Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu

Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu
INGIN KERJA


__ADS_3

Malam dingin menusuk tulang. Angin malam menerobos masuk ke celah - celah lubang. Angan melayang karena kerinduan yang membekas. Awan kabut berselimutkan gelap. Kelip bintang menghiasi semesta yang indah.


Aku dalam harap. Dekapanmu yang masih membekas. Sentuhan lembut yang membuat memori ingin terulang. Kisah manis saat kita berjumpa. Walaupun sesaat. Itu akan menjadi jelas di bayangan manik mata. Aku dan kamu sudah dalam hubungan yang rumit. Mengawali kisah yang seharusnya tidak mungkin terjadi. Kini menorehkan tinta hitam dalam hubungan percintaan ini. Seharusnya tidak terjadi. Hanya memberikan bekas kepedihan dan luka yang semakin menganga. Menimbulkan kerinduan yang semakin memuncak. Karena hasrat itu semakin membesar. Aku dan kamu dalam penjara cinta. Terkurung dalam dosa dan lembah hitam.


Haruskan di teruskan? Semua sudah berjalan. Semua sudah terjadi. Aku dan kamu kini makin membesar harapan. Ingin bersatu dalam cengkraman rasa ini.


" Andini!" panggil Erlangga yang membuyarkan lamunan Andini.


" Eh iya mas! Ada apa?" tanya Andini sambil menatap lekat suaminya dihadapan nya.


" Kamu akhir - akhir ini melamun saja loh." ungkap Erlangga.


" Eh iya mas! Maaf!" sahut Andini lalu membenamkan kepalanya ke dada bidang Erlangga.


" Kamu kalau begitu terus,bikin aku khawatir." kata Erlangga.


" Tidak apa-apa mas. Mungkin aku perlu kesibukan deh. Bayi yang kita harap - harap kan pun tidak kunjung di beri oleh Tuhan. Aku belum bisa hamil dan memberikan anak padamu, mas." ucap Andini dengan kesedihan yang sebenarnya.


" Oh ho! Sabar sayang. Mungkin kita di suruh berpacaran dulu. Waktu kita lebih banyak bersama. Mungkin kalau nanti kamu sudah memiliki anak, kamu kurang memperhatikan aku, suami kamu." ujar Erlangga.

__ADS_1


" Eh..begitu yah."sahut Andini.


" Atau kamu kerja di kantor seperti dulu. Jadi waktu mu akan lebih banyak melihat aku karena kita sama - sama di kantor seperti dulu." kata Erlangga dengan senyum mengembang.


Memang Andini dan Erlangga dahulu adalah cinlok di kantor perusahaan milik keluarganya Erlangga. Karena sering berjumpa, akhirnya mereka muncul rasa suka satu sama lainnya.


" Benarkah mas? Aku mau!" sahut Andini bersemangat.


" Tapi males ah! Nanti kamu jadi tahu kalau aku punya yang lain selain kamu." ucap Erlangga bercanda.


Andini membelalakkan matanya. Matanya menjadi bulat seperti kelereng. Alisnya mengkerut. Pandangannya tajam ke arah Erlangga. Andini semakin memiliki kecemburuan yang besar terhadap Erlangga. Begitulah jika seseorang memiliki seorang yang lain atau selingkuhan akan semakin cemburu besar terhadap pasangan nya.


" Hahaha! Kamu cemburu sayang?" kata Erlangga tertawa lepas.


" Enggaklah! Siapa bilang cemburu?" sahut Andini lalu menggelitiki pinggang Erlangga.


" Sayang! Ampun! Sudah! Sudah dong!" teriak Erlangga sambil tertawa lepas.


" Jadi? Bolehkan aku kerja lagi mas?" tanya Andini lagi.

__ADS_1


" Boleh! Tapi aku khawatir loh! Banyak relasi kita cowok - cowok ganteng dan kaya. Kamu nanti berpaling dari aku." kata Erlangga sambil mencubit pipi Andini gemas.


" Apakah aku wanita seperti itu,mas?" tanya Andini mengerutkan dahinya.


" Hahaha! Mulai ngambek lagi nih?" sahut Erlangga sambil memeluk mesra Andini.


" Tapi mungkin saja,ucapan kamu ada benarnya mas." kata Andini akhirnya.


Erlangga yang mendengar nya jadi terdiam dan memandang Andini.


" Kalau begitu, tidak jadi deh. Kamu di rumah saja. Biar aku saja yang kerja." kata Erlangga akhirnya.


Andini terdiam dan mendelik. Mengamati kata - kata Erlangga benar - benar serius atau hanya menggoda nya.


" Hahaha!" Erlangga tertawa lepas lagi.


" Ih jahat sekali, kamu mas!" sahut Andini sambil mencubit pinggang Erlangga.


" Aww aduh sakit sayang!" ucap Erlangga.

__ADS_1


" Baiklah! Besok pagi ikut aku ke kantor dulu yah. Pelajari apa yang akan kamu kerjakan nanti di sana. Kamu bisa menjadi asisten aku terlebih dahulu. Supaya apa? Kamu tidak bisa kemana - mana tanpa aku." ucap Erlangga akhirnya dengan seriusnya.


" Siap bos!" sahut Andini gembira.


__ADS_2