Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu

Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu
PERJUMPAAN


__ADS_3

Cepat atau perlahan. Semesta akan membuat kakimu terhenti pada satu orang yang tak akan meninggalkan serumit apapun keadaan. Yakinlah! Alam akan menuntun langkahmu pada sosok pilihan bagimu. Hanya kamulah yang mampu dan bisa memahaminya dengan segala kerendahan hati dan ego mu. Supaya kalian bisa saling memberi dan menerima. Saling perhatian satu sama lain. Tidak ada yang merasa dirugikan dalam hal ini. Karena rasa cinta dan kasih sayang tidak hitung menghitung untung rugi.



Jalan hidup ini membentang panjang dan berkelok-kelok. Tiada yang lurus mulus mendaki. Jika kelelahan sudah menyelimuti diri. Istirahatkan sejenak raga dan pikir. Karena manusia ini penuh dengan letih karena uji dan coba yang di lalui. Lakukan apa yang akan kamu lakukan. Jalankan apa yang akan kamu jalankan. Jangan ragu lagi untuk melangkah. Jangan maju mundur dalam mengambil ancang-ancang. Apa yang sudah kamu putuskan,jangan pernah ada sesal lagi. Karena hidup ini adalah tantangan yang harus kamu lewati. Benar dan salah biarkan semesta yang memutuskan. Tindakan dan perbuatan mu biarkan alam yang menghukumnya. Lakukan jika sudah kamu ingin lakukan. Agar keseimbangan hidup terus berjalan antara salah atau benar hanyalah nilai yang tidak bisa ditetapkan oleh manusia.


Pancaran mata tajam menusuk relung hati. Merobek jantung mematahkan pertahanan suci. Terjatuh, terjerebab oleh dorongan hasrat diri. Tiada mampu meredam keinginan hati. Ingin terlampiaskan dendam asmara yang melenakan cinta suci. Aku sudah terborgol oleh kharisma mu. Tiada mampu melepaskan hawa panas yang membakar Sukma. Sirami lah semua dengan kesejukan dari kekuatan mu. Jangan pernah lagi di turuti rindu dendam ini. Hargailah cinta suci ini. Dengan bentuk kasihmu nan tulus.


Malik! Biarkan aku menjaga harga kesucian ini. Agar rasa ini tiada memudar karena perbuatan kenistaan ini.


Andini sudah tiba di Semarang. Kota besar dimana ada Malik yang sudah menanti nya. Mereka sudah berada di dalam penginapan yang sudah dipersiapkan oleh Malik.


Malik menatap tajam ke arah Andini yang duduk di kursi sofa di dalam kamar hotel itu. Andini masih terdiam membisu dalam kebekuan di satu ruangan bersama Malik. Dirinya tidak pernah menyangka akan senekat itu menjumpai laki - laki yang notabene adalah laki-laki yang bukan suami atau sanak saudara nya. Seluruh badan Andini serasa bergetar dan jantungnya tidak bisa di kuasainya berdetak dengan hebatnya. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Ketakutan atau kerinduan yang terpendam.


" Kamu kenapa Andini? Kita makan dulu yuk!" ajak Malik yang melihat Andini jadi tegang dan ketakutan nya.


" Aku...aku belum lapar!" sahut Andini yang mulai menjauhkan tempat duduknya dari Malik.


" Jangan kwatir! Aku tidak akan merendahkan mu." ucap Malik seperti bisa membaca pergerakan Andini yang mulai menjaga jaraknya.


" Eh..eh...ada kopi nggak? Aku mau kopi dan sebatang rokok kamu." Ujar Andini akhirnya.


" Oh...kita duduk di luar kamar saja kalau mau merokok." usul Malik.


" Baiklah!" sahut Andini sambil mengikuti Malik yang keluar dari kamar menuju ke luar teras kamar penginapan.


Malik memberikan kopi instan dan menyerahkan bungkusan rokoknya ke Andini. Di lihatnya Andini mulai menyalakan rokok pemberian Malik. Andini dengan pelan - pelan menghisap batang rokok yang sudah menyala itu sambil meminum kotak kopi instan rasa vanila.


" Bagaimana perjalanan kamu kemari? Tidak ada masalah bukan?" selidik Malik sambil ikut menyalakan rokoknya.


" Tidak ada masalah. Mas Erlangga juga lagi dinas di luar kota. Aku minta ijin pergi ke Semarang karena ada acara reuni SMA." cerita Andini.


" Oh!" sahut Malik sambil menatap lekat wajah polos Andini yang mulai rileks dengan keadaan dan pertemuan mereka.


" Kamu kalau lapar, bisa aku pesankan makanan di hotel ini. Atau kita keluar mencari makanan?" tambah Malik.


" Iya! Tapi aku sungguh - sungguh lagu tidak selera makan." kata Andini.


" Jaga kesehatan kamu baik - baik Andini. Aku juga tidak ingin kamu sakit." ucap Malik.

__ADS_1


" Iya! Terimakasih atas perhatiannya." ujar Andini sambil tersenyum dan berani menatap ke arah Malik.


Malik tersenyum melihat Andini mulai rileks dan berani menatap dirinya.


" Bagaimana pekerjaan kamu disini, Malik?" tanya Andini mulai mencairkan suasana.


" Alhamdulillah bagus. Sabtu dan Minggu ini sengaja aku kosongkan jadwal untuk pertemuan dengan rekan bisnis." cerita Malik.


" Oh begitu yah." sahut Andini sambil tersenyum simpul.


" Bagaimana kalau besok kita ke Solo!" usul Malik.


" Ngapain di sana?" tanya Andini.


" Jalan - jalan! Ke Tawang Mangu, misalnya." jawab Malik.


" Aku sudah pernah kesana loh!" sahut Andini.


" Tahun berapa? Sudah lama bukan?" ujar Malik.


" Iya sih!" sahut Andini.


" Terserah kamu saja!" jawab Andini.


" Di kota Solo, banyak tempat - tempat kuliner di sana. Makanan nya sangat bervariasi. Pasti kamu akan menyukainya, Andini." cerita Malik.


" Sebenarnya, aku tidak perlu tempat yang indah. Mungkin karena bersama dengan kamu, semua tempat akan menjadi indah, Malik." ucap Andini sambil tersenyum.


"Hahaha." Malik terkekeh.


" Kamu sudah mulai pandai merayu, Andini." tambah Malik sambil tersenyum.


" Aku pandai merayu karena yang mengajari kamu, Malik." sahut Andini.


" Benarkah?" kata Malik sambil menatap bola mata milik Andini.


" Malik!" panggil Andini pelan.


" Iya. Ada apa Andini?" sahut Malik.

__ADS_1


" Terimakasih banyak atas perhatian kamu." ucap Andini.


Malik hanya tersenyum dan kembali menatap wajah polos Andini tanpa berkedip. Rasa kerinduan itu masih tersimpan rapat - rapat. Malik tidak cukup berani meluapkan perasaan itu. Malik tidak cukup nyali untuk mengungkapkan keinginan dan rindu dendam nya ke Andini.


" Malik!" panggil pelan Andini sambil menarik tangan Malik dan mengajaknya masuk ke dalam kamar penginapan itu.


Malik terperangah dengan reaksi cepat Andini. Andini tiba - tiba memeluk erat tubuh Malik.


" Aku kangen kamu, Malik!" ucap Andini lirih.


" Aku pun demikian, Andini." Malik membisikkan pelan ke telinga Andini.


Malik dengan cepat mengecup dahi Andini. Pelan tapi pasti. Sentuhan bibirnya mengecup lembut dahi wanita yang sudah bersuami itu.


" Eh maaf Andini!" ucap Malik pelan.


Matanya mulai redup menahan gejolak api kerinduan yang menyala. Hasrat nya selalu ditahannya ketika berjumpa dengan Andini.


" Apakah kita hanya seperti ini saja Andini?" tanya Malik.


" Hah? Apa yang kamu inginkan Malik?" ucap Andini dengan raut kesedihan nya yang muncul tiba-tiba.


" Tidak! Maaf!" sahut Malik sambil melepaskan pelukannya.


Andini menatap Malik dengan perasaan iba. Kali ini, Andini sangat merasa bersalah karena belum memberikan kebahagiaan terhadap Malik.


" Aku minta maaf, Malik! Aku belum bisa memberikan cinta ini secara penuh padamu." ucap Andini.


" Iya, aku tahu. Aku hanyalah laki - laki asing bagi kamu." ucap Malik dengan menunduk.


" Malik! Jangan bicara seperti itu dong." kata Andini sambil membelai rambut Malik.


" Iya! Maafkan aku." sahut Malik sambil mengambil tangan Andini yang membelai rambutnya lalu menciumnya pelan.


" Kamu tidurlah! Biar aku yang tidur di sofa." tambah Malik.


" Malik! Terimakasih banyak yah." ucap Andini.


" Iya!" sahut Malik sambil tersenyum kepada Andini.

__ADS_1


__ADS_2