Love The Flower Girl

Love The Flower Girl
Bab 46 Sedikit mencair Lanjut lagi dengan cerita Abelia dan Damar gues


__ADS_3

Kedatangan Rozi dan Mai sangat diharapkan Damar, dia mengharapkan kedua temannya dapat mencairkan suhu kemarahan Abelia.


"Lama sekali mereka datang.." leher Damar sesekali panjang melihat kearah jalan didepan rumahnya.


"Sabar adik ipar.." Jonathan menepuk-nepuk pundak Damar.


"Sabar kau bilang, sudah hampir 4 jam aku tidak mengelus-elus perut istriku ." kata Damar kepada Jonathan.


"Salah sendiri, kenapa bahas masalah yang tidak perlu diungkit-ungkit lagi.." ujar Jonathan sembari menyeruput es teh yang baru saja diantarkan Bu Patmi.


Sedangkan Sony duduk dengan terkantuk-kantuk dikursi nya, apa lagi tiba-tiba angin sepoi-sepoi datang membuat Sony menjadi mengantuk.


"Dam, tu cewek kenapa berdiri didepan tenda adek ku..?" tanya Jonathan.


"Dia penghianat, aku suruh dia mengikuti Abel untuk menjaganya.Dan sekarang dia di angkat Abel menjadi bodyguard nya, membuat aku tidak bisa mendekati Abel.."


"He...he... senjata makan tuan.." Jonathan menertawai nasib Damar.


"Tawa saja, kau juga kena boikot adekmu ." balas Damar.


Pandangan Jonathan dan Damar teralihkan kesuara yang keluar dari mulutnya Sony.


"Buset ini orang, kita sibuk memikirkan Abel. Dia malah asyik-asyiknya tidur.." kata Jonathan.


"Dia biang Keladi ini semua, dia yang santai dan ngorok.." ucap Damar juga, dan memandang Sony yang sedang tidur dan mulutnya yang mangap.


****


Damar melihat Mai dan Rozi datang dengan mengendarai sepeda motor, Mai menghentikan sepeda motor dan kemudian mereka berdua berjalan mendekati Damar dan Jonathan.


"Apa yang terjadi bang Jo, mana Abel ?" tanya Mai.


"Tuh.." tunjuk Jonathan.


"Dalam tenda .?" tanya Rozi.


"Iya ." jawab Damar singkat.


"Kenapa dia dirikan tenda, apa dia ngidam camping ?" tanya Mai.


"Ngambek dia.." jawab Jonathan.


"Ngambek kenapa ?" tanya Rozi.


"Panjang ceritanya, kalian tanyakan saja kepadanya." kata Jonathan


Mai dan Rozi mendekati tenda Abelia, Susi yang terkantuk-kantuk didepan tenda terjaga setelah Rozi melempar Susi dengan kacang yang ada di dalam kantong bajunya.


"Heit.. siapa nih..emang Susi monyet..!" seru Susi jengkel.


"Minggir lu, gue mau ketemu Abel ." kata Rozi.


"Awas menyingkir.." ucap Mai juga.


"Langkahi mayat ku dulu ." kata Susi dan tangannya bersedekap didadanya.

__ADS_1


"Elu mau mati ?" ujar Mai kepada Susi yang berdiri dengan sigap didepan tenda.


"Enggak sih, itu dialog dalam film-film.." kata Susi.


"Ah... tidak usah gaya elu, Abel...wow Abel...!" teriak Rozi dengan keras.


"Hus...! jangan teriak-teriak, berisik tahu. Nanti neng Abel marah.." ucap Susi.


"Bodo..! Abel..Abel. Kami datang nih.." nimpali Mai.


Terdengar suara pergerakan dari dalam tenda, dan pintu tenda terbuka dan muncul seraut wajah yang baru bangun tidur.


"Wow...! Abel, apa yang kau lakukan. Kenapa camping tidak ngajakin kita-kita.." kata Rozi, dan mendekat tendanya Abel dan mendorong Susi yang berdiri menjaganya.


"Ngapain kalian datang..?" tanya Abelia, dan matanya melirik kedua laki-laki yang duduk tidak jauh dari depan tandanya.


"Tuh..bang Jo nelpon, apa yang elu lakukan. Dirikan tenda segala ?" tanya Mai.


"Masuk dulu.." Abelia membuka pintu tendanya lebar-lebar.


Mai dan Rozi masuk kedalam.


"Buset dah..! keren tenda elu, ada kasur dan bantal juga.." kata Rozi dan merebahkan dirinya di kasur Abel.


"Susi, bilang ke Bu Patmi. Buatkan cemilan dan minum untuk tamu Abel, dan kamu bisa istirahat.


"Siap neng.." kemudian Susi beranjak dari tempatnya berada.


"Mau sampai kapan elu di sini Nyah..?" tanya Mai dan mata Mai mengitari pandangan matanya dalam tenda Abel.


"Apa yang terjadi dengan elu dan kak Damar...?" tanya Mai.


"Sebel dengan mereka berdua.." ujar Abel.


"Mereka berdua, maksud elu. bang Jo juga..?" tanya Rozi.


"Iya.." jawab singkat Abel.


"Kenapa elu marah kepada mereka berdua..?" tanya Mai.


"Mereka.." perkataan Abelia terhenti, saat Bu Patmi membawakan minuman dan cemilan yang di minta Abel.


"Terimakasih Bu ." ucap Abelia dan menutup tendanya kembali, tetapi sebelum dia menutup pintu tendanya Abelia mencebikkan bibirnya kearah Abangnya dan Damar.


melihat Abelia mencebikkan bibirnya kearah mereka, Damar dan Jonathan tertawa geli. Melihat kelakuan Abelia seperti anak kecil ngambek nya.


"Lihat lucunya Abel Jo, membuat ku tidak bisa marah melihat dia begitu ." ujar Damar.


"Kau itu, bucin dengan anak kecil.." Jonathan menonjok lengan Damar.


"Abel bukan anak kecil.." ucap Damar.


"Bucin kau kepada Abel sudah lama, kau aja sok nolak Abel dulu saat dia nembak kau. Jika dulu kau terima, mungkin hal ini tidak pernah terjadi." kata Jonathan.


"Dulu aku belum tahu, seperti apa takdiku. Kau tahu bagaimana nenekku ngambil peran dalam kisah asmara ku." cerita Damar.

__ADS_1


"Sekarang kenapa kau berani menentang nenekmu ?" tanya Damar.


"Kedua orangtuaku mendukung segala keputusan soal asmara ku, makanya aku berani menikah dengan Abel.." tutur Damar.


"Apa sekarang nenekmu sudah tidak mengatur hidup mu lagi ?" Jonathan menoleh kearah Damar.


"Semalam papa nelpon, nenek katanya kurang sehat. Moga saja nenek sudah menerima semua keputusan ku." ucap Damar.


*****


Setelah selesai menceritakan semua penyebab dirinya marah.


"Apa tidak marah, jika posisi kalian seperti gue. Di tipu dan di bohongin mentah-mentah.." kata Abel.


"Sedikit marah, tapi lebih banyak senangnya.." kata Mai sembari tersenyum lebar.


"Bener, kalau gue yang mengalami Abel. Gue akan jingkrak-jingkrak.." Rozi juga tersenyum .


"Kalian berdua sudah tidak waras..!" gerutu Abel.


"Nyah..! untuk mendapatkan diri elu, kak Damar sampai membuat skenario begitu. Betapa cintanya kak Damar dengan elu, kenapa elu harus marah..?" kata Mai.


"Iya Abel, seharusnya elu itu senang. Ada cowok yang melakukan segalanya untuk menikah dengan diri elu ya, kenapa elu mesti marah. Sampai tinggal didalam tenda.." nimpali Rozi.


"Elu nggak takut, nanti malam elu tidur sendirian disini. elu lagi hamil, katanya setan suka nganggu orang hamil.." Mai menakut-nakuti Abelia agar mau masuk kedalam rumahnya.


"Hih.. kalian jahat, bukan nya membantu gue. Malah membuat gue takut.." kata Abel.


"Sudah ya Abel, jangan ngambek lagi. Kasihan tuh baby, dibawa tidur diluar." bujuk Rozi.


"Baby gue suka disini.." kata Abel sembari mengelus-elus perutnya.


"Dari mana elu tahu, baby elu suka disini ?" tanya Mai.


"Dia anteng saja didalam sini, sepertinya baby gue suka melihat gue marah dengan bapaknya ." kata Abel seraya tertawa.


"Huh baby elu, masih dalam perut juga sudah tahu mendukung siapa ya ." kata Rozi.


"Jelas lah, gue emaknya..." Jawab Abel bangga.


"Kalau saran gue dengerin tuh, cerita kak Damar. Kenapa dia merencanakan itu semua.." kata Mai.


"Mungkin dia mau balas dendam kepada gue, karena telah berani nembak dirinya." kata Abelia.


"Tidak mungkin Abel.." kata Rozi.


"Mungkin saja, coba untuk apa dia nikahi gue. Kalau dia tak pernah cinta.." kata Abel.


"Tidak mungkin dia tidak cinta dengan elu.." kata Mai.


"Dia tidak pernah mengucapkan kata cinta, dia hanya mau nidurin gue.." kata Abel dengan suara yang sedih.


"Abel.." Mai memeluk Abel yang sedang bersedih.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2