
Syukurlah, kesadaran itu muncul tatkala warna - warni keindahan bermekaran di balik ucapan. Bukanlah dendam atau pembuktian kekuatan. Mungkin saja karena sekadar penasaran. Bunga itu pun terjatuh dalam taburan bintang - bintang dalam gelap gulita. Mantra-mantra mu makin melemah, seiring lelah menggapai tujuan tak jelas. Putus asa dan pasrah karena lelah. Letih karena emosi yang selalu mewarnai permainan. Amarah yang membakar karena hasrat tiada mampu melepaskan. Aku dan kamu sama-sama saling membakar rasa. Rasa semesta yang bisa menguasai jiwa.
Hidupkan hidup sebagai pemimpin jiwa. Kuasai hati agar akal tidak mendominasi pikir. Khayal yang tertahan dan tak berujung. Kembalilah pulang semua hampa yang merongrong. Kuatkan harapan dan cita-cita karena jalan kita masih panjang, untuk menjadikan aku dan kamu insani yang teladan. Satu hal, lepaskan semuanya dalam karyamu yang nyata. Doa ku dan doa mu akan memperkuat langkah. Ke tujuan hidup yang lebih nyata.
" Andini!" panggil Diana keras.
" Apaan sih? Yang mesra dikit dong manggilnya." sahut Andini.
" Aku bisa kenalan dengan cowok yang kamu cintai gak?" tanya Diana.
" Enggak perlu! Nanti kamu bisa jatuh cinta padanya!" jawab Andini tegas.
" Ya ampun! Segitu nya! Takut bener kalau aku akan merebutnya." sahut Diana.
" Hahaha! Kalau mau ambil saja! Dan kalau dia juga mau dengan kamu." ujar Andini.
" Loh! Nantang nih? Jadi bisa kan aku kenalan dengan nya?" tanya Diana.
" Tidak usah! Dia masih di Jawa sana!" kata Andini bohong. Andini cerita tapi masih belum semua di bukanya. Karena keberadaan Malik sudah di Medan. Ini akan menjadi malapetaka jika ada satu orang yang mengetahui rahasia nya. Sedangkan antara Malik dan Andini pun sepakat mulai menjaga jarak dan hubungannya. Walaupun semuanya tidaklah mudah.
" Erlangga pulang jam berapa, Andini? Sudah jam 20.00 wib belum juga pulang." tanya Diana.
" Gak tahu! Tadi dia bilang ketemuan dengan klien nya dan juga sopir barunya. Mungkin agak larut malam pulangnya." cerita Andini.
" Aku telpon Mas Erlangga dulu deh!" tambah Andini sambil mengambil ponselnya.
" Iya Mas! Lagi dimana Mas?" tanya Andini setelah sambungan keluar nya tersambung dan diangkat Erlangga di seberang sana.
" Ini sudah jalan pulang, sayang! Oh iya, sayang! Siapkan kamar tamu untuk Pak Malik, sopir pribadi aku. Malam ini, biarkan dia bermalam ke rumah kita dulu sebelum dia dapat kontrakan." cerita Erlangga.
Deg..jantung Andini mulai berdetak kencang ketika nama Malik di sebut oleh Erlangga. Betapa tidak? Apakah Malik sudah siap mendengar dan menyaksikan antara kami selalu berusaha romantis ketika berbicara dan bersikap? Erlangga pun selalu menyebutnya kata ' sayang' dengan Andini setiap waktu.
" Andin, sayang! Halo masih di sana kah,sayang?" tanya Erlangga.
" Eh iya sayang! Nanti biar di beres kan oleh Mbk Yati. Ini lagi ada Diana, sahabat aku. Malam ini pun juga bermalam di rumah." cerita Andini.
" Oh ya!" sahut Erlangga.
"Nanti Diana biar tidur di kamar, papa dan mama saja." kata Andini.
" Iyalah! Jangan sampai mereka mengganggu malam ritual kita kali ini." sahut Erlangga.
__ADS_1
" Ih maunya Mas! Libur hari ini, kenapa?" ujar Andini sewot.
" Weleh! Suami kamu ini, seharian sudah capek, dan padat aktivitas. Perlu semangat biar fress dan lebih sehat." ucap Erlangga menggoda.
" Hem. Mau di bawain apa, sayang?" tanya Erlangga menambahkan.
" Apa saja lah! Bukankah kita kedatangan dua tamu. Diana dan sopir itu." jawab Andini.
" Oke! Baiklah sayang. I Miss you, Andini!" ucap Erlangga mengakhiri panggilan masuknya.
" I Miss you to!" sahut Andini.
" Cie...cie..cie!" sahut Diana menimpali.
" Cie...cie..macam tidak pernah lihat kami selalu mesra saja loh kamu!" kata Andini kepada Diana.
" Aku pulang dulu, Andini! Mas Erlangga sudah jalan pulang! Kamu jadi nginap di rumah aku gak?" tambah Andini.
" Hem! Ayolah! Mana tahu sopir pribadi yang di bawa suami kamu, masih single dan ganteng. Aku pun bisa pendekatan juga kan?" kata Diana bercanda.
" Paling juga sudah kakek- kakek tua dan keriput." ucap Andini penuh rahasia.
" Awas saja yah! Kalau sopir pribadi Erlangga ini ganteng. Kamu tidak boleh bersaing dengan aku yah." ujar Diana.
" Hahaha! Kamu macam kebakaran jenggot saja, Andini!" sahut Diana.
" Aku sudah ada Erlangga. Tidak perlu, Erlangga yang lain. Apalagi seorang sopir." ucap Andini.
" Widih! Sejak kapan kamu pilih - pilih profesi, sayang?" tanya Diana penuh selidik.
" Sejak, Erlangga sudah menjadi belahan jiwa ku." jawab Andini akhir nya dengan tegas.
" Tapi kenapa kamu bisa jatuh cinta dengan laki-laki lain?" tanya Diana seperti pukulan telak bagi Andini.
" Karena aku tidak menginginkan itu terjadi. Cinta itu datang dengan tiba-tiba. Dan aku ingin menghapusnya. Dan fokus dengan Erlangga saja." jawab Andini.
" Baiklah! Aku bantu untuk melupakannya. Dan aku yakin, kamu pasti bisa. Kurang apa coba Erlangga itu?" ujar Diana menimpali.
" Kurang berantem nya kita! Jadi kurang seru!" sahut Andini.
" Kamu ini aneh! Sudah adem ayem gitu tapi ingin berantem." ujar Diana.
" Kalau begitu nanti, aku bikin kalian berantem bagaimana?" imbuh Diana.
__ADS_1
" Weleh!" sahut Andini.
Mereka berdua menjalankan mobilnya ke rumah kediaman Erlangga dan Andini. Sepanjang perjalanan, obrolan seputar kisah kasih yang tidak sepantasnya ada itu. Tetapi bukan berarti, Andini membuka semuanya dengan Diana. Siapa sebenarnya laki- laki itu. Andini tidak mengungkapkan semuanya bahwasanya laki-laki itu adalah Malik, sopir pribadi baru Erlangga.
Bagi Andini semua harus masih di tutupi. Seperti halnya hatinya ingin menyudahi segalanya dengan Malik. Berusaha berjalan normal dalam kisah percintaan nya dengan Erlangga suaminya. Dia ingin menjadi istri yang setia dan wanita yang dipercaya. Andini tidak ingin pengkhianatan itu terjadi lagi. Percintaan yang rumit itu ingin segera di hilangkan. Tapi apakah mungkin? Sedangkan kini Malik sudah semakin dekat satu langkah darinya. Malik menjadi sopir pribadi di kantor Erlangga adalah suatu pilihannya supaya bisa lebih dekat dengan Andini.
Cinta dan perasaan Malik memang sangat besar untuk Andini. Pengorbanan dan usaha yang diputuskan Malik cukup di acungi jempol. Bagi Malik ini bukan lah hal mudah jika setiap saat akan melihat dan menghadapi kemesraan antara Andini dan Erlangga di depan matanya.
Mobil itu pun masuk di pekarangan rumah cukup megah. Andini dan Diana keluar dari mobil putihnya. Dan mulai masuk ke dalam rumah.
" Assalammualaikum!" sapa Andini yang masuk ke rumahnya.
Di ruang tengah sudah duduk Erlangga dan seorang laki-laki jangkung yang atletis juga ganteng, tidak lain adalah Malik. Mereka sudah duduk santai menikmati cangkir kopi dan beberapa cemilan. Mungkin saja, Mbk Yati yang sudah membuatnya atau Erlangga sendiri lah yang membikin kan nya.
" Andini sayang? Kenapa terlambat datang?" tanya Erlangga setelah Andini menyalami tangan suaminya itu dan mencium punggung tangan nya serta cium pipi kanan dan kiri terjadi.
Malik yang melihat adegan itu mengalihkan pandangannya ke sosok Diana.
" Oh iya, Ini Pak Malik, Andini!" Erlangga memperkenalkan.
" Oh iya! Andini!" ucap Andini sambil mengulurkan tangannya ke arah Malik.
" Oh iya ini, Diana sahabat saya!" imbuh Andini memperkenalkan Diana.
Diana tersenyum manis ke arah Malik. Dalam hatinya penuh kemenangan. Perkiraan nya tidak meleset, sopir pribadi nya Erlangga memang benar- benar super ganteng dan Maco habis.
" Ini target buat aku, Andini." bisik pelan Diana sambil mendekati Andini.
" Ambil semua untuk kamu, tanpa sisa. Aku gak doyan." bisik Andini.
Diana tersenyum menang. Andini melangkah menuju kamar pribadinya meninggalkan mereka bertiga.
" Sayang! Jangan lama-lama yah. Kita masih ada tamu loh." teriak Erlangga.
" Iya!" sahut Andini sambil masuk ke kamar nya.
" Maaf yah! Istri aku memang dari dulu pemalu jika harus duduk dengan relasi atau teman aku, apalagi cowok." ucap Erlangga.
" Andini dari dulu tidak berubah. Sejak aku mengenalnya hanya Erlangga lah yang bisa mencuri perhatian dan hati nya. Dia tipe wanita yang tidak mudah jatuh cinta." cerita Diana menimpali.
" Oh ya? Istri yang setia ya Pak?" sahut Malik dengan nada cemburu yang tersembunyi. Betapa tidak Erlangga begitu memuja Andini di depannya. Hatinya mendidih bak air yang di rebus yang sudah menguap.
" Mbk Yati tadi sudah mempersiapkan kamar tamu untuk Pak Malik. Tapi sebelum istirahat, kita makan bersama dulu yah. Sebentar yah, saya panggil Andini dulu." kata Erlangga sambil masuk ke kamar utamanya yang tidak jauh dari ruang tengah dan ruang tamu itu.
__ADS_1
Kini tinggal Diana dan Malik mulai dengan obrolan basa - basi dan saling ingin tahu masing-masing.