
Belenggu cinta itu akan selalu menjeratku seumur hidup. Ketika aku tidak mampu dan kuasa melepaskan semua rasa itu. Ketika segala tidak sanggup diungkapkan melalui lisan dan sikap ini. Terbungkus dalam ego yang tidak kuasa dipecahkan.
Bukan karena ini sombong. Bukan ini karena takut akan penolakan. Bukan ini karena tidak sanggup menerima kepahitan ketika cinta itu bertepuk sebelah tangan. Lalu? Cinta yang hadir di waktu itu datang di saat yang tidak tepat. Kemudian, waktu lah yang akan menjawabnya. Apakah kamu akan meraihku dan menggenggam tangan ku kembali? Menyusuri pantai yang bergelombang. Menyeberangi lautan biru yang membentang. Mendaki gunung yang tinggi dan terjal. Berdua melewati masa sulit dan senang bersama. Bahagia dan sedih bersama. Tertawa dan menangis bersama-sama. ( Opo Iyo? hahaha 😂)
" Malik! Bagaimana kabar kamu saat ini? Kenapa tiba- tiba jantung ini berdebar hebat. Pikiran ku menjadi teringat kembali kepadamu? Aku menjadi tidak fokus." kata Andini pelan lalu menutup laptopnya yang sedari tadi sibuk menulis di dalam kamar penyekapan.
Di kamar itu, selalu dikunci dari luar oleh Erlangga. Sehingga Andini selalu di dalam kamar itu, menyibukkan diri nya dengan hobinya. Andini tidak ingin tenggelam dan larut dalam rasa dan perasaan nya. Tidak ingin terjerat dalam situasi yang memenjarakannya. Selagi dia bisa berbuat sesuatu yang dia bisa, Andini lakukan. Untung saja Andini adalah wanita yang suka menulis dan produktif terhadap pikiran dan otaknya. Dia akan menuangkan segala gagasan dan idenya dalam suatu cerita dalam bentuk tulisan di novel, maupun cerpen. Untung saja Erlangga memberikan laptopnya supaya Andini masih bisa beraktivitas sesuka hobinya. Kalau tidak, mungkin Andini benar- benar dibuat gila karena di kurung didalam kamar dan ketika Erlangga pulang saja, Andini bisa diajak keluar rumah. Itupun hanya di depan rumah atau pekarangan rumah saja.
Diana mulai mencari-cari kunci yang disimpan oleh Erlangga. Kunci kamar yang ditempati oleh Andini. Diana mulai geram dan rasanya ingin meluapkan kekesalannya terhadap Andini. Setelah kedatangan Andini di rumah itu, sikap Erlangga terhadap dirinya menjadi kurang romantis. Ketika pulang perhatian Erlangga menjadi terpaku terhadap Andini. Itu yang menjadikan Diana ingin melampiaskan kekesalannya dan kebenciannya pada Andini.
" Ini kunci duplikat kunci kamar nya, nona!" kata Tukang kebun rumah Erlangga yang disuruh Diana untuk membikin kan kunci kamar yang ditempati oleh Andini.
" Oh bagus! Terimakasih Pak. Ambil saja kembaliannya." ucap Diana sambil menimang kunci kamar yang baru diberikan oleh tukang kebun itu.
" Rasanya mau ku bikin tempe penyet saja muka Andini yang polos itu. Benci sekali aku melihat mukanya." kata Diana lalu melangkah ke dapur untuk mengambil pisau kecil yang super tajam.
Entah apa yang hendak dilakukan oleh Diana. Diana mungkin sudah tidak sabar ingin menyingkirkan Andini dari rumah itu. Mungkin saja, Diana ingin menghabisi Andini. Segala kemungkinan terjadi dengan alat pisau kecil yang tajam itu.
Diana mulai berjalan kembali ke kamar yang ditempati Andini. Dibuka pelan pintu itu dengan kunci yang baru dibuatnya.
" Hohoho.. Ternyata kamu lagi bersenang- senang yah, sayang?" ucap Diana yang melihat Andini lagi sibuk mengetik di laptopnya.
" Diana? Apa kabar kamu?" Andini malah bertanya.
" Apa tidak salah? Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Bagaimana kabar kamu selama di sekap disini?" tanya Diana.
" Seperti yang kamu lihat! Aku masih baik-baik saja. Tidak ada masalah buat aku." jawab Andini sambil tersenyum.
" Berarti ini tidak membuat kamu tersiksa? Bagaimana selama di rumah sakit jiwa dahulu? Kamu jadi bertambah kurus sekali loh!" ucap Diana dengan senyum sinis nya.
" Seperti yang kamu lihat! Aku berusaha enjoy dengan keadaan dimana pun aku diletakkan." kata Andini lalu menutup kembali laptop nya.
__ADS_1
" Hahaha! Kamu berusaha menutupi segala kesepian dan kesedihan kamu, yah! Nyatanya wajahmu kusam tidak terurus. Tubuhmu yang dulunya seksi kini menjadi kurus kering. Kasihan sekali kamu, Andini. Sahabat ku yang polos dan lugu. Tapi aku sangat muak sekali melihat mukamu." kata Diana mulai emosi.
Diana mulai mengikat tangan Andini dengan tali yang sudah di ambilnya dari dapur tadi. Andini ingin melawan, tapi Andini kalah lemah dengan Diana. Seharian ini memang Andini tidak diberi makanan dan minuman sebelum Erlangga datang membuka pintu kamarnya.
" Diana! Kamu mau apa?" tanya Andini.
" Aku mau ngapain aku, terserah aku." kata Diana.
" Lepaskan talinya Diana! Aku nanti tidak bisa menulis lagi." kata Andini masih datar.
" Oh begitu yah! Baiklah aku berubah pikiran." sahut Diana lalu melepas tali yang tadi diikatkan ke kedua tangan Andini.
" Terimakasih banyak Diana. Kamu masih sahabatku yang terbaik." ucap Andini sambil tersenyum.
" Oh ho! Kamu masih menganggap aku sahabat kamu?" sahut Andini.
" Tentu saja!" jawab Andini sambil tersenyum sinis.
" Apa Diana? Katakan saja!" kata Andini.
" Yang pertama. Aku akan membebaskan kamu dari rumah ini asal kamu merusak wajah kamu sendiri dengan ini." kata Diana sambil memberikan pisau kecil yang super tajam itu kepada Andini.
" Diana?" kata Andini dengan ekspresi terkejut.
" Atau kamu akan tetap tinggal di kamar ini, tapi tidak ada lagi laptop yang menemani kamu disini. Bukankah kamu merasa tidak masalah jika masih ada laptop ditangan kamu, Andini?" kata Diana.
" Pilih lah cepat Andini! Supaya malam ini kamu bisa menikmati dunia luar tanpa jeratan Erlangga. Akupun sudah muak dan sangat cemburu dengan kamu." ucap Diana.
Andini menimang-nimang pisau kecil yang tajam ditangannya.
" Cepat lakukan lah sendiri! Atau kamu mau meminta bantuan kepada aku, Andini?" ujar Diana mulai tersenyum sinis.
__ADS_1
" Apakah kamu sangat membenciku, Diana? Kamu ingin merusak wajahku?" tanya Andini.
" Iya! Tapi aku tidak ingin, tanganku yang suci ini harus turun langsung merusak wajahmu yang polos itu." jawab Diana.
" Baiklah! Aku sangat bersyukur dan berterima kasih, kamu mau membantu aku keluar dari rumah ini." kata Andini.
" Bagus! Kamu tahu diri bukan? Jangan khawatir, aku akan antar kamu sampai di pusat kota. Kamu ingin pulang ke kampung halaman kamu kan? Atau kamu akan mencari sopir itu? Hahaha. Yah Malik bukan?" kata Diana sambil tertawa terbahak-bahak.
" Asal kamu tahu saja Andini. Malik saat kejadian itu, dihajar habis-habisan oleh anak buah Erlangga. Setelah itu Malik disiram air keras di sekujur tubuh nya. Lalu entah masih hidup atau mati, Malik dikirim ke kampungnya." cerita Diana.
Andini yang mendengar cerita dari mulut Diana seketika membelalak matanya dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
" Kamu sangat terkejut bukan? Jadi jika kamu rusak wajah kamu, tidak ada rugi nya bukan?" kata Diana sinis.
" Cepat Andini! Jangan lama-lama! Cepat lakukan! Sebelum aku berubah pikiran!" ujar Diana dengan nada keras.
" Baiklah!" kata Andini lalu mulai menggores wajahnya di bagian pipi sebelah kiri.
Darah mulai mengalir setelah goresan pertama itu terjadi. Andini meringis merasa sakit dan pedih. Air matanya keluar bersamaan dengan goresan itu. Pikiran nya hanya ke Malik. Mungkin saja Malik juga menjadi buruk rupa karena dirinya. Sehingga Andini pun semakin kuat melakukan nya.
" Belum cukup Andini! Gores kan lagi di pipi kanan kamu!" perintah Diana sambil tersenyum penuh kemenangan.
" Cepat!" bentak Diana.
Andini mulai gemetar menahan rasa sakit dan pedih itu. Tangisan nya mulai deras mengalir. Andini sangat sedih dan kaget mendengar berita bahwa Malik telah dianiaya satu tahun yang lalu. Itu semua karena dirinya. Karena cinta nya kepada dirinya, yang membuat nekat Malik datang dari kota nya ke kota Andini.
Andini mulai lagi menggores pipi kanannya. Darah mulai deras mengalir di kedua pipinya menyatu dengan air matanya yang keluar.
" Bagus! Karena kamu masih menganggap aku sahabat mu. Aku akan berbaik hati padamu. Akan aku panggilkan dokter untuk mengobati lukamu sebelum kamu, aku antar ke terminal bus." kata Diana lalu keluar dari kamar yang ditempati Andini.
Tawa yang keras keluar dari mulut Diana. Diana sangat senang, wajah Andini yang rusak saat ini. Sedangkan Andini hanya meratapi kesedihan nya karena ingatan nya masih kepada Malik.
__ADS_1