Abelia yang bengkak.
'Kenapa ini..?" tanya Damar.
Abelia bercerita saat jatuh tadi dia menahan tubuhnya, agar perutnya tidak terbentur tanah. Dia menahan dengan tangannya.
""Ini hanya bergeser, tidak patah. " ucap Dokter Vita setelah mengamati pergelangan tangan Abelia.
"Saya tidak bawa alat untuk membalutnya, nanti saya kembali lagi. Sekarang kita beri obat nyeri dulu."
"Kandungannya bagaimana Dokter ?" tanya Damar.
"Coba kita lihat plek nya, apa banyak.." Dokter Vita membuka pakaian dalam Abelia dan melihat bercak-bercak darah yang lumayan banyak.
"Kita bawa ke puskesmas saja ya Bu, biar kita USG ," kata Dokter Vita.
"Apa bahaya Dok..?" tanya Damar, dan Abelia sudah pucat mendengar saran Dokter Vita untuk membawa dirinya ke puskesmas.
"Biar lebih tenang kita USG saja, lagi pula tangan ibu Abel harus diperban.." ucap Dokter Vita.
"Ayo angkat pak Damar, saya datang tadi dengan ambulans." Dokter Vita memasukkan alat perangnya kedalam tasnya.
Damar mengangkat Abelia dengan hati-hati dan tangannya diletakkannya diatas dada. Wajah Abelia meringis menahan sakit, karena setiap bergerak sedikit tangannya terasa sakit.
"Mau dibawa kemana Abelia...?" tanya nenek, setelah melihat Damar mengendong Abelia keluar dari dalam kamar.
"Mau dibawa ke puskesmas nek, mau di USG ," jawab Damar.
"Pakai mobil Dam..?" tanya Sony.
"Tidak, naik ambulance saja. Biar Bu Abelia bisa berbaring " ucap Dokter Vita.
"Nenek ikut ," ucap Nenek.
"Nyonya besar, Non Ningrum bagaimana..?" Bu Patmi baru saja melihat kedalam kamar Ningrum, dan Ningrum masih dalam keadaan pingsan.
"Sebentar lagi dia bangun, begitu bangun suruh dia pulang. Aku nggak mau melihat raut wajahnya lagi " ucap nenek dan ikut naik kedalam ambulance.
"Nek, nenek ikut mobil Sony saja" kata Damar.
"Tidak mau, nenek mau bersama calon cicitku" ucap nenek dan duduk disamping Abel didalam ambulance.
"Dasar nenek.." dalam benaknya Sony, melihat nenek Damar yang tidak bisa dilarang.
Next...
Sudah mendekati episode akhir..
__ADS_1