
Terimakasih kasih yang sudah memberikan like, kepada cerita ini.
***
Sesampainya dikamar, Damar membawa Abelia terus kedalam kamar mandi.
"Kak, kenapa terus kedalam kamar mandi ?" Abel meronta dan ingin turun, tapi Damar baru menurunkan begitu tiba didalam kamar mandi.
'Kita mandi bareng, Abel belum mandikan ?" Damar langsung membuka bajunya, tanpa malu-malu. Dia sudah polos dihadapan Abei.
Abelia mengalihkan pandangan matanya, dari tubuh Damar yang polos didepan nya.
"Buka bajunya, atau kakak yang buka kan ?"
"Kak Damar duluan, Abel nanti saja." Abel ingin berjalan keluar kamar mandi, tetapi Damar dengan sigap menarik dirinya untuk berdiri dibawah shower.
"Kak Damar..!" dengan masih mengunakan baju, air shower telah membasahi badannya.
"Sekarang sudah basah." Damar membuka baju Abelia yang sudah melekat ke kulit tubuhnya, tetapi Abelia mempertahankan agar Damar tidak bisa membukanya.
"Kak Damar jahat..!" pukulan bertubi-tubi menerpa dada Damar.
"Awas.." Abelia mendorong Damar agar menjauhinya, dan tangannya menutupi area sensitifnya yang terawang akibat bajunya yang basah.
"Tidak usah malu-malu, semua sudah kakak lihat. Malah tangan ini, sudah sering memegangi nya." kata Damar.
"Dasar raja mesum." Abelia membelakangi Damar dan mulai membuka kain yang melekat ditubuhnya. Sehingga Abelia akhirnya polos tidak ada benang melekat di badannya.
Abelia membelakangi Damar, dan berdiri dibawah shower.
"Ayo kita berendam di bathtub ." ucap Damar.
"Nggak, kakak saja. Abel lagi tidak ingin berendam.
Damar mengisi bathub dengan air panas dan dingin, kemudian Damar masuk kedalam. Dan berselonjor didalam bathtub.
"Ayo sayang ." ajak Damar, agar Abel mau turut berendam.
"Tidak, Abel lagi males berendam."
Dengan cepat Abel mandi, karena dia khawatir. Damar akan mengajak dirinya untuk mandi plus-plus, Abel tahu isi pikiran Damar.
Damar tertawa kecil melihat Abelia dalam keadaan polos berdiri dibawah shower, membelakangi dirinya. Hanya bokong mulusnya yang menjadi target tatapan mesum mata Damar.
Dengan iseng tangan Damar menjangkau Bokong Abelia dan meremasnya dengan gemas.
"Auw...kakak Damar, apa yang kak Damar lakukan..!" teriak Abel dan matanya mendelik menatap yang punya tangan, dan Damar setelah meremas bokong Abel memejamkan matanya. Pura-pura tidak melakukannya.
"Dasar raja mesum, seenaknya saja meremas bokong ku.." sembari mengomel, dengan cepat Abel menarik handuk untuk menyudahi mandinya. Abel mengambil kimono bersih yang selalu tersedia didalam kamar mandi. Setelah memakai kimono, Abelia meninggalkan Damar yang masih asik berendam.
"Dasar...!" Abelia tidak melanjutkan perkataannya, dia langsung pergi dari dalam kamar mandi.
Damar memicingkan matanya, dan tersenyum melihat Abelia yang mengomel terus sampai keluar kamar.
"Ada pemandangan indah, tidak disentuh. Sangat merugikan, apalagi pemandangan itu halal untuk disentuh ." gumamnya Damar dan terlihat senyum tipis disudut bibirnya.
"Tak sia-sia aku menunggu mu selama ini.." dalam benaknya Damar.
Diluar kamar, Abel mengambil bajunya dan langsung mengenakannya.
"Harus cepat, nanti raja mesum keburu keluar. Bisa-bisa sore ini berakhir diranjang." ucap Abelia, dan saat memakai pakaian dalamnya, Abelia melihat dadanya seperti makin membesar. Karena pakaian dalamnya semakin tidak muat menampung gundukan kecilnya dulu. Dan saat ini gundukan kecilnya seperti tidak tidak tertampung lagi.
"Kenapa makin ketat ini ?" ujar Abelia, saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Abel langsung menghentikan pengamatan terhadap dua benda didadanya.
Dengan terburu-buru, Abelia mengenakan baju dan kemudian keluar dari walk on closet.
Damar dengan santai keluar, hanya mengunakan handuk kecil yang tidak muat menutup seluruh bokongnya.
"Oh..!" Abelia kaget melihat Damar hanya menggunakan handuk yang sangat minim dan dengan santai masuk kedalam walk in closet dan membuka handuk kecilnya dan menyampirkannya keatas bahu Abelia, sehingga Damar mencari baju dalam keadaan polos.
"Kak Damar..! nggak sopan.." teriak Abelia.
"Apa yang tidak sopan.." Damar berbalik, dan berjalan mendekati Abelia yang berada dibelakangnya. Abelia mundur ke dinding, tetapi Damar terus memepetnya. Sehingga Abelia menjadi terjepit ditembok dan tangan Damar mengungkung Abelia sehingga tidak bisa bergerak.
"Kak.." bergetar suara Abelia, walaupun sudah sering melihat Damar polos. Tapi Abelia tetap malu, apalagi saat ini Damar dalam keadaan berdiri seperti patung dihadapannya.
"Apa..?" bisik Damar ditelinga Abelia, dan memberikan gigitan kecil disana.
"Sana dikit.." Abelia mendorong tubuh Damar, tapi tubuh Damar seperti sudah tertanam didepannya. Tidak bisa didorong oleh tangan Abelia.
"Dikit saja kan ." Damar mundur sedikit, tetapi makin membuat pandangan Abel tidak fokus.
"Pakai baju kak ." ucap Abelia dan menutup matanya, dari pandangan dibawanya.
"He..he.. kenapa masih malu, Abel sudah sering merasakan sensasi barang keramat ini kan. Apa mau coba disini..?" bisik Damar, dan bibirnya ingin meraup bibir Abelia tetapi Abelia tiba-tiba merunduk dan kabur dari Kungkungan tubuh Damar.
"Abel..!" teriak Damar, tetapi Abelia sudah berhasil keluar dari kamar untuk menyelamatkan dirinya.
"Akhirnya selamat, ih kak Damar. Yang ada didalam otaknya hanya begituan saja.." Abelia mengelus-elus dadanya.
****
Hari ini Abelia tiba-tiba ingin mengunjungi kebun bunganya, setelah dua hari dia hanya bermalas-malasan di rumah tanpa ingin melakukan apapun juga.
Dengan bersemangat Abelia mengayuh sepedanya, dengan memakai topi diatas kepalanya. Tidak seperti biasanya, Abelia membiarkan angin memainkan rambut panjangnya.
Tin...tin...
Terdengar suara klakson mobil dibelakangnya, Abelia menghentikan Kayuhan sepedanya. Dan melihat mobil yang mengklaksonnya berhenti dibelakangnya, ketika pintu terbuka Andy keluar.
"Mau kemana?" tanya Andy.
"Mau melihat kebun bunga ." jawab Abelia singkat.
"Elu mau kemana ?" balas Abelia bertanya kepada Andy.
"Mau balik dulu ."
"Abel, apa elu bahagia dengan pernikahan mu ?" tanya Andy.
"Kenapa elu tanya kan ? apa ada tercetak dikening gue bahwa gue tidak bahagia ." ucap Abelia.
"Gue penasaran saja, sebulan kita tidak bertemu. Begitu bertemu, langsung dapat kabar bahwa elu sudah menikah ."
"Mungkin sudah tiba jodoh gue, siapa yang bisa menentang kehendak Tuhan." kata Abelia.
"Apa karena pria itu orang berada, maka kau langsung menerimanya ?" pertanyaan Andy membuat Abelia tersentak kaget, mendengar begitu rendahnya penilaian Andy terhadap dirinya.
"Ha..ha... sepertinya elu bukan teman gue, karena begitu rendahnya penilaian elu terhadap diri gue ." Abel kembali ingin mengayuh sepedanya, meninggalkan Andy yang berdiri disampingnya.
"Abel.." Andy menahan stang sepeda Abel, agar Abel tidak dapat meninggalkan tempat.
__ADS_1
"Lepas Andy, beginilah Andy. Terserah elu mau bilang apa, mau bilang gue cewek matre. Dan mau elu bilang gue jual diri, terserah..yang pasti Tuhan tahu apa yang gue lakukan.." Abelia melepaskan tangan Andy di stang sepedanya dan mengayuh sepedanya.
"Abel..!" panggil Andy, tetapi Abelia tidak mengindahkannya. Hati Abelia sudah terlanju sakit mendengar tuduhan dari Andy.
"Orang kaya..orang kaya, kalau kak Damar orang kaya tidak perlu dia mati-matian pergi pagi pulang sore hari." ngedumel Abelia sambil mengayuh sepedanya.
"Enak saja dia menilai diriku begitu." karena ngedumel saat mengayuh sepedanya, sehingga dia tidak menyadari ada batu didepan dan Abelia menabrak batu tersebut. Sepeda yang dikendarainya oleng dan Abelia jatuh.
"Aduh...!" Abelia berteriak.
"Sakit..!" Abelia memegang perutnya yang terkena stang sepedanya.
"Neng Abel.." Pak Kadir yang melihat Abelia jatuh, langsung menghentikan mobilnya.
"Sakit pak.." Abelia meringis kesakitan, dan memegangi perutnya.
"Ayo Neng, bapak antar ke Puskesmas."
"Tolong.." pak Kadir meminta bantuan orang yang melintas untuk menggotong Abelia untuk naik ke mobil pickup nya.
"Kenapa dengan Neng Abel pak Kadir ?"
"Jatuh dari sepeda."
Sedangkan Abelia hanya dapat meringis dan memegang perutnya.
"Tolong bilang ke Jonathan, Abelia dibawa ke puskesmas ys ." ucap Pak Kadir kepada orang yang membantunya.
Orang yang diberikan pesan, langsung berlari. Karena jarak dari tempat kejadian kerumahnya Abelia tidak terlalu jauh.
Mobil pak Kadir melaju dengan sedang, karena dia tidak mau Abelia akan bertambah sakit.
Begitu tiba di puskesmas, pak Kadir meminta tolong satpam untuk membantunya mengangkat Abelia.
Abelia diletakkan di atas tempat tidur untuk di periksa, seorang Dokter jaga untung masih berada ditempat.
'Kenapa perutnya ?" tanya Dokter tersebut, karena Abelia terus memegang perutnya.
"Sakit Dokter, tadi kena ujung stang waktu jatuh." ucap Abelia.
"Dokter, sepertinya ada pendarahan.." ucap suster yang berada disampingnya Abelia.
"Anda lagi datang bulan ?" tanya Dokter tersebut, setelah memperhatikan baju Abelia ada noda darahnya.
"Tidak Dokter.."
"Apa ada yang luka saat anda jatuh..?" tanya Dokter untuk memastikan sumber darah tersebut.
"Tidak Dokter, perut saya yang sakit.." dahi Abelia sudah basah oleh keringat.
"Suste, Dokter Vita masih ada ?" tanya Dokter Bagas.
"Tadi katanya mau balik Dok ."
"Cari dia, ada pasien darurat. Cepat lari..!" perintah Dokter Bagas dengan cepat, sehingga suster tersebut berlari untuk melaksanakan perintah Dokter Bagas.
"Suster tolong ukur suhu dan tensi ya ." perintah Dokter Bagas kepada Suster yang masih ada bersamanya.
"Siap Dok.." dengan cepat suster tersebut melakukan perintah Dokter Bagas.
Tak lama kemudian, Dokter Vita sudah datang dengan suster yang menyusulnya.
"Ada apa Dokter ?" tanya Dokter Vita.
Dokter Vita langsung mengambil alih pengamanan dan membawa Abelia untuk di USG.
"Sakit Dokter.."
"Tenang ya, apa anda hamil ?" tanya Dokter Vita.
"Tidak Dokter.."
"Sering terjadi begini, sedang hamil dan tidak menyadarinya ." ucap Dokter Vita sambil menaruh gel di perut Abelia dan meletakkan alat diperut Abelia yang datar.
"Sepertinya yang disangkakan Dokter Bagas tadi, anda hamil ."
"Anda sudah menikah ?" Dokter Vita curiga Abelia hamil diluar nikah.
'Sudah Dokter ."
"Sudah berapa lama ?"
"Baru sebulan lewat Dokter.."
Dokter Vita menanyakan kapan terakhir kali Abelia datang bulan.
"Sepertinya sejak menikah belum ada dokter ." kata Abelia.
"Benar saya hamil ?" tanya Abel.
"Usia kehamilan anda ini tiga Minggu, ini masih sangat rawat. Jatuh dari mana tadi..?"
"Saya naik sepeda, dan tidak melihat ada batu. Dan jatuh jadinya." cerita Abelia.
"Betul-betul sangat ceroboh."
"Dokter ada keluarga pasien diluar ." ucap suster.
"Suruh masuk.." ucap Dokter Vita.
Jonathan langsung masuk begitu diperintahkan untuk masuk kedalam.
"Abel..!" teriak Jonathan begitu melihat Abel diranjang, dan ditangannya dipasangin infus.
'Bang.." Abel menangis di pelukan Jonathan.
"Kenapa bisa jatuh sih, seperti baru belajar naik sepeda saja." kata Jonathan.
"Anda suaminya, bagaimana anda begitu ceroboh. Mengizinkan istri anda naik sepeda kemana-kemana ." cerocos Dokter Vita tanpa dapat disela oleh Jonathan dan Abelia.
"Dokter.." Abelia berusaha menyela perkataan Dokter Vita.
Sedangkan Jonathan hanya ada dapat menganga lebar, begitu mendengar kehamilan Abelia.
"Hamil...!" ucap Jonathan dengan wajah yang bengong.
"Iya hamil, sekarang terjadi pendarahan. Akibat jatuh dari sepeda. Anda sebagai suami harus peka, dengan kehamilan istri anda.
'Dokter...Dok.." ujar Abelia untuk menghentikan Omelannya kepada Jonathan.
"Iya ada apa ?" Dokter Vita menoleh kearah Abel.
__ADS_1
"Dia bukan suami saya Dokter .." ucap Abel dengan menunjuk Jonathan.
"A...a..! kenapa tidak bilang ." ujar Dokter Vita.
'Dokter begitu melihat saya langsung tancap gas ngomel ." kata Jonathan.
"Saya sering mendapatkan pasien seperti ini, suami tidak perduli. Istrinya hamil apa tidak ." omel Dokter Vita.
"Benar adek saya hamil Dokter ?" tanya Jonathan untuk menyakinkan dirinya.
"Benar pak, oh ini adiknya ya ?" tanya Dokter Vita.
"Iya Dokter, ini abang saya ." jawab Abel.
"Suaminya mana ?" tanya Dokter Vita.
"Mana Damar Dek ?"
"Di kantor bang, Abel tidak bawa handphone tadi. Waktu jatuh tadi pak Kadir yang menolong. Dan dia menyuruh orang kabarin ke Abang." cerita Abelia.
"Saya tinggal dulu, nanti cairan infus ini habis baru boleh balik. Dan jika suaminya datang harap temui saya diruangan saya ya ." selesai berkata, Dokter Vita langsung keluar ruangan.
"Sial abang, kena omel Dokter itu ." gerutu Jonathan.
"He..he.." Abelia menertawai abangnya.
"Adek sih, kan Damar sudah larang untuk naik sepeda. Kenapa masih bandel, lihat nanti jika Damar kena omel Dokter itu. Kamu pasti diomelin Damar." kata Jonathan.
"Biar dia diomelin Dokter ." cengir Abelia.
"Ah akhirnya abang akan jadi om ya.." terlihat senyum dibibirnya.
"Ah kenapa harus sekarang sih .." gumannya.
"Apa Dek ?"
"Nggak pa-pa."
"Damar kemana sih, handphone tidak dapat dihubungi. Terpaksa abang hubungi Sony."
"Dia lagi sibuk bang, akhir bulan akan launching produk baru perusahaan. Mungkin hari ini dia akan kekantor pusat."
"Apa dia tidak pulang Dek?"
"Tidak pernah tidak pulang, cuma itu tadi sampai rumah sudah tengah malam."
"Adek tinggal dirumah kita saja ya, adek lagi hamil begini. Sendiri dirumah, abang khawatir." kata Damar.
"Nanti Abel bilang kepada kak Damar ." kata Abel.
Pintu terbuka dan Dokter Vita kembali masuk.
" Belum datang juga suaminya ?" tanya Dokter Vita.
"Belum Dokter ." jawab Abel.
"Sudah bisa pulang, nanti saat dirumah kurangi aktivitas yang melelahkan. Dan selama dua hari ini harap bed rest ya ."
"Apa Dokter, bed rest? apa saya harus melakukan semua kegiatan ditempat tidur ?"
"Tidak perlu semua, buang air kecil dan besar bisa dilakukan dikamar mandi. Mandi juga bisa, hanya kurangi bergerak kalau tidak perlu." kata Dokter Vita.
Seorang suster datang membawa bungkusan dan menyerahkannya kepada Dokter Vita.
"Ini obat vitamin untuk janin ya, habiskan. Jangan tidak diminum, jika sayang dengan baby nya ." ucap Dokter Vita.
"Baik Dokter." jawab Abelia.
Kemudian Dokter Vita meninggalkan ruangan, dan suster yang bersama Dokter Vita tadi membuka infus yang sudah habis.
"Sudah bisa pulang suster?" tanya Jonathan.
"Sudah pak, selamat beristirahat Bu ." ucap suster tersebut kepada Abelia.
"Terimakasih suster." Abelia.
****
Karena Damar tidak dapat dihubungi, Jonathan membawa Abelia kembali kerumahnya.
"Dek tidur ya, nanti selesai abang masak adek harus makan ya ." ucap Jonathan.
"Maaf ya bang, Abel sudah menyusahkan Abang ." ucap Abel dan matanya sudah memerah dan berair.
"Sudah jangan cengeng, nanti keponakan Abang jadi cengeng." kata Jonathan dan mengelus rambut adeknya.
"Istirahat, jangan pikirkan apa pun juga."
"Iya." Abel memejamkan matanya.
Jonathan keluar dan menutup pintu kamar adeknya dengan rapat.
"Kemana Damar ini, bininya hamil. Dia tidak bisa dihubungi, buatnya saja pinter.." jengkel Jonathan.
Drrt... drrtt..
Jonathan melihat handphonenya dan tertera nama Damar yang menghubunginya.
"He Damar, kemana saja kau, dihubungi tidak bisa. Buang saja handphone mu..!" semprot Jonathan.
"Maaf, handphone ku habis batre." kata Damar.
"Aku tidak bisa menghubungi handphone Abel ?"
"Dia tidak membawa handphone.' kata Jonathan.
"Alasan klise.."
"Bagaimana Abel, parah jatuh dari sepedanya ?" tanya Damar.
"Parah, kakinya luka. Sekarang dia lagi istirahat." ucap Jonathan .
"Kapok ku tipu kau Damar." tersenyum senang Jonathan.
"Aku sudah di jalan pulang, sore aku sampai." kata Damar dengan perasaan yang cemas.
"Hati-hati, Abel dirumah kubawa." kata Jonathan.
"Terimakasih bro, tolong jaga kan Abel ." kata Damar, sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
"Tidak kau suruh, aku juga akan jaga ." ucap Jonathan, tapi Damar tidak mendengar. Karena sambungan teleponnya sudah diputuskan oleh Damar.
__ADS_1
"main putus saja ." omel Damar.
Bersambung