
Katakan apa yang harus kau katakan! Jangan pendam segala ragu mu. Tetap berjalan ataukah terhenti.
Pelangi dengan warnanya. Awan putih yang menggumpal. Burung - burung terbang mencari mangsa. Pohon - pohon melambai menari - nari dengan tiupan angin Terang tertutup gelap awan hitam. Lukisan ini hanya pengantar untuk membawa segala keluh dan payah ketahanan rasa ini.
Andaikan tangan ini bisa meraih mu. Akan ku sentuh lembut rambut lurus nan kaku mu. Andaikan jari - jari ini bisa bermain-main di pusaran jiwamu. Akan ku gelitik rindu mu agar kau mampu mengungkapkan keinginan mu untuk selalu mendekap mu.
Kamu kembali hadir dalam mimpi itu. Membuat gatal jantung ku yang tidak sanggup aku usap pelan. Kamu datang dengan rayuan menggelitik rasaku. Tertawa dalam degup jiwa yang meronta kencang. Bagaikan kuda yang terlepas dari tali kendalinya. Aku jadi bukan diri ku lagi. Aku jadi pribadi yang lain. Ketika aku tersadar, sudah jatuh dalam jurang kenistaan.
__ADS_1
Gelora yang tidak berkesudahan. Tolong hangatkan keresahan ini dalam kecupan hangat rayuan mu yang menggugah sepi. Hantarkan selimut cinta agar kita bersembadi dalam raga rindu ini. Katakan apa yang ingin kau katakan. Dalam nafasmu pelan.
Air mengalir mengikuti arus. Jatuh ke jurang terjal gemericik suaranya nyaring terdengar. Tidurlah dan pejamkan matamu dalam keseharian mengais rejeki. Biarkan aku terjaga dalam menggenggam jiwamu. Agar hatimu tidak menjauh lari dari rasa rindu itu. Dan kembalilah bangun ketika aku mulai tertidur karena menjagamu. Selalu semangat melangkah kan kakimu dalam tujuan duniawi. Seraya hidup seribu tahun lagi.
Aku seperti tidak mempedulikan hidupku. Aku seperti Anai - Anai yang beterbangan menghabiskan waktu. Seolah dunia ku tiada berarti. Karena akan masih dalam pengabdian yang tidak berujung. Demi masa, demi semua dan Bersabarlah! Meraih hatiku karena rindu mu. Dan bersabarlah! Meraih tujuan mu dan tujuanku. Walaupun tidak ada titik temu. Tapi rasaku dan rasamu akan terukir dalam suatu historis yang akan di abadikan di layar lebar nanti. Percayalah itu!
Andini menatap Erlangga yang sudah tertidur pulas di samping nya. Di atas ranjang yang empuk itulah mereka masih dalam satu ikatan cinta sebuah pernikahan suci. Akankah Andini menodai semuanya dengan memikirkan laki - laki lain yang sudah tertambat dalam hatinya? Sedangkan Erlangga yang begitu sangat polos mempercayai Andini sebagai wanita yang lurus dan setia.
Di raihnya ponsel yang tidak jauh dari Andini. Andini mulai menuliskan sesuatu di nomer Malik. Andini ingin mengetahui kabar terkini dari Malik. Di lihatnya status Malik yang terlihat galau karena menanti kabar berita Andini. Kerinduan yang terpendam dan takut menghubungi.
__ADS_1
"Apakah kamu baik- baik saja Malik?", ketik Andini di ponsel nya lalu di kirimkan tulisan itu di nomer Malik.
Belum ada balasan karena apa yang di tulis Andini belum terbaca oleh Malik. Terlihat di nomer Malik, terakhir dilihat jam 01.20 Wib sedangkan sekarang waktu menunjukkan pukul 03.15 wib. Mungkin saja, Malik sama sudah tertidur dan belum terjaga.
Kembali Andini mengetikkan sesuatu.
" Malik! Apakah kamu merindukan aku?" tulis Andini dan kembali apa yang di tulisnya di kirimkan ke nomer Malik.
Kembali belum ada balasan dari chat Andini. Andini dalam kegelisahan yang tak menentu. Beberapa menimang ponselnya karena menunggu balasan dari chat nya tetapi Malik tidak sedang Online kali ini.
__ADS_1
Andini mulai memejamkan matanya. Dipaksa lah matanya supaya beristirahat sejenak dan melupakan kegalauan nya. Dunia fantasinya mulai bermain-main di otaknya. Andini mulai mengkhayal kan sosok Malik. Sampai akhirnya otaknya lelah dan terlelap dalam tidurnya.