Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 31 Akhirnya


__ADS_3

Terimakasih sudah sudi mampir di cerita ini, sudah kasih like dan kasih vote dong kalau koin sisa. And jangan lupa bintang lima ya reader.


****


Setelah selesai mandi, Abelia langsung turun kebawah tanpa menunggu Damar selesai mandi.


"Bu, masak apa ?" tanya Abelia kepada bu Patmi, yang sedang berkutat dengan kesibukannya memasak.


"Masak soto dan ikan sambel dan perkedel kentang Neng, masak seadanya. Semoga Neng Abel suka ya ." kata Bu Patmi.


"Mak yus Bu Pat, masakan kesukaan Abel itu.." kata Abelia, karena soto adalah salah satu makanan kesukaannya.


"Alhamdulillah, kalau memang Neng Abel suka ." kata Bu Patmi.


"Bu, yang satu lagi pekerja baru ya. Dimana dia ?" tanya Abelia, karena tidak melihat keberadaannya didapur.


"Itu Susi Neng, keponakan ibu dari kampung. Kalau dia buat salah ditegur saja ya Neng, orang nya rada ngeyel dan sesukanya saja. Tidak bisa dibilangin ." kata Bu Patmi mengenai keponakan nya.


"Tadi sudah ditegur kak Damar Bu, cara berpakaiannya yang tidak sesuai untuk bekerja." kata Abelia.


"Nanti ibu ingatkan lagi neng, sebenarnya sudah ibu peringatkan, Tapi anak itu otaknya sangat bebal, jika tidak menurut dan merubah penampilannya. Biar nanti suruh dipecat saja.." kata Bu Patmi, yang merasa malu. Karena keponakannya baru dipindahkan kesini sudah ditegur majikannya.


Terdengar suara langkah kaki mendekati ruang makan, saat Abel melihatnya ternyata Damar yang datang dengan rambut yang setengah basah dan aroma yang maskulin tercium dari tubuh Damar.


"Oh God, kenapa kak Damar memakai parfum itu. Abel tahu bahwa parfum yang dipakai Damar adalah parfum yang diberikannya pada saat Damar ulang tahun ke 20 tahun, seminggu setelah dia memberikan parfum itu Damar menolaknya.


Dia menabung uang jajannya untuk bisa mendapatkan parfum itu.


"Masih ada parfum." batin Abel.


Damar langsung menarik kursi dan memerintahkan Abelia untuk duduk, dan kemudian Damar juga duduk di kursinya disebelah Abel.


Damar memulai makannya dengan lahap, beda dengan Abelia. Walaupun sayur dimeja favoritnya, tapi dia tidak berselera untuk menyuapkan nasi ke mulutnya. Padahal tadi saat di dapur dia sangat berselera melihat sayur yang dimasak Bu Patmi.


"Kenapa diobok-obok nasinya ?" tanya Damar ketika dilihatnya Abelia hanya mengobok-obok nasi dan tidak memakannya.


"Tidak berselera.." jawab Abelia.


"Kenapa, apa Abel tidak berselera karena telah mencium harum tubuh kakak ini ?" tanya Damar.


"Harum tubuh? Abel tidak ke cium tuh.." kata Abel .


"Mau tambah lagi pak .?" tiba-tiba Susi sudah berada disamping Damar, dan menawarkan dirinya untuk membantu Damar menambahkan nasi dan lauknya.


"Tidak usah, saya punya tangan dan ada istri saya juga kalau saya membutuhkan bantuan." kata Damar dengan suara yang Datar.


"Muncul ni orang, tadi tidak kelihatan. Begitu ada kak Damar langsung muncul." dalam benaknya Abelia.


"Makin jutek, makin semangat untuk menggoda nya.." otak kecil Susi selalu bekerja jika melihat cowok tampan.


"Susi, ngapain kamu disini .?" Bu Patmi datang kemeja makan, begitu mendengar suara Susi berasal dari ruang makan.


"Susi hanya mau bantu pak Damar bi, biar pak Damar tidak capek ." kata Susi tanpa tahu malu.


"Tidak usah, kamu bantu bibi di dapur saja. Banyak piring kotor disana, bukan disini tempat mu ." ujar bi Patmi dan menarik tangan keponakannya, untuk meninggalkan ruangan makan.


"Kak, sepertinya Susi suka dengan kak Damar. Kenapa dia datang saat kita sudah menikah , kan bisa tadi dia yang menjadi pengantin kak Damar ."


"Aduh kak..!" seru Abel, karena Damar menyelentik keningnya, karena mendengar perkataan Abel yang asal.


"Apa Susi adik Jonathan..?" tanya Damar.


"Tidak.." jawab Abelia.

__ADS_1


"Mungkin kak Damar berminat, lihatlah kak. Dia sangat seksi sekali dan juga sangat menarik." nyengir Abelia mengatakannya.


""Diam, cepat makannya. Dan makan yang banyak, Abel nanti membutuhkan tenaga yang banyak ." terlihat smirk disudut bibirnya Damar, tangan Damar meraih tangan Abelia dan mendaratkan kecupan cukup lama ditangan Abel.


Abelia berusaha menarik tangannya, tetapi Damar menahannya dan tetap melekatkan bibirnya.


"Tunggu saja kak Damar, tidak semudah itu aku menyerah ." dalam benaknya Abelia yang gembira, dan dilihatnya Damar yang makan dengan lahapnya.


"Abel sudah selesai." Abelia mendorong piringnya, dan kemudian kabur meninggalkan meja makan tanpa sempat dicegah Damar.


"Kaburlah Abel, kak Damar akan mendapatkan dirimu juga. Tunggu kakak ya Abel sayang .!" seru Damar.


"Dalam mimpi ." balas Abelia, yang masih mendengar perkataan Damar.


"Menarik, ini yang kusukai. Sulit untuk diraih dan penuh dengan tantangan.." guman Damar sembari tersenyum, membayangkan apa yang akan dilakukan Abelia nanti.


"Mau kopi pak Damar?" Susi muncul lagi dengan menawarkan secangkir kopi kepada Damar.


"Tidak.." Damar menggeser kursinya dan meninggalkan ruang makan dengan cepat menuju kedalam kamarnya.


"Gila si Tony, kenapa memindahkan dia kerumah ini. Nanti ku hubungi dia ." ucap Damar mengenai Susi, yang dipindahkan Tony menjadi pembantu dikediamannya.


Dengan cepat Damar memasuki kamarnya, mata Damar celingukan mencari keberadaan Abelia. Tetapi tidak ada keberadaannya.


"Mana dia.." Damar tidak melihat keberadaan Abelia dalam kamar.


"Ternyata dalam kamar mandi." Damar mendengar suara gemericik air dalam kamar mandi.


Saat menunggu Abelia, Damar menghubungi Tony. Dan menanyakan kenapa Susi dipindahkan kerumahnya.


Ketika pintu kamar mandi terbuka, Damar memutuskan sambungan teleponnya dengan Tony.


Pintu kamar mandi terbuka, dan keluar Abelia dengan memakai baju tidur yang cukup aneh. Yaitu daster yang panjang dan sangat tertutup dan Damar juga melihat Abelia seperti memakai celana panjang dibalik daster yang dipakainya tersebut.


"Baju tidur.." jawab Abelia dengan biasa saja dan berjalan menuju meja rias.


"Baju tidur model apa itu, apa tidak panas. Tidur memakai busana mirip burqa begitu..?" Damar tahu, Abelia berusaha membentengi dirinya.


"Ini baju tidur anti pria mesum !" ujar Abelia dengan menampilkan senyum kemenangan.


"O..o pria mesum itu, suami Abel ini ?" Damar menunjuk dirinya sendiri.


"Abel tidak nyebut lo, kak Damar sendiri yang menyebutkan diri sendiri.." kata Abelia.


"Kalau hanya memakai baju begitu, dan juga memakai celana panjang berlapis-lapis, tidak sulit.." Damar berjalan menuju nakas dan membuka lacinya dan meraih gunting.


"Apa yang ingin kakak lakukan.." Abelia mundur begitu melihat Damar memegang gunting dan berjalan mendekatinya, Damar berjalan pelan dan gunting digerak-gerakkannya. Membuat Abelia panik.


"Jangan dekat..!" Abel berlari menuju tempat tidur dan berdiri dengan siap siaga menunggu Damar mendekat, untuk melakukan perlawanan.


"Kenapa malah lari kesini, kenapa tidak lari keluar saja tadi.." Abelia baru menyadari kesalahan yang dilakukannya.


"Sini Abel.." perintah Damar.


"Tidak..!" Abelia ingin berlari keluar tetapi dengan cepat Damar meraih tangan Abelia dan menidurkan Abelia dan kemudian mempiting tangan dan kaki Abelia yang meronta-ronta, agar terlepas dari cengkeraman Damar.


"Lepaskan kak Damar..!" seru Abelia sambil meronta untuk melepaskan dari dekapan Damar.


Tapi semua perjuangan yang dilakukan Abelia, tidak bisa melepaskan dirinya dari cengkeraman Damar.


Satu tangan memegangi Abelia dan satu tangannya beraksi menggunting celana leging yang dikenakan Abelia.


Dengan sekali potong, celana itu sudah sobek hingga ke daerah sensitif Abelia.

__ADS_1


"Kak Damar..! jangan gunting, ini bukan celana Abel. Ini celana pinjaman..!" beritahu Abelia, tetapi Damar tidak mengindahkan dan celana tersebut sudah lepas dari tubuh Abelia. Dan sekarang Abelia hanya memakai renda segitiga yang tipis dan legingnya sudah berada di pangkal kakinya hampir terlepas dari kakinya. Damar menelan Saliva nya melihat pemandangan didepannya.


Setelah berhasil membuat celana leging Abelia koyak, Damar membuang guntingnya dan langsung ******* bibir mungil Abelia yang pink merona.


"Lepas, Abel benci kak Damar..!"


'Diam sayank.., nikmati saja malam ini.." Damar melepaskan pagutannya, dan membelai bibirnya Abelia yang sedikit bengkak karena ciuman Damar yang penuh semangat dan rakus dalam menjelajahi bibirnya Abelia.


"Lepas..!" Abelia ingin mendorong Damar, tapi badan besar Damar bergerak pun tidak dari atas tubuhnya.


Damar beringsut badannya sedikit, dan tangannya terus membelai pipi dan bibir Abelia, dan sesekali memberikan gigitan kecil dibibirnya Abelia agar terbuka.


"Awas kak Damar.." lirih suara Abelia, sepertinya dia sudah terpengaruh dengan sentuhan dan belaian tangan Damar.


"Aduh gawat ini, kenapa tubuh ini tidak bisa diajak kerja sama ." dalam benaknya Abelia, karena dia sangat menikmati belaian tangan Damar ditubuhnya. Karena baru pertama kali dia merasakan sensasi yang memabukkan seluruh jiwa dan raganya.


"Kak Damar.." lirih suara Abelia memanggil nama Damar.


"Hemhm.." Damar mendekatkan bibirnya ke telinga Abel dan berbisik.


"Malam ini, malam kita sayang. Nikmati ya, kakak akan lembut..." tidak tunggu lama lagi Damar melakukan Explorer ke sekujur tubuh Abelia, dan Abelia hanya pasrah saja. Dia tidak menolak lagi, dia membalas sentuhan Damar. Walaupun dia belum pernah mengalami ini semua, tetapi nalurinya menuntunnya untuk bergerak mengikuti permainan Damar. Sehingga dia bisa mengimbangi permainan tingkat dewasa Damar.


Tanpa disadari Abelia, tubuhnya sudah polos. Dan celana leging lima lapis yang dipakainya sudah berterbangan tak tentu arah. Akibat perbuatan Damar, dengan cepat Damar melepaskan kain yang masih membungkus dirinya sendiri. Sehingga tubuh mereka berdua sudah bersih dari benang apapun juga.


Setelah dalam keadaan polos seperti pada saat jaman purba, atau pada saat Adam dan Hawa belum jatuh didalam dosa. Damar melakukan penyatuan untuk menambah populasi didunia ini, jika diizinkan Tuhan.


"Aw..." teriak Abelia ketika Damar memasukkan cula keramatnya kedalam kerang Abelia yang masih tersegel dengan ketat.


"Tenang sayank.." Damar melakukannya dengan pelan dan teratur, dan ketika dirasakannya Abelia sudah dapat menerima benda keramat nya. Damar berpacu dengan tempo yang cepat sehingga goyangan tempat tidur berbunyi cepat.(untung tidak roboh 🤪😜)


Sekarang hanya suara desahan dan erangan yang ada didalam kamar tersebut, tidak tahu suara erangan dan desahan siapa yang lebih dominan. Tetapi keduanya saling berlomba mengeluarkan desahan.


***


Pagi menjelang, dua anak manusia yang malam tadi baru saja menyatukan dua tubuh menjadi satu. Masih dalam posisi tidur dengan saling berpelukan, tubuh mereka masih dalam keadaan polosnya. Tapi mereka tidak merasakan dingin, karena tubuh mereka saling memberikan kehangatan.


Abel mengerakkan tubuhnya, matanya terbuka dan melihat tangan besar Damar hampir mengenai gunung kembarnya.


"Hih sial, aku sudah tercemar. Dan rugi lagi, karena leging Mai rusak semua. Terpaksa ganti lagi.." guman Abelia, ternyata Abelia meminjam leging Mai untuk dipakainya tadi malam. Tetapi hal itu tidak berguna, karena Damar berhasil membobol gawang pertahanannya dengan mudah.


"Siapa yang tercemar..?" tanya Damar yang mendengar gumanam Abelia.


"Tidak ada.." Abelia ingin bangkit dari ranjang, tetapi Damar mencegahnya.


"Mau kemana..?" Damar mengungkung Abelia dibawah tubuh besarnya kembali.


"Mau kekamar mandi ." jawab Abelia dengan wajah yang malu-malu, karena dia menyadari bahwa Damar masih polos seperti dirinya.


"Nanti dulu, kita ulangi kembali yang tadi malam." Damar langsung menyatukan bibirnya, dan memangut bibir Abelia dengan ganas dan sedikit liar. Dan peristiwa tadi malam terulang kembali tanpa penolakan dari Abelia.


Sepertinya Damar tidak ada letih-letih nya melakukannya, ntah stamina dari mana didapatkan Damar. Mungkin karena orang tuanya pengusaha jamu sehingga Damar sering mengkonsumsi jamu.


Setelah melakukannya lagi, kemudian Damar mengendong Abelia kedalam kamar mandi. Dalam kamar mandi, Damar menggosok tubuh Abelia dengan lembut, sehingga peristiwa yang dilakukannya pagi tadi kembali terjadi didalam kamar mandi. Walaupun Abelia sudah protes, tetapi Damar terus melakukannya.


Ketika dilihatnya Abelia sudah terlihat letih, barulah Damar menghentikan Aktifitas olahraga paginya yang begitu menguras tenaganya.


"Ceritakan pada teman-teman Abel, bagaimana kakak di ranjang ." bisik Damar saat dia mengangkat Abelia keluar dari dalam kamar mandi, setelah selesai mandi.


Abelia jadi teringat tentang kebohongannya kepada Mai temannya.


Wajah Abelia memerah, saat mengingat perkataannya tersebut. Dan sekarang sudah terbukti, bahwa Damar pria normal dan sangat normal. Tidak diragukan lagi. Terbukti sampai saat ini stamina masih kuat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2