
Cerita hanya hasil imajinasi penulis, tidak ada hubungannya dengan tempat dan nama seseorang.
****
Sejak kedatangan nenek tadi pagi, Damar terus memantau pergerakan Abelia. Kalau tidak penting sekali Damar tidak mengizinkan Abelia untuk keluar dari dalam kamarnya.
"Kak, bosan didalam kamar terus. Abel ingin jalan-jalan di taman.." Abelia ngedumel sembari jalan mondar-mandir didepan sofa, dan Damar sedang melakukan kesibukannya didepan laptop di sofa tersebut.
"Panas begini, kenapa mau ketaman. Hitam nanti anak kita ." kata Damar yang masih fokus dengan pekerjaannya.
"Hitam ? bagaimana bisa hitam kak, baby kita masih betah didalam sini. Yang hitam nanti mama nya ini, bukan babynya.." kata Abelia, dan mencebikkan bibirnya.
"Tahunya, kenapa mau keluar. Nanti tunggu kakak selesaikan dulu kerjaan ini ya, kakak akan membawa Abel jalan-jalan. Tapi agak sorean, kita ketempat Jonathan.." kata Damar.
"Hore...!" Abelia berlari memeluk leher Damar, dan berteriak gembira. Karena Mendengar perkataan Damar akan membawanya menjenguk abangnya.
"Hati-hati sayang, jangan lari-lari.." Damar kaget mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Abelia.
"Hups .. sorry kak.." Abelia mengurai pelukannya, dan mengecup pipi Damar. Ketika ingin beranjak dari sofa, Damar menahannya.
"Heit..tunggu dulu, tanggung jawab ini. Pipi yang sebelah ngambek ini, karena tidak mendapatkan kecupan.." Damar memberikan pipinya untuk diberikan kecupan.
"Cup..cup.cup.." Abelia menangkup wajah Damar dan mendaratkan bibirnya dikedua pipi dan bibir Damar.
Damar menahan bibir Abelia yang mengecup bibirnya, Damar memegang tengkuk Abelia dan mengecap bibirnya lama. Dan lidah Damar menyelusup ke rongga mulut Abelia dan memeriksa gigi Abelia dengan lidahnya.
Setelah merasa puas melampiaskan Explorer di rongga mulut Abelia, Damar mengurai tautan bibirnya.
"Sini saja.." Damar merengkuh badan Abelia agar tetap berada disisinya.
"Kak Damar sudah selesai..?"
"Belum." Damar melanjutkan kerjaannya.
"Nanti Abel ganggu.." ucap Abelia.
"Kakak lebih terganggu melihat Abelia, berada didepan kakak berjalan mondar-mandir terlihat sangat menggairahkan.." kata Damar, dan mengacak-acak rambut Abelia.
Abel tertawa mendengar ucapan Damar, dan tangannya bergelayut manja dilengan Damar.
"Jangan nakal ya, biar cepat selesai kerjaan kakak ini.." ucap Damar, karena dia curiga Abelia akan menggodanya seperti diranjang.
"Iya.." Abelia nyengir.
****
Setelah selesai, Damar menempati janjinya. Damar membawa Abelia untuk menjenguk Jonathan.
Begitu mobil berhenti didepan rumahnya, Abelia bergegas untuk turun.
"Sayang, pelan-pelan. Kenapa terburu-buru.." ingatkan Damar.
"Maaf, sudah kangen rumah.." alasan Abelia.
"Bang...Jo..bang Jo..! adek tersayang datang..!" teriak Abelia dari depan gerbang.
Pintu rumahnya terbuka, dan muncul wajah bantal Damar.
"Dek, kenapa tidak buka sendiri sih? adek juga punya kuncinya.." ucap Jonathan.
"Males, Abel ingin bang Jo yang bukakan pintu. Ini keinginan anak Abel Lo." kata Abelia.
"Dasar manja, bagaimana istrimu itu Dam ? kenapa tambah kolokan." kata Jonathan kepada Damar.
"Adekmu kan.." balas Damar.
"Cepat bang buka pintu, Abel kangen dengan bantal dan tempat tidur Abel." ucap Abelia dengan tidak sabaran.
"Dek, apa Damar tidak mengizinkan mu tidur. Sehingga adek rindu kamar ?"
"Kau kira aku menyiksa istriku , baby kami rindu dengan kamar mamanya ." kata Damar, sedangkan Abelia. Begitu pintu pagar terbuka sudah melesat masuk .
Begitu tiba didalam kamarnya, Abelia langsung memeluk gulingnya dan menciuminya.
"Ah...gue rindu harum guling dan bantal gue ini, apa gue bawa saja pulang ya.." Abelia berinisiatif untuk membawa dua benda kesayangannya tersebut.
__ADS_1
Damar masuk dan melihat Abelia berbaring dan guling berada dalam pelukannya.
"Sayang, keluar dulu. Jonathan ada beli martabak tadi, masih hangat ." kata Damar.
"Masih hangat, bang Jo tadi baru bangun tidur ?"
"Baru dihangatkan Jonathan.." kata Damar lagi.
Abel bangkit dan keluar dari dalam kamarnya.
"Bang, martabaknya masih bagus. Nanti anak Abel keracunan.." ucap Abel, dan tangannya sudah mencomot sepotong martabak.
"Yailah Dek, apa adek kira Abang tega ngasih makanan sisa kemarin kepada calon keponakan Abang.." ucap Jonathan.
"He..he... enak bang.."
"Pelan-pelan sayang makannya, masih banyak dalam microwave.." ingatkan Damar.
'Enak, Abel sudah lama ingin makan ini." kata Abelia dan mengambil sepotong lagi.
"Kenapa tidak bilang, kalau ingin makan ini ." kata Damar.
"Tempat jual ini, hanya Abel dan Bing Jo yang tahu. Kak Damar tidak tahu.." kata Abelia.
"Tidak tahu juga, kakak akan usahakan untuk mencarinya. Sekali lagi jika ingin apa-apa bilang, nanti baby kita ileran jika tidak terpenuhi.." kata Damar dengan suara yang tegas.
"Iya kak.." jawab Abel dengan suara pelan, Karena dia tahu Damar sedikit marah dengannya.
"Sudahlah, kita makan lagi. Dek jika ingin apapun juga bilang kakak juga ya, kakak akan bantu beli.Oke..."
"Oke..boss.." senyuman mengembang bibir Abelia, sehingga Damar juga ikut tersenyum.
"Kak, ayo kita pulang. Nanti nenek marah, karena kita tidak ada dirumah." kata Abelia.
"Nenek disini..?" tanya Jonathan.
"Iya, semalam dia datang." jawab Damar.
"Apa dia masih tidak suka dengan Abel, apalagi Abel lagi mengandung begitu..?" tanya Jonathan.
"Sepertinya sudah sedikit melunak, moga saja.." kata Damar.
"Aku ada bersama Abel, dia tidak akan kubiarkan sendiri." kata Damar.
"Sampai kapan kau bisa bersamanya Dam, apa kau tidak kekantor. Begini saja, selama nenek di rumahmu biarkan Abel tinggal disini. Disini lebih aman."
"Apa..!" Abel kaget mendengar usul Jonathan.
"Tidak..! aku tidak akan pisah dengan istri ku, aku akan jaga Abel. Kau jangan khawatir.."
"Abel tidak mau pisah dengan kak Damar bang.." kata Abelia.
"Hanya selama nenek disini Dek, Abang khawatir dengan keberadaan nenek disini.."
"Tidak akan ada apa-apa bang, jangan khawatir ya.." kata Abelia kepada abangnya.
"Sampai kapan nenek mu berada disini Dam..?" tanya Jonathan.
"Mama dan papa, besok akan menjemputnya."
"Dia datang bukan dengan supir..?" tanya Jonathan.
"Dia datang dengan cucu sahabatnya.." jawab Damar.
"Iya kak, nenek datang dengan membawa calon madu Abel kak.." beritahu Abel kepada Jonathan.
"Calon madu..! ada apa ini Damar, apa kau berniat menikah lagi..?" tanya Jonathan suara yang keras.
"Abel..! ayolah Jo, kau percaya aku ingin menikah lagi. Setelah setelah drama yang kita lakukan untuk menjadikan adek mu sebagai istriku.." kata Damar.
"Mana tahu kau tidak cukup satu.." ujar Jonathan.
"Satu itu saja tidak habis.."
"Emang Abel makanan.." bibir Abel mencebik.
__ADS_1
"Dek, jangan bilang perempuan itu sebagai calon madu. Ucapan itu bisa sebagai doa.." kata Jonathan kepada Abelia.
"Amit....amit.." ucap Abelia.
"Apa Abel suka dimadu?" goda Damar.
"Awas ya, Abel pangkas sampai habis itu kak Damar.." ucap Abelia spontan.
"Ha..ha..sip Dek.." Jonathan memberikan dua jempol kepada Abelia.
****
Setelah dua hari tidak masuk kekantor, hari ini dengan terpaksa Damar berangkat kekantor. Karena Sony memberikan kabar ada masalah dengan produk mereka yang baru.
"Abel, jangan keluar ya. Kakak hanya sebentar dikantor, sebentar lagi mama dan papa sampai." ucap Damar yang bersiap-siap untuk berangkat.
"Iya kak, tenang saja. Jangan khawatir, Abel bisa jaga diri."
"Ingat, jangan nakal." ingatkan Damar lagi
"Emang Abel anak kecil.." jawab Abelia.
"Bukan anak kecil, tetapi kadang-kadang Abel seperti anak kecil tidak bisa dibilangin.." kata Damar.
"Hati-hati.." ulang Damar lagi.
"Iya, cepat berangkat sana.." Abelia mendorong Damar untuk keluar dari kamar.
Damar mencium kening dan bibir Abelia sekilas, kemudian baru berangkat kekantor.
"Love you.." teriak Abelia.
"Love you too .." balas Damar.
*****
Setelah setengah jam berada didalam kamarnya, Abelia mulai terserang rasa bosan.
"Bosan terus berada disini, keluar sebentar tidak apa-apa ya. Sepertinya tadi nenek dan Ningrum pergi.."
Abelia keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju taman.
"Ah segar...!" Abel merentangkan tangannya, dan menghirup udara dalam-dalam dan kemudian menghembuskan kembali.
"Siapa ini ? oh orang yang telah merebut calon suamiku ." terdengar suara dari belakang Abelia.
Abelia menoleh kebelakang, dan melihat Ningrum dibelakangnya.
"Kenapa dia dirumah, tadi dia pergi.." dalam benaknya Abelia.
Abelia tidak menanggapi perkataan Ningrum, Abelia berjalan melewati Ningrum untuk kembali kedalam kamarnya. Tetapi ketika melewati Ningrum, kaki Ningrum dengan sengaja menjegal kaki Abel, Sehingga Abelia jatuh tertelungkup. Tetapi dengan cepat Abelia menahan tangannya ketanah sehingga perutnya tidak terbentur keras.
"Cicitku....!" terdengar suara keras berteriak.
"Aduh...!" Abel meringis, menahan sakit pada tangannya.
"Mana yang sakit..?" terlihat panik diwajah nenek.
"Perut Abelia sakit nek.." ucap Abel lirih dengan menahan sakit.
"Apa yang kau lakukan Ningrum..!" teriak nenek dengan marah kepada Ningrum, dan nenek jongkok memegang Abelia.
"Tidak ada nek.." jawab Ningrum santai.
Nenek bangkit dari jongkok, dan mendekati Ningrum.
"Aku tidak akan kasih ampun kepada orang yang telah menyakiti cicitku.." mata nenek menatap Ningrum dengan seram.
Tiba-tiba tongkat nenek melayang menghantam kepala Ningrum.
"Nenek.." Ningrum memegang kepalanya, begitu melihat darah mengucur dari kepalanya. Ningrum langsung pingsan seketika.
Next..
Apa yang terjadi dengan Abelia, begitu juga dengan nenek ?
__ADS_1
Tunggu di episode akhir ya
Bersambung