Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 42 Terkuak.


__ADS_3

Apa yang ditutupi sewaktu-waktu akan diketahui juga.


****


Abelia masih memakan goreng Pisang kejunya sehingga tidak tersisa, Damar. hanya diberikan nya sepotong, itu juga sudah disunat oleh mulut Abel.


"Hoek..." tiba-tiba Abelia merasa mual dan ingin muntah.


Damar yang sedang berdiri didekat nakas berlari mendekati tempat tidur dimana Abelia berada.


"Kenapa ?"


Abelia ingin bangkit dari ranjang, dan tangannya menutupi mulutnya.


"Mau kemana ?" tanya Damar.


Abel menunjuk kekamar mandi, dan kakinya akan di jejakannya kelantai. Tetapi kakinya belum benar-benar berada dilantai, Abelia sudah tidak dapat menahan isi perutnya yang ingin keluar. Abel memuntahkan apa yang dimakannya tadi ditempat tidurnya.


"Abel..!" kaget Damar melihat Abel memuntahkan pisang gorengnya tadi.


Dengan sigap Damar memijat tengkuk Abel.


"Kenapa, apa pisang gorengnya beracun ?" tanya Damar.


"Masih mau muntah ?" tanya Damar.


Abel menggelengkan kepalanya, dan ingin turun dari ranjangnya.


Damar mengangkat Abel, dan mendudukkannya ke atas sofa. kemudian Damar mengambil air hangat dan handuk kecil.


"Kak biar Abel lap sendiri ." Abel ingin beranjak kedalam kamar mandi.


"Tidak usah kekamar mandi, biar disini saja.." Damar terus membersihkan noda muntahan yang ada di baju Abel.


Damar mengambil baju ganti Abelia dan ketika Damar ingin membuka bajunya, Abelia menolaknya.


"Biar Abel sendiri kak ." ucap Abel.


"Sudah biar kakak saja, tidak usah malu-malu. Kakak sudah hapal bentuk ini semua ." ujar Damar dengan meneruskan kegiatannya membuka baju Abelia .


"Bra juga buka ya, tidak bagus tidur mengunakan bra ." kata Damar.


Setelah membuka semuanya, hanya tersisa segi tiga bermuda saja. Damar memakaikan baju tidur yang baru.


"Minum ini ." Damar memberikan air hangat.


Damar kemudian mengganti sprei yang terkena noda muntahan Abelia.


Setelah selesai Damar mengangkat Abelia kembali ke tempat tidurnya, walaupun Abelia protes tetapi Damar tidak mengindahkannya.


" Nggak mau muntah lagi kan, apa perlu kita kerumah sakit ?" tanya Damar.


"Tidak kak, mungkin tadi karena kebanyakan makan pisang goreng.." kata Abelia.


"Makan tidak kira-kira, mungkin baby kita enek makan gorengan.." kata Damar dan merebahkan dirinya disisi Abelia.


"Sudah tidur, kalau mau muntah lagi bilang ya. Jangan coba-coba kekamar mandi sendiri ." kata Damar.


"Sayang pisang gorengnya keluar semua ." ucap Abelia membayangkan pisang goreng yang dimakannya tadi sudah keluar dari lambungnya dan sekarang sudah menjadi penghuni bak sampah.


"Masih mau pisang goreng, besok kita suruh Bu Patmi membuatnya.." Damar merengkuh Abelia untuk masuk kedalam pelukannya.


"Tidak ingin lagi sih, tapi sayang saja pisang goreng tadi. Kakak sudah keluar malam, Rozi juga sudah capek menggoreng nya."


"Demi keinginan baby kita ini, kakak tidak capek.." kecupan didaratkan Damar ke pucuk kepala Abelia.

__ADS_1


"Ayo tidur, sudah jam 12 malam. Baby nya juga sudah tidur.


****


Pagi menjelang, Damar sudah bersiap-siap untuk menuju ke kantor. Sedangkan Abelia masih bergulung dibawah selimut.


Damar hanya memberikan kecupan, dia tidak membangunkan Abelia saat dilihatnya Abelia masih pulas.


"Tidur ya sayank, love you." Damar melekatkan bibirnya keperut Abelia dan membuka pintu kamar dengan pelan, karena dia takut Abelia terganggu. Saat keluar dari dalam kamarnya, Damar melihat Susi sedang menyapu di tangga.


"Susi..!" tegur Damar dengan keras, sehingga Susi yang bekerja sambil bernyanyi menjadi kaget.


"Aw..pak boss, kalau ngomong itu jangan tiba-tiba. Bagaimana jika Susi kena serangan jantung dan pingsan tiba-tiba, Apa pak boss mau mengendong saya.." cerocos Susi tanpa jeds jeda, dan tangannya berada di dadanya untuk menghentikan jantungnya yang berdetak kencang.


"Enak saja kamu suruh saya mengendong dirimu, kalau kerja itu jangan sambil teriak-teriak..!" semprot Damar.


"Saya itu nyanyi pak boss, bukan teriak-teriak.." ucap Susi.


"Kamu jangan teriak-teriak disini, jauh dari kamar saya. Istri saya masih tidur, jangan sampai nanti anak saya stress dalam kandungan mendengar suara nyanyian yang kau katakan itu..." selesai berkata Damar meninggalkan Susi yang masih ngedumel dalam hati.


'Dasar pak boss, untung pak boss ganteng. Kalau tidak tadi sudah saya dorong dari tangga ini." gerutu Susi.


"Apa yang kau katakan, kau mengumpati saya ya ?" tiba-tiba Damar menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap kearah Susi.


"Nggak pak boss, mana berani saya.." Susi nyengir kuda, sehingga giginya terlihat.


"Tidak usah tunjukkan gigimu itu, dan kau. Jangan ku lihat lagi kau jalan-jalan disekitar pabrik, kau kerja disini bukan disana .!" seru Damar.


"Hih..pak boss galak, batal bapak jadi calon suami Susi. bisa makan hati aku menghadapinya, badan Susi yang montok ini jadi kurus nanti ." dalam benaknya Susi.


"Huh kenapa ngumpat lagi, nanti pak boss dengar. Sepertinya pak boss cenayang bisa bisa mengetahui isi pikiran orang ." ucap Susi.


Sedangkan Damar terus menuju ke meja makan untuk sarapan.


"Masih tidur Bu, nanti jam 8 jika belum bangun bangunkan Bu. Bawa sarapannya keatas.." perintah Damar.


"Neng Abel sakit ?"


"Tidak Bu, cuma tadi malam muntah-muntah kebanyakan makan pisang goreng. ." kata Damar.


"Ngidam pisang goreng Neng Abel ?"


"Iya Bu, tadi malam minta pisang goreng. Kebanyakan di makannya."


"Nanti jika Abel ingin berjalan-jalan keluar tolong suruh Susi mengikutinya Bu Patmi." kata Damar.


"Baik Den..."


Selesai sarapan Damar langsung berangkat kekantor nya.


****


"Hia..a..sudah pagi, kenapa kak Damar tidak bangunin sih.." ucap Abelia sambil melakukan perenggangan otot-ototnya yang kaku, karena tadi malam terus berada dalam dekapan Damar. Sehingga dia sulit untuk bergerak leluasa.


Ketika mendengar suara ketukan di pintu kamarnya, Abelia beranjak turun dari ranjang. Dan berjalan menuju ke pintu.


Abel membuka pintu kamarnya dan melihat Bu Patmi membawa nampan.


"Ibu, kenapa dibawa kesini ?" ucap Abelia dan membuka pintu kamarnya dengan lebar, agar Bu patmi dapat membawa sarapannya masuk kedalam.


"Den Damar tadi yang nyuruh Neng, bagaimana neng apa mau muntah lagi ?" tanya Bu Patmi, setelah meletakkan nampan yang dibawanya ke meja.


"Tidak lagi Bu ." ucap Abel.


"Nih neng sarapannya, kalau tidak selera. Biar ibu buat yang lain lagi ." kata Bu Patmi.

__ADS_1


"Tidak Bu, Abel emang ingin makan bubur ayam.." ucap Abel begitu melihat sarapan yang dibawa Bu Patmi adalah bubur ayam.


"Neng lagi ingin bubur ayam ya ?"


"Iya Bu, begitu bangun tadi ingin makan bubur ayam. Sepertinya ibu tahu isi pikiran Abel ya ...?" kata Abelia.


"Alhamdulillah neng, kalau sesuai dengan keinginan neng. Ibu keluar dulu ya." ucap Bu Patmi seraya keluar dari kamar Abelia.


"Iya Bu, terimakasih Bu bubur ayam nya ." kata Abelia.


"Sama-sama neng ." Jawab Bu Patmi dan kemudian keluar dari kamar Abelia.


"Enak ya dedek bubur ayam nya." Abel terus menyuapkan bubur ayam kedalam mulutnya.


"Hemh..keyang.."


****


Abel berjalan- jalan keluar rumah, karena dia merasakan bosan.


"Susi, kenapa kau terus mengikuti ku ?" Abelia merasa tidak leluasa karena Susi terus mengikuti dirinya, seperti dia akan hilang.


"Maaf neng, pak boss menyuruh saya mengikuti neng Abel ." jawab Susi dengan mensejajarkan langkah kakinya dengan Abelia.


"Apa-apaan sih kak Damar."


"Kita mau kemana neng ?" tanya Susi yang melihat Abelia berjalan kearah pabrik.


"Mau melabrak pak boss mu !" seru Abelia.


"Perlu dibantu neng ?" tanya Susi.


Abel menghentikan langkahnya, dan menoleh kearah Susi.


"Kau berani melawan pak boss mu ?"


"Hemhm..! berani neng, saya akan berada di belakang neng Abel ." kata Susi.


"Kalau berani mu hanya dibelakang, aku tidak butuh ." Abel kembali melanjutkan langkahnya.


Abelia berjalan hingga sampai didepan kantor Damar, didepan pintu kantor Abelia bertemu dengan Chintia sekretaris Damar.


"Mbak Chintia, kak Damar ada ?" tanya Abelia.


"Ada, masuk saja. Mbak tidak bisa antar ya, mau nganterin ini ." Abel melihat tangan Chintia penuh dengan berkas.


"iya mbak, nggak pa-pa. Tuh ada bodyguard ngikut dari tadi.." bibir Abel ngerucut menunjuk kearah Susi yang berada tak jauh dari dirinya.


Sedangkan diruangan Damar, Damar sedang bersama Sony sedang membahas produksi parfum yang sangat disukai khalayak ramai.


"Sepertinya kehamilan istrimu, membawa berkah ." kata Sony.


"He..he.." Damar tertawa senang.


"Tidak sia-sia kau dulu bekerja sama dengan Jonathan, untuk menipu Abel. Agar dia mau menikah dengan dirimu ." ucap Sony sambil tertawa.


"Diam Sony..! jangan kau ungkit hal itu, jangan sampai Abel mendengar itu semua.." kata Damar.


"Tapi Abel sudah mendengar itu semua...!" terdengar suara dari balik pintu yang terbuka sedikit.


Pintu terbuka lebar, dan muncullah Abel dengan raut wajah yang sangat kecewa mendengar pembicaraan antara Damar dan Sony. Air mata Abelia sudah membasahi pipinya.


Terimakasih sudah mampir dan memberikan like 🥰


__ADS_1


__ADS_2