Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu

Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu
SEMANGAT MALIK


__ADS_3

Terasa miris di hati. Aku terdiam di sini tanpa bisa menggapai mimpi. Bayanganmu selalu menggangguku. Bantulah aku menghapus jejak rinduku padamu, agar tiada kurasakan lagi sepi yang menyiksaku.



Seorang pemuda yang duduk memandang ke puncak bukit dari atas villa. Tatapan mata nya tajam berusaha melukiskan gambaran dengan mata telanjang. Dia berusaha menuangkan segala yang dilihat nya kedalam kanvas yang ada di depannya. Saat ini, aktivitas nya yang padat diisi dengan melukiskan semua gambaran semesta yang bisa dijangkau nya. Ketika pemuda itu tidak sedang sibuk, pikiran dan hati nya masih saja terpaut dengan satu nama itu. Nama yang masih menghantui relung hatinya yang paling dalam. Mungkin saja, dia belum membuka hati nya pada wanita lain. Mungkin saja, dia terlalu mendamba kan sosok wanita itu. Mungkin saja, dia tidak mudah memalingkan hati nya pada yang lain selain wanita yang dicintainya itu. Mungkin saja, dia masih berharap bisa berjumpa dan menemui wanita itu suatu hari nanti.


Wajahnya sudah berbeda dengan yang dulu. Wajahnya kini sudah lain dari sebelumnya. Tetapi pribadinya masih tetap sama. Hanya satu kerapuhan jiwanya masih belum sembuh secara total. Dendam yang menggunung masih belum diletuskan. Iya, pemuda itu adalah Malik.


Di atas meja itu ada secangkir kopi hitam, beberapa bungkus rokok dan roti bakar. Pak Naga yang menemani tuan mudanya sangat memahami betul karakter dan apa yang sudah di alami oleh tuan muda nya tersebut. Setelah kejadian itu, Malik berubah menjadi pribadi yang berbeda. Di perusahaan ketika dia memimpin, Malik sangat dingin, arogan tapi tegas. Lain ketika sudah kembali di rumah, Malik menjadi sosok yang tidak banyak bicara, dingin dan tertutup. Senyum nya pun sudah jarang lagi bisa dilihat. Hanya ketika bersama mama nya lah, Malik menjadi pria yang manja yang masih ingin dibelai rambutnya oleh mama nya. Segala masalahnya masih diungkapkan kepada mama nya. Itulah Malik. Derita cintanya merubah ia menjadi pribadi yang berbeda. Wajahnya pun sudah berbeda dari yang sebelumnya. Mungkin saat ini terlihat semakin ganteng, tapi itu semua bukanlah wajah yang dulu pernah membuat Andini tergila-gila dengan nya.


" Pak Naga! Ada kabar terkini dari wanita itu?" tanya Malik kepada Pak Naga.


" Berita terakhir, wanita itu di bawa pulang oleh pria itu ke kediaman nya dari rumah sakit jiwa. Selanjutnya belum ada kabar lagi mengenai wanita itu." cerita Pak Naga dengan pelan.


" Jadi, dia sudah keluar dari rumah sakit jiwa?" tanya Malik yang tidak memerlukan jawaban dari Pak Naga.


" Betul bang!" jawab Pak Naga singkat yang akhirnya menjawab pertanyaan Malik yang seperti masih ragu.


" Aku belum sempat menjumpai nya. Baru dua bulan ini kondisi aku sudah pulih dan beraktivitas di perusahaan mama. Cukup lama juga aku melakukan operasi ini, di luar negeri." kata Malik sambil jauh memandang ke perbukitan dari atas villa.


" Pesan nyonya, Bang Malik tidak boleh berurusan lagi dengan wanita itu. Mama akan mengenalkan beberapa wanita untuk Bang Malik." kata Pak Naga pelan dan ragu-ragu.


" Soal penyelidikan ini, mama jangan sampai tahu. Mama hanya mengkhawatirkan aku saja. Mama tidak ingin melihat kejadian kemarin terulang lagi." ucap Malik.

__ADS_1


" Iya bang! Apakah Abang punya rencana lain untuk penyelidikan ini?" tanya Pak Naga penasaran.


" Tidak! Aku hanya ingin tahu keadaan wanita itu." jawab Malik sambil menyalakan batang rokoknya.


" Syukurlah! Abang tidak dendam dengan pria itu. Pria yang menganiaya, Abang saat itu." sahut Pak Naga.


"Menurut kamu, aku akan melakukan itu? Melakukan dendam dengan pria itu sampai tak bersisa nafasnya?" ujar Malik dengan wajah datar tapi emosi yang terpendam.


" Jangan lakukan itu, bang! Aku mohon! Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Abang mencari kebahagiaan yang lain saja tanpa terbayang- bayang masa lalu." nasihat Pak Naga.


" Tapi perasaan ku terhadap wanita itu masih bertengger di sini, pak! Dan ketika aku melihat perlakuan mantan suaminya itu, semakin membuat aku mendidih kepalaku. Rasanya akan aku remas-remas wajahnya. Dia begitu tega, menceraikan Andini, menikah dengan sahabat Andini, menganiaya Andini, dan memasukkan ke rumah sakit jiwa tanpa keluarga yang mendatangi nya." kata Malik sambil memegang letak jantungnya.


" Apakah aku hanya berdiam? Sedangkan aku mampu untuk membalas semuanya. Aku punya kekuatan,Pak Naga." tambah Malik sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.


Pak Naga menghela nafasnya. Dirinya tidak akan menyangka, kejadian satu tahun yang lalu akan menyisakan dendam kepada Malik.


" Bang Malik! Tapi apa manfaat nya dari dendam ini?" sahut Pak Naga.


Malik hanya menatap tajam ke arah Pak Naga.


" Kamu tidak akan paham, Pak Naga!" ujar Malik kasar.


Pak Naga kembali menghela nafasnya mendengar perkataan tuan mudanya.

__ADS_1


" Duduklah! Kamu ingin menjadi patung Budha? Sedari tadi cuma berdiri saja. Buatlah kopi kesukaan kamu, dan duduklah sambil merokok disini bersama ku. Biar otak kamu tidak menjadi tumpul!" ujar Malik mulai kasar.


" Ba...baiklah, Bang! Maaf saya sudah lancang!" sahut Pak Naga mulai menciut.


Selama ini memang Pak Naga sering memberi nasihat kepada Malik. Pesan mama Malik, Pak Naga bertugas mengawasi, mengarahkan semua tindakan yang akan dilakukan oleh Malik.


Pak Naga berjalan masuk meninggalkan Malik yang masih bermuka dingin. Membuat kopi lalu akan duduk lagi bersama tuan mudanya itu. Pak Naga terbilang sangat sabar mendampingi Malik dari proses operasi wajah nya di luar negeri sampai pemulihan segala luka bakar itu. Beruntunglah Malik masih bisa dipulihkan secara cepat. Mungkin saja tekat dan kemauan untuk pulih dan sembuh sangat besar. Mungkin juga ada dendam itu muncul ketika sudah pulih nanti. Ternyata memang benar adanya. Ada rencana- rencana yang akan dijalankan, Malik dengan kemarahan nya terhadap Erlangga. Hati nya masih tidak terima ketika mendengar informasi yang diterimanya, bahwa Andini di masukkan ke rumah sakit jiwa setelah diceraikan oleh Erlangga. Bahkan Erlangga menikahi sahabat dekat Andini di depan matanya.


" Andini! Tunggu lah aku! Aku akan membalas semua perlakuan Erlangga terhadap kamu." gumam Malik sambil menginjak puntung rokok nya dengan kakinya yang beralas itu.


Pak Naga mulai menghampiri Malik yang sedang duduk. Pak Naga pelan-pelan duduk dan menyalakan batang rokoknya. Ditatapnya tuan mudanya mulai diam dan fokus dengan alam di depannya. Terlihat Malik akhirnya berdiri lalu mulai duduk di depan kanvasnya. Tangannya mulai terampil menggoreskan gambaran yang sudah ditangkap oleh matanya. Lalu meneruskan gambar wanita itu disudut lukisan pemandangan alam.


" Wajah Andini kah?" batin Pak Naga.


" Cantik, anggun, polos, dengan aura yang kuat, tapi membuat hati pria semakin terluka dibuatnya karena banyak cinta yang tak terbalas." batin Pak Naga sambil bergidik.


" Siapapun yang bertemu dengan wanita ini akan terpesona, Pak Naga. Aku yakin di dalam rumah sakit itu, Andini akan tetap berusaha produktif dengan pemikiran nya. Dia tidak akan berpangku tangan akan situasi dan keadaannya. Dia tidak akan menyerah dengan perlakuan terhadap dirinya. Aku yakin, sudah berapa cerita novel yang akan dia karang selama di rumah sakit itu." kata Malik seolah tahu isi suara hati Pak Naga.


" Ha?" gumam Pak Naga.


" Apakah Non Andini suka menulis, bang?" tanya Pak Naga.


" Iya!" jawab Malik singkat sambil tersenyum.

__ADS_1


" Apa? Bang Malik tersenyum?" batin Pak Naga.


" Benar-benar Andini lah yang membuat semangat baru untuk, Abang." batin Pak Naga lagi.


__ADS_2