
Udara panas menyelimuti jiwa. Selimut duka menyeruak. Tersingkap menelanjangi dosa - dosa anak Adam. Bumi mengeliat dalam letih nya. Pondasinya mulai tersedak menelan beban - beban berat noda ulah makhlukNya. Kebebasan tiada norma. Aturan mulai di kesampingkan. Tindak tanduk karna hasrat bebas terlampiaskan.
Abu - abu mempedihkan mata beterbangan terhirup Sukma. Mematahkan rasa sesak dada.
Manusia bak lalat - lalat beterbangan hinggap mencari mangsa. Mencari keselamatan dan ego diri. Kamu akan merasa lebih mudah memberikan manfaat bagi banyak orang dibanding berusaha keras menyakiti satu hati anak Adam karena rasa cinta.
Alam dan bencana adalah tanda. Pondasi yang dulu kokoh mulai goyah. Demikian iman. Iman akan memudar seiring keyakinan yang mulai retak. Cahaya terang mulai meredup. Tatkala hati jatuh dan menuruti nafsu. Kiasan - kiasan akan muncul. Kata - kata tak berfaedah mengalir tak terkontrol.
Kini hanya Dia yang menyaksikan. Dikelilingi oleh pemuda - pemuda suci pilihan Nya. Semua adalah ulah manusia sendiri. Renungan yang tak ada gunanya. Karena semua sudah terjadi. Kita hanya menunggu akibat dari sebab mengapa itu ada dan tiada.
"Andini sayang! Aku datang!" teriak Erlangga yang masuk dari pintu kamar utama mereka.
" Eh! Astagfirullah mas! Hampir saja copot jantung aku loh!" sahut Andini lalu menghampiri Erlangga yang masih berpakaian rapi sambil membawa tas kopernya.
" Kamu lagi ngapain rupanya? Bisa terkejut begitu, sayang?" ujar Erlangga sambil tersenyum dan mencium dahi Andini.
__ADS_1
Andini mengambil tangan Erlangga dan bersalaman mencium punggung tangan nya. Erlangga melingkarkan tangannya ke pinggang Andini. Seperti kerinduan menyeruak dalam diri Erlangga.
" Kangen banget deh sama kamu, Andini." ucap Erlangga mulai manja.
" Oh yah? Sudah makan belum mas?" tanya Andini yang tangan nya melingkar di atas pundak Erlangga.
" Itu tidak penting! Yang penting harus makan kamu dulu sekarang." kata Erlangga menggoda dan sambil terkekeh.
" Mas!" panggil Andini pelan.
" Hem?" sahut Erlangga.
" Ketemu dong!" jawab Erlangga dengan senyum mengembang.
" Hah? Lalu?" tanya Andini dengan bibir yang maju satu Senti.
" Hahaha! Tapi aku selalu terbayang wajah kamu, Andini. Jadi aku tidak akan berbuat macam-macam di luar sana." cerita Erlangga polos.
__ADS_1
" Masa? Nanti akan aku teliti seluruh badan kamu loh, mas." ucap Andini yang mengalir bak air terjun. Kata - kata yang keluar dari mulutnya itu menjadikan dirinya sadar. Apakah ada sedikit bekas ciuman di tubuhnya karena kelakuan Malik?
" Eh? Mas! Makan dulu yuk!" ajak Andini.
Kalo ini, Andini masih malas jika sekarang terjadi pertempuran syahwat yang membuat keringat bercucuran.
" Baiklah! Kamu ingin makan apa sayang?" tanya Erlangga.
" Oh tidak! Tidak! Tadi aku sudah masak rawon dengan ikan asin nya loh mas." kata Andini dengan semangat nya.
" Benarkah? Buat sambel tidak, sayang?" ujar Erlangga sambil tersenyum sambil mencium pipi kanan dan kiri milik Andini.
" Tentu saja mas!" jawab Andini sambil melepas tangannya yang melingkar di leher Erlangga sedari tadi.
" Ayolah! Aku ingin memakan masakan istriku yang tercinta ini." kata Erlangga bersemangat.
Mereka melangkah keluar kamar utama. Andini mengikuti nya Erlangga setelah mengambil nafas panjangnya. Dirinya benar - benar khawatir jika ada tanda di dalam tubuhnya dari pertempuran sengit dengan Malik sebelum kepulangan nya ke Medan.
__ADS_1
" Huh.. syukurlah!" gumam Andini sambil bernafas lega.