
Rasa sakit ini lebih sakit dibanding luka yang berdarah. Kau sudah berhasil menorehkan luka yang tidak berdarah itu. Sesak dada ini,menangis pun tiada kuasa keluar air mata lagi. Aku begitu mencintaimu, lebih dari tubuhku sendiri. Aku tiada lagi mengurusi segala kebahagian kini. Yang ada hanya lara dalam pandang yang kosong tanpa makna.
Aku hanya bisa menikmati alam ini, dengan cara ini aku bisa menepiskan segala duka,kecewa karena telah dikhianati. Selamat aku ucapkan, karena kau sudah mampu membuatku terpuruk, terjatuh sampai tidak punya harga diri ini. Kau pun membela siapa? Ketika semua sudah terungkap. Kau akan memilih siapa antara aku atau dia? Jawablah dengan kejujuran hatimu yang paling dalam. Apakah aku sudah tidak ada berharganya Dimata kamu sekarang?
Ambillah jantung ini agar kau bisa merasakan detak deru yang masih keras memanggil dan menyeru namamu dengan jelas. Apakah kau meragukan rasa ini? Datang dan dekap lah dalam pelukan ku lagi. Jangan lagi menjauh dan pergi dariku lagi.
*******
" Mas Erlangga! Tolong hentikan!" teriak Andini sambil menahan tangan kokoh milik Erlangga yang sudah berkali- kali memukuli Malik ke wajah juga tubuhnya.
Diana yang di luar mendengar kegaduhan itu seketika masuk ke kamar utama Andini yang tidak di tutup pintunya.
" Apa? Kau membela dia? Dia kekasih kamu kah? Andini katakan!" teriak Erlangga mulai mencengkeram tangan Andini dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Malik yang melihat dan menyaksikan Andini di sakiti oleh Erlangga, tidak terima dan berusaha mendorong tubuh Erlangga.
" Jangan sakiti, Andini! Akulah yang bersalah dalam hal ini, Erlangga!" kata Malik sambil menahan tubuh Erlangga dengan kedua tangannya.
Badan Malik yang mulai melemah diupayakan bisa berdiri tegak untuk membela kekasihnya itu.
" Hah? Bagus yah kalian? Sepasang kekasih yang saling mencintai kah? Wow seperti Romeo dan Juliet kah kalian? Bagus! Bagus! Hahaha! Apalah kau tidak merasa malu, Andini adalah istri aku, Malik! Apakah kau tidak tahu itu? Kau sengaja jauh - jauh dari Semarang datang ke kota ini supaya mendekati istri aku, Andini? Hahaha! Cinta yang penuh pengorbanan." ucap Erlangga penuh sinis dan amarah.
" Erlangga! Aku! Aku.." ucap Malik tanpa bisa berucap lagi karena tangan Erlangga sudah mendarat lagi ke bibir Malik.
" Mas? Siapa yang kau maksud? Mas mu ini kah? Andini? Aku tidak pernah mengira, wajah polos mu ini, sungguh bikin menggoda laki- laki. Apakah jika wajah kamu buruk, laki- laki ini masih menyukai kamu? Diana! Ambilkan pisau dibelakang!" ucap Erlangga.
Diana yang sedari tadi menyaksikan kemarahan Erlangga yang sudah tidak bisa dikontrol lagi hanya diam melongo tanpa ada reaksi untuk memisahkan diantara mereka. Mungkin bagi Diana, ini adalah pertunjukan yang bagus dan menarik.
" Ba..baik Erlangga!" jawab Diana lalu dengan cepat berlari ke dapur mengambil barang yang diperintahkan oleh Erlangga.
__ADS_1
" Jangan sakiti Andini, Erlangga!" teriak Malik.
Erlangga mulai mengikat kedua tangan Andini supaya tidak menggangu dirinya ketika menghakimi Malik. Malik yang melihat itu hanya bisa pasrah. Sekuat tenaga,Malik ingin dan berusaha melawan Erlangga tapi badannya sudah mulai tidak bertenaga karena pukulan Erlangga yang keras ke perut dan beberapa di tubuhnya.
" Ini!" kata Diana sambil menyerahkan pisau tajam itu ke Erlangga.
" Diana? Kamu! Bukankah kamu adalah sahabat aku, Diana?" ucap Pelan Andini.
" Lebih tepatnya adalah saingan kamu, Andini! Aku sudah lama menyukai Erlangga. Dan kamu tahu, tanpa sepengetahuan kami, kami sudah menjalin hubungan mesra itu." cerita Diana.
" Diam! Kau keluar dari sini Diana! Aku tidak perlu dengar ocehan kamu!" teriak Erlangga kepada Diana.
" Tapi Erlangga! Aku pun ingin melihat peristiwa yang menarik ini!" sahut Diana sambil mendekati Erlangga.
" Keluar kataku!" teriak Erlangga lalu dengan cepat Diana ketakutan dan keluar dari kamar itu.
__ADS_1