Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 55 kantor polisi.


__ADS_3

Cerita hanya hasil imajinasi penulis.


Happy reading.


****


"Nenek ikut dengan Sony saja, disini tidak nyaman nek.." bujuk Damar kepada neneknya, yang tetap kekeuh tidak mau turun dari dalam ambulance.


"Tidak..! nenek bilang tidak tetap tidak..!" seru neneknya.


"Pak supir, ayo jalankan mobilnya. Kamu mau berdiri terus disitu, atau kau mau jalan kaki saja.." kata nenek kepada supir ambulance, dan menegur Damar yang berdiri didepan pintu mobil.


"Dasar nenek keras kepala.." ujar Damar, dan masuk kedalam mobil ambulance. Dan ambulance berjalan meninggalkan area rumah Damar.


Abelia memejamkan matanya, karena dia merasa kadang-kadang nyeri menyerang pergelangan tangannya. Dan disudut matanya telah ada air bening yang ingin mengalir membasahi pipinya.


"Mana yang sakit..?" tanya nenek yang melihat ada air bening disudut mata Abelia.


"Apa yang sakit sayank.." Damar mengelus pipi Abelia.


"Tangan ini sakit.." ucapnya lirih dan memegang tangannya yang sakit.


"Sabar, sebentar lagi kita sampai. Tadi sudah kakak ingatkan jangan keluar, kenapa keluar juga." ucap Damar.


"Maaf, Abel bosan dalam kamar saja." jawab Abel.


"Damar, kamu ini. Sudah istri mu lagi sakit, main ngomel lagi.." semprot nenek dan mendelikkan matanya menatap Damar.


"Damar jengkel nek, sudah Damar ingatkan. Jangan keluar sendirian jika tidak ada yang nemenin.." kata Damar.


"Dia kau kurung terus di dalam kamar, jelas bosanlah. Lagi pula kenapa dia tidak kau izinkan keluar kamar..?" tanya nenek.


"Damar takut hal ini terjadi, dan sekarang yang Damar takutkan terjadi. Bukan nenek yang melakukannya tetapi orang yang nenek bawa yang melakukannya.."


"Kau kira nenek sudah tidak waras Damar, tega menganiaya wanita hamil. Terlebih lagi itu cicit nenek.." ucap nenek dan mengangkat tongkatnya ingin memukul Damar.


"Nek, jangan pukul kak Damar. Nanti dia pingsan seperti Ningrum.." ingatkan Abelia saat dilihatnya nenek ingin mengangkat tongkatnya.


"Apa..! nenek membuat Ningrum pingsan..!?" begitu kagetnya Damar mendengar perkataan Abelia.


"Dia saja terlalu lemah, karena takut melihat darah. Nenek hanya memukulnya dengan pelan, seperti ini.." nenek mempraktekkan pukulannya terhadap Ningrum kepada Damar.


"Aduh..! nek.." Damar kaget mendapatkan pukulan dikeningnya, walaupun pelan tapi cukup terasa.


"Tidak sakit kan..?" tanya nenek .


"Jelas sakit nek.." Damar memegang keningnya yang menjadi korban tongkat neneknya.


"Tapi tidak bocor kan, Ningrum bocor karena wajahnya tidak asli. Wajahnya sudah diganti dengan plastik.." beritahu nenek dengan santainya.


"Ah nenek, dulu saja. puji-piji Ningrum. Sekarang mencela Ningrum.." ucap Damar.


"Diam kau Damar, Abel masih sakit..?" tanya nenek kepada Abelia.

__ADS_1


"Sedikit nek.."


****


Begitu tiba di puskesmas, Jonathan sudah berada disana. Karena tadi Damar memerintahkan Sony untuk menghubungi Jonathan.


"Apa yang terjadi, kenapa tangan Abel bisa begini..?" tanya Jonathan, karena Sony sudah menceritakan sedikit tentang keadaan Abelia.


"Tunggu dulu, aku akan menemani Abel kedalam." Damar mengikuti brankar yang membawa Abelia masuk kedalam ruangan Dokter Vita.


Nenek yang mengikuti Abelia hanya berdiri diluar ruangan Dokter, dan disisinya berdiri Jonathan dengan perasaan yang khawatir. Dan terlihat diwajahnya yang cemas.


"Jo, Abel tidak akan apa-apa. Jangan khawatir.." ucap Sony untuk menenangkan Jonathan.


"Aku sudah bilang kepada Damar, agar untuk sementara waktu. Abel tinggal bersamaku. Tapi Damar bilang dia bisa menjaga adekku.." tutur Jonathan.


"Tenanglah, tidak ada yang salah dan benar disini. Kita Doa kan saja, Abel dan baby nya baik-baik saja." kata Sony dan menepuk-nepuk pundak sahabatnya tersebut.


"Kau saudara Abel..?" tanya nenek, karena dia belum pernah melihat Jonathan. Waktu pesta Damar, nenek tidak terlalu ikut berbaur dengan para keluarga. Sehingga dia tidak mengenal Jonathan.


"Iya nek." jawab Jonathan singkat.


"Siapa yang melakukanya..?"


"Ningrum, dia cucu sahabat nenek.." kata nenek.


"Kenapa nenek membawanya, nenek kan tahu Abel sedang mengandung. dia tidak boleh stress.."


'Itu karena nenek belum bisa menerima Abel sebagai istri cucu nenek, mereka takut nenek akan mempersulit Abel..." kata Jonathan.


"Maafkan nenek, itu kesalahan nenek yang sangat memalukan." kata nenek dan menundukkan kepalanya.


"Sudah tidak usah diungkit-ungkit lagi, nenek juga sudah mengaku salah kan.." ucap Sony.


Saat menunggu kabar dari dalam ruangan Dokter, mama dan papanya Damar tiba. Begitu mendengar berita bahwa Abelia dibawa ke puskesmas, mama dan papanya Damar langsung meluncur ke puskesmas.


"Om...tante." Jonathan menyalami kedua orangtuanya Damar.


"Apa yang terjadi, kenapa Abel sampai dibawa kesini. Apa yang ibu lakukan..?" papa Damar bertanya kepada ibunya.


"Bukan perbuatan nenek om.." kata Sony.


"Kalau bukan ibu, siapa lagi..?"


"Gadis yang datang bersama nenek om.." beritahu Jonathan.


"Siapa yang ibu bawa kesini..?" tanya Wijaya dengan bernada keras terhadap ibunya, sedangkan nenek hanya menunduk. Yang biasanya nenek galak, sekarang nenek seperti kucing meringkuk karena kena marah.


"Mas, jangan galak-galak dengan ibu.." Ningsih menghampiri mertuanya dan duduk disampingnya.


"Ibu membawa Ningrum, untuk menghantarkan ibu kesini. Karena kalian tidak mau membawa ibu menjenguk cucu ibu Damar." tutur nenek dengan masih menundukkan kepalanya, kali ini dia benar-benar takluk tak berdaya dibawah tatapan mata anaknya.


"Kan sudah saya katakan Bu, jika tidak sibuk kita akan menjenguk Damar. Kenapa ibu tidak sabaran.."

__ADS_1


"Kalian tidak mau membawa ibu menjenguk Damar, karena Abel mengandung kan ? tega kalian menyembunyikan berita bahagia ini.." ucap nenek, dan memandang putranya dengan tatapan wajah sedih. Sekarang menjadi terbalik tadi Wijaya yang mengintrogasi ibunya, sekarang nenek membalikkan keadaan.


Papa Damar jadi diam, begitu mendengar perkataan ibunya.


"Kenapa kalian menyembunyikan berita kehamilan istri Damar, apa kalian mengira aku begitu kejamnya. Sehingga ingin menghilangkan keturunan Samudera.." kata nenek.


"Bukan begitu Bu, tapi karena belum saatnya berita itu diembuskan. Nanti kalau sudah tujuh bulan baru kita beritahukan kepada saudara.." alasan papa Damar.


obrolan mereka terhenti saat pintu ruangan dokter terbuka, dan muncul wajah Damar.


"Bagaimana Dam..?" Jonathan bergegas mendekati Damar.


"Bagaimana dengan Abel Dam..?" tanya mamanya, begitu juga dengan nenek dan papanya Damar bertanya kepada Damar.


"Alhamdulillah, kandungan Abel baik-baik saja. Tapi Abel diharuskan istirahat total diranjang." beritahu Damar.


"Alhamdulillah..!" seru mereka serentak, karena mendengar kabar yang dibawa Damar.


Setelah menyampaikan berita tersebut, Damar kembali kedalam ruangan Dokter.


Selagi menunggu Abel diizinkan untuk pulang, tiba-tiba tiga orang polisi datang menghampiri mereka.


"Permisi.." ucap polisi tersebut.


"Ya pak ada apa..?" tanya papa Damar.


"Kami ingin meminta keterangan, dari ibu Saidah Samudera. Terkait dengan adanya laporan penganiayaan terhadap saudari Ningrum Larasita.." kata polisi tersebut dan menunjukkan surat pemanggilan.


"Ibu, apa ibu menganiaya Ningrum..?" tanya papa kaget.


'Tidak, saya hanya memukul kepalanya sedikit.." jawab nenek.


"Kenapa ibu memukulnya ?" tanya Ningsih.


"Dia yang membuat Abelia kecelakaan, aku hanya membela cicitku.." jawab nenek.


"Silahkan ikut kami kekantor Bu ." kata polisi.


"Ayo.. siapa takut.." kata nenek.


Polisi menggiring nenek kekantor polisi.


"Jonathan, bilang kepada Damar. Kami kekantor polisi." usai memberikan pesan kepada Jonathan, papa dan mama Damar bergegas mengikuti polisi yang membawa nenek. Dan Sony juga mengikuti dari belakang.


"Sony, hubungi pengacara Perusahaan.." perintah papa kepada Sony.


"Mas, ibu tidak akan ditahan kan..?" tanya Ningsih kepada suaminya.


"Moga saja tidak.." jawab Wijaya Samudra.


"Ah..nenek, ada-ada saja." ucap Jonathan.


Next episode akhir.

__ADS_1


__ADS_2