
Terimakasih yang sudah mampir ke cerita recehan ini.
Happy reading.
***
Tak terasa kehamilan Abelia sudah memasuki usia tiga bulan, kedua orangtuanya Damar sudah dua kali datang menjenguk. Tapi nenek Damar tidak datang, karena kedua orangtuanya Damar tidak memberitahu berita kehamilan Abelia kepada neneknya Damar. Hal itu atas permintaan Damar sendiri. Karena Damar takut Neneknya mengacaukan perasaan Abelia, sehingga dapat menganggu emosinya.
Penjagaan Damar sudah sedikit berkurang, Abelia sudah bisa pergi keluar rumah jika ditemani Damar sendiri.
Jika Abel ingin mengunjungi kebun bunganya, Damar akan mengantarkan sendiri. Dan jika dia tidak bisa, maka Jonathan mendapatkan tugas untuk menjemput Abelia.
"Kakak kantor dulu ya, habiskan susu nya ." Damar mencium pucuk kepala Abelia dan mengusap-usap perut Abel yang sudah terlihat sedikit membuncit.
"Bosen kak minum susu, lihat badan Abel sudah melar begini. Baru dua bulan." Abel memperhatikan tubuhnya yang sudah terlihat perubahannya, dadanya dan pinggulnya membesar.
"Ini semua untuk kebaikan baby yang ada didalam sini."
"Ganti rasa vanilla ." ucap Abelia.
"ok, nanti kakak belikan rasa vanilla."
"Anak papa, jangan nakal ya. Baik-baik didalam sini ." ucap Damar sembari mendekatkan bibirnya ke perut Abelia.
"Mama dan papa kapan datang lagi kak ?"
"Baru pulang dua hari yang lalu." ucap Damar.
"Abel suka ngobrol dengan mama ."
"Sama kakak nggak suka ya..?" ujar Damar dan mencebikkan bibirnya.
"Dek, papa ngambek.." ujar Abel dan tertawa melihat Damar seperti anak kecil.
"Nggak ah, papa tidak ngambek.."
"Abel suka nanya tentang kehamilan pada mama, sama kak Damar mau nanya apa. Kakak tidak pernah hamil "
"Jika kakak hamil, akan menghebohkan jagat maya.." ucap Damar dengan tertawa lebar.
" Kakak berangkat dulu." tangan Damar mengusap rambut Abel sebelum pergi.
****
Saat ini Abel sedang berada dikebun bunganya, sebelum berangkat kekantor Damar mengantarkan Abelia kekebun bunganya.
"Neng Abel duduk ." ucap bi Marni.
"Sudah berapa bulan Neng ?" tanya bi Siti.
"Baru mau jalan tiga bulan bi ." jawab Abelia.
"Nggak ada ngidam yang aneh-aneh kan Neng ?" tanya bi Siti.
"Tidak bi, biasa saja." jawab Abel.
"Alhamdulillah Neng, tidak seperti anak saya dulu Neng. Ngidam nya sangat merepotkan suaminya." kata Bi Marni.
"Iya, mantu saya juga merepotkan anak saya dulu. Waktu hamil cucu saya yang pertama." timpal bi Santi ikut.
"Moga seterusnya begini, baby nggak minta yang aneh-aneh ." kata Abelia.
__ADS_1
"Bagus juga jika merepotkan bapaknya, biar bapak tidak hanya tahu membuatnya saja Neng ." ujar bi Marni.
Mendengar ucapan bi Marni, semua pekerja yang mendengar ucapan bi Marni tertawa ngekeh.
"Benar itu, biar para lelaki tahu betapa sulitnya mengandung.." ucap bi Ida.
"Hi....hi...." Abel tertawa juga mendengarkan celotehan para pekerja saat beristirahat.
"Abel...Abel...!" terdengar suara Rozi memanggil dengan suara yang nyaring.
"Nah Neng, amit-amit bilang Neng. Biar anak Neng tidak lembek seperti teman Neng itu ." ucap bi Marni dengan kocak.
Semua kembali tertawa, mendengar gurauan bi Marni.
"Kenapa tertawa, pasti nertawai gue kan ibu-ibu ini ." tuduh Rozi.
"Nggak Rozi, kami mana bahas Rozi ." kata Bi Ida, yang sudah mengenal Rozi sejak kecil. Karena bi Ida masih kerabat dekat Rozi.
"Bi Ida pasti ceritain Rozi ini ." ujar Rozi merajuk.
"Hih...Rozi jijay gue lihat elu mirip bayi, jangan-jangan nanti bayi Abel kalah dari elu merajuknya.." ucap Mai.
"Sudah..! ayo kita masuk kedalam, sini sudah mulai panas ." kata Abelia, yang melihat matahari sudah mulai diatas kepalanya.
"Kami masuk dulu ya bi ." kata Abel.
Dengan beriringan Abel dan kedua temannya masuk kedalam rumahnya.
" Nih Abel, rujak pesanan elu. Demi bumil gue ngantri Tujuh hari tujuh malam ." ucap Mai, dan meletakkan bungkusan yang dibawanya keatas meja.
"Terimakasih ya, gue cuci wajah dulu ya. Gerah sekali ." Abel masuk kedalam kamar untuk membersihkan wajahnya.
"Lebay deh elu Mai, tukang rujaknya aja masih sepi pembeli. Pembeli pertama kita berdua baru ." ucap Rozi dengan polosnya.
"Ambilkan piring didapur Zi, biar elu berguna ." kata Mai kepada Rozi kepada.
"Eleh...eleh..elu cari pasal dengan gue ya." gerutu Rozi sambil berjalan ke dapur untuk mengambil piring.
"Nah ini Rujak nya, makan ya. Jangan sampai nanti calon keponakan gue ileran." Mai meletakkan sepiring rujak ke hadapan Abel yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Sepi rumah elu Abel, bang ganteng mana ?" tanya Rozi.
"Bang Jo pergi ngantarkan pesanan " ucap Abel, dan tangannya terus mencomot rujak cingur yang ada dihadapannya.
"Enak rujaknya.." ujar Abel.
"Kalau enak habiskan lah, kami beli untuk mu bumil." kata Mai.
"Hanya satu yang kurang ." Abel menghentikan makannya.
'Apa yang kurang, sepertinya semua bahan lengkap. Cuma nanas yang tidak ada ." ucap Mai dan mengobrak-abrik rujak cingur tersebut.
"Kurang pedas..!" seru Abel.
"Kalau pedas nanti, perutmu sakit. Bisa-bisa kak Damar menguliti kami Abel." kata Rozi.
"Sedikit pedas, nggak pa-pa." kata Abel.
"Lebih aman begini, daripada ntar elu sakit perut ." kata Mai.
Sedang asyiknya mereka dengan rujak dihadapan mereka masing-masing, tiba-tiba pintu terbuka dan muncul seraut wajah yang ditanyakan Rozi tadi. Yaitu abangnya Jonathan.
__ADS_1
"Bang Jo, cepat baliknya ?" ucap Abelia.
"Lancar, mobilnya tidak ngadat ." kata Jonathan sambil jalan kedapur dan mengambil sebotol air mineral dan menegakkan nya tanpa sisa.
"Mobil baru bang, kalau mobil baru ngadat juga. Bisa demo kita ke showroom mobilnya." kata Abel.
"Bang Jo, makan rujak ini ." Rozi menawarkan rujaknya kepada Jonathan.
"Nggak ah, seperti orang hamil saja makan rujak ." tolaknya.
" Gue nggak hamil bang, Suka makan rujak.." ujar Rozi.
"Kamu itu manusia langka, tinggal satu-satunya di muka bumi ini ." kata Jonathan .
"Idih abang Jo..!" ujar Rozi.
Abel dan Mai hanya tertawa dan meneruskan menyuapkan potongan buah rujak ke mulutnya.
"Abang mau mandi dulu, oh ya Dek. Damar jemput nanti atau abang nganterin adek pulang?" tanya Jonathan.
"Katanya dia akan jemput sih bang, tapi nggak tahu juga. bisa saja dia tiba-tiba sibuk." kata Abelia.
"Kalau dia tidak bisa jemput, biar abang yang nganterin." ucap Jonathan dan kemudian masuk kedalam kamarnya.
"Sibuk apa laki elu ? dia kan boss. Anak buah nya banyak." kata Rozi.
"Kerjalah, emangnya seperti elu berdua. Bisanya keluyuran setiap hari, kaki kalian berdua panjang." kata Abelia.
"Elu juga sama, selama hamil saja tu kaki tidak panjang. Coba tadi pasti tu kaki sudah melanglang buana.." kata Rozi.
"Kami juga sibuk Nyah, cuma kami sempatkan nemani elu bumil.." kata Mai.
"Kalian emang teman gue dunia dan akhirat.." ucap Abelia sembari memeluk kedua temannya yang duduk disisinya.
"Hih... dunia dan akhirat, serem dengar kalimat elu Nyah..!" seru Mai.
"Gue nggak bisa lama-lama nih, emak gue tinggal nunggu hari mau brojolin adek gue. " kata Mai, bangkit dari duduknya dan membawa piring bekas rujak mereka ke dapur.
"Apa adek elu, cewek atau cowok ?" tanya Abelia.
"USG terakhir kali, adek gue pelit. Nggak mau nunjukin jenis kelaminnya." kata Mai.
"Moga aja adek elu cewek ." kata Rozi.
"Enak saja elu, kalau adek gue cewek. Bisa-bisa bapak dan emak gue, cetak anak terus." kata Mai.
"Cewek kan bagus, bisa membantu elu didapur .' ujar Abel.
"Iya Mai." Rozi mengiyakan ucapan Abelia.
"Bantu apa di dapur, dia masih baby. Gue mau cowok, tapi tidak seperti elu ya Rozi. Adek gue harus gagah.." kata Mai.
"Buset elu, gue lagi yang kena."
****
Dua orang wanita sedang menangis didepan televisi, mata mereka tidak lepas dari layar kaca yang menampilkan drama dari Turki. Tidak seperti orang lain yang tergila-gila dengan drama dari negeri ginseng, Abelia dan Bu Patmi kebalikannya. Mereka sampai menangis melihat drama yang sedang tayang di televisi.
"Bu Patmi kenapa sedih sekali kisah cinta mereka..!" ucap Abelia dan sesekali mengelap ingusnya yang mengalir bersamaan dengan air matanya. Dan tisu sudah menjadi korban dari air matanya.
"Iya Neng, kenapa jahat sekali neneknya. Apa dia tidak takut dosa telah mempermainkan perasaan orang-orang ." ucap bu Patmi, seperti Abelia. Bu Patmi juga menangis, dan didepan nya tisu sudah berserakan .
__ADS_1
Bersambung