
Apa yang engkau sukai dari aku? Ketika asmara itu memenuhi otak dan hati kamu. Apakah tubuhku? Apakah wajahku? Apakah suaraku? Apakah kepribadian ku? Apakah kemanjaan ku? Ah, kamu tidak bisa menjawab semua itu dengan tegas dan jelas bukan? Semua yang ada di dalam diriku, kamu menyukainya. Baik dan buruk dari ku, semua kau puja. Itulah akhirnya yang engkau ucapkan dari mulutmu.
Cinta ini akan membutakan segalanya. Segala yang ku lakukan terlihat bodoh dan kekanak-kanakan. Aku seperti bukan diriku sendiri. Aku seperti di bodoh kan diri dan sikap yang tidak relevansi terhadap usiaku yang sudah cukup dewasa. Tetapi ketika aku jatuh cinta lagi, aku seperti berasa remaja dan anak baru Gedhe yang terbilang baru mengenal lawan jenis dan memiliki rasa jatuh cinta. Tiap malam, sore,siang dan pagi ketika terjaga hanya bayangan wajahnya yang ada di kepala ini. Padahal aku tahu, kamu sudah milik orang. Kamu bukan wanita single yang sepantasnya di kejar. Tapi cinta yang rumit ini tidak mengenal semua itu. Batasan itu akhirnya ku terjang dan tembok yang tinggi menjulang pun, ku runtuh kan dengan tekad dan keinginan untuk selalu mendekati dan melihat wajahmu. Bahkan sekarang, aku ingin memiliki kamu dengan merebut hatimu terlebih dahulu.
Di pagi itu, di dalam mobil Malik mulai menyetir mobil milik Erlangga. Di sampingnya ada Erlangga yang duduk sambil membuka ponsel nya. Di belakang, duduk dengan santai Andini dengan baju kerjanya. Pagi ini Andini terlihat anggun Dengan balutan baju kantor yang tertutup. Polesan tipis di wajahnya membuat kesan natural ayu di wajahnya. Sesekali, Malik melihat wajah milik Andini melalui kaca spion. Andini bukan tidak mengetahui gerak- gerik Malik yang selalu memperhatikan nya. Andini berusaha mengalihkan pandangannya ke berkas yang di bawanya.
Diana, pagi - pagi sekali sudah pulang ke rumahnya. Diana bukan wanita rumahan dan tidak bekerja, melainkan wanita kantoran yang haus akan pundi- pundi rupiah. Gaya hidup Diana yang glamor terlihat jelas di penampilan nya. Barang- barang yang branded yang cukup mahal selalu di pakainya. Berbeda dengan Andini, apa yang di pakai tidak harus mahal tetapi cocok dengan dirinya. Apapun yang di pakai Andini pun terlihat mewah karena ketika semua melekat di badan Andini semua jadi memiliki nyawa. Aura dalam diri Andini terlihat jelas dan membuat orang jadi tertarik.
" Sayang, berkas laporan kegiatan kemarin sudah di serahkan ke kamu, sayang?" tanya Erlangga sambil menengok ke belakang ke arah Andini.
" Sudah!" jawab Andini singkat.
" Mas! Nanti kalau di kantor jangan panggil aku, sayang gitu dong!" kata Andini sambil melihat punggung Malik. Malik yang mendengar ucapan Andini jadi melihat wajah Andini dari kaca spion.
" Memangnya kenapa? Kamu kan istri aku loh! Lagi pula, di kantor aku pemimpin nya. Semua harus tahu dong, kamu adalah nyonya dari direktur utama dari Perusahaan itu, sayang. Benar tidak, Pak Malik?" ucap Erlangga.
Malik yang mendengar pertanyaan dari Erlangga jadi gelagapan.
" Eh iya pak!" sahut Malik sambil melihat Andini dari kaca spion.
" Istri aku, cantik kan Malik?" tanya Erlangga lagi.
" Eh iya pak." sahut Malik gugup.
__ADS_1
" Aku sangat beruntung bisa mendapatkan dia. Dulu waktu di kampus, beberapa orang yang mengejar Andini. Aku tahu itu." cerita Erlangga.
" Mas Erlangga!" sahut Andini pelan.
" Hehehe. Jangan malu dong sayang! Pak Malik ini harus tahu, perjuangan aku untuk mendapatkan kamu, sayang." ujar Erlangga.
Malik yang mendengar cerita Erlangga,jadi tersenyum lebih tepatnya dipaksa kan untuk tetap tersenyum. Andini pun sedikit nyengir saja sambil melihat wajah Erlangga yang puas menggoda nya.
" Oh iya, Malik! Kamu di Semarang pasti sudah banyak cewek-cewek yang sakit hati karena kamu tolak cintanya bukan?" goda Erlangga.
" Eh Pak Erlangga! Mana saya tega, pak menolak cinta seorang cewek. Lebih tepatnya tidak ada cewek yang mau dengan saya pak." cerita Malik sambil tersenyum ramah.
" Bohong banget kamu! Kamu pasti terlalu banyak memilih. Standar kamu pasti tinggi, Pak Malik. Lalu cewek seperti apa yang, Pak Malik sukai. Maksudnya tipe wanita seperti apa?" tanya Erlangga menggoda.
" Eh, saya tidak terlalu pemilih pak. Saya suka wanita sederhana dan lembut juga penuh perhatian." jawab Malik.
( Author: widih awak di sebut- sebut sama Erlangga loh. Tipe awak, ada di Erlangga. Hehe)
" Wah, kalau itu ada di Andini semua, Pak Malik!" sahut Erlangga.
" Oh ya? Bu Andini penuh perhatian yah, Pak?" ujar Malik sambil melihat Andini dari kaca spion mobil.
Andini yang mendengar ucapan Malik jadi ikut melihat Malik. Terlihat pagi ini, Malik berpenampilan cukup rapi. Kacamata hitamnya cukup menambah Maco dan keren nya Malik.
" Gila! Kamu pagi ini sungguh bikin aku tergoda, Malik!" batin Andini.
__ADS_1
" Sayang!" panggil Erlangga yang bikin Andini terbelalak.
" Eh iya Mas! Ada apa Mas?" tanya Andini.
" Ada yang mau di beli gak, sayang?" tanya Erlangga kepada Andini.
" Hem, Mas mau di belikan apa?" tanya Andini.
"Apa saja, terserah kamu saja sayang." jawab Erlangga.
" Eh, Jangan lupa rokoknya Pak Malik, sayang!" imbuh Erlangga.
" Iya, mas!" sahut Andini lalu turun dari mobil setelah Malik memarkirkan mobil itu di depan minimarket.
Malik dan Erlangga masih ada di dalam mobil. Perbincangan kecil pun terjadi diantara mereka. Andini sibuk mengambil beberapa makanan dan minuman di minimarket tersebut.
" Biasa ngemil, pak?" tanya Malik kepada Erlangga.
" Tidak juga! Itu karena Andini mulai ikut kerja di kantor. Dia bosen di rumah. Aku tahu banyak Andini, pasti lama- lama bosen juga di dalam kantor. Apalagi kalau menunggu, aku sedang ada klien. Dia jadi di ruangan ku sendiri an. Biar gak bosen, siap cemilan saja buat dia....hehe." cerita Erlangga.
" Pak Erlangga, penuh perhatian sekali dengan Bu Andini yah?" sahut Malik sambil tersenyum.
" Tentu saja, Pak Malik! Dia wanita sangat sempurna di mata aku. Di zaman sekarang mana ada wanita sebaik dia. Tidak banyak meminta dan macam- macam, walaupun tahu dengan jelas suaminya banyak duitnya. Pergaulan nya tidak dengan wanita- wanita sosialita. Dia masih tetap sama dan tidak berubah. Tetap sederhana dalam penampilannya." cerita Erlangga seperti memuja - muka Andini.
Malik yang mendengar cerita dan pujian Erlangga jadi tersenyum.
__ADS_1
" Andini! Penilaian aku tidak salah bukan? Kamu memang wanita yang sempurna di mata ku. Suami kamu pun mengakui akan hal itu." batin Malik sambil melihat Andini yang sudah berdiri di dekat kasir untuk membayar barang- barang yang diambil dari minimarket tersebut.