
Pekat pandang tak terkira. Melekat dalam asa. Membuncah dalam telaga. Bius mantra telah terbaca. Tak kuasa akan tebaran pesona. Membuatku semakin terpana. Pada gejolak rasa. Telah lama buatku tersiksa. Miris sekali mantra mu luluh. Jiwa meronta penuh keluh. Aku takut pandangan terperangah. Gejolak nafsu kian membuncah. Bayang mu bergelut kian menggila. Terjebak akan hasrat Asma.
Rasa ini salah ibarat pisau tajam membunuh waktu ku yang tanpa bisa lepas dari halu akan mu. Merobek akal yang tiada luput dari bayang mu. Aku tahu, rasa ini salah. Karena itu kucoba hijrah. Berubah dari rasa yang salah menjadi kebenaran yang tiada resah. Aku berusaha membunuh rasa yang tiada semestinya kurasa. Tapi aku masih tak kuasa. Bayang mu masih saja bergelayut di mata. Bantu lah aku membunuh rasa yang menyakitkan. Agar aku tidak terjatuh dalam jurang kenistaan.
Tapi kamu selalu bilang. Simpan lah saja bayangan ku dalam bagian terdalam benak mu. Sisipkan lah nama ku diantara doa dan mantra yang kau langit kan untuk Tuhan mu. Tak perlu kau sebut namaku. Cukup simpan saja dalam ingatan indah mu. Agar tak timbul siksaan bagimu. Akibat debat jantungmu yang kencang saat menyebut nama ku.
Andini masih di dalam kamar mandi. Sudah cukup lama, ia di dalam. Pikirannya kacau balau. Ingatannya masih di kuasai sosok Malik. Seperti sudah di pelet oleh laki-laki atletis itu. Nama nya menggetarkan jiwa nya. Ketika nama itu tersebut dalam hati nya, bergetar lah sudah jantung nya. Ini sungguh menjadi siksaan baginya. Andini tidak mampu berbuat apapun. Rasa rindu itu semakin menjadikan jantungnya berdegup kencang. Ia ingin berlari dan pergi dari tempat itu. Lalu menjumpai Malik dan melepaskan segala beban kerinduan yang sudah menguasai dirinya. Andini jadi malas makan. Andini jadi malas beraktifitas. Pikirannya kacau karena memikirkan Malik. Sehari saja tanpa kabar dari Malik, serasa dunia akan runtuh. Galau hatinya membuatnya gila dan salah tingkah.
__ADS_1
Tok..
Tok...
Tok...
" Andini! Kamu ngapain di dalam? Jangan lama-lama mandi nya, sayang! Bukankah kita mau makan malam bersama? Andini!" kata Erlangga seraya bersuara keras.
" Iya Mas!" sahut Andini dengan berteriak.
__ADS_1
" Buruan! Nanti masuk angin loh, sayang!" ujar Erlangga.
" Iya sayang!" sahut Andini lagi.
Andini jadi berpikir. Kurang apa lagi dari Erlangga. Erlangga yang cukup perhatian dan pengertian padanya. Erlangga yang tampan dengan pekerjaan yang mapan. Erlangga yang lahir dari keluarga yang berada dan religius. Erlangga yang bisa membimbingnya ke arah yang lebih baik. Kenapa dirinya sanggup berpaling hati dari nya. Ini adalah suatu kebutaan dirinya. Andini telah di buta kan oleh rasa yang tidak jelas dan masuk akal.
Jelas - jelas Erlangga adalah suaminya yang sah. Halal hubungan nya dengan Erlangga. Kenapa masih mencari dan terpikat oleh laki-laki lain seperti Malik yang notabene kehidupan Malik masih lah belum jelas. Memang Malik seperti sayang dan begitu mencintai Andini. Tetapi Andini belum cukup paham akan kehidupan dan lingkungan Malik nun jauh di sana. Semua masih terlihat indah. Semua masih tertutupi keburukan dan kelemahan dari Malik. Yang ada hanyalah indah dan kesempurnaan dari sosok Malik.
Ya Tuhan! Ini kah cinta yang datang di saat tidak tepat itu? Di depan Andini ada secangkir teh tetapi dia masih mencari kopi karena keinginan kuat nya. Inilah ibarat yang terjadi oleh Andini.
__ADS_1