
Biar kan dirimu ter Hela oleh tarikan kuat yang benar- benar kau cintai. Segala yang ada di semesta ada dalam dirimu. Mintalah semuanya dari dirimu sendiri.
" Queen!" panggil Malik pelan sambil mendekati Andini.
" Iya, Malik!" sahut Andini masih berdiri mematung di depan teras rumah nya.
" Aku.. aku. Bolehkah aku memeluk mu, queen?" tanya Malik sambil merapatkan tubuhnya lebih dekat ke Andini.
Andini masih diam mematung. Menerima perlakuan hangat dari Malik. Pelukan penuh kasih sayang itu tiba- tiba terjadi. Tangan kokoh dan kekar Malik melingkarkan ke tubuh Andini.
" Aku ingin seperti ini terus, queen. Walaupun aku saat ini belum memiliki kamu sepenuh nya. Tapi aku sudah cukup senang selalu dekat dan melihat kamu setiap waktu." bisik Malik.
" Malik! Cukup yah. Oh iya mau kopi tidak? Biar aku buatkan untuk kamu. Malam ini kita duduk di teras sini, bagaimana? Aku ingin menulis." kata Andini sambil sedikit mendorong tubuh milik Malik.
" Baiklah! Akan aku temani kamu, queen." jawab Malik sambil tersenyum.
" Oke! Biar aku masuk ke dalam dulu. Oh iya? Kamu tidak mandi dan ganti baju dulu, Malik?" tanya Andini.
" Iya! Baiklah aku ke kamar ku sebentar queen." jawab Malik sambil tersenyum.
" Oke! Mandilah yang bersih, Malik!" kata Andini.
" Siap!" sahut Malik sambil tersenyum.
Pekat pandang tak terkira. Melekat dalam asa. Membuncah dalam telaga. Bius mantra telah terbaca. Tak kuasa akan tebaran pesona. Membuatku semakin terpana pada harap gejolak rasa. Telah lama buatku tersiksa, miris hati sekali mantra mu luluh. Jiwa meronta penuh keluh. Aku takut pandangan terperangah. Gejolak nafsu kian membuncah. Bayangmu bergelayut kian menggila. Terjebak akan hasrat asmara.
*******
Malik sudah duduk di teras depan rumah milik Andini. Wangi bunga mawar mulai menyeruak. Angin malam yang bertiup pelan membawa suasana dingin malam hari. Sebatang tembakau sudah menyala. Dihirupnya pelan- pelan sambil menikmati sunyi nya suasana malam hari.
Andini mulai menghampiri Malik yang sudah duduk sedari tadi. Pandangan Malik kini tanpa berkedip melihat sosok Andini dari ujung rambut sampai ujung kaki. Andini yang mengenakan kaos dan celana joger nya menambah kesan seksi.
" Hai, Malik! Apa yang kau lihat! Kita ke dalam saja yuk! Di ruang tengah saja. Disini dingin. Lagi pula tidak enak dilihat pak satpam penjaga rumah ini." kata Andini pelan.
__ADS_1
" Oh. Iyalah. Baiklah." ucap Malik sambil melihat ke pos penjagaan rumah itu.
Beberapa satpam masih berjaga sambil melihat acara di televisi. Malik dan juga Andini mulai masuk ke dalam rumah.
" Itu kopi buatan aku, sudah aku letakkan di meja. Sebentar yah! Aku mau ambil laptop ku dulu, Malik." kata Andini sambil masuk ke dalam kamar utama nya.
Malik pelan- pelan mengikuti Andini yang masuk ke dalam kamarnya.
" Eh? Ngapain mengikuti aku?" tanya Andini yang terkejut dibelakang nya ada Malik yang tiba-tiba memeluk nya dari belakang.
" Aku kangen, queen!" ucap Malik.
" Bukankah tadi kamu sudah memeluk aku, Malik?" tanya Andini yang tidak ada jawaban dari Malik.
" Cinta ini lama- lama bisa membunuh aku, Queen." bisik Malik sambil tersenyum dan mengecup pelan dahi Andini.
" Jangan bicara seperti itu, dong!" sahut Andini.
" Cepetan keluar! Aku akan menunggu mu di ruang tengah." kata Malik lalu bergegas keluar dan melangkah ke ruang tamu.
Andini hanya tersenyum melihat tingkah Malik bak cacing kepanasan. Tidak akan sanggup jika harus menahan gejolak keinginan dan hasrat. Mereka memang sudah sepakat. Tidak akan ada lagi hubungan intim yang penuh perzinahan sampai suatu waktu mereka bisa berjodoh dan sudah di halalkan.
" Betapa aku juga menahan segala gejolak rasa ini. Bukan kamu yang menderita. Aku juga l nih menderita karena ini. Hanya mampu melihat dan menatap tapi tidak mampu merengkuh nya." gumam Andini.
" Sampai kapan ini akan kita alami?" keluh Andini.
Malam semakin larut. Dalam sunyi mata Andini sudah fokus di depan laptop nya. Tulisan- tulisan yang membawa masuk perasaan nya tertuang dalam cerita itu. Malik masih terjaga sambil menikmati batang- batang rokok miliknya. Sudah beberapa cangkir kopi sudah habis diminumnya. Matanya sesekali melihat Andini yang masih fokus di depan laptop nya. Sesekali Malik melihat layar ponselnya menikmati medsos di aplikasi ponselnya.
" Queen!" panggil Malik pelan.
" Hemm!" sahut Andini.
" Tidak bisakah dilanjutkan besok lagi?" tanya Malik.
" Tanggung sayang! Ini sudah mulai memanas otaknya. Khayalan ku sudah mulai treveling kemana- mana." jawab Andini sambil sibuk mengetik di depan laptop nya.
" Coba ulangi lagi kata- kata yang tadi." kata Malik sambil tersenyum.
__ADS_1
" Kata- kata yang mana?" tanya Andini mulai menghentikan aktivitas mengetik nya.
" Queen! Kamu sangat jarang mengatakan kata ' sayang' kepadaku. Itu terdengar indah ditelinga aku, queen." kata Malik sambil tersenyum dan kini mulai mengambil batang rokok itu lalu menyalakan nya.
" Cukup sayang! Jangan banyak-banyak rokok malam ini." larang Andini sambil mengambil barang rokok itu lalu menghisapnya.
Malik hanya tersenyum melihat reaksi Andini yang merebut batang rokok yang sudah menyala itu.
" Kamu perlu kopi lagi, queen? Aku buatkan yah?" tawar Malik.
" Tidak! Aku mau susu yang tadi kita beli." jawab Andini.
" Baiklah! Aku ambilkan yah, sayang!" kata Malik sambil melangkah ke arah dapur.
" Malik! Kenapa kamu begitu sangat perhatian dengan aku?" gumam Andini.
" Erlangga! Sedang apa kamu sekarang? Apakah kamu juga bersama wanita lain? Bersenang-senang dengan nya menikmati malam yang panjang?" gumam Andini.
" Jika firasat ku benar adanya. Aku tidak akan merasa bersalah bukan?" kata Andini pelan sambil menarik nafas kasar.
Jika aku bisa memilih. Aku akan menjadi wanita yang baik. Aku akan menjadi wanita yang penurut, patuh dan tidak berkhianat dengan suamiku. Tapi apakah yang kamu lakukan seperti hal nya aku dulu? Selalu setia terhadap mu. Bukankah kamu sering meninggalkan aku di malam sunyi seperti ini. Betapa ini tidak mudah ketika kita masih hangat- hangatnya membina rumah tangga. Bersama kamu kita menjalani hidup. Bersama kamu aku mulai menikmati waktu. Waktu sendiri sepi seorang diri. Sampai akhirnya, Malik selalu mengisi kesepian itu. Hingga aku tidak lagi menghiraukan ketika kepergian mu. Salahkan aku?
" Queen! Ini susu nya sayang! Tadi aku panaskan terlebih dahulu. Kamu jangan dibiasakan minum yang dingin ya sayang!" ucap Malik penuh perhatian.
" Eh iya! Terimakasih Malik! Kamu bikin apa?" tanya Andini.
" Bikin teh pahit!" jawab Malik sambil duduk berdekatan dengan Andini.
" Suka teh pahit?" tanya Andini.
" Tidak! Aku suka kamu, queen! Bukan teh pahit ini!" jawab Malik asal sambil terkekeh.
" Hehe. Iyalah bukankah aku manis dibanding teh pahit yang kamu minum, Malik?" ujar Andini sambil mengusap rambut milik Malik.
" Terimakasih banyak atas kasih sayang kamu, Andini!" kata Malik dengan tatapan ke arah Andini.
" Iya! Semoga kita kelak akan berjodoh ya! Tapi kisah kita ini begitu rumit. Tidakkah kita harus berani menjauh dan memusnahkan lagi?" kata Andini.
__ADS_1
" Tidak! Aku sungguh tidak sanggup, queen. Jangan larang aku untuk mendekati kamu, queen." ucap Malik.
Andini hanya menarik nafas kasar dan kembali menikmati kopi dan batang rokok yang masih menyala.