Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu

Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu
PLENCING KANGKUNG


__ADS_3

" Kalau nanti mas Erlangga bertemu dengan mbak Andini, apa yang akan mas Erlangga lakukan?" tanya Zenna.


" Aku akan meminta maaf kepada nya. Mungkin wajah Andini tidak secantik dulu karena dirinya telah merusaknya demi lari dan menjauh dari kehidupan aku. Aku yang selalu dan setiap hari menyakiti nya." kata Erlangga sambil berkaca matanya.


" Zenna! Aku hanya ingin masa tuaku ini kembali lurus dan tidak ingin macam- macam lagi. Aku sangat berharap dengan kamu untuk menjadi istri aku yang penurut." ucap Erlangga.


" Aku akan berusaha mas! Menjadi semua yang kamu harapkan." ucap Zenna akhirnya.


*******


Andini dan Putra kini sudah bertunangan. Mereka menjalin hubungan yang manis sejak dua bulan terakhir itu. Putra yang begitu manis, romantis, penyayang dan penuh perhatian membuat Andini seperti bak putri yang selalu dipuja oleh pria yang tinggi dan berbadan atletis itu.


Setelah kepulangan mereka dari luar negeri untuk operasi wajah Andini, hubungan Andini dan Putra semakin lengket. Andini pelan- pelan menjadi sosok dan pribadi yang baru yang melupakan masa lalu yang membuat dirinya dalam kehancuran. Rasa cinta terlarangnya dengan Malik menjadi kehancuran dirinya dan juga rumah tangganya. Namun demikian semua kehancuran rumah tangga nya tidak seluruhnya menjadi kesalahan nya. Suaminya sendiri, Erlangga juga sudah sejak lama berhubungan mesra dengan sahabatnya sendiri. Ketika perjalanan di luar kota itulah kesempatan suaminya bersama dengan sahabatnya menjalin hubungan yang penuh kebebasan dan liar. Walaupun ketika semuanya belum terkuak, suaminya Erlangga begitu sangat manis terhadap dirinya. Andini seolah menjadi satu-satunya ratu dalam istana itu. Setelah semua keburukan terungkapkan semua menjadi hancur. Kehancuran karena semua nya penuh kemarahan dan ingin menyingkirkan.


Demikian juga dengan Malik, setelah dianiaya dan dipukuli oleh orang-orang Erlangga serta wajahnya dirusak oleh anggota Erlangga, Malik kembali menjadi sosok yang baru. Malik juga memiliki wajah yang baru.


Laporan yang sampai kepada Erlangga, Malik sudah di singkirkan dan tewas. Namun karena anggota dari Erlangga tidak sampai membunuh nya, hanya dengan membuat Malik tidak berdaya dan kritis saja. Malik di buang begitu saja di pinggir jalan, sampai ada orang yang menolong dirinya hingga kembali ke rumah dan keluarganya yang kaya raya itu.


Andini dan Malik sudah menjadi sosok yang baru. Namun bagi Malik, cinta nya terhadap Andini tidak bisa hilang ditelan waktu. Dia akan selalu bertekad mencari keberadaan Andini dimana pun juga. Bukan hal sulit untuk mencari Andini namun dengan wajah Andini yang baru, Malik sudah kesulitan mendapatkan informasi keadaan Andini sekarang setelah informasi Andini kembali ke kampung halamannya ketika pelarian nya di rumah Erlangga.


Erlangga? Malik pelan- pelan mengirimkan anak buahnya ingin menghancurkan perusahaan yang dimiliki Erlangga. Namun itupun juga tidak mudah, karena beberapa kali anggota dari Malik ketahuan akan aksinya yang berusaha memanipulasi data maupun dalam penggelapan statistik anggaran keuangan. Dendam masih berkelanjutan dalam pikiran Malik karena rasa sakit hati nya kepada Erlangga.


Namun Erlangga juga tidak bisa diremehkan, kekuatan dan kekuasaan nya sulit untuk diterobos karena disekitarnya ada mafia- mafia yang melindunginya dan juga banyak anak buah Erlangga yang memiliki banyak informasi.


" Aku hanya cukup tahu, dimana kamu Andini! Rasanya dada ini begitu sakit jika mengingat kamu disakiti dan kamu masih membela aku. " ucap Malik lirih sambil melukis wajah Andini di kanvas nya.


*******


Kembali ke Andini dan Putra.


Di ruangan kerja Putra yang bernama AC, di sana ada Andini yang selalu mendampingi Putra. Andini saat ini sudah dilibatkan dalam bisnis yang dilakoni oleh Putra. Putra ingin setiap waktu dan setiap saat ingin dekat dengan Andini. Putra ingin memastikan Andini selalu dalam pengawasan nya. Walaupun Andini dan Putra masih bertunangan.


" Sayang! Kita keluar yuk!" ajak Putra sambil masih menandatangani sisa tumpukan yang ada di atas mejanya. Setelah selesai, Putra duduk di samping Andini yang saat ini ngemil jajanan yang ada di atas meja dengan kursi sofa di ruangan kerja Putra.

__ADS_1


" Kemana?" tanya Andini sambil sibuk memakan jajanan itu. Putra membersihkan sisa makanan yang sedikit menempel di sekitar mulut Andini. Andini seketika tersenyum.


" Bagaimana kalau ke Timezone?" ajak Putra seperti anak kecil. Andini tersenyum dan masih memakan jajanan nya.


" Pakai nasi, sayang! Biar kenyang." kata Putra menggoda karena dari tadi Andini sibuk makan jajanan itu. Andini mencubit lengan Putra. Putra seketika meraih Andini dan memeluknya.


" Ayo kita main!" ajak Putra lagi. Putra kali ini mendekati wajah Andini dan meraih dagunya lalu dengan cepat mengecup bibi Andini.


" Aku harus pulang, sayang! Bunda nanti menunggu aku di rumah. Tadi Bunda pesan ingin mengajak makan bareng di rumah. Kata bunda, bunda memasak masakan kesukaan aku." cerita Andini kepada Putra. Putra mendengarkan dengan serius.


" Makanan kesukaan kamu apa sih, hingga kamu semangat untuk pulang ke rumah." tanya Putra penasaran.


" Plencing kangkung!" jawab Andini dengan polosnya. Putra seketika tertawa terbahak- bahak. Apalagi ekspresi Andini begitu lucu menjawabnya.


" Ih enak loh mas, plencing kangkung itu! Apalagi sambel buatan bunda tidak ada yang bisa mengalahkannya. Di restoran manapun gak ada!" puji Andini dengan semangat.


" Ya sudah! Nanti kita pulang ke rumah kamu dulu baru kita bermain ke Timezone yah!" kata Putra mengalah.


" Nah, itu lebih bagus! Kasihan bunda masak buat aku. " kata Andini dengan suara manja.


" Hem?" sahut Andini dengan mata yang membulat. Memang pada dasarnya mata Andini bulat dan belok. Sungguh sangat cantik Andini dengan mata itu. Walaupun dengan wajah yang baru, mata Andini tidak akan berubah. Bagi orang yang dulu pernah dekat dengan Andini, mata itu tidak akan bisa dilupakan. Mata yang polos, lembut dan patuh.


" Kamu sangat cantik!" ucap Putra.


" Cantiknya karena operasi, mas!" sahut Andini.


" Walaupun demikian, ini mata sangat cantik. Mata ini mampu membuat hipnotis bagi aku. Aku jadi tidak bisa jauh dari kamu." kata Putra.


" Mulai merayu nih!" sahut Andini sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Putra.


" Ayolah, kita ke rumah bunda! Supaya kita cepat makan dan setelah nya bisa lama bermain ke Timezone. " ajak Andini.


" Sampai segitu nya hanya ingin makan plencing kangkung." sahut Putra. Andini yang mendengar nya hanya terkekeh.

__ADS_1


" Iya, ayo mas Putra sayang!" rengek Andini. Putra mulai bergegas meninggalkan ruangan kerja nya diikuti oleh Andini.


Putra melangkah keluar dari gedung yang bertingkat itu diikuti oleh Andini. Mereka menuju parkiran dimana mobil Putra diparkirkan.


" Beli iga bakar dulu, yah yank!" kata Putra setelah mereka ada di dalam mobil itu.


" Heem! Tapi bunda juga bikin ayam kecap kok, mas!" sahut Andini.


" Tidak apa! Biar banyak pilihan." kata Putra.


" Kita cuma bertiga loh, mas!" kata Andini. Putra lalu memandang Andini.


" Kita menikah cepat, supaya menjadi ramai. Bagaimana?" ucap Putra.


" Hem?" Andini kembali melotot.


" Iya, setelah menikah kita program anak. Kita cetak anak yang banyak." ucap Putra.


Seketika Andini jadi menundukkan kepalanya. Andini menjadi sedih.


" Loh kok jadi sedih, sayang!" kata Putra yang melihat perubahan Andini menjadi berubah.


" Mas Putra! Aku tidak janji bisa memberikan kamu anak setelah menikah. Dulu bertahun-tahun, aku bersama Erlangga suami aku tidak mempunyai anak. Aku takut, jika mengecewakan kamu, mas. Aku takut jika aku ternyata bukan wanita yang sempurna." kata Andini sambil melihat ke samping ke arah Putra.


" Ya Tuhan! Maaf sayang! Kamu jadi sedih dan ingat ini yah! Oke, kita jangan membahas hal ini dulu yah. Oke! Cup.. cup.. ayo kita cepat pulang biar bisa makan plencing kangkung." sahut Putra berusaha mengalihkan pembicaraan dan mengembalikan keceriaan Andini.


" Mas!" panggil Andini.


" Hemm?" sahut Putra.


" Terimakasih untuk semua nya." kata Andini.


" Oke! Terima kasihnya nanti saja. Tapi aku mau yang lain yah!?" goda Putra seketika Andini mencubit pinggang Putra.

__ADS_1


" Oww, mamas mu lagi nyetir sayang!" sahut Putra sambil terkekeh.


__ADS_2